**21 Februari 3010 | 09:00 WIB**
Kesunyian di dalam ruang kerja Kombes Deni terasa begitu menekan. Kursi di seberang mejanya—tempat yang biasanya diisi oleh Rita dengan ketukan jemari pada keyboard dan analisis taktisnya yang tajam—kini kosong melongpong. Deni bersandar pada kursi kerjanya, memijat pelipisnya yang berurat kencang akibat sisa ketegangan dari tragedi pembantaian Dokter Adrian dua hari lalu.
Tepat pukul 09:00 WIB, pintu ruangannya diketuk dengan terburu-buru. Salah satu bawahan Deni melangkah masuk dengan wajah tegang, membawa sebuah amplop cokelat tebal yang dibungkus plastik pelindung.
"Mohon izin, Komandan," ujar bawahan tersebut seraya meletakkan amplop itu di atas meja dengan hati-hati. "Paket ini baru saja lolos dari pemindaian gerbang depan melalui kurir logistik reguler. Ada yang aneh, Komandan. Surat ini ditulis dengan sangat spesifik ditujukan langsung untuk Anda, nama 'Kombes Deni' tertera jelas di bagian depan. Tapi begitu kami memeriksa seluruh resi, manifes pengiriman, hingga detail fisik amplopnya... tidak ada nama, alamat, ataupun informasi pengirimnya sama sekali. Kosong bersih."
Deni menyipitkan mata. Ini adalah sidik jari tak terlihat dari **Skill 4 milik K (*The Global Cartographer*): Logistik Hit-and-Run Massal**. K mampu memanipulasi sistem kurir legal kota Suribayu agar paket misterius ini terselip di antara ribuan surat dinas lainnya tanpa memicu alarm kecurigaan.
Deni merobek amplop itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Di dalamnya terdapat sebuah kartu berbahan beludru hitam dengan pinggiran emas yang elegan. Kaligrafinya begitu rapi, kontras dengan isinya yang mengerikan:
> Kepada Yth. Kapolrestu Suribayu, Kombes Deni,
> Kami memohon maaf atas segala kekacauan yang terjadi belakangan ini. Untuk itu, izinkan kami memberikan sedikit keringanan beban kerja Bapak. Pada tanggal **29 Februari 3010**, akan terjadi sebuah 'anomali' di Depan Gedung Pengadilan Tinggi Suribayu. yang serupa dengan peristiwa pembantaian tanggal 19 Februari yang lalu di Museum Kota. Lokasinya sudah kami siapkan dengan matang.
> Kami dengan hormat mengundang Bapak Kapolrestu beserta seluruh jajaran untuk hadir mengamankan tempat kejadian perkara. Kami sangat berharap Bapak bisa memperkuat pengamanan di sana agar **'karya seni' ketiga** kami tidak terganggu oleh pihak luar. Namun, jika Bapak berkenan, kami juga menyediakan kursi VIP di barisan depan bagi Bapak, agar Bapak bisa menonton langsung bagaimana kami bekerja dari jarak yang sangat dekat. Jangan khawatir, kami menjamin kenyamanan Bapak.
> Kami menunggu kehadiran Bapak.
> — Setan Berkata —
>
Pada saat yang bersamaan, ribuan meter dari kantor polisi, situasi di ruang kontrol utama tiga stasiun televisi terbesar di Suribayu mendadak meledak dalam histeria.
Semua monitor di ruang redaksi penyiaran berkedip serempak, berubah menjadi layar biru yang dingin. Sebuah file bernama **PEMBERITAHUAN.pdf** otomatis terbuka dan mengunci seluruh terminal kerja.
Melihat dokumen itu, seluruh kru dan karyawan stasiun TV yang sedang bekerja langsung kaget setengah mati. Wajah-wajah mereka memucat seketika. Mereka mengenali format digital itu—itu adalah file teks peringatan yang **sama persis** dengan kiriman teror siber pada kejadian tanggal **11 Februari yang lalu**. Trauma masa lalu itu mendadak ditarik paksa kembali ke permukaan.
Di dalam kubikel Polrestu, layar komputer kerja Deni dan laptop taktisnya berjalan 100% aman tanpa gangguan. Kepolisian dibiarkan tetap buta, sementara kepanikan diisolasi murni di sektor industri media massa.
**09:30 WIB**
*KRIIIING!*
Telepon di meja Deni menjerit nyaring. Layar interkom menunjukkan panggilan dari pemilik sekaligus Direktur Utama stasiun TV terbesar di Suribayu. Begitu Deni mengangkatnya, suara di seberang sana terdengar pecah dan bergetar hebat oleh ketakutan.
"Komandan Deni! Kami butuh bantuan pihak kepolisian sekarang juga!" teriak sang pemilik perusahaan TV dari ujung telepon.
Deni mengertakkan gigi, mencoba meredam kepanikan sistemik ini. "Tenang. Apa Setan Berkata membajak lagi?"
"Mereka masuk lagi, Komandan! Kru saya di ruang kontrol panik luar biasa! Seseorang baru saja meretas server kami dan meninggalkan sebuah file PDF. Dan yang membuat kami ketakutan... file surat itu **sama persis** dengan dokumen ancaman pada kejadian tanggal **11 Februari yang lalu**! Mereka menggunakan protokol enkripsi yang sama untuk menyapa kami! Tolong, Komandan, mereka mengawasi kami dari dalam sistem!"
Deni mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Tetap tenang dan jangan putus siaran secara manual. Saya akan lacak titik transmisinya sekarang."
Deni langsung menoleh ke arah kepala tim siber Polrestu, "Lacak celah masuk ping datanya! Sekarang! Jangan beri b******n siber itu kesempatan menghapus jejak koneksinya!"
Ruang kendali siber Polrestu yang tadinya hening kini meledak dalam kesibukan jemari yang menghantam keyboard. Lima menit kemudian, operator utama berseru, "Ketemu! IP-nya masih memancarkan gelombang aktif, Komandan! Lokasinya tiga blok dari gedung ini. Sebuah kafe modern di jalan utama!"
**10:00 WIB**
Deni dan pasukan taktis bersenjata lengkap melesat memecah kemacetan pusat kota Suribayu. Sirene armada taktis meraung-raung membelah hujan tipis, membawa seorang Kapolrestu yang sedang bertaruh dengan sisa kewarasannya sendiri.
Mobil-mobil taktis berhenti mendadak di depan sebuah kafe estetik yang ramai pengunjung. Deni turun pertama, mendobrak pintu kaca kafe tersebut dengan kasar hingga dentumannya mengejutkan seisi ruangan.
"Tiarap! Jangan ada yang bergerak! Angkat tangan kalian!"
Suara bentakan polisi dan bising senjata otomatis membuat para pelanggan kafe yang sedang bersantai langsung menjerit ketakutan. Beberapa barista di balik meja konter refleks menjatuhkan cangkir kaca hingga hancur berkeping-keping.
"Siapa yang menggunakan koneksi perangkat di meja nomor 14?!" teriak Deni dengan mata memerah.
Manajer kafe yang gemetar di balik mesin kasir menunjuk ke sebuah meja bundar di sudut ruangan dekat jendela besar. "B-Bapak... di sana. Perangkat yang terhubung di meja 14... cuma anak kuliahan itu, Pak. Dia sudah duduk di sana sejak kafe buka jam 08:00 pagi."
Deni melangkah lebar, mendekati meja nomor 14 dengan tatapan mengintimidasi. Di sana duduk seorang mahasiswa bernama **Rian**. Di depannya terbentang sebuah laptop bionik mutakhir berspesifikasi militer tinggi yang tampak sangat mahal—sebuah gawai yang terlalu mewah untuk ukuran seorang anak kuliahan.
Rian mengangkat kedua tangannya dengan wajah pucat dan gemetaran, menatap moncong senjata aparat di sekelilingnya.
"Kamu! Apa yang kamu lakukan dengan laptop itu?!" bentak Deni tegas. "Jelaskan dari mana kamu mendapatkan perangkat ilegal ini!"
"S-saya mendapat hadiah lotre pak kemarin!" jawab Rian dengan suara terbata-bata menahan takut. "Saya beli lotre dan saya mendapatkan hadiah utama laptop ini... Dan tadi pagi sekitar jam delapan, saya langsung ke kafe buat cek kualitas laptop ini bagus apa tidak, ternyata bagus banget pak..."
Rian menelan ludah dengan susah payah, menatap Deni dengan pandangan bingung sekaligus ngeri. "A-ada apa ya, Pak?"
Rian sama sekali tidak berbohong. Detektor mikro-ekspresi mental Deni tahu anak ini jujur. Mahasiswa malang ini tidak tahu apa-apa. Dia hanyalah korban dari skenario **K**, yang kemarin sengaja menyamar menggunakan identitas palsu lain untuk memberikan laptop gratis yang sudah ditanami program spionase kuantum oleh **T**.
Deni mengembuskan napas berat. Untuk menjaga situasi agar tidak semakin gempar di depan publik kafe yang mulai berbisik-bisik, Deni menurunkan senjatanya.
"Tidak apa-apa," jawab Deni pendek dan dingin.
Namun, tepat ketika Deni hendak berbalik untuk memerintahkan pasukannya mundur, layar laptop super mahal di depan Rian mendadak berkedip. Layar itu berubah hitam dan kursornya bergerak sendiri secara mekanis. Huruf demi huruf berdarah diketik secara otomatis di depan mata Deni:
"Halo Pak, bagaimana kabarnya? Jangan gitu Pak, ingat umur. Dan jangan salah tangkap atau jadi kaki tangan koruptor."
Jantung Deni mencelos. Kalimat itu adalah ejekan langsung yang menghantam harga dirinya. Di sekitar mereka, beberapa pengunjung kafe yang tiarap mulai berani merangkak dan mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam kejadian tersebut.
Demi menjaga wibawa kepolisian dan posisinya sebagai Kapolrestu di depan kamera publik, Deni memaksakan wajahnya tetap datar seperti es. Ia tidak membalas pesan itu, tidak juga menyita laptop tersebut karena tahu jalurnya sudah diputus dari jauh. Deni langsung berbalik dengan tegap.
"Pasukan, kembali ke armada. Operasi selesai," perintah Deni dengan suara bariton yang ditenangkan.
Begitu pintu mobil taktisnya tertutup rapat dan hanya menyisakan dirinya bersama sang sopir di dalam kabin kedap suara, topeng wibawa Kombes Deni runtuh total.
"BAJINGAAAN!!!"
Deni menggebrak dasbor mobil dengan hantaman tinjunya yang luar biasa keras hingga panel digitalnya retak. Napasnya memburu hebat, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Amarah yang sedari tadi ia tahan di dalam kafe kini meledak tanpa ampun.
"Setan Berkata... Siapa pun kalian, kalian pikir bisa mempermainkan hukum di kota ini?!" raung Deni, mencengkeram kerah kemeja taktisnya sendiri karena sesak oleh murka dan rasa malu yang mendalam. Dia baru saja dihina di depan publik oleh sebuah layar laptop, dituduh sebagai kaki tangan koruptor, dan dibuat tidak berdaya.
Di balik kaca mobil yang basah oleh sisa hujan, Suribayu seolah sedang menertawakan kelumpuhannya. Deni benar-benar tidak punya kendali, sementara waktu terus berjalan mundur menuju tanggal 29 Februari, di mana panggung pembantaian yang sesungguhnya telah selesai dirancang oleh Sang Dalang.