Beberapa hari setelah kejadian itu, pria tua tersebut kembali menemui Serelina. Ia mengundangnya makan malam sebagai bentuk terima kasih, dan di sanalah takdir cinta serelina di mulai.
"Kau... apakah kau gadis yang menolongku waktu itu?"tanya sang pria tua,ketika tak sengaja bertemu serelina kembali di jalan,saat serelina pulang dari kerja.
Dengan senyum lembut, Serelina menjawab,
“Iya… saya yang waktu itu membantu Anda. Saya hanya melakukan apa yang menurut saya seharusnya dilakukan.”
Wajahnya tetap tenang, tak sedikit pun menunjukkan rasa bangga, hanya ketulusan yang terpancar dari sorot matanya. Ia tak menyangka pertemuan itu akan berulang.
Pria tua itu tersenyum hangat, tampak lega sekaligus terharu. Ia menatap Serelina sejenak sebelum membuka suara lagi.
“Namaku Chen Yixuan,” katanya pelan, namun penuh wibawa. “Aku belum sempat berterima kasih dengan benar waktu itu. Boleh aku tahu siapa namamu, gadis baik?”
Serelina tersenyum, membungkuk sedikit sebagai tanda hormat.
“Saya Serelina. Senang bisa bertemu lagi dengan Anda, Tuan Chen.”
Chen Yixuan mengangguk pelan, seperti menyimpan sesuatu dalam pikirannya. Lalu, dengan nada lembut namun penuh keyakinan, ia berkata:
“Serelina, malam ini aku ingin mengundangmu makan malam di rumahku. Tak jauh dari sini, di pusat kota Tokyo. Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku… dan mengucapkan terima kasih dengan layak.”
Serelina tersenyum kikuk mendengar ajakan itu. Ia menggeleng pelan dan menjawab dengan sopan,
“Terima kasih banyak, Tuan Chen… tapi saya rasa itu tidak perlu. Saya hanya melakukan hal kecil, sungguh.”
Namun Tuan Chen menatapnya dengan mata yang tulus dan bersungguh-sungguh, seolah menolak anggapan bahwa pertolongan itu hanyalah sepele.
“Serelina, di usiaku, aku tahu bahwa tak semua orang akan berhenti untuk menolong orang asing. Apa yang kau lakukan… sangat berarti bagiku. Setidaknya, izinkan aku membalas kebaikan itu dengan cara yang pantas.”
Serelina terdiam. Ia tak ingin menyulitkan siapa pun, tapi melihat tatapan Tuan Chen yang penuh harap dan hormat, ia merasa tak enak terus menolak. Setelah beberapa detik dalam keraguan, akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baiklah… kalau begitu, saya akan datang. Tapi sungguh, saya tak mengharapkan apa-apa.”
Tuan Chen tersenyum lega, lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompet kulit kecil yang tampak elegan. Ia menyerahkannya pada Serelina dengan tangan gemetar namun mantap.
“Ini alamat rumahku. Di pusat kota Tokyo. Datanglah malam ini,akan ada seseorang yang menjemput mu"
Serelina menerima kartu itu dengan hati yang masih tak percaya. Di tangannya kini ada sebuah kartu nama tuan chen,namun siapa sangka semua itu bukan hanya untuk makan malam, tapi juga awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Setelah menerima kartu nama dari Tuan Chen, Serelina menunduk hormat dan berpamitan dengan sopan. Langkahnya kembali menyusuri trotoar kota Tokyo yang mulai diselimuti cahaya senja. Angin musim semi berembus pelan, menggoyangkan helaian rambutnya yang terurai. Di genggamannya, kartu nama kecil itu terasa ringan, namun maknanya seolah membawa beban baru di dadanya.
Perjalanan ke tempat tinggalnya tak memakan waktu lama. Ia tinggal di sebuah kompleks perumahan mikro, bangunan kecil yang dirancang sederhana namun efisien, tempat tinggal bagi para pemagang asing. Di sanalah Serelina menempati kamar sempit tapi bersih, yang ia bagi dengan tiga gadis lainnya, sesama peserta magang dari Indonesia.
Saat melewati lorong sempit menuju pintunya, suara tawa samar terdengar dari dalam. Begitu membuka pintu, aroma mie instan dan suara musik pelan dari ponsel langsung menyambutnya. Dua dari teman sekamarnya,sofia dan putri yang sama -sama dari Indonesia namun berbeda provinsi .
serelina berasal dari tanah Priangan,sedangkan sofia berasal dari Medan dan putri dari Jawa tengah.
Sofia dan putri sedang duduk bersila di lantai, menikmati makan malam sambil mengobrol. Sementara satu lagi, yumi, gadis asli Jepang yang ramah namun pendiam, tengah membaca buku di pojok ruangan.
Serelina melepas sepatunya, lalu masuk perlahan. Hatinya masih belum tenang sejak pertemuannya dengan Tuan Chen. Ia menyapa teman-temannya, lalu duduk di tempat tidurnya yang berada di sisi jendela. Dari tasnya, ia mengeluarkan kartu nama yang diberikan Tuan Chen dan menatapnya lagi.
“Serelina, kamu kenapa? Dari tadi diam aja,” tanya putri, menyadari perubahan ekspresinya.
"mungkin perasaan mu aja"timpal serelina sembari tersenyum tipis.
lalu dengan tenang mengambil handuk dan berpura-pura hendak mandi. Padahal, di dalam hatinya, gemuruh tak menentu mulai tumbuh. Ia belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Serelina berdiri lama di depan cermin kecil yang menempel di dinding kamarnya. Ia memilih pakaian terbaik yang ia punya sebuah blus putih sederhana dan rok panjang berwarna biru tua yang sopan namun anggun. Rambutnya ia sisir rapi, dan wajahnya ia poles sedikit dengan bedak dan lip balm seadanya. Tak berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan rasa hormat.
Tanpa banyak suara, Serelina keluar dari kamar. Ketiga temannya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing dan tak menyadari kepergiannya. Ia menuruni anak tangga kecil dengan degup jantung yang semakin kencang.
Begitu sampai di depan perumahan mikro itu, matanya langsung tertuju pada sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik yang terparkir mencolok di pinggir jalan. Mobil itu berbeda jauh dari kendaraan biasa di sekitar sana
panjang, berkilau, dan terlihat sangat eksklusif. Jendela depannya perlahan turun, dan seorang pria berpakaian serba hitam keluar dari sisi kemudi.
Pria itu menatap Serelina sejenak, lalu berkata dengan sopan,
“Permisi… apakah Anda Nona Serelina?”
Serelina mengangguk pelan, gugup tapi tetap menjaga sikapnya.
“Iya, saya Serelina.”
Pria itu langsung membungkuk hormat.
“Perkenalkan, saya Hamada. Saya ditugaskan untuk menjemput Anda. Silakan, mobil sudah disiapkan.”
Dengan sikap profesional namun ramah, Hamada membukakan pintu belakang untuknya. Serelina menunduk sedikit, lalu masuk ke dalam mobil. Aroma lembut pengharum kabin menyambutnya, dan jok kulit yang empuk membuatnya sejenak merasa seperti berada di dunia lain dunia yang tak pernah ia bayangkan bisa ia datangi.
Saat mobil perlahan melaju menyusuri jalan malam Tokyo yang mulai gemerlap, Serelina menatap keluar jendela. Ia masih tak percaya apa yang sedang ia jalani. Di tangannya, kartu nama Tuan Chen masih ia genggam erat sebuah tiket takdir menuju malam yang akan mengubah segalanya.
Perjalanan menuju pusat kota Tokyo berlangsung dalam diam. Serelina hanya duduk tenang di kursinya, meski dalam hatinya gelisah tak menentu. Lampu-lampu kota berkelebat di balik jendela, sementara mobil terus melaju melewati jalanan ramai yang mulai dipenuhi hiruk pikuk malam.
Namun kegelisahannya berubah menjadi keterkejutan saat mobil berbelok ke sebuah kawasan elit di distrik Minato tempat deretan rumah mewah berjajar rapi bagaikan galeri arsitektur modern. Semua rumah di kawasan itu tampak luar biasa, tapi mata Serelina langsung tertuju pada satu bangunan yang berdiri paling mencolok di antara semuanya.
Rumah itu... atau lebih tepatnya, mansion megah bak istana kecil, berdiri anggun dengan arsitektur perpaduan modern dan klasik Asia. Pilar-pilar tinggi menjulang di bagian depan, jendela kaca besar memantulkan cahaya lampu taman yang tertata indah, dan halaman depan seluas lapangan kecil itu dipenuhi tanaman hias eksotis yang terawat sempurna.
Mobil yang ditumpangi Serelina perlahan berhenti tepat di depan gerbang besi berornamen emas. Seorang penjaga keamanan membukakan gerbang secara otomatis, dan begitu roda mobil menyentuh pelataran rumah, Serelina hampir tak bisa mempercayai matanya.
"Apakah… ini rumah Tuan Chen?" bisiknya tanpa sadar.
Sopir Hamada melirik ke belakang melalui kaca spion dan menjawab dengan tenang,
“Benar, Nona. Silakan bersiap. Tuan Chen dan putra nya sudah menunggu Anda di dalam.”
Serelina mengangguk pelan, meski masih dilingkupi rasa kagum dan canggung. Mobil perlahan berhenti tepat di depan tangga utama. Dua orang pelayan berdiri di ambang pintu, seolah tahu betul siapa tamu yang akan datang malam ini.
Dengan langkah hati-hati, Serelina keluar dari mobil. Malam itu, angin Tokyo berembus lembut, namun di dalam dadanya, badai kecil mulai terbentuk,tapi bukan karena takut, perasaan nya tak karuan,campur aduk tak bisa di jelaskan.