Apartemen Hans berada di lantai dua puluh sebuah gedung apartemen. Gedung apartemennya lumayan mewah, terlihat dari luasnya ruangan dan perabotannya yang berkelas. Shin memperhatikan sekeliling seraya duduk di sofa. Kalau dilihat dari mewahnya apartemen ini, dia perkirakan Hans berasal dari golongan orang berada. Anehnya, tak ada siapa pun di sini. Sepertinya Hans tinggal seorang diri. Atau mungkin dia memilih hidup terpisah dari keluarganya. Atau bisa juga orang tuanya tinggal di luar kota. Banyak sekali kemungkinan. Shin tak tahu mana yang benar dari hipotesanya barusan.
Mata Shin tertuju pada foto di atas bufet. Di foto itu tampak Hans, Magdaline, dan seorang gadis manis berambut ikal. Mata Shin memicing, mencoba mengingat di mana dia pernah melihat gadis berambut ikal itu. Ah, akhirnya Shin ingat. Gadis itu adalah pegawai butik Magdaline. Ya, benar. Gadis itu yang dilihatnya memperhatikan kepergian Hans dan Magdaline dengan tatapan tidak suka.
Melihat sedikit fakta yang terpampang di depan mata, Shin pikir dia mengerti hubungan ketiga orang itu. Cinta segitiga memang klise. Tapi, banyak yang terjebak di hubungan semacam itu, meski tentu saja kalau boleh memilih, tak ada seorang pun yang ingin berada di situasi tersebut.
Hans kembali dari toilet dan duduk di depan ruang kerjanya yang terletak di sudut ruangan. Shin mendekat. Dilihatnya Hans membuka laptop, menunggunya menyala, lalu mulai mengetik sesuatu. Shin manggut-manggut. Sepertinya profesi Hans adalah seorang novelis. Waktu mengecek rak bukunya, Shin menemukan buku karangan Hans yang bertuliskan BEST-SELLER di sampulnya. Shin tak mau menduga, tapi sepertinya buku karangan Hans laku keras di pasaran.
Cukup lama Hans berada di ruang kerjanya, membuat Shin sedikit bosan. Dia pun ketiduran di sofa.
Shin terbangun saat mendengar suara bel pintu. Matanya segera fokus pada jam dinding. Shin tak menyangka dia telah tidur enam jam lamanya. Sekarang sudah pukul sembilan malam.
Hans buru-buru membuka pintu. Tanpa beranjak dari sofa, Shin melihat siapa yang datang. Ah, rupanya gadis berambut ikal itu. Gadis itu masuk dengan wajah ceria. Shin segera menyentuh sudut matanya dengan jemari untuk melihat biodatanya. Ah, namanya Irish. Dia akan mati dua puluh tahun lagi. Waktu hidup yang cukup lama, berbeda dengan Hans.
Seraya duduk di seberang Shin, Irish meletakkan keranjang buah berisi apel dan jeruk segar. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala saat mendapati laptop Hans menyala.
“Aku tahu tenggatmu sudah dekat. Tapi, jangan lupa makan, Hans,” ujar Irish.
Hans menoleh ke meja kerjanya. Dia cuma tersenyum. “Apa boleh buat. Aku tidak mau dikejar-kejar editor lagi. Omong-omong, seharusnya kau tak perlu datang. Aku tahu kau pasti sibuk bekerja di butik. Tapi, terima kasih. Aku memang butuh buah-buahan itu.” Hans mengambil sebutir apel, lalu menggigitnya.
“Seharusnya kau berterima kasih pada Magda. Aku tak sebaik itu mau membawakanmu sesuatu. Karena Magda sedang sibuk mengurus pembukuan, makanya aku disuruh kesini,” ucap Irish, lalu tertawa kecil. Diam-diam, Shin memperhatikan ekspresi wajah Irish. Rasanya tak ada yang spesial dari sorot matanya. Shin sudah beberapa kali mengamati sikap orang yang memendam rasa. Biasanya akan terlihat dari sorot matanya. Tapi, untuk Irish tak seperti itu. Dia tak menganggap Hans lebih dari seorang teman. Kalau memang benar demikian, untuk apa Irish datang kemari?
“Sudah kuduga. Atasanmu itu memang baik hati dan tidak sombong, berbeda denganmu,” kelakar Hans.
Irish memajukan bibirnya. “Magda yang kurang beruntung punya kekasih sepertimu.”
Kini Hans yang tertawa, sementara Irish tidak. Shin sedikit bingung melihat situasi di hadapannya, terutama begitu Shin menelisik raut wajah Irish. Entah kenapa saat membicarakan perihal kekasih Magdaline, sorot matanya langsung berubah.
“Baiklah, aku pulang dulu. Aku tidak mau ketinggalan bus.”
“Akan kuantar. Aku tidak mau Magda marah karena aku telah menelantarkan sahabat baiknya.”
“Tidak perlu…” tolak Irish.
“Jangan begitu. Kau sudah susah payah kesini. Tunggu sebentar, oke? Aku ganti pakaian dulu,” ucap Hans kemudian, lalu menghilang ke dalam kamarnya.
***
Shin tetap mengikuti Hans waktu laki-laki itu mengantar Irish menuju halte. Sambil menunggu bus, mereka berbicara selayaknya teman akrab dan sesekali membicarakan masa-masa saat kuliah. Mendengar pembicaraan mereka, bisa disimpulkan Hans, Magdaline, dan Irish sudah berhubungan sejak kuliah. Setelah lulus, Magdaline merekrut Irish menjadi perancang busana di butik yang didirikannya—Irish dan Magdaline sama-sama kuliah di jurusan mode. Sementara Hans menjadi penulis yang karyanya mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Hans sendiri kuliah jurusan sastra klasik. Meski jurusannya berbeda, tapi mereka kerap bertemu karena secara status Hans adalah kekasih Magdaline.
“Nah, busnya datang. Aku pergi dulu,” pamit Irish.
Hans mengangguk kecil. Dia melambaikan tangan pada Irish, lalu pulang setelah memastikan Irish sudah mendapat tempat duduk dalam bus.
Karena penasaran dengan Irish, alih-alih mengikuti Hans, Shin segera naik ke dalam bus. Bus pun melaju pelan, menembus jalanan malam yang sedikit lengang. Shin sengaja duduk berseberangan dengan Irish. Irish sedikit melamun. Matanya menerawang jalanan di depan. Di saat seperti ini, Shin sungguh berharap memiliki kekuatan membaca pikiran manusia. Memperhatikan manusia diam-diam seperti ini begitu menyiksa, karena pikirannya jadi sibuk menerka-nerka, tanpa tahu fakta yang sesungguhnya.
Tak berapa lama, Irish merogoh sesuatu dari tas selempangnya. Mata Shin membeliak. Dia tak mungkin salah lihat. Itu adalah botol obat milik Hans. Tapi, tunggu, kapan Irish mengambilnya? Shin mencoba mengingat kejadian waktu Irish datang ke apartemen Hans. Sebelum mengantar Irish pulang, Hans sempat masuk kamar untuk berganti pakaian. Waktu itu Shin memang melihat Irish melihat-lihat isi rak, lalu duduk di meja kerja Hans. Shin tak begitu memperhatikan, tapi mungkinkah Irish mengambil botol obat yang ditaruh Hans di meja kerjanya?
Shin terkesiap begitu mengetahui fakta itu. Dia memandang wajah Irish. Irish menimang botol obat Hans dengan sorot mata dingin. Shin yakin, tatapan itulah yang dilihatnya waktu Hans dan Magdaline pergi bersama. Tatapan tak suka yang begitu kentara. Tatapan benci setengah mati yang tak bisa disembunyikan lagi.
“Sudah sepantasnya kau tidak ada. Sudah sepantasnya,” bisik Irish berkali-kali, seolah marapal mantra.
Shin menelan ludah. Shin familier sekali dengan sorot mata itu. Kebencian. Kecemburuan. Shin jadi teringat masa lalu saat mencabut nyawa seorang istri yang dibunuh suaminya sendiri.
Shin tak mau berspekulasi. Tapi, kecemburuan yang dahsyat bisa membawa bencana. Sepertinya itulah yang akan dirasakan Hans. Mungkin ini pula alasan Hans harus mati. Dia akan mati akibat kecemburuan. Kecemburuan yang begitu besar yang dirasakan Irish padanya.
-to be continue-