Shin tak sanggup berkata-kata mendengar ucapan Flo. Flo sendiri hanya menelengkan kepala dengan tatapan menggoda. Tangan Shin berkeringat dingin. Dia tak pernah tahu Flo bisa berkata sevulgar itu. Atau memang semua dewa kematian seperti itu? Mengingat sifatnya yang kata Flo terlalu polos, mungkin Shin-lah yang tampak aneh di sini. Terlebih dia sedikit anti-sosial yang membuatnya jarang berinteraksi dengan dewa kematian lain.
“A-aku…” cicit Shin, masih terbata-bata. Dia tak pernah mengalami peristiwa semacam ini sebelumnya. Karena itu, dia tak tahu bagaimana harus bersikap. Lagipula dia tak tahu respon seperti apa yang dikehendaki Flo. Seharusnya Flo tahu dia akan mati kutu seperti ini. Tapi, kenapa gadis itu masih saja menggodanya?
“Kalau kau mau, kita bisa melakukannya di sini sekarang juga. Hutan ini cukup sepi. Lihat, aku bahkan bisa membuat tabir, jadi tak ada yang bisa melihat kita…” Flo melambaikan sebelah tangannya. Selubung tipis kain pun muncul, memberi mereka ruang privasi yang berbentuk seperti gelembung sabun yang mengurung mereka dari dunia luar.
Shin menoleh ke kanan dan kiri dengan perasaan was-was. Mati aku, pikir Shin kalang kabut. Tabir ini membuatnya tak terlihat siapa pun. Berteriak pun percuma. Tak ada yang bisa mendengarnya. Bisa dibilang ini memang salah satu kekuatan dewa kematian—yaitu membentuk tabir yang membuat para dewa kematian tak terlihat oleh siapa pun di sekelilingnya. Shin pun bisa melakukannya. Sayangnya, sampai saat ini dia tak pernah mempraktikkan kekuatannya tersebut, karena menurutnya tak ada kegiatan apa pun yang perlu dia tutupi dari orang lain—apalagi dari Flo.
“Tu-tunggu…” Shin mundur waktu Flo mendadak merengsek maju. Dari jarak sedekat ini, Shin bisa mencium wangi parfum Flo yang menusuk hidung. Shin tak pernah sadar sebelumnya, tapi Flo begitu wangi, membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Shin menelan ludah dengan susah payah, sementara Flo mendongakkan kepalanya, berusaha mengintimidasi Shin dengan tubuhnya. Mata Shin berkedip beberapa kali waktu Flo mendekat, sehingga dia bisa melihat belahan dαda Flo yang begitu rendah ketika jarak mereka hanya beberapa mili saja.
“Ku-kupikir pikir kau harus berhenti, Flo…” ucap Shin dengan napas tersengal. Saat ini tubuh Flo sudah sepenuhnya menempel padanya. Pαyudaranya yang kenyal pun menggesek dαda Shin, membuat tubuhnya membeku.
“Benarkah kau mau berhenti, Shin? Bukannya semua laki-laki menyukai tubuh perempuαn?” Flo mendorong Shin sampai punggungnya membentur pohon. Flo lalu memeluk Shin erat. Lengannya yang kurus melingkari tubuh Shin, membuat Shin tak bisa bergerak sesenti pun.
Tubuh Shin benar-benar tegang kali ini. Sepertinya kendali syarafnya mati, jadi dia tak bisa menolak apa yang dilakukan Flo. Shin cuma bisa memejamkan mata rapat-rapat. Dia sungguh tak suka situasi ini. Dalam hati dia berharap Flo berhenti memeluknya, dan menjauh darinya untuk selamanya. Dia benar-benar tak suka diperlakukan seperti ini, yang membuatnya tak berdaya, karena tak tahu harus melakukan apa.
Cukup lama matanya terpejam, sampai Shin merasa pelukan Flo mengendur, dan dia mendengar Flo terbahak. Sontak Shin membuka mata. Dilihatnya Flo terus tertawa, seolah dia baru saja melihat pertunjukan komedi terlucu abad ini.
Shin mengerucutkan bibir tidak suka. Dia tak suka cara Flo tertawa. Gadis itu seperti mengejeknya saja. Meski ya… Shin sadar sikapnya itu memang tergolong pengecut dan pantas ditertawakan.
“Kau harus lihat wajahmu sendiri, Shin. Lucu sekali!” seru Flo, masih dengan tawa yang tak henti keluar dari bibir tipisnya.
Shin mendengus. Kesal rasanya diperlakukan seperti ini oleh Flo. Padahal dia pasti tahu Shin tidak suka hubungan fisik semacam ini.
“Puas kau?” ucap Shin, sedikit geram.
“Aku sungguh-sungguh ingin melakukannya denganmu, Shin. Tapi, melihat wajahmu aku jadi tidak tega.” Flo kembali tertawa.
Shin bersungut-sungut. “Kalau kau sudah tahu, seharusnya kau berhenti, bukannya malah menggodaku.”
Flo tiba-tiba terdiam. Tanpa Shin sadari, Flo mendekatinya lagi, lalu menarik kerah kemeja hitamnya, sehingga wajah mereka berhadapan. Mata Shin mengerjap beberapa kali, tepat saat Flo memajukan wajahnya untuk menciumnya.
Bibir lembut Flo menempel di bibir Shin, membuat mata Shin terbelalak. Dia tak percaya yang dilakukan Flo sekarang. Tak lama, Flo menjauhkan wajahnya. Dia tersenyum manis, lalu menepuk pipi Shin dua kali, membuat pemuda itu tersadar dari keterpanaannya atas apa yang dilakukan Flo barusan.
“Jangan bilang ini ciuman pertamamu? Oh, beruntungnya aku.” Flo terkikik. “Kau benar-benar tak seperti dewa kematian, Shin. Begitu polos. Begitu murni. Begitu manusiawi. Aku jadi penasaran seperti apa rasanya dirimu.”
“A-aku…” Lagi-lagi Shin tak sanggup berkata-kata. Ciuman Flo seperti racun saja, membuatnya mati kutu.
“Ah, aku bosan.” Mendαdak Flo menjauhkan tubuhnya. Dia menatap Shin dengan sorot mata malas, lalu menghembuskan napas panjang. “Aku tahu kau tak berpengalaman, tapi sikapmu membuatku jadi terlihat murahan. Kita akhiri sampai di sini saja.” Flo melambaikan tangan, membuat tabir yang menyelubungi mereka seketika menghilang. “Ingat, Shin, kau harus membiasakan diri dalam situasi seperti ini. Kau akan mempermalukan dirimu sendiri kalau ada dewa kematian lain yang mengincarmu. Seks bukan hal tabu bagi kaum kita, kau tahu itu, kan? Kau cukup beruntung karena aku yang menawarimu pertama kali, jadi aku tak keberatan dengan sikapmu yang malu-malu kucing itu. Tapi, kalau dewa kematian lain, bisa-bisa martabatmu jatuh. Hal itu amat berbahaya. Terlebih untuk dewa kematian sepertimu.”
“Dewa kematian sepertiku? Apa maksudmu?”
“Apa tak ada yang mengatakannya padamu? Senior tak menceritakannya? Oh, Shin, sungguh kasihan. Sepertinya kau produk gagal. Karena itulah sifatmu aneh, tak seperti dewa kematian kebanyakan. Apa kau tak sadar hal itu? Menurutmu tak ada alasan konkret kenapa perasaanmu begitu halus, kau gampang menangis, dan begitu terpengaruh dengan kehidupan manusia?”
Mata Shin membeliak tak percaya. “A-apa maksudmu?” Shin sedikit terguncang dengan ucapan Flo, terutama waktu Flo berkata Shin adalah produk gagal.
“Yah, kau harus mencari tahu sendiri. Aku tak mau memberitahumu. Aku cukup lowong kemarin sampai mencari literatur mengenai kaum kita di perpustakaan akademi. Ups, aku lupa. Perpustakaan akademi adalah tempat terlarang. Menurutmu bagaimana caranya aku bisa masuk dan menyuap penjaganya?” Flo melenggokkan pinggangnya, seolah memberi jawaban melalui gestur yang dia tunjukkan. Dia lalu tertawa, dan berbalik pergi, meninggalkan Shin yang kebingungan gara-gara ucapannya barusan.
Shin terpekur. Dia sungguh penasaran dengan kata-kata Flo. Tadi Flo bilang tentang perpustakaan akademi. Seperti katanya, tempat itu memang terlarang. Untuk murid akademi sendiri, ada perpustakaan umum yang bisa dikunjungi.
Sudah dua tahun Shin lulus dari akademi, jadi tak mungkin dia bisa seenaknya berkunjung ke akademi, kecuali ada perintah khusus. Tapi, tunggu. Shin teringat sesuatu. Sepertinya, dia tahu akses untuk masuk ke sana.
Hmm, tapi itu nanti dulu. Ada hal penting untuk dipikirkan sekarang. Ya, Shin harus pergi ke dunia manusia untuk melihat perkembangan Hans. Untuk sekarang, Hans-lah prioritas utamanya. Shin tak mau pekerjaannya terbengkalai hanya karena dia ingin mengetahui siapa jati dirinya yang sesungguhnya.
-to be continue-