Kevin bukan tanpa sebab ia sersikap seperti itu, ternyata ia menyimpan dendam dan luka karena seorang wanita,yang menyebabkan dirinya tidak percaya dan benci kepada setiap wanita.
Kevin Alexander Chen. Nama yang dulu dipuja-puja di layar kaca, aktor papan atas dengan senyum hangat dan kharisma yang memikat. Ia dikenal sebagai pria ramah, sopan, dan selalu menyapa siapa pun dengan kelembutan. Tapi itu dulu… sebelum segalanya runtuh.
Enam bulan lalu, hidup Kevin berubah drastis.
Sebuah kecelakaan mobil mengerikan menghancurkan segalanya. Mobil sport yang ia kendarai tergelincir di jalan licin saat tengah malam. Dalam hitungan detik, tubuhnya terlempar, dan saat ia sadar, ia tidak bisa lagi merasakan kakinya. Dokter menyebutnya sebagai kelumpuhan sementara, namun saat itu, Kevin merasa hidupnya lumpuh sepenuhnya.
Selama berbulan-bulan, ia hanya duduk di kursi roda, tak mampu bergerak bebas. Sorotan kamera menjauh. Panggung gemerlap menghilang. Dan orang-orang mulai melupakan namanya.
Namun yang paling menghancurkan bukanlah rasa sakit fisik,melainkan wanita yang ia percayai sepenuh hati Ying Li.
Ying Li, istrinya, juga seorang aktris ternama, wanita cantik dan kuat yang selama ini Kevin pikir akan mendampingi hingga akhir. Tapi rupanya, luka Kevin terlalu berat untuk dia ikut tanggung. Perlahan, Ying Li menjauh. Ia mulai pulang larut, jarang menjenguk ke rumah sakit, bahkan mulai bersikap dingin.
Hingga suatu hari, Ying Li tak kembali sama sekali.
Kevin mengetahuinya dari berita ,Ying Li menikah lagi, dan yang membuatnya makin sakit, suami barunya adalah Jun Aiguo, sahabat masa kecil Kevin sendiri. Orang yang ia percaya. Orang yang ia panggil "saudara".
Pengkhianatan itu menghancurkan Kevin lebih dari apa pun.
Ia menghilang dari dunia hiburan. Pergi meninggalkan Cina dan memilih tinggal di Jepang jauh dari kenangan, jauh dari orang-orang yang ia cintai, jauh dari semua luka yang menyesakkan.
Selama berminggu-minggu, Kevin tenggelam dalam depresi. Ia tak ingin bicara, tak ingin makan, bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri segalanya. Tapi tubuhnya perlahan pulih. Ia bisa berjalan lagi. Meski langkahnya stabil, hatinya tetap pincang.
Ketika ia kembali berdiri, ia tak lagi sama.
Kevin menjadi dingin. Tatapannya keras. Senyumnya menghilang. Ia tak lagi percaya pada wanita, apalagi cinta. Baginya, semua itu hanyalah kebohongan yang dibungkus manis,dirinya, menciptakan sosok kasar untuk melindungi luka dalamnya.
Tak ada yang tahu.
Bahkan Serelina gadis yang diam-diam mengagumi Kevin selama satu tahun terakhirtak pernah mendengar kabar tentang kecelakaan tragis itu, atau bahwa idolanya telah menikah dan dikhianati.
Sebab segalanya memang disembunyikan.
Pernikahan Kevin dengan Ying Li, aktris papan atas selevel dirinya, dilakukan diam-diam atas permintaan sang istri. Ying Li ingin menjaga citranya sebagai wanita mandiri dan bebas, tanpa ikatan rumah tangga yang membatasi. Para fans dan media tetap percaya bahwa Kevin masih lajang. Bahkan agensi Kevin turut menjaga rahasia itu, demi citra dan permintaan pribadi Ying Li.
Dunia hanya tahu bahwa Kevin Alexander Chen menghilang dari layar kaca selama hampir setahun. Tak ada yang tahu ke mana ia pergi, atau apa yang terjadi padanya. Semua rumor menguap, digantikan oleh bintang-bintang baru yang mulai bersinar.
Dan karena itulah, Serelina yang kini bertemu langsung dengan Kevin di dunia nyata tak tahu apa pun tentang luka masa lalu itu. Yang ia tahu, pria yang dulu ia kagumi kini bersikap dingin, ketus, bahkan kejam.
Tanpa ia sadari, di balik tatapan dingin itu...
Terdapat seorang pria yang telah dihancurkan oleh orang-orang yang paling ia percaya, dan masih berjuang memunguti kepingan dirinya yang berserakan.
...
Di dalam mobil mewah berwarna hitam metalik itu, Serelina duduk dengan tubuh tegak namun hati gelisah. Sopir pribadi tuan Chen menyetir dengan tenang, membawa gadis itu pulang ke rumah kontrakanya yang sederhana.
Di pangkuannya terletak kotak-kotak hadiah yang mewah pakaian, makanan, bahkan uang tunai dalam jumlah yang membuatnya tertegun. Semua itu adalah pemberian Tuan Chen, sosok yang baru ia kenal hari ini, namun telah memperlakukannya seperti keluarga sendiri.
Serelina menunduk, menatap hadiah-hadiah itu dengan mata berkaca.
"Kenapa aku diperlakukan sebaik ini oleh orang seperti beliau…?" gumamnya lirih, penuh syukur.
Tuan Chen pria berwibawa dan hangat itu telah berkata sendiri bahwa ia menganggap Serelina seperti anak kandungnya. Bukan hanya kata-kata, sikapnya pun membuktikan. Ia menahan Serelina agar tidak menunduk, mengatakan bahwa dalam budaya Tiongkok, lutut seorang gadis itu terlalu berharga untuk merunduk sembarangan.
Ucapan itu… terasa seperti pelukan hangat bagi hati Serelina yang telah lama terbiasa hidup mandiri dan bersahaja.
Namun di balik semua kebahagiaan itu… terselip luka kecil yang sulit diabaikan.
Kevin.
Idolanya. Pria yang selama ini ia puja dalam diam. Sosok yang membuatnya bermimpi dan memberi semangat saat hari-harinya terasa berat.
Namun ternyata, pria itu… benar-benar berbeda dari yang ia bayangkan.
Ucapan Kevin masih terngiang di kepalanya dingin, tajam, merendahkan.
“Gadis seperti kamu bukan tipeku. Jangan sok salting.”
Dan lebih dari sekali, ia menyebut Serelina norak.
Serelina memejamkan mata sejenak. Ia menghela napas panjang, mencoba menekan rasa kecewa.
“Aku memang bukan siapa-siapa… tapi harusnya dia nggak berkata sekejam itu…” bisiknya lirih, suaranya tercekat.
Tanpa ia sadari, gumam kecilnya tadi tak hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Sang sopir,dengan wajah tenang dan mata yang tajam, melirik Serelina lewat cermin tengah. Bibirnya tersenyum kecil, lalu ia berkata dengan nada pelan namun penuh arti.
"Tenang saja, Nona…" ujarnya dengan lembut. "Kadang, orang yang paling dingin… justru sedang menyembunyikan luka paling dalam. Bukan semua yang terlihat kasar itu benar-benar ingin menyakiti."
Serelina tersentak pelan. Ia menoleh ke arah sopir, matanya bertanya.
Sopir itu melanjutkan, suaranya tetap tenang, hampir seperti sebuah dongeng.
"Kau tak tahu… tapi tuan muda itu sudah melalui badai besar dalam hidupnya. Luka yang bahkan tak pernah tersiar di media, dan tak dibagi kepada siapa pun. Luka yang mengubah caranya memandang dunia."
Serelina menelan ludah. Ia tak berkata apa-apa, tapi dadanya terasa hangat… dan sedikit sesak.
"Jangan terlalu cepat menilai dari satu tatapan atau ucapan, Nona. Kadang, seseorang hanya sedang berusaha bertahan… dengan cara yang keliru."
Mobil pun terus melaju dalam diam.
Serelina menunduk. Kata-kata sopir itu menancap lembut namun dalam di hatinya. Entah mengapa, setelah mendengar itu, kemarahan kecilnya mulai meluruh. Digantikan rasa ingin tahu, dan… mungkin, sedikit rasa iba.
"Apakah,dia menyimpan luka sebesar itu…?"batin serelina
Mobil hitam berkilau itu akhirnya berhenti di depan sebuah gang sempit yang menjadi akses menuju rumah Serelina. Di tengah barisan rumah-rumah kecil yang berdempetan,rapi dengan pot-pot tanaman yang ia rawat sendiri di teras.
Sang sopir segera turun, membukakan pintu dengan sopan.
Serelina pun turun sambil membawa kotak-kotak hadiah, walau ia masih merasa tak enak hati menerimanya.
"Terima kasih banyak sudah mengantar," ucapnya tulus sambil membungkuk sedikit.
Sopir itu tersenyum ramah, membalas dengan anggukan penuh hormat.
"Sama-sama, Nona Serelina. Semoga malam ini membawa keberkahan untuk Anda."
Sebelum berbalik, ia menambahkan dengan nada misterius namun bersahabat,
"Dan siapa tahu.malam ini juga menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga."ucap sang sopir yang kata-katanya sulit di cerna.
Serelina menatapnya bingung sejenak, tapi tersenyum kecil, lalu melambaikan tangan saat mobil Lamborghini mewah itu beranjak meninggalkan gang kecilnya, membelah malam yang mulai hening.
Kini ia berdiri di depan pintu rumah kecilnya, dengan tangan penuh hadiah… dan pikiran yang masih berputar pada semua yang terjadi hari ini terutama, pada sosok Kevin Alexander Chen.
Saat Serelina membuka pintu rumah mikro yang ia tinggali bersama ketiga sahabatnya, suasana hening langsung menyambutnya. Lampu ruang tengah sudah diredupkan, hanya menyisakan cahaya lembut dari dapur yang dibiarkan menyala sebagai lampu malam.
Ia melepas sepatu dengan hati-hati, lalu melangkah pelan melewati ruang tamu mungil itu. Dari sela-sela pintu kamar yang terbuka sedikit, terlihat Putri, Sofia, dan Yumi sudah terlelap, masing-masing di matras mereka. Nafas mereka teratur, tenang, seolah hari mereka telah selesai tanpa gejolak.
Serelina tersenyum kecil. Ia senang mereka tidak terbangun. Ia tidak ingin menjelaskan semuanya malam ini.
Dengan langkah perlahan, ia membawa hadiah-hadiah dari Tuan Chen ke sudut ruang pribadinya yang sempit tapi hangat. Kotak-kotak itu ia letakkan di atas meja kecil. Ia memandangi semuanya sejenak, lalu duduk di tepi kasur tipisnya, menatap ke luar jendela yang buram.
Malam itu terasa panjang.
Meski tubuhnya lelah, pikirannya masih penuh. Wajah Kevin dingin dan sinis,terus melintas dalam benaknya. Tapi begitu juga wajah ramah Tuan Chen dan ucapan sang sopir yang penuh kiasan.