Pagi masih buta saat alarm kecil di samping kasur Serelina berbunyi pelan. Ia segera mematikannya, lalu bangkit dengan pelan-pelan agar tak membangunkan siapa pun. Udara masih dingin, embun belum sepenuhnya menguap dari jendela rumah mikro mereka.
Namun, saat Serelina melangkah keluar kamar menuju kamar mandi, langkahnya terhenti. Di ruang tengah yang temaram, ketiga sahabatnya Putri, Sofia, dan Yumi,sudah duduk di lantai dengan selimut melingkar di tubuh mereka, mata mereka langsung mengarah padanya
“ina kamu darimana semalam?” tanya Putri tanpa basa-basi, suaranya lirih tapi tegas, menembus keheningan subuh.
Serelina terkejut. Ia mengira mereka masih tidur. Satu tangannya masih menggenggam handuk kecil, sementara pikirannya berputar cepat mencari jawaban.
“Kalian bangun sepagi ini?” Ia berusaha mengalihkan, tersenyum kecil.
Yumi mengangguk. “Kita gak bisa tidur nyenyak setelah lihat kamu pulang larut malam dengan mobil mewah. Gimana kita nggak penasaran, na?”
Sofia menimpali, “Dan kamu bawa banyak hadiah. Pakaian, makanan, bahkan amplop yang kelihatan banget bukan sembarang amplop. Jangan bilang itu dari fans rahasia.”
Serelina menarik napas pelan. Ia tahu mereka peduli, tapi pagi ini hatinya belum siap berbagi cerita. Belum saatnya.
“Aku… bantu seseorang. Lalu dia baik sama aku. Udah itu aja.” jawabnya pendek, menghindari tatapan langsung mereka.
Putri mengangkat alis. “Cuma itu?”
Serelina mengangguk, kali ini sedikit lebih tegas. “Iya. Nggak ada yang penting. Aku juga masih nggak ngerti kenapa bisa begitu.”
Yumi menatapnya sejenak, lalu akhirnya mengalah. “Baiklah… tapi kalau kamu butuh cerita, kita di sini.”
Serelina tersenyum, kali ini tulus. Ia tahu mereka kecewa, tapi juga tahu sahabat-sahabatnya selalu menghormati batasannya.
Lalu ia berjalan menuju kamar mandi, membiarkan air dingin membasuh wajahnya. Tapi yang tak bisa ia basuh adalah bayangan Kevin,tatapan sinisnya…
dan juga luka yang kini perlahan Serelina ingin tahu lebih jauh.
Setelah mandi dan bersiap, Serelina kembali ke ruang tengah. Aroma harum nasi, telur dadar, dan sup miso sederhana memenuhi rumah mikro itu. Meja makan kecil di sudut ruangan sudah terisi sarapan yang disiapkan bersama-sama secara bergantian setiap pagi.
Putri, Yumi, dan Sofia sudah duduk melingkar, masing-masing dengan mangkuk di tangan. Saat Serelina duduk, Yumi langsung menyodorkan satu piring kepadanya.
“Sarapan dulu, biar kuat kerja.”ucap yumi
serelina tersenyum,lalu Serelina meletakkan kantong besar di atas meja, menarik perhatian ketiga temannya yang masih sibuk menyiapkan sarapan sederhana.
“Eh, na , itu apa?” tanya Putri
“Makanan instan, tapi bukan yang biasa,” jawab Serelina pelan. Ia mulai mengeluarkan isi kantongnya satu per satu kemasan elegan berwarna hitam keemasan dengan tulisan Prancis dan Italia yang asing.
Yumi mengernyit. “Hah? Ini bukan kayak mie instan dari minimarket deh…”
Sofia mendekat dan membaca labelnya. “Pasta kemasan chef Prancis… truffle mushroom soup… ini makanan harganya gak main-main, na ”
Serelina tersenyum canggung. “Semalam aku dikasih sama… seseorang. Banyak banget, aku nggak mungkin habisin sendiri. Jadi kupikir kita bisa makan bareng.”
Putri langsung mengambil satu bungkus dan membacanya seperti sedang membaca kitab rahasia. “Gila, ini makanan instan level sultan.”
“Bau-nya aja udah bikin kenyang,” canda Yumi sambil menyiapkan air panas dan membuka kemasan sup krim.
Beberapa menit kemudian, meja kecil mereka pun dipenuhi hidangan instan mewah: sup hangat dalam mangkuk kecil, pasta creamy dengan aroma harum, bahkan sepotong kecil roti kering khas Prancis yang ternyata ikut dalam satu paket.
Mereka duduk bersama, saling mencicipi, sesekali saling pandang dengan ekspresi kagum.
“ina, serius deh… ini tuh bukan makanan dari orang biasa. Kamu beneran ketemu siapa semalam?” tanya Sofia penuh penasaran.
Serelina menunduk sebentar, mengaduk perlahan supnya.
“Nanti aja ya… aku masih bingung harus ceritanya gimana.”
Yumi menepuk pundaknya ringan. “Gapapa, kita nggak maksa. Tapi terima kasih ya udah berbagi. Serius, ini pagi paling enak yang pernah aku alami "
Mereka pun mulai menyantap sarapan mewah itu bersama-sama, dengan gelak tawa kecil dan obrolan ringan mengiringi. Di balik kesederhanaan tempat tinggal mereka, pagi itu terasa seperti pesta kecil.
Setelah mereka menghabiskan makanan terakhir di meja, keempat gadis itu berdiri dan mulai membereskan peralatan makan sambil bercanda kecil. Udara pagi mulai terasa hangat, menandakan waktu berangkat kerja sudah dekat.
Namun sebelum mereka bersiap keluar rumah, Serelina tiba-tiba berjalan ke kamarnya dan kembali sambil membawa tiga amplop kecil.
“Eh, na? Itu apa?” tanya Sofia sambil merapikan jaketnya.
Serelina mengulurkan amplop itu satu per satu kepada Putri, Yumi, dan Sofia.
“Ini… buat kalian. Anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena udah jadi sahabatku.”
Ketiganya saling pandang, lalu membuka amplop masing-masing.
Mata mereka membelalak. Uang tunai tertata rapi di dalamnya. Setelah dihitung sekilas, jumlahnya sekitar 1 juta yen per orang.
“Hah!? nal! Ini beneran!? Kamu dapet dari mana uang sebanyak ini!?” teriak Putri, nyaris menjatuhkan amplopnya.
Yumi dan Sofia tak kalah kaget. Sofia bahkan harus duduk kembali, menatap isi amplop dengan bingung.
“Ini bukan lelucon kan? Kamu nggak nyolong kan, na?” canda Yumi, meskipun jelas ekspresinya serius.
Serelina tersenyum lembut, namun matanya sedikit berkaca.
“Aku nggak bisa cerita semuanya sekarang. Tapi aku dapet ini dari seseorang,karena aku menolongnya dia begitu baik kepadaku,dan memberikan ku semua ini,Aku tahu ini banyak, tapi aku beneran ingin kalian juga merasakannya. Kalian temanku, bahkan udah kayak keluargaku di sini.”
Putri langsung memeluknya.
“ina… kamu baik banget. Tapi serius, orang ini siapa sih? Kok bisa sebaik itu?”
Serelina hanya menggeleng pelan. “Nanti aja, aku janji akan cerita. Tapi untuk sekarang, tolong… terima aja ya?”
Sofia mengangguk pelan, masih memandangi uang itu dengan mata berkaca-kaca. Yumi ikut tersenyum dan memeluk Serelina dari samping.
“Kita bener-bener punya sahabat yang luar biasa. Makasih ya, na.”ucap yumi.
Dalam kehangatan pagi itu, meski hari kerja menanti, hati mereka terasa ringan
dibalut rasa syukur.
Serelina baru saja mengenakan jaket kerjanya dan bersiap mengambil sepeda lipat tuanya ketika suara mesin mobil terdengar dari depan perumahan mikro mereka. Ia sempat mengira itu hanya mobil tetangga hingga matanya menangkap sosok mobil warna silver mengilap yang terparkir tepat di depan gang kecil menuju rumah mereka.
Matanya melebar. Mobil itu bukan mobil sembarangan. Desainnya elegan dan familiar.
Lalu, dari pintu mobil bagian depan, turun seorang pria berseragam rapi ternyata itu adalah Hamaji.
Serelina melangkah pelan keluar, wajahnya masih menunjukkan keterkejutan.
“Hamaji-san?”
Supir tua itu tersenyum hangat, membungkuk sopan. “Selamat pagi, Nona Serelina. Tuan Chen menyuruh saya untuk menjemput Anda dan teman-teman Anda hari ini.”
Putri, Yumi, dan Sofia yang tadinya sudah bersiap menunggu angkutan umum, kini berdiri terpaku di ambang pintu.
“K-Kami juga?” tanya Sofia heran.
Hamaji mengangguk sopan. “Betul. Tuan Chen berkata bahwa teman-teman nona juga harus diperlakukan baik karena mereka orang-orang yang berharga bagi Nona.”
Serelina menahan napas. Perasaan haru perlahan menggenang di dadanya.
“Tapi… ini terlalu mewah…” gumam Serelina pelan.
“Nona,” jawab Hamaji lembut, “menolak kebaikan seseorang yang tulus, kadang sama saja dengan menyakitinya. Tuan Chen hanya ingin memastikan hari Anda dimulai dengan baik.”
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil satu per satu. Interiornya luas dan nyaman, jauh dari yang pernah mereka alami sebelumnya.
Saat mobil mulai melaju, Serelina menatap jendela sambil menggenggam tasnya erat. Di hatinya, ada perasaan hangat yang tak bisa ia ungkapkan.
Mobil silver itu berhenti perlahan di depan sebuah bangunan sederhana yang menjadi tempat kerja Serelina sebuah pabrik pengolahan makanan yang selalu dipenuhi aroma rempah dan uap panas sejak pagi.
Pintu mobil dibukakan oleh Hamaji. Serelina turun dengan langkah pelan, menatap sekeliling seolah memastikan dirinya benar-benar ada di dunia nyata.
Rekan-rekannya yang biasa datang dengan sepeda atau berjalan kaki, kini menoleh dengan tatapan penasaran melihat mobil mewah berhenti di depan gerbang. Beberapa dari mereka bahkan sempat berbisik-bisik.
Serelina menunduk sedikit, malu, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Ada bahagia yang tak bisa ia tahan bahagia karena dihargai, karena diperhatikan, dan karena semua ini terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata.