Hamaji membungkuk sopan.
“Saya akan kembali sore nanti untuk menjemput Anda, Nona. Semoga hari Anda menyenangkan.”
“Terima kasih, Hamaji-san. Tolong sampaikan juga rasa terima kasihku pada Tuan Chen,” ucap Serelina, tulus.
Hamaji hanya tersenyum dan kembali masuk ke dalam mobil, meninggalkan Serelina di gerbang pabrik dengan hati yang masih berdebar.
Ia melangkah masuk ke dalam bangunan tempat kerjanya, diiringi tatapan kagum dan bisik-bisik penasaran dari beberapa rekan kerja.
Tapi Serelina tidak peduli.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ia merasa istimewa.
Bunyi mesin, suara dengungan alat pemotong, dan aroma bahan makanan yang tajam memenuhi udara di ruangan produksi. Serelina mengenakan celemek dan penutup kepala, tangannya cekatan memilah bahan baku seperti biasa.
Namun kali ini, pikirannya tak sepenuhnya ada di pekerjaannya.
Kevin Alexander Chen.
Nama itu terus berputar di benaknya. Sosok pria yang selama ini hanya ia lihat lewat layar kaca dengan senyum manis dan sikap memesona ,ternyata sangat berbeda dalam kenyataan.
"Kenapa dia seketus itu padaku?" batin Serelina sambil menaruh potongan sayuran ke dalam wadah besar.
"Apa karena aku terlalu jelek? Terlalu… norak?"
Serelina menghela napas. Tangannya sempat berhenti bergerak. Rekan kerjanya, karina, menepuk pundaknya pelan.
"Hei, Serelina, kamu nggak apa-apa? Dari tadi bengong terus."
Serelina tersenyum kecil dan cepat-cepat kembali bekerja.
"Nggak kok. Cuma... kurang tidur sedikit."
Padahal, bukan tidur yang kurang melainkan pikirannya yang terlalu sibuk bertanya-tanya. Tentang Kevin. Tentang luka yang disembunyikan. Tentang mengapa, meski ia telah diperlakukan buruk, hatinya tetap merasa iba.
Jam istirahat siang tiba. Pabrik perlahan mereda dari suara mesin dan aroma kuat bahan makanan. Di sudut kantin sederhana, Serelina duduk bersama rekan kerjanya, Karina dan Jihan.
"ina ini buat kamu," kata Karina sambil menyodorkan dua bungkus nasi dari jatah makan siang. "Aku tadi ambil lebih buat kamu, tahu kamu suka ayam kare."
Serelina tersenyum. "Makasih banyak, Karina. Kamu baik banget."
Namun suasana hangat itu tiba-tiba berubah ketika ponsel Serelina berdering. Ia mengintip layarnya"Mama Sekar."
Dengan cepat ia berdiri dan menjauh sebentar dari meja.
"Halo, Ma?"
Dari seberang, suara lembut tapi jelas cemas terdengar. "Serelina... maaf Mama ganggu. Ini tentang adikmu, Jesika. Dia ingin kuliah tahun ini… tapi Mama benar-benar nggak punya cukup uang. Papa juga lagi sepi kerjaannya. Kami... kami bingung, Nak."
Serelina terdiam. Suaranya tercekat.
"Mama... jangan minta maaf. Jesika harus sekolah. Dia punya hak buat masa depan yang lebih baik."
"Tapi—kalau bisa Mama pinjam dulu uangnya, nanti dicicil, ya..."
Serelina menatap telapak tangannya yang kosong. Dalam pikirannya, wajah adiknya melintas: senyum polos Jesika, semangatnya belajar meski keterbatasan selalu mengadang.
"Nggak usah pinjam, Ma. Uangnya aku kasih. Cukup, kok. Anggap aja hadiah buat Jesika. Dia harus kuliah."
Di seberang telepon, Sekar Maharani terdiam. Suaranya mulai bergetar.
"Serelina... kamu serius? Tapi itu kan... banyak sekali."
"Tenang, Ma. Aku dikasih rezeki. Dan untuk keluarga, apalagi adik sendiri, aku nggak akan mikir dua kali."
Tangis kecil terdengar dari ujung sambungan. Serelina menahan air matanya, Dalam hatinya, ia merasa lega. Mungkin uang itu datang padanya bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Mungkin ini alasannya.
"Terima kasih, Nak..." suara Sekar terdengar pelan namun penuh haru.
"Kamu benar-benar anak yang luar biasa. Mama nggak tahu harus bilang apa."
Serelina menggigit bibir bawahnya, menahan tangis yang nyaris pecah.
"Mama nggak perlu bilang apa-apa. Aku cuma ingin Jesika punya masa depan yang lebih baik. Kita semua pernah susah, Ma. Sekarang giliran aku bantu sebisa mungkin."
"Dulu Mama sempat khawatir, ngelepas kamu kerja di negeri orang. Tapi sekarang... Mama bersyukur. Kamu tumbuh jadi perempuan yang kuat dan berhati besar. Kalau Papa dengar, pasti dia bangga."
"Jaga kesehatan, ya, Ma. Aku juga bakal kirim lebih buat kebutuhan rumah."
"Iya, Nak... Mama doain kamu selalu. Hati-hati kerja, ya. Dan... terima kasih. Terima kasih banyak."
Telepon berakhir dengan linangan air mata dari dua benua. Tapi hati Serelina terasa hangat. Ia tahu satu hal hari ini, ia membuat seseorang tersenyum, dan itu sudah cukup untuk membuat lelahnya tak terasa.
karena Serelina bukan gadis yang dilahirkan dalam keberuntungan. Hidupnya terbentuk dari perjuangan dan kesabaran.
Ayah kandungnya, sosok pekerja keras yang selalu membawa senyum meski tubuhnya lelah, meninggal dunia saat Serelina baru masuk kelas 1 SMK. Saat teman-teman sebayanya sibuk memikirkan nilai atau tugas sekolah, Serelina justru harus belajar menerima kehilangan terbesar dalam hidupnya.
Ibunya, Sekar Maharani, menjadi tulang punggung keluarga. Tak mengenal lelah, beliau bekerja sebagai kuli di sebuah toko sayuran di pasar tradisional. Setiap pagi sebelum fajar, ia sudah memanggul karung-karung berat berisi sayur dari gudang ke lapak, tangannya kasar, punggungnya sering pegal, namun tak pernah mengeluh di depan anak-anaknya.
Meski hidup mereka sederhana dan serba kekurangan, cinta dan semangat tak pernah absen di rumah kecil itu. Beberapa tahun kemudian, Sekar menikah lagi dengan pria baik hati yang juga hidup dalam kesederhanaan. Ayah tiri Serelina mungkin bukan pria berkecukupan, tapi ia memperlakukan Serelina dan adiknya seperti anak sendiri.
Tama Mahardika
Dari pernikahan itu, lahirlah adik kedua Serelina yang diberi nama Arkana Mahesvara, bocah ceria yang kini menjadi sumber semangat baru bagi keluarga kecil mereka. Meski hidup tetap pas-pasan, kehangatan dan kebersamaan membuat rumah itu terasa penuh cinta.
Setelah lulus dari SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, Serelina berjuang keras mencari pekerjaan. Namun ia sadar, dirinya tidak terlalu pandai dalam bidang itu. Ia pernah mencoba melamar ke beberapa tempat, tapi tak kunjung diterima. Di Indonesia, gelar pun tak menjamin penghasilan. Yang sarjana saja banyak yang menganggur, apalagi dirinya yang hanya lulusan SMK dan tak punya keahlian menonjol.
Ia tahu, jika ingin membantu ibunya dan menyekolahkan adik-adiknya, ia harus berani mengambil langkah besar.
Serelina memutuskan untuk mendaftar ke sebuah LPK—lembaga pelatihan kerja yang membuka peluang bekerja di luar negeri, khususnya Jepang. Keputusan itu bukan hanya soal kebutuhan, tapi juga karena sejak kecil Serelina memang menyukai Jepang. Ia mengagumi budaya, disiplin, dan keindahan negeri sakura itu. Namun, keputusan ini juga mengingatkannya akan impian masa kecil yang kini harus ia kubur dalam-dalam.
Dulu, Serelina bermimpi menjadi seorang artis. Ia ingin tampil di televisi, memerankan karakter, atau sekadar membuat orang tersenyum lewat layar kaca. Tapi hidup tak seindah angan. Ia tahu dirinya tak cukup cantik menurut standar industri hiburan. Ia juga tidak pandai menyanyi suaranya bahkan sering terdengar fals. Menari pun bukan bakatnya, dan setiap kali berdiri di depan banyak orang, tubuhnya gemetar karena demam panggung.
Kini, Serelina memilih realistis. Ia tak ingin terus mengejar sesuatu yang membuatnya terluka. Ia ingin membahagiakan ibunya, menyekolahkan adik-adiknya, dan punya hidup yang layak. Ia pun bertekad, jika bukan jadi artis, maka ia akan jadi pengusaha. Tapi semua itu butuh modal dan pengalaman.
Langkah awalnya? Bekerja di Jepang.
Ia tahu jalan ini tak mudah. Tapi untuk orang-orang yang ia cintai, Serelina siap menapaki setiap langkahnya.
Dan akhirnya, setelah berbulan-bulan pelatihan dan proses administrasi yang panjang, Serelina pun menginjakkan kakinya di Negeri Sakura. Hatinya berdebar, antara bahagia dan cemas. Ia menatap langit Jepang dengan harapan baru, membawa mimpi dan tekad dari tanah airnya.
Namun, kenyataan tak seindah bayangan. Hidup di Jepang ternyata sangat menantang. Jam kerja panjang, budaya disiplin tinggi, dan biaya hidup yang mahal membuatnya cepat sadar
meski gaji di sini jauh lebih besar daripada di Indonesia, tetap saja itu tak membuatnya langsung kaya.
Sebagian besar uangnya ia kirim ke rumah, untuk kebutuhan keluarga, membayar sekolah adiknya.Sisanya ia gunakan untuk makan sederhana dan membayar tempat tinggal sempit bersama ketiga sahabatnya.
Hari-harinya nyaris selalu sama
bangun pagi, bekerja, istirahat sebentar, lalu bekerja lagi. Mimpinya menjadi pengusaha pun terasa jauh, samar, nyaris tak tergapai.
Sampai suatu hari, semuanya berubah.
Pertemuannya dengan Tuan Chen, pria misterius dan terpandang, menjadi titik balik dalam hidupnya. Dari kejadian tak terduga itu, Serelina mulai menjalani kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dan berkat itu pula, Serelina kini bisa membantu adiknya, Jesika Arabella, melanjutkan kuliah di Indonesia. Bukan dengan hasil minjam dari orang lain,melainkan dari uangnya sendiri.