Bayangan Kaivan masih terlihat dari kaca spion tengah. Dia berdiri di pinggir jalan dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuh, mengecil bersama jarak yang diciptakan mobil Adri. Sampai kendaraan kami berbelok dan gerbang taman pekuburan hilang dari pandangan, Kaivan tidak bergerak sedikit pun.
Aku baru menyadari sejak tadi menahan napas ketika dadaku mulai terasa sesak. Udara kulepaskan perlahan, tetapi sesak itu tidak ikut pergi. Aroma tanah basah dari bajuku memenuhi ruang sempit di dalam mobil. Di lutut celanaku masih ada noda tanah dari tempat kosong yang kelak menjadi pusara Bintang.
Tempat kosong yang hanya aku kenali sebagai sebuah kehilangan.
Adri tidak segera bertanya. Kedua tangannya tetap berada di kemudi, pandangannya lurus ke jalan. Sikap diamnya justru membuat rasa bersalahku bertambah besar. Dia datang secara kebetulan, menawarkan bantuan dengan tulus, lalu aku menyeretnya ke dalam persoalan yang sama sekali tidak dia pahami.
'Maaf,' kataku akhirnya.
'Untuk yang mana?'
Pertanyaan itu terdengar tenang. Tidak menyindir, tetapi cukup untuk membuatku menunduk.
'Aku bilang pada Kaivan kalau kamu datang untuk menjemputku. Padahal kamu bahkan tidak tahu aku ada di sana.'
'Iya.' Adri mengangguk kecil. 'Aku dengar.'
'Aku cuma ingin segera pergi.'
'Dari pemakaman atau dari Kaivan?'
Aku menoleh kepadanya. Profil wajah Adri diterangi cahaya kendaraan dari arah berlawanan. Tidak ada tuntutan di sana, hanya rasa ingin tahu yang berusaha dia tahan agar tidak terdengar seperti interogasi.
'Dari keadaan itu,' jawabku.
'Jawaban yang aman.'
Aku kembali menatap jendela. Kota mulai menyalakan lampu-lampunya. Orang-orang berjalan di trotoar dengan wajah lelah setelah seharian bekerja, sementara di dalam kepalaku tahun 2017 dan 2020 saling bertabrakan. Bagi mereka, tempat yang baru saja kutinggalkan hanyalah sebidang tanah kosong. Bagiku, tanah itu sudah pernah menelan seluruh duniaku.
'Kamu menangis di bagian yang belum ada makamnya,' ujar Adri beberapa saat kemudian. 'Aku tidak sengaja melihat waktu memarkir mobil.'
Jemari tanganku saling meremas di atas pangkuan.
'Aku sedang mengingat seseorang.'
'Orang yang sudah meninggal?'
Aku ingin menjawab iya. Bintang pernah hidup, pernah memenuhi rumah kami dengan tangisan pendek yang membuat aku dan Kaivan terbangun bergantian. Aku pernah menyentuh pipinya yang halus, pernah menghitung jari-jari kecilnya, pernah memandangi dadanya naik turun hanya untuk memastikan dia masih bernapas. Akan tetapi, di tahun ini Bintang bahkan belum ada.
'Seseorang yang tidak bisa kutemui,' kataku.
Adri mengangguk. Dia tidak bertanya lagi. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan pemakaman, aku dapat bernapas sedikit lebih lega.
'Soal yang tadi di kedai juga aku minta maaf,' lanjutku. 'Hara terlalu bersemangat. Kamu tidak perlu menganggap serius perkataannya.'
'Tapi aku memang serius.'
Kepalaku refleks menoleh. Adri masih memandang jalan, seolah kalimat barusan tidak lebih berat daripada pemberitahuan bahwa lampu lalu lintas akan berubah merah.
'Aku tidak menyatakan perasaan karena disuruh Hara,' katanya. 'Aku sudah tertarik sejak kamu datang. Hanya saja aku memang tidak secepat Kaivan kalau mendekati seseorang.'
'Kaivan tidak sedang mendekatiku.'
'Kalau itu yang ingin kamu percaya.'
'Dia punya Meyra.'
'Aku tahu.' Adri menghentikan mobil di lampu merah. Kali ini dia menatapku. 'Aku juga tahu ada sesuatu di antara kalian yang tidak kupahami. Cara kalian saling melihat bukan cara dua orang yang baru seminggu saling kenal.'
Jantungku berdenyut keras. Rupanya bukan hanya aku yang melihat kejanggalan itu. Kaivan memang menatapku seperti orang yang hendak mengatakan banyak hal, tetapi setiap kali kuberi kesempatan, dia memilih berlindung di balik jawaban-jawaban sederhana.
'Tidak ada apa-apa di antara kami,' tegasku, lebih kepada diri sendiri.
'Baik.' Lampu berubah hijau. Mobil kembali bergerak. 'Aku tidak akan memaksamu memberi jawaban sekarang. Kalau jawabanmu nanti tidak, aku bisa menerimanya. Tapi aku tidak mau dijadikan alasan untuk membuat Kaivan cemburu.'
Pipiku menghangat karena malu. 'Aku benar-benar minta maaf.'
'Maaf diterima. Jangan diulang.'
'Tidak akan.'
Jawaban itu membuat sudut bibir Adri terangkat. Kesunyian setelahnya terasa lebih ringan. Dia menyalakan radio dengan volume rendah, membiarkan lagu lama mengisi ruang yang tidak sanggup kami isi dengan percakapan. Aku memberi petunjuk jalan menuju kos meskipun aku yakin Adri sudah mengetahuinya dari data pegawai atau dari Hara.
Ponselku bergetar ketika mobil berhenti di depan pagar kos. Nama Kaivan muncul di layar. Satu panggilan tak terjawab, kemudian pesan singkat masuk.
'Kabari aku kalau kamu sudah sampai.'
Kalimat sederhana itu pernah dikirimnya ratusan kali selama kami berpacaran. Bahkan setelah menikah, Kaivan selalu memintaku memberi kabar bila melakukan perjalanan dinas tanpa dirinya. Dulu aku mengira itu bentuk perhatian. Menjelang akhir pernikahan kami, kalimat serupa terasa seperti kebiasaan kosong yang tidak lagi memiliki hati.
'Kaivan?' tanya Adri, mungkin karena melihat perubahan wajahku.
Aku mematikan layar. 'Iya.'
'Jawab saja. Setidaknya supaya dia tidak mencarimu ke sini.'
'Dia tidak akan melakukan itu.'
Entah mengapa aku tidak terdengar yakin.
Aku melepas sabuk pengaman dan meraih tas. Sebelum membuka pintu, aku kembali memandang Adri.
'Terima kasih sudah mengantar. Dan tentang pertanyaanmu tadi, aku tidak ingin memberi harapan palsu. Aku belum bisa memulai hubungan dengan siapa pun.'
'Karena Kaivan?'
'Karena aku.'
Adri menatapku selama beberapa detik, kemudian mengangguk. 'Itu jawaban yang lebih jujur.'
Aku turun dan menunggu hingga mobilnya pergi. Udara malam menyentuh noda tanah yang mengering di celanaku. Di bawah lampu teras kos, noda itu terlihat seperti jejak dari dunia lain yang terbawa tanpa sengaja. Aku berjongkok dan berusaha membersihkannya dengan telapak tangan, tetapi butirannya justru menyusup semakin dalam ke serat kain.
Aku teringat bagaimana dulu Kaivan membersihkan tanah dari sepatu kami setelah pemakaman Bintang. Dia melakukannya dalam diam di belakang rumah, membungkuk begitu lama seolah sepasang sepatu kecil kami adalah benda terakhir yang masih bisa diselamatkan. Malam itu aku ingin memeluknya, tetapi kami bahkan tidak tahu lagi bagaimana cara saling mendekat tanpa melukai.
Kini lelaki itu berdiri di sebuah masa ketika semua luka tersebut belum terjadi, sedangkan aku tetap membawanya seorang diri. Adri benar. Aku tidak boleh menjadikan orang lain tameng hanya karena aku takut menghadapi perasaan yang belum selesai.
Di kamar, tas kulempar ke kursi dan tubuhku jatuh ke tepi ranjang. Ponsel kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan, melainkan pesan kedua dari Kaivan.
'Aku tahu Adri tidak datang untuk menjemputmu.'
Belum sempat aku memikirkan jawaban, pesan ketiga muncul.
'Aku cuma ingin tahu kenapa kamu menangis di tanah kosong yang letaknya dua makam dari Bapak.'
Tanganku membeku di atas layar. Kaivan memperhatikan letak itu. Tentu saja dia bisa melihatnya, tetapi cara dia menyebut jarak dua makam membuat kenangan tentang Bintang menghantamku tanpa peringatan.
Aku mengetik satu kalimat, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
'Itu bukan urusanmu.'
Pesan terkirim. Dua centang muncul hampir seketika, tetapi Kaivan tidak membalas.
Aku seharusnya lega. Anehnya, sepanjang malam aku justru menunggu layar ponsel itu kembali menyala.