21 Februari 3010 | 15:30 WIB
Suribayu telah bertransformasi menjadi sebuah museum hidup bagi sebuah sekte yang tidak pernah secara resmi mendeklarasikan diri, namun memiliki pengikut yang membuat partai politik manapun tampak tidak relevan. Trotoar, halte bus, hingga pusat perbelanjaan, kini menjadi peragaan busana bagi sebuah ideologi gelap. Kesunyian di kota ini bukan pertanda damai, melainkan ketegangan yang dikendalikan oleh algoritma. Jika dahulu hiruk-pikuk perdagangan dan suara bising knalpot mendominasi, kini yang terdengar hanyalah denting notifikasi *Tuk Tek* yang bersahutan dari ribuan ponsel warga secara serempak.
Rian, mahasiswa yang pagi tadi menjadi saksi kunci di kafe, berjalan dengan bahu merosot di tengah kerumunan massa. Di sekelilingnya, ribuan orang berjalan dengan "seragam baru": kaos hitam berbahan *cotton combed* premium yang dijual bebas di pinggir jalan layaknya merchandise konser musik superstar.
Di punggung setiap kaos itu, tercetak desain grafis yang provokatif: sebuah **timbangan keadilan** yang di bawahnya bertumpuk **berkas-berkas bukti** yang berceceran, melambangkan "pembersihan" terhadap para koruptor. Namun, yang membuat desain itu terasa sangat ganjil—dan mengerikan—adalah bagian sisi kanan dan kiri kaos tersebut. Di sana tergambar sebuah **kotak hadiah** misterius dengan dua tombol yang mencolok: **'Y'** (Yes) dan **'N'** (No).
Bagi warga Suribayu yang telah teracuni, tombol itu bukan sekadar gambar. Itu adalah kompas moral. Tombol 'Y' adalah simbol kesiapan untuk "dipilih" dan disucikan, sementara 'N' adalah label bagi mereka yang layak dikucilkan.
Rian menghentikan langkahnya di alun-alun kota. Di sana, dikerumuni oleh ratusan orang yang menatap dengan mata berkaca-kaca, berdiri **Feri**. Namun, Feri tidak lagi berdiri sendirian dengan tatapan nanar. Di sampingnya, berdiri **Doni**, pemuda yang hilang pada peristiwa 19 Februari lalu. Doni tampak sehat, bugar, bahkan kulitnya terlihat lebih bersih dari sebelumnya. Ia mengenakan kaos hitam yang sama dengan massa lainnya.
"Lihat!" seru Feri, suaranya dipenuhi rasa bangga yang tidak masuk akal. "Doni sudah kembali! Mereka tidak menyakitinya. Mereka memberinya tempat perlindungan!"
Rian mendekat, penasaran sekaligus ngeri. Doni sedang menceritakan pengalamannya kepada orang-orang di sekitarnya.
"Aku dibawa ke sebuah tempat..." suara Doni terdengar tenang, hampir seperti sedang mempromosikan liburan mewah. "Itu seperti hotel bintang lima, entahlah, mungkin lebih baik. Kamarku luas, makanannya disajikan oleh pelayan pribadi, dan aku bahkan tidak perlu melakukan apa pun selain beristirahat dan memikirkan kesalahanku. Aku dilayani layaknya seorang raja. Mereka bilang, mereka hanya sedang 'membersihkan' diriku agar aku bisa menjadi orang yang lebih baik di dunia yang baru nanti."
Doni tersenyum, senyum yang sangat manis namun terasa hampa di mata Rian. "Kenapa harus takut diculik jika diculik berarti mendapatkan kemewahan yang tidak pernah bisa kita bayar dengan gaji kita sebagai buruh? Aku justru menunggu kapan mereka akan memanggilku kembali."
Massa bersorak. Kehadiran Doni bukan sebagai korban trauma, melainkan sebagai "testimoni" keberhasilan program *Setan Berkata*, adalah bahan bakar terakhir bagi mesin fanatisme kota ini. Mereka tidak melihat Doni sebagai manusia yang hak-haknya dirampas; mereka melihatnya sebagai seseorang yang beruntung mendapatkan tiket emas ke kehidupan mewah.
Dari pengeras suara raksasa, suara **Reno** membahana. Eks-jurnalis itu kini berdiri di atas panggung darurat, memegang mikrofon dengan tangan yang gemetar oleh gairah.
"Kalian dengar sendiri?!" teriak Reno, menunjuk ke arah Doni. "Negara menganggap kita hanyalah angka, tapi *Setan Berkata* memuliakan kita! Masihkah kalian ragu? Jangan jadi pengecut yang memilih 'N'! Pilih 'Y', dan jadilah bagian dari revolusi kemewahan ini!"
**16:15 WIB**
Di depan Klinik Medika, **Dr. Aris** keluar dari pintu masuk, didampingi oleh beberapa staf medis. Aris mendekati Doni, memeriksa kondisi fisiknya di depan kamera massa, lalu tersenyum puas.
"Ini bukan penculikan, ini adalah detoksifikasi sosial," ujar Aris tenang. "Doni telah mengalami 'sinkronisasi ulang' fisik dan mental. Jangan takut pada tanggal 29. Tanggal 29 adalah hari di mana setiap orang yang memilih 'Y' akan mendapatkan undangan untuk merasakan kenyamanan yang sama."
Rian memalingkan wajah, mual. Ia menyadari bahwa Doni hanyalah sebuah iklan berjalan. Jika Doni bisa kembali dengan cerita "hotel bintang lima", maka penculikan massal 19 Februari bukan lagi sebuah kejahatan, melainkan sebuah "undangan eksklusif". Histeria massa mencapai puncaknya. Tidak ada lagi hukum, yang ada hanyalah antrean manusia yang berharap bisa mendapatkan nasib seperti Doni.
**17:00 WIB**
Kembali ke markas besar kepolisian, di ruang kerja yang terasa semakin sesak, **Kombes Deni** duduk membeku di depan monitor. Di luar jendela, ia bisa melihat massa yang berpawai mengenakan kaos "Setan Berkata". Warna hitam mendominasi jalanan, menutupi seragam biru polisi yang kini tampak seperti peninggalan sejarah yang usang.
Deni memijat pelipisnya. Layar monitornya dipenuhi oleh laporan tentang kerusuhan sosial, namun anehnya, tidak ada laporan penjarahan. Warga justru sangat tertib. Mereka tertib bukan karena takut pada polisi, tetapi karena mereka merasa sudah menjadi bagian dari organisasi yang jauh lebih besar dan "adil".
Pintu ruangan terbuka. **Rita** masuk dengan membawa nampan kopi. Gerakannya anggun, tenang, dan tanpa suara.
"Komandan, Anda terlihat lelah," ucap Rita. Suaranya terdengar merdu, namun di telinga Deni, ada sesuatu yang terasa ganjil.
Deni menatap asistennya itu. "Rita, lihat ke luar sana. Doni, anak yang hilang itu, baru saja muncul sebagai ikon mereka. Mereka memakai simbol musuh kita sebagai identitas mereka. Kota ini sudah jatuh, Rita. Dan kita bahkan tidak bisa menangkap satu orang pun karena mereka semua melindunginya."
Rita meletakkan kopi itu tepat di depan Deni. Jemarinya yang lentik sempat menyentuh meja, melakukan ketukan ritmis—*tap... tap... tap...*—sebuah pola kode yang tidak disadari oleh Deni, namun langsung diterima oleh sistem *backdoor* yang sudah ditanamkan oleh T ke dalam jaringan Polrestu.
"Mungkin kita yang salah, Komandan," ujar Rita dengan senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Mungkin kita memang tidak seharusnya menangkap mereka. Mungkin, tugas kita hanyalah menjadi penonton yang baik."
Deni menatap Rita, tertegun oleh jawaban itu. Namun, sebelum ia sempat membalas, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi *Tuk Tek* masuk—sebuah video *live streaming* yang menampilkan dirinya sendiri dari sudut pandang kamera CCTV yang tidak diketahui asalnya.
Judul videonya: *“Kombes Deni: Si Penakut yang Memilih ‘N’.”*
Di bawah video itu, jutaan komentar mengalir dengan kecepatan yang tak masuk akal: *“Siapkan kotak hadiah untuk Deni. Dia menolak ‘Y’.”*
Deni melempar ponselnya ke dinding hingga hancur. Ia tidak sadar bahwa di sampingnya, Rita sedang menatapnya dengan tatapan predator. Rita, yang kini menjadi proksi jarak jauh, sedang menunggu satu instruksi terakhir dari S untuk memulai "pertunjukan" di tanggal 29 Februari.
Suribayu telah menjadi kotak hadiah raksasa. Dan di dalamnya, penduduk kota sedang berebut untuk menjadi yang pertama menekan tombol 'Y', tanpa menyadari bahwa hadiah di dalamnya bukanlah kesembuhan atau kemewahan, melainkan kehancuran yang total.