Pintu utama terbuka perlahan, dan seorang pelayan membungkuk sopan, mempersilakan Serelina masuk ke dalam rumah. Begitu ia melangkah melewati ambang pintu, dunia di dalam rumah itu seolah berbeda dari dunia yang ia kenal.
Lantai marmer putih mengilap, lampu gantung kristal raksasa bergelantungan di langit-langit, dan dinding dihiasi lukisan-lukisan klasik bercorak Timur dan Barat. Semuanya tampak begitu megah, namun hangat. Ada keanggunan yang tidak mengintimidasi sesuatu yang terasa seperti rumah, bukan sekadar istana mewah.
Tuan Chen berdiri di tengah ruangan, mengenakan pakaian santai namun tetap elegan. Wajahnya berseri saat melihat Serelina masuk.
"Selamat datang, Serelina," ucapnya hangat. "Terima kasih sudah datang malam ini."
Serelina membungkuk sopan, lalu tersenyum dengan gugup.
"Terima kasih atas undangannya, Tuan Chen."
Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, langkah seseorang terdengar dari balik pilar besar di ruang tengah. Sosok tinggi, gagah, dan berwibawa berjalan perlahan ke arahnya. Rambut hitam legamnya tertata rapi, kulitnya bersih dan bercahaya di bawah sinar lampu gantung. Dan saat mata mereka bertemu—Serelina langsung terdiam.
Wajah itu… mata itu… senyuman itu…
Itu Kevin Alexander Chen.
Satu-satunya aktor China yang telah menjadi idolanya selama bertahun-tahun. Sosok yang hanya ia lihat melalui layar ponsel, layar drama, dan sampul majalah. aktor papan atas yang sangat terkenal,namun keluarga nya jarang di sorot media,maka dari itu Serelina tidak mengenal siapa tuan Chen.
Serelina hampir tak bisa bernapas. Kepalanya sempat berpikir ini hanya mimpi, atau mungkin seseorang yang mirip. Tapi tidak. Itu benar-benar dia.
Kevin Alexander Chen berdiri di hadapan Serelina dengan postur tegap dan wajah yang nyaris sempurna sama persis seperti yang sering ia lihat di layar kaca. Namun, ada satu hal yang berbeda dari bayangan Serelina selama ini. tatapannya tenang, suaranya ramah, tapi terasa ada jarak. Bukan kasar… hanya dingin. Terkendali. Seolah ia terbiasa menjaga batas antara dirinya dan orang lain.
"Jadi ini gadis yang membuat Ayah tak berhenti bercerita sejak kemarin," ucap Kevin sambil menatap Serelina sekilas. Senyumnya tipis, sopan, tapi tidak benar-benar hangat.
Serelina mencoba tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Ia membungkuk sedikit dan menjawab dengan suara pelan,
"Senang bertemu dengan Anda, tuan Kevin."
Kevin hanya mengangguk pelan, lalu mempersilakan Serelina duduk. Tuan Chen, di sisi lain, justru sangat hangat dan penuh antusiasme.
Namun, Serelina tak bisa mengabaikan perasaan aneh yang muncul. Ia masih sulit percaya bahwa ia sedang duduk di ruang tamu rumah seorang miliarder
dan lebih dari itu, berada dalam satu ruangan bersama idolanya sendiri. Tapi idolanya itu… terasa seperti sosok yang jauh di puncak menara, hanya terlihat tapi sulit dijangkau.
Serelinasangat gugup, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan. Tatapannya tak bisa lepas dari sosok Kevin, sang idola yang kini berada tak jauh darinya. Jantungnya berdegup cepat, antara kagum dan cemas.
Kevin yang menyadari pandangan itu menoleh tajam. Dengan nada ketus, ia berkata, “Kenapa kau melihatku seperti itu?”
“A-aku tidak melihatmu...” gumamnya pelan, hampir tak terdengar, seolah mencoba menyangkal kenyataan.Serelina memalingkan wajahnya dengan cepat, rona merah mulai merambat di pipinya. Ia berusaha terlihat tenang, meski jelas ada kegugupan dalam gerak-geriknya.
Kevin menghela napas pendek, lalu memutar kedua bola matanya dengan malas. “Huh, dasar aneh,” gumamnya sinis, lalu kembali bersandar di kursi dengan tangan disilangkan di d**a.
Ucapan dan sikap Kevin membuat d**a Serelina terasa sesak. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa malu dan kecewa yang tiba-tiba menyeruak.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Tuan Chen duduk di kursi yang sama, hanya bersebelahan dengan mereka. Namun entah karena gugup atau terlalu fokus pada satu sama lain, baik Serelina maupun Kevin tak menyadari kehadirannya.
Tuan Chen menyandarkan punggungnya santai, tangan terlipat di pangkuan, dan senyum kecil menghiasi wajahnya. Ia memperhatikan dengan penuh ketertarikan tak satu kata pun keluar dari mulutnya, hanya diam menikmati dinamika aneh antara dua anak muda di hadapannya.
Tiba-tiba, seorang pelayan perempuan berusia matang menghampiri mereka. Wajahnya ramah namun berwibawa, dengan langkah tenang dan sikap penuh sopan santun.
“Maaf mengganggu, Tuan Chen,” katanya lembut. “Hidangan sudah disiapkan oleh chef dari Italia dan Prancis. Mereka menanti di ruang makan.”
Tuan Chen mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah Serelina. “Ayo, Serelina"ajak tuan Chen
Serelina mengangguk pelan, masih menyimpan sedikit kebingungan di wajahnya. Ia bangkit dari kursi dengan hati-hati, merapikan ujung bajunya, lalu melangkah mengikuti Tuan Chen menuju ruang makan, langkahnya ragu namun perlahan mulai mantap, seolah hatinya pun ikut digiring oleh rasa penasaran dan kehangatan yang baru saja tumbuh.
Tanpa banyak bicara, Kevin berdiri dari kursinya. Tatapannya sekilas tertuju pada punggung Serelina yang mulai menjauh bersama Tuan Chen. Ia mendengus pelan, seolah tak peduli, tapi langkah kakinya justru membawa tubuhnya mengikuti mereka dari belakang.
“Yah, daripada duduk sendirian…” gumamnya rendah, nyaris tak terdengar.
Begitu melewati ambang pintu, mata Serelina membelalak. Ia tertegun, nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ruang makan itu begitu elegan,langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal berkilauan, dinding berbalut panel kayu gelap yang hangat, dan lantai marmer yang memantulkan cahaya lembut. Di tengah ruangan, berdiri sebuah meja makan besar dari kayu mahoni, dihiasi lilin-lilin ramping dan bunga segar.
Yang paling mencolok adalah hidangan yang tersaji. Piring-piring besar penuh makanan mewah khas Italia dan Prancis pasta truffle, risotto saffron, bouillabaisse harum, foie gras yang disusun artistik, dan deretan roti serta keju pilihan.
Sebagai gadis sederhana yang terbiasa hidup apa adanya, pemandangan mewah di depannya terasa nyaris tak nyata.
Kilau kristal, aroma masakan yang menggoda, dan keanggunan ruang makan itu membuat dadanya sesak oleh rasa tak percaya. Ia bahkan ragu untuk melangkah lebih jauh, takut merusak keindahan yang seolah hanya layak untuk orang-orang penting.
Tangannya meremas ujung bajunya, mencoba menenangkan kegugupan yang mulai merayap.
“Aku… aku tidak pernah membayangkan akan berada di tempat seperti ini,” bisiknya pelan, nyaris kepada dirinya sendiri.
Tuan Chen menarikkan kursi untuk Serelina, lalu mempersilakannya duduk dengan sikap penuh hormat. “Silakan, duduklah. Nikmati semuanya. Malam ini adalah untukmu,” ujarnya ramah, senyumnya tulus.
Serelina duduk perlahan, masih tampak ragu. Pandangannya menyapu seluruh hidangan di atas meja, lalu kembali menatap Tuan Chen.
“Semua ini... terlalu mewah untukku, Tuan,” katanya lirih. “Saya hanya gadis biasa, saya tak pantas menerima semua ini.”
Tuan Chen tersenyum lebih lebar,dan berkata “Kau telah menolongku, anak muda. Lebih dari yang kau sadari. Maka semua ini... tak seberapa dibandingkan rasa terima kasihku.”
Kevin berdiri di ambang ruangan, menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu sambil menyilangkan tangan. Tatapannya menyapu meja makan, lalu berhenti pada Serelina yang masih terlihat gugup namun anggun dalam kesederhanaannya.
Tuan Chen melirik ke arahnya, lalu tersenyum lebar. “Kevin, kau juga di sini rupanya. Bagus. Duduklah, di samping Serelina.”
Serelina spontan menoleh ke arah Kevin, matanya membesar.
Kevin mendengus pelan. “Aku nggak lapar,” katanya datar, lalu menoleh sejenak ke arah jendela, mencoba menghindari tatapan.
Namun Tuan Chen tak bergeming. “Jangan pura-pura keras kepala. Duduk, Kevin. Setidaknya hargai jamuan ini... dan menghargai tamu "
Kevin menatap Tuan Chen dengan pandangan enggan, lalu melirik Serelina yang buru-buru menunduk, tak berani menatap balik. Ada jeda sejenak yang penuh ketegangan... lalu Kevin menghela napas panjang.
“Baiklah, baiklah... hanya sebentar.”
Dengan langkah malas, Kevin pun menarik kursi dan duduk di samping Serelina. Suasana mendadak terasa canggung, namun ada getaran halus di udara.
Mereka pun mulai menyantap hidangan yang telah disajikan. Pelayan-pelayan dengan sigap menuangkan minuman dan menyuguhkan hidangan pembuka satu per satu.
Serelina duduk tegak, kedua tangannya gemetar ringan saat memegang sendok. Sesekali ia melirik ke samping, ke arah Kevin sang idola yang selama ini hanya bisa ia kagumi dari kejauhan, kini duduk hanya beberapa jengkal darinya.
Wajahnya memanas, apalagi saat lutut mereka tanpa sengaja bersentuhan di bawah meja. Serelina buru-buru menarik kakinya, menunduk dalam-dalam, dan pura-pura fokus pada sup krim di hadapannya.