Tanpa serelina sadari ,Kevin menatap Serelina dari sudut matanya, lalu meletakkan garpunya dengan sedikit bunyi dentingan halus di piring.
“Kau tahu,” katanya, nada suaranya ketus, “kalau kau terus menatapku seperti itu, aku bisa kehilangan nafsu makan.”
Serelina langsung menunduk, pipinya memerah. Ia meremas serbet di pangkuannya, berusaha menelan rasa malu yang tiba-tiba membanjiri dadanya.
“Aku... aku tidak bermaksud...” ucapnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Kevin bersandar ke sandaran kursinya, menatap ke arah langit-langit seolah bosan. “Kau selalu seperti ini? Canggung dan salah tingkah? Atau cuma saat duduk di sebelah orang terkenal?”
Kata-katanya menusuk, dan Serelina menggigit bibirnya, berusaha menahan perasaan terluka yang mulai menyelinap.
lalu Kevin mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Serelina dengan tatapan sinis.
“Kau itu... norak,” katanya tajam. “Dari cara dudukmu, caramu pegang sendok... semua kelihatan jelas. Dan gadis seperti kamu,” lanjutnya, suaranya dingin, “bukan tipeku. Jadi jangan sok salting atau baper kayak gitu, ya. Menyebalkan.”
Kata-katanya menusuk seperti pisau. Serelina menegang, dadanya terasa sesak. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menunduk dalam, menolak membiarkan air mata jatuh di hadapan Kevin dan tuan Chen.
Tuan Chen meletakkan cangkirnya perlahan ke meja, suaranya masih tenang namun kini penuh wibawa. “Cukup, Kevin.”
Kevin menoleh, dan untuk sesaat, sorot mata Tuan Chen cukup membuatnya diam.
Tuan Chen menatap Kevin tajam, nada suaranya berubah lebih keras, penuh tekanan yang tidak bisa diabaikan.
“Perlakukan tamuku dengan baik, Kevin,” ucapnya lantang, membuat ruangan seketika hening. “Jika kau benar-benar menyayangiku, kau akan menghargai orang yang ku undang ke meja makanku.”
Kevin membuka mulut, hendak membalas, tapi Tuan Chen melanjutkan dengan suara yang kini mengandung kemarahan yang terpendam lama.
“Kau bertindak seolah aku tak pernah mengajarkanmu sopan santun. Di mana rasa hormatmu? Apakah hatimu sedingin itu sampai tak bisa melihat air mata seseorang yang bahkan tak pernah menyakitimu?”
Serelina menunduk makin dalam, berusaha menahan gejolak di dadanya, sementara Kevin hanya terdiam, rahangnya menegang.
Tuan Chen mengalihkan pandangannya dari Kevin, lalu menatap Serelina dengan sorot mata penuh penyesalan dan kelembutan.
“Maafkan aku, Serelina,” ucapnya dengan tulus. “Atas perlakuan Kevin. Ia keras kepala... dan kadang tak tahu bagaimana cara menjaga perasaan orang lain.”
Serelina mengangkat wajahnya perlahan. Matanya masih sedikit berkaca-kaca, tapi ia memaksakan senyum kecil dan mengangguk pelan.
“Tak apa, Tuan Chen... Saya mengerti,” katanya dengan suara yang nyaris bergetar.
Kevin menatap Serelina dari sudut matanya, sorotnya masih sinis seolah enggan mengakui sedikit pun rasa bersalah. Namun kali ini, mulutnya terkunci rapat. Ia tak berani mengeluarkan sepatah kata pun, sadar bahwa Tuan Chen masih mengawasinya dengan sorot penuh wibawa.
Bibir Kevin menegang, rahangnya mengeras, dan ia memilih membuang pandangan ke sisi lain ruangan. Diam.. tapi jelas bukan karena ia tak ingin berbicara melainkan karena takut satu kata saja bisa membuat Tuan Chen kembali murka.
Serelina merasakannya. Tatapan dingin itu menusuk dari samping, namun ia pura-pura tak peduli. Ia hanya menatap piringnya, memainkan garpu di antara jari-jarinya, berusaha menahan gelombang rasa perih yang masih mengendap di d**a.
Setelah makan malam usai, Serelina bangkit dari kursinya dan membungkuk sopan ke arah Tuan Chen. “Terima kasih banyak untuk jamuannya, Tuan. Saya… saya benar-benar berterima kasih. Tapi saya harus pulang sekarang.”
Tuan Chen berdiri, lalu memberi isyarat kepada salah satu pelayan yang segera membawa beberapa kotak berisi pakaian elegan, makanan berkualitas tinggi, dan sebuah amplop tebal yang terlihat berisi uang.
“Ini untukmu,” kata Tuan Chen sambil tersenyum hangat. “Sebagai bentuk terima kasihku"
Serelina terkejut. Matanya membesar saat melihat isi kotak-kotak tersebut. Ia buru-buru mengangkat tangannya, menggeleng panik.
“T-tidak, Tuan Chen… semua ini terlalu berlebihan. Saya… saya tidak bisa menerimanya. Saya hanya menolong karena itu hal yang benar, bukan karena mengharapkan imbalan.apalagi sebanyak ini,ini tidak setara”
Namun Tuan Chen menatapnya dengan tegas, namun tetap lembut. “Justru karena kau tidak mengharapkan apa pun, aku memberimu semua ini. Jangan tolak niat baik dari orang yang benar-benar tulus, Nak.”
Sebelum Serelina sempat menjawab, Tuan Chen memberi aba-aba pada sopir barunya yang telah menunggu di depan. “Dia akan mengantarmu pulang"
Serelina melangkah keluar dan matanya terbelalak saat melihat sebuah Lamborghini mewah hitam mengilap sudah menunggu di depan pintu. Bahkan hanya melihatnya saja membuatnya merasa seperti sedang bermimpi.
Saat ia hendak masuk ke mobil, Tuan Chen menghampirinya satu langkah dan menepuk lembut bahunya. “Ingat ini, Serelina. Mulai sekarang, kau bukan hanya tamuku... tapi sudah seperti anakku sendiri.”
Serelina terdiam. Air matanya menetes pelan, tapi kali ini bukan karena sakit, melainkan karena haru yang dalam, yang perlahan menghapus luka di dadanya.
Serelina menoleh ke arah Tuan Chen sebelum menaiki mobil. Matanya masih basah, dadanya sesak oleh rasa terharu yang tak bisa disembunyikan. Dengan langkah pelan, ia kembali mendekat, lalu menunduk dalam, hendak berlutut sebagai bentuk terima kasih yang dalam dari lubuk hatinya.
Namun secepat kilat, Tuan Chen menahan gerakan itu. Tangannya mengangkat Serelina dengan lembut namun tegas.
“Jangan,” ucapnya, nadanya penuh wibawa namun sangat hangat. “Lutut seorang gadis sangat berharga.”
Serelina terkejut, matanya mencari penjelasan.
Tuan Chen tersenyum. “Dalam budaya kami, lutut hanya untuk berdoa kepada langit saat doa paling sakral,Kau tidak perlu berlutut kepadaku, Nak. Rasa hormatmu sudah lebih dari cukup.”kata tuan Chen.
Serelina menggigit bibirnya, menahan air mata yang hendak jatuh lagi. Ia mengangguk pelan, lalu berkata lirih, “Terima kasih, Tuan Chen... untuk semuanya. Saya tidak akan pernah melupakan ini.”
Serelina pun naik ke dalam mobil dengan hati yang masih bergetar. Di balik jendela Lamborghini mewah itu, ia menoleh sekali lagi... dan melihat Tuan Chen berdiri di depan rumah megahnya, tersenyum seperti seorang ayah yang melepas anaknya pulang.
Dari lantai paling atas rumah megah itu, di balik tirai tipis jendela kamarnya, Kevin berdiri diam. Loteng itu adalah ruang pribadinya jauh dari hiruk-pikuk dan penuh bayangan kesendiriannya.
Tatapannya jatuh pada mobil Lamborghini yang perlahan bergerak meninggalkan halaman. Di dalamnya, ia tahu, Serelina duduk... gadis sederhana yang hanya berniat baik, tapi ia caci maki tanpa ampun.
Tatapan Kevin tampak dingin seperti biasa. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, bahunya bersandar ke dinding.
Namun di balik sikap kaku itu, ada riak yang tidak bisa ia kendalikan.
Kilasan wajah Serelina saat menahan tangis terlintas kembali di benaknya. Cara ia mencoba tetap sopan meski disakiti, cara ia tersenyum saat terlukaan… perlahan-lahan mengguncang hati Kevin yang selama ini tertutup rapat.
Kevin memejamkan mata, mengumpat pelan pada dirinya sendiri.
“Aku terlalu kejam padanya …”
Tatapannya kembali ke jendela. Mobil itu kini menghilang di kejauhan, tapi bayang Serelina seakan masih tertinggal di matanya. Entah kenapa… kali ini ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.