Hans menggenggam tangan Magdaline begitu mereka keluar dari butik. Shin segera mengekor di belakang mereka, lalu sepintas menoleh ke belakang. Salah seorang pegawai butik memperhatikan kepergian Hans dan Magdaline dari balik kaca butik. Shin merengutkan kening. Ada yang berbeda dari tatapan orang itu. Sepertinya dia terlihat tak suka melihat kedekatan Hans dan Magdaline.
Shin mencoba tak menghiraukan apa yang baru saja dilihatnya dan buru-buru mempercepat langkah. Hans dan Magdaline berjalan pelan seraya berbincang akrab. Hans lebih tinggi dari Magdaline. Dia menunduk menatap Magdaline yang mendongak menatap wajahnya. Melihatnya, membuat Shin yakin Hans dan Magdaline memang sepasang kekasih.
Perasaan Shin jadi makin tak nyaman. Dia tahu tak semua pasangan kekasih berakhir bahagia. Namun, melihat kenyataan itu di depan mata, membuatnya merasa bersalah, karena dia tak bisa memberi tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Seharusnya Hans dan Magdaline bisa berbahagia lebih lama. Apalagi mereka masih muda. Tapi, takdir berkata lain. Mereka tak pernah tahu kebahagiaan itu akan terenggut sebentar lagi.
Tak lama kemudian, Hans dan Magdaline berhenti di depan sebuah kafe. Shin mendongak dan melihat papan namanya yang bertulisan Café Louvre bergoyang-goyang ditiup angin.
“Lihat, sepertinya ada menu baru di sini. Ada diskon lagi. Kita coba, yuk?” ajak Magdaline pada Hans.
Hans mengangguk. Mereka pun masuk ke dalam kafe. Shin segera mengikuti mereka.
Hans dan Magdaline memilih meja di dekat jendela. Mereka duduk berhadapan dan sama-sama melihat buku menu, berdiskusi minuman apa yang akan mereka pesan. Shin berdiri di samping mereka, bingung harus melakukan apa. Akhirnya, dia pun memilih duduk di kursi di samping Magdaline. Shin memandang wajah Hans dan Magdaline bergantian, lalu tersenyum kecil. Dia seperti seorang penguntit saja. Bedanya, tak ada yang menyadari apa yang dia lakukan.
Beberapa menit kemudian, seorang pelayan datang untuk menanyakan menu yang hendak dipesan. Hans dan Magdaline memesan menu baru Café Louvre, juga dua gelas teh lemon hangat.
“Sebentar, aku ingin ke toilet.” Magdaline menyentuh lengan Hans sekilas sebelum pergi. Hans menanggapinya dengan senyuman manis.
Shin memandang punggung Magdaline. Perempuαn itu menghilang ke toilet dan sepertinya akan lama kembali. Perhatian Shin kini beralih pada Hans. Hans termenung. Matanya tertuju pada buku menu di meja. Dari sorot matanya, Shin tahu ada sesuatu yang dipikirkan laki-laki itu. Sayangnya, Shin tak punya kekuatan membaca pikiran manusia. Pasti lebih mudah andai Shin memilikinya, jadi dia bisa tahu apa yang dipikirkan Hans sekarang.
Tiba-tiba saja, kening Hans mengernyit. Dia memegang dαdanya dengan ekspresi kesakitan yang begitu kentara. Seraya menahan sakit, Hans merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebotol kecil obat. Shin tak tahu obat apa itu. Hans membuka tutupnya dengan susah payah, mengeluarkan isinya, dan segera memasukkannya ke dalam mulut.
Tak berselang lama, ekspresi kesakitan di wajah Hans berangsur-angsur menghilang. Meski demikian, Hans masih memegang dαdanya. Shin tak ingin menebak-nebak. Tapi, sepertinya ada yang tak beres dengan kesehatan Hans.
Begitu melihat Magdaline keluar dari toilet, Hans segera memasukkan botol obatnya ke saku celana. Dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi seceria mungkin. Shin merengutkan kening. Sepertinya Hans tak ingin Magdaline tahu apa yang terjadi barusan. Atau mungkin malah perempuαn itu tak tahu-menahu ada yang tak beres dengan kesehatan Hans.
***
Shin sengaja duduk di luar kafe setelah Magdaline kembali dari toilet. Dia pikir tak nyaman rasanya memperhatikan mereka dari dekat. Meski tak ada yang menyadari kehadirannya, Shin merasa tak pantas diam-diam mendengarkan pembicaraan orang lain. Dia paham artinya privasi. Shin sendiri pun tak suka andai ada yang membuntuti dan menguping pembicaraannya diam-diam.
Angin tiba-tiba berhembus, membuat Shin menggigil. Dia segera merapatkan mantel untuk menghalau dingin. Shin mendongak. Langit masih mendung. Sementara awan kelabu masih setia menggelantung di atas sana, meski tak berkeinginan untuk mencurahkan isinya.
Karena Café Louvre berada di pinggir jalan besar, Shin bisa melihat lalu-lalang orang di depannya. Dia menghela napas. Ah, manusia. Betapa kehidupan mereka sama sekali tak bisa ditebak. Selama dua tahun menjadi dewa kematian, Shin menyadari satu hal. Manusia hidup tanpa tahu apa-apa. Mereka tak tahu kenapa harus hidup, atau kenapa harus mati. Mereka hanya menjalaninya begitu saja, seperti boneka. Dan, orang lain bisa seenaknya mengomentari hidup manusia ketika mereka telah tiada.
Shin jadi ingat pertama kali dia menjadi dewa kematian. Waktu itu Shin mendapat tugas mencabut nyawa seorang nenek yang tinggal bersama cucunya. Cucunya masih bayi. Orang tuanya sendiri entah kabur kemana. Mereka orang tua yang tak bertanggung jawab. Mereka menelantarkan bayinya karena tak punya uang. Mau tak mau, sang neneklah yang mengurus cucunya.
Suatu hari, sang nenek sedang menjerang cerek berisi air. Dia berhati-hati sekali melangkah, karena lantai rumahnya bocor. Rumahnya memang sudah sangat tua. Atapnya juga bocor karena hujan. Saat itulah, petaka itu terjadi. Sang nenek terpeleset genangan air saat hendak memindahkan cerek yang airnya telah mendidih. Cerek itu terlontar jauh ke depan, sementara kepala sang nenek terbentur meja dapur. Malang tak dapat ditolak, sang nenek pun tak sadarkan diri dengan darah mengucur dari kepalanya.
Shin tak bisa melakukan apa-apa melihat kejadian itu. Sambil menenangkan diri, dia mendekati sang nenek. Sesuai data yang dia terima, sang nenek meninggal saat itu juga. Dengan tangan telαnjang, Shin segera merogoh jiwa sang nenek dari jantungnya. Suara sang nenek mendengih saat Shin mengeluarkan jiwanya. Tak lama, dia pun meninggal, disertai lengan yang terkulai di samping tubuhnya.
Tak ada yang tahu kejadian tersebut. Sementara cucu sang nenek terus menangis gara-gara kehausan. Suara tangisannya makin mengeras, membuat tetangga sebelah rumah nenek—seorang wanita paruh baya—merasa terganggu. Dia pun menerjang rumah nenek seraya berteriak kalap. Bingung karena tak menemukan sang nenek, dia masuk lebih dalam, dan terbelalak begitu mendapati sang nenek terkapar dengan darah tergenang di sekitar kepalanya.
Kejadian itu membuat gempar lingkungan rumah sang nenek. Para warga segera menghubungi pihak berwenang supaya ada yang mengurus kematian sang nenek. Shin ingat kejadian itu menarik perhatian jurnalis sebuah surat kabar. Dia pun mewawancarai wanita yang menemukan mayat sang nenek.
“Kasihan. Sungguh kasihan.” Wanita itu menggelengkan kepala berkali-kali dengan wajah prihatin saat diwawancarai. “Saya tak habis pikir bagaimana ini bisa terjadi. Nenek itu ditinggal anak dan menantunya sendirian bersama cucunya. Kurang ajar benar! Dasar anak dan menantu durhaka!” Wanita itu terlihat murka. Shin mengernyitkan kening heran. Sungguh munafik. Padahal wanita itu hendak marah-marah pada sang nenek karena merasa terganggu dengan tangisan cucunya. Hanya karena diwawancarai dan namanya dijanjikan masuk koran, wanita itu berkata sok seperti itu.
“Yah, apa boleh buat. Tidak ada yang tahu nasib seseorang, bukan?” Wanita itu kembali berakting sok sedih. Tapi, sejurus kemudian dia mencondongkan tubuhnya pada si jurnalis seraya berbisik. “Hmm, mungkin ini semacam karma. Anda tahu? Saya dengar tetangga saya itu dulu pernah menjadi simpanan Pak Walikota. Ah, tapi itu kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mungkin tak ada yang ingat.”
Shin mencoba menahan diri mendengar ucapan wanita itu, meski perasaan marah menggelora dalam dirinya. Tak ada yang tahu pengorbanan sang nenek. Dia sampai harus mengambil uang pensiunnya yang tak seberapa demi bisa membeli s**u untuk cucunya. Tanpa mengetahui itu semua, bisa-bisanya orang yang tak tahu apa-apa menggosipkannya setelah sang nenek meninggal. Benar-benar keterlaluan.
Shin ingat sempat menyentuh sudut matanya untuk melihat biodata wanita itu. Di balik sikap menyebalkannya, rupanya wanita itu berumur panjang. Dia akan mati di umur 93 tahun.
Kalau dipikir sekarang, Shin sungguh tak mengerti misteri umur manusia. Kenapa ada yang berumur begitu panjang, dan ada yang berumur pendek. Shin jadi memikirkan Hans. Sesuai data, saat ini dia masih berusia 25 tahun. Hans masih begitu muda. Sayangnya, sebentar lagi dia akan menemui ajal. Hidupnya akan berakhir begitu saja.
Saat Shin sedikit melamun, dilihatnya Hans dan Magdaline keluar dari kafe. Shin spontan berdiri dan kembali mengikuti mereka. Dia masih ingin tahu kehidupan Hans. Setelah ini Shin akan mengikutinya sampai rumah. Siapa tahu dia akan menemukan sesuatu yang menarik di rumah Hans.
-to be continue-