Matahari sore masih menggantung rendah, melemparkan cahaya oranye ke dinding tipis rumah mikro Serelina.
Ia menyalakan kompor, merebus air, dan menyiapkan semangkuk ramen instan. Tak perlu yang ribet. Bukan karena malas, tapi karena tak ada semangat tersisa untuk memasak sungguhan.
Beberapa menit kemudian, ia duduk di lantai dengan semangkuk ramen hangat di tangan. Tapi tak ada kehangatan yang benar-benar terasa.
Serelina menghela napas panjang sebelum menyuap mie pertamanya.
Rasanya… aneh. asin. Padahal ini merek favoritnya,namun serelina tidak memperdulikan nya karena Rasa asin di kuah ramen tak sebanding dengan getir yang tertinggal di hatinya.
Serelina menunduk, menatap mie yang masih mengepul pelan, tapi tak lagi ia sentuh.
Kata-kata Kevin kembali terngiang dengan jelas di kepalanya,Hatinya bagaikan kaca bening yang retak oleh tangan yang paling ia sendiri kagumi.
“Aku nggak boleh sedih,Kevin benar kok,aku emang jelek”
Gumaman itu lirih, nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri. Tapi di dalam dadanya, kalimat itu terdengar keras
menyayat.
Tak berselang lama, suara langkah kaki kecil terdengar mendekat dari luar rumah mikro itu. Suara berisik khas sandal yang terburu-buru menyeret lantai kayu.
Tok tok tok.
“ina? Kamu di dalam?” suara ceria milik Yumi memecah keheningan.
Tanpa menunggu jawaban, pintu didorong perlahan. Putri dan Yumi masuk dan seketika, wajah mereka berubah sendu.
Serelina duduk memeluk lututnya di sudut ruangan, semangkuk ramen tak lagi disentuh, dan matanya sembap meski berusaha ia tutupi dengan rambut yang menjuntai ke depan wajah.
"ina,,kamu kenapa?" tanya Putri lembut, mendekat dan berjongkok di hadapannya.
Yumi ikut duduk di sebelah, tangannya menggenggam tangan Serelina yang dingin dan lemas."Ina… doushita no? (Kamu kenapa?) Cerita sama aku, onegai..."tanya Yumi sembari menatap serelina dengan penuh rasa khawatir.
“Hehe… aku nggak papa kok. Daijoubu, jangan khawatir, ne”ucap serelina sembari tersenyum palsu di hadapan mereka berdua.
"Ina… I know you’re hurting. Tapi please deh, jangan simpen semua sendiri gitu. We're your friends, right? You still consider us your sahabat, kan?"seru putri menatap serelina dengan tatapan serius,karena putri tahu bahwa serelina sedang tidak baik-baik saja.
Tiba-tiba, pintu terbuka dan Shopia pulang.
Langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap pemandangan di ruang tengah Putri dan Yumi tengah duduk mengelilingi Serelina yang terlihat murung.
Kening Shopia berkerut, tatapannya heran.
Shopia langsung berlari ke arah teman-temannya dan bertanya cemas, '"ina kenapa?'apa yang terjadi padanya?"
Putri menggeleng pelan dan menjawab, Kami juga nggak tahu." Ina sama sekali gak mau cerita.'"
lalu Shopia duduk di samping Serelina dan menghela napas. Ia menggenggam tangan Serelina yang terasa dingin. "Ceritakan pada kami, ya? Tolong kami ini temanmu. Kami peduli padamu. Ceritakan apa yang terjadi padamu.'"
Serelina menatap Shopia dengan mata berkaca-kaca. Suaranya nyaris berbisik saat ia berkata"Apa benar ya aku ini gak cantik?"
Mereka saling berpandangan, terkejut mendengar ucapan Serelina yang tibak-tibak berkata seperti itu, seperti nya dia tidak begitu.
lalu Yumi menatap Serelina lembut, lalu berkata dalam bahasa Jepang, "Anata wa tottemo kirei yo. Nande sonna koto kikanakya ikenai no?' (Kamu cantik banget. gak perlu nanya hal seperti itu)."
Serelina menatap Yumi dan menjawab"Shōjiki ni itte. Watashi o kawaisō da to omotteru kara janakute…"
(Katakanlah dengan jujur. Bukan karena kamu kasihan padaku)
"Kamu itu cantik banget, ina. Please, percaya sama diri kamu. You're beautiful, inside and out."ucap putri
"Serius, kamu tuh geulisnya kayak Nawang Wulan. gak cuma dari luar, tapi dari hatimu juga."timpal shopia
(Nawan Uran tte dare desu ka?)
"Siapa itu Nawang Wulan?"tanya Yumi kepada shopia,dia memang gadis jepang dan gak tau menahu soal legenda Jaka tarub yang sudah pasaran di telinga Nusantara.
Shopia menjawab dengan lembut,
“Nawang Wulan itu tokoh dalam cerita rakyat Jawa. Dia seorang bidadari yang sangat cantik dan anggun, yang turun dari kahyangan. Ceritanya penuh keajaiban dan nilai-nilai tentang kesetiaan dan cinta"kata shopia menjelaskan
Iya Nawang Wulan itu cantik banget, persis kayak Ina anggun, lembut, dan memikat hati siapa pun yang melihat."ucap putri menggoda serelina
Serelina yang tadinya murung, akhirnya tersenyum tipis mendengar pujian yang diselipi candaan itu.
"Yaa ampun, kalian itu bisa aja deh bikin aku ketawa," ujarnya sambil geleng-geleng kepala, "masa iya cewek kayak aku secantik Nawang Wulan, yang ada juga mirip nenek gayung!"
Tawa pun pecah, sejenak mengusir awan mendung di wajah Serelina.
Shopia menimpali dengan nada lembut, meski diselipi senyum usil.
"Soalnya kamu sedih terus sih, Emangnya kamu kenapa, nanya kayak gitu tadi?"
Serelina terdiam sejenak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya,tapi ia menahannya. Bibirnya bergerak sedikit, seolah ingin mengatakan hal sebenarnya tentang ucapan Kevin yang menyakitkan,namun ia urungkan.
Lalu Serelina menjawab dengan nada gugup, matanya tak berani menatap langsung.
"Aku, cuma insecure," ujarnya pelan, nyaris seperti bisikan. "Lihat cewek-cewek cantik di sosial media. bikin aku ngerasa gak layak jadi perempuan"
Putri menatap Serelina dengan lembut, alisnya sedikit berkerut.
"Kenapa kamu berkata seperti itu, ina?"
"Badanku tepos, rata, aku gak punya apa-apa yang bisa dibanggain. Kadang aku mikir, cewek kayak aku apa masih bisa dianggap cukup?"timpal serelina
putri memandang sahabatnya itu dengan sorot mata lembut, menahan diri untuk tidak langsung menimpali. Ia tahu, kadang, yang dibutuhkan bukan jawaban tapi didengar, dan dipahami.
Serelina menghela napas, lalu berkata lirih,
"Kalian enak. punya badan berisi, kelihatan anggun dan perempuan banget. Sedangkan aku. dadaku aja nggak ada."
Ia tertawa hambar, mencoba menutupi rasa sakit yang mengintip dari balik ucapannya.
"Terkadang aku merasa kayak wanita yang dikutuk jadi pria. Nggak feminin, nggak menarik.cuma bayangan dari sosok perempuan yang seharusnya."
Yumi langsung menimpali dengan suara lembut tapi tegas,
"Hey, kamu jangan ngomong kayak gitu, please. You're still beautiful in your own way, Serelina. Really."
Ia tersenyum mencoba menenangkan, tangannya menyentuh lembut lengan Serelina.
"Kadang kita terlalu keras sama diri sendiri. You just need to see yourself the way we see you."
Namun di balik senyuman yang Yumi berikan, hanya Serelina yang tahu luka sebenarnya.
Kata-kata Kevin masih membekas dalam hatinya tajam dan dingin, menggores pelan-pelan harga diri yang selama ini memang sudah rapuh.di tambah perkataan Kevin yang menyakitkan baginya membuatnya menjadi makin rapuh.
Serelina memang gadis yang sering terperangkap dalam cermin pikirannya sendiri. Kepercayaan dirinya mudah runtuh, seperti daun kering yang diterpa angin. Tubuhnya yang kurus membuatnya merasa seperti bayang-bayang yang nyaris tak berbentuk.
Ia sering menyebut dirinya datar d**a serupa padang kosong, b****g pun tak membentuk lengkung yang biasa dirayakan banyak orang. Dan wajahnya
menurutnya buram, seperti lukisan yang belum selesai digores warna.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu bukan ketukan biasa, tapi dingin, berjarak, dan entah kenapa membuat bulu kuduk meremang. Tok... tok... tok...
Ada jeda, lalu terdengar suara perempuan dari balik pintu.
"Permisi..."
Suara itu terdengar datar, terlalu tenang seolah tak membawa maksud jelas antara kebaikan atau bahaya.