Dengan keberanian yang tumbuh di dadanya, Putri membuka pintu itu tanpa ragu sedikit pun.Di balik pintu yang perlahan terbuka,Seorang perempuan berdiri tenang, mengenakan pakaian serba hitam yang jatuh anggun di tubuhnya. baju yang sederhana namun terkesan mahal, dengan potongan yang tegas dan detail halus yang memancarkan aura elegan sekaligus dingin.
Di sekelilingnya, empat pria bertubuh tegap berdiri dengan posisi siaga, mengenakan setelan gelap dan kacamata hitam jelas bukan orang biasa.
Lalu, dengan suara yang nyaris seperti bisikan namun cukup jelas menggema di seluruh ruangan, wanita itu berkata,
"Apakah benar ini tempat tinggal Nona Muda Chen?"
Serelina terbelalak mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi tubuhnya tetap diam di tempat. Ia tidak langsung bangkit dari duduknya entah karena terkejut, bingung, atau justru sedang mencoba membaca maksud kedatangan tamu tak dikenal itu.
"Nona Muda Chen?" jawab putri yang terpaku , keningnya berkerut.
"Maaf, Mbak.. sepertinya Anda salah alamat. Di sini gak ada yang dipanggil Nona Muda. Kami semua orang biasa, hidup sederhana."
"Serelina?" ucap wanita itu tegas.
"Apakah dia tinggal di sini?"
Serelina langsung kebingungan. Jantungnya berdegup lebih cepat, pikirannya berputar tak menentu. Ia merasa heran kenapa dirinya di panggil dengan sebutan nona muda chen.apakah wanita itu suruhan tuan Chen ,Dengan suara sedikit gemetar, ia berdiri pelan dan berkata,
"Aku...?"
Wanita itu mengangguk pelan, kemudian melangkah maju mendekati Serelina. Keempat pria bertubuh tegap yang mendampinginya juga mengikuti dengan langkah teratur, menciptakan bayangan yang berat di ruang itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, wanita itu tiba-tiba berlutut di hadapan Serelina dengan sikap penuh hormat. Suasana seketika berubah menjadi sangat serius.
“Salam kehormatan untuk Nona Muda Chen,” ucap wanita itu dengan suara rendah namun penuh penghayatan.
Serelina terpaku, matanya melebar. Ia benar-benar bingung, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Serelina sendiri tak mengerti mengapa ia begitu dicari oleh mereka. Ia bertanya-tanya apakah kedatangan mereka ini atas perintah Tuan Chen, tapi jawaban itu masih samar dan membingungkan dalam benaknya.
Serelina mengangkat tangan sedikit, membalas salam kehormatan itu dengan suara gemetar,
"Salam... saya membalas salam hormat kalian."
Ia berdiri tegak, mencoba terlihat tegar meski rasa gugup jelas tersirat di wajahnya.
"Tapi aku tidak mengerti... mengapa kalian datang ke sini.dan kalian ini siapa?"
Wanita itu melangkah maju sedikit, lalu berkata dengan suara tenang dan tegas,
"Nama saya Arbia. Saya disuruh Tuan Muda Chen untuk membawa Anda ke sebuah tempat."
Serelina mengerutkan kening, suaranya penuh tanya,
"Tuan Muda? menyuruh membawaku ke mana?"
"Ikut saja, Nona. Ini perintah langsung dari Tuan Muda."ujar salah satu pria yang berdiri tegap di samping arbia.
Serelina mengangguk pelan, meskipun rasa herannya masih sangat kuat menghuni matanya.
Arbia menuntun Serelina, diikuti oleh empat bodyguard yang berjaga di sekeliling mereka. Sebelum berangkat, Serelina berpamitan dengan teman-temannya, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang mengganjal di hatinya,saat di luar rumah serelina melihat sebuah mobil mewah terparkir di rumah mixronya,Arbia membuka pintu mobil dengan santai, lalu mengajak Serelina masuk ke dalamnya. Mobil itu memang terlihat mewah dari luar, bodi yang berkilau dengan warna hitam elegan, tapi tidak terlalu mencolok seperti mobil sport atau super mewah,lebih ke arah sedan kelas atas yang nyaman dan stylis.Arbia duduk berdampingan dengan Serelina di kursi tengah mobil, memberikan suasana yang lebih personal dan nyaman untuk mereka berdua. Di belakang mereka, dua bodyguard terlihat waspada, mata tajam terus memantau sekitar, siap menghadapi situasi apa pun. Sementara di depan, dua bodyguard juga duduk, dengan satu di kursi pengemudi yang memegang kendali setir dengan sigap, dan satu lagi di kursi penumpang depan, memantau jalan dan sekeliling lewat kaca depan.
Mobil itu melaju dengan tenang, keamanan terjaga ketat, tapi tetap memberi ruang bagi Arbia dan Serelina untuk berbicara atau sekadar menikmati perjalanan tanpa gangguan. Suasana di dalam mobil terasa serius, tapi juga penuh perhatian dari para pengawal yang siap melindungi.
Serelina menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan gugupnya sebelum akhirnya suara lembutnya memecah keheningan di dalam mobil.“Maaf, Arbia… Tuan muda Chen yang kalian maksud itu, tuan Chen, kan? Dan kalian disuruh membawaku ke mana, sebenarnya?”
Arbia menoleh sebentar, menatap Serelina dengan tatapan tenang tapi penuh perhatian. Dia tersenyum tipis, mencoba memberi rasa aman pada Serelina.“Bukan, nona. Tuan Chen dengan tuan muda Chen itu berbeda. Tuan muda Chen yang kami maksud adalah Tuan Kevin, sedangkan Tuan Chen adalah ayahnya.”
wajah serelina seketikaberubah kaget,saat mendengar hal itu,bukan tuan Chen tapi Kevin,dan mata serelina berkaca-kaca saat mengingat perlakuan Kevin sore tadi yang membuat hatinya tersayat.tak mungkin ia membawanya ke sesuatu tempat yang bagus atau Perasaan tidak enak itu langsung membanjiri pikirannya, menimbulkan prasangka buruk yang sulit dihindari.
"Apa yang dia suruh padamu? Apa kalian datang untuk membuangku jauh-jauh dari Tokyo... atau... mau membunuhku?"
Ucap serelina Nada suaranya mengguncang.
Lalu Arbia tersenyum lembut, mencoba meredakan kepanikan di wajah Serelina. Dengan nada menenangkan, ia berkata,
"Tidak kok, Nona. Tuan Kevin tidak sekejam itu."
Ia menatap Serelina penuh pengertian sebelum melanjutkan,
"Justru... beliau memintaku membawamu ke salah satu klinik kecantikan terbaik di Jepang."
Ia menarik napas sejenak, lalu menambahkan dengan hati-hati,"
Katanya, itu bentuk permintaan maaf—meskipun tidak disampaikan langsung. Dia menyesal telah mengejekmu.,tuan Kevin tidak bermaksud seperti itu,tapi aku juga tidak tahu apa tujuannya dia sampai mengejekmu begitu"
Serelina menghela napas panjang. Matanya masih diliputi kebingungan .
"Sungguh...?"Ucap serelina Tatapannya terangkat, menatap Arbia dengan campuran ragu dan harapan.
"Dia benar-benar melakukan itu... untukku?"
arbia mengangguk"benar nona,tuan muda yang memberikan perintah"
Perlahan, ketegangan di bahu Serelina mulai mengendur. Rasa lega menyelinap di dadanya, karena ternyata bukan rencana buruk yang akan menimpanya. Bukan pembuangan. Bukan kematian. Namun, rasa lega itu belum sepenuhnya menenangkan hatinya.
Ia menatap kosong sejenak, pikirannya yang berputar kacau.
"Kenapa tiba-tiba Kevin bersikap baik?
Apa ini hanya permainan lain darinya?
Atau… Arbi hanya berkata begitu agar aku tidak panik?
Apa benar semua ini nyata...?"batin serelina.
Mobil pun melaju menembus jalanan Tokyo yang sibuk, membelah keramaian kota dengan tenang. Di dalam kabin, suasana hening. Hanya deru mesin dan gemuruh samar lalu lintas yang menemani.Gedung-gedung tinggi berlalu satu per satu, tapi pikirannya justru terbenam dalam keraguan.Selama hampir dua jam perjalanan, tak banyak kata yang terucap.Arbia sesekali melirik serelina memastikan keadaannya,tapi tak memaksanya berbicara. Ia tahu, gadis itu sedang bergelut dengan perasaannya sendiri.
Hingga akhirnya, mobil perlahan berbelok ke sebuah jalan yang tampak lebih tenang dan mewah. Deretan butik kelas atas dan toko parfum premium menghiasi sisi jalan. Beberapa saat kemudian, kendaraan itu berhenti mulus di depan sebuah bangunan modern berarsitektur elegan. Plakat emas di bagian atas fasad berbunyi:
Shonan Beauty Clinic – Ginza Branch
Bangunan itu berdiri megah dengan kaca-kaca besar dan taman kecil yang tertata rapi di depannya. Dari balik jendela, terlihat interior klinik yang bersih, mewah, dan hangat jauh dari kesan dingin rumah sakit. Seorang resepsionis wanita berpenampilan rapi terlihat berdiri menyambut tamu di balik meja penerima.
Arbi menoleh kepada serelina lalu tersenyum ramah.
"Kita sudah sampai, Nona."
Serelina menatap gedung itu dengan campuran perasaan tak percaya dan gugup. ternyata benar saja tak ada sesuatu hal buruk yang terjadi padanya, serelina menyesal telah berprasangka buruk kepada Kevin,namun hatinya masih bertanya apakah ini benar bentuk permintaan maaf, atau hanya bagian lain dari teka-teki yang belum terjawab?