Kaivan sudah berada di kantor ketika aku datang keesokan paginya. Biasanya dia baru muncul beberapa menit sebelum morning briefing dengan rambut yang masih sedikit basah dan aroma parfum yang mendahului langkahnya. Hari ini dia duduk di meja kerja, menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca apa pun.
Aku tahu karena kursor di layarnya tidak bergerak selama aku berjalan dari pintu hingga meja Hara.
'Selamat pagi,' sapa Hara, lalu matanya bergantian memandang aku dan Kaivan. 'Kenapa suasananya seperti ada orang gagal akad nikah?'
'Pagi-pagi jangan mengarang,' sahutku sambil meletakkan tas.
'Aku tidak mengarang. Adri menelepon Ferdi semalam.'
Tanganku berhenti di atas map. 'Untuk apa?'
'Katanya dia habis mengantar seseorang yang membuat Kaivan berdiri di pinggir jalan seperti tokoh sinetron.'
'Hara.'
'Apa? Aku cuma menyampaikan laporan saksi mata.'
Aku melotot, tetapi dia malah menyeringai. Sebelum aku sempat memperingatkannya agar tidak ikut campur, suara kursi bergeser dari balik sekat kaca. Kaivan berjalan menghampiri sambil membawa sebuah map biru.
'Gita, ikut ke ruang diskusi sebentar,' katanya.
'Morning briefing lima belas menit lagi.'
'Lima menit cukup.'
Nada suaranya datar, tetapi garis rahangnya mengeras. Hara mengangkat kedua alisnya seolah baru mendapat tontonan gratis. Aku mengambil buku catatan dan mengikuti Kaivan ke ruang diskusi kecil di ujung koridor.
Begitu pintu tertutup, dia meletakkan map biru di meja.
'Kamu tidak perlu membawa buku. Aku bukan mau membahas pekerjaan.'
'Kalau bukan pekerjaan, kita tidak perlu bicara di jam kantor.'
'Kenapa kamu berbohong soal Adri?'
Aku menatapnya tanpa berkedip. 'Karena aku ingin pergi dan kamu tidak membiarkanku pergi.'
'Aku hanya menawarkan mengantar.'
'Dan aku sudah memilih pulang dengan Adri.'
'Kalian memang punya janji?'
'Tidak.' Aku tidak mau menambah kebohongan. 'Dia datang secara kebetulan.'
Kaivan mengembuskan napas dan mengusap tengkuk. Ada kelegaan singkat di wajahnya sebelum segera dia sembunyikan. Reaksi itu justru membuatku kesal.
'Kamu sudah punya Meyra,' kataku. 'Siapa pun yang mengantarku pulang tidak ada hubungannya denganmu.'
'Aku tidak bilang ada hubungannya denganku.'
'Lalu untuk apa kita ada di ruangan ini?'
Kaivan terdiam. Matanya menatapku dengan cara yang sama seperti ketika kami berdiri di depan rumah Bapak, seakan sebuah jawaban berada tepat di ujung lidahnya tetapi terlalu berbahaya untuk dilepaskan.
'Aku khawatir melihatmu menangis di pemakaman,' ujarnya akhirnya. 'Itu saja.'
'Aku sudah sampai kos dengan selamat. Sekarang kita bisa bekerja.'
Aku membuka pintu tanpa menunggu tanggapannya. Kaivan tidak menahanku.
Seusai briefing, aku memilih menenggelamkan diri dalam proposal fasilitas kredit Pak Idrus. Angka lebih mudah dihadapi daripada perasaan. Angka tidak menatapmu seolah pernah mengenalmu seumur hidup, lalu menyangkal pernah bertemu denganmu.
Di kehidupan sebelumnya, aku membiarkan proposal itu bergerak terlalu cepat. Pak Sam menekan, Pak Idrus menjanjikan peningkatan omzet, dan Kaivan percaya proyek jalan raya itu akan membuka arus kas baru. Kami baru menemukan masalah ketika pencairan sudah terjadi.
Kali ini aku tidak punya hak menuduh berdasarkan masa depan yang hanya ada di kepalaku. Aku membutuhkan bukti.
Laporan kemajuan proyek menyatakan pekerjaan sudah mencapai enam puluh delapan persen. Namun, dari foto kunjungan kemarin, sebagian besar badan jalan masih berupa tanah yang baru diratakan. Aku membuka satu per satu tagihan pembelian material. Tiga lembar faktur memiliki nomor yang berurutan, tetapi diterbitkan pada tanggal yang berjauhan. Nama pemasoknya berbeda dengan nama perusahaan dalam daftar rekanan awal.
'Hara, kamu punya akses informasi grup usaha Pak Idrus?'
Hara menggeser kursinya mendekat. 'Ada di folder bersama. Kenapa?'
'Tolong cari nama PT Bina Lintas Timur.'
Beberapa menit kemudian dia menunjuk layar. 'Direkturnya Hamid Saleh. Alamatnya sama dengan kantor lama Pak Idrus.'
Aku merasakan kulit lenganku meremang. Dalam proposal, pemasok itu dinyatakan sebagai pihak ketiga yang tidak terafiliasi.
'Cetak ini untukku.'
'Kamu mencium sesuatu?'
'Aku cuma tidak mau kita membiayai tagihan yang dibuat oleh tangan kanan lalu diterima tangan kiri.'
Aku membandingkan tanggal faktur dengan foto proyek yang tersimpan di kamera kantor. Pada hari ketika tiga puluh truk material diklaim sudah masuk, jalan menuju lokasi masih terendam dan satu-satunya jembatan kecil sedang diperbaiki. Pak Seno, pengemudi cabang yang ikut survei pendahuluan, membenarkan kendaraan besar tidak mungkin melintas selama dua hari itu.
'Minta keterangannya tertulis,' kataku kepada Hara. 'Bukan untuk menuduh, hanya untuk mendokumentasikan kondisi akses.'
Hara mengangguk, kali ini tanpa bercanda. Temuan itu belum membuktikan penyalahgunaan, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa laporan Pak Idrus tidak boleh diterima hanya berdasarkan kedekatannya dengan pemimpin cabang.
Kaivan muncul di belakang kami. 'Tagihan apa?'
Aku menyerahkan salinan faktur dan data perusahaan. Dia membacanya tanpa komentar, lalu menarik kursi kosong.
'Kemarin kamu bilang sudah punya solusi,' kataku. 'Apakah solusi itu tetap memasukkan proyeksi pendapatan proyek ini seratus persen?'
'Aku mau buat pencairan bertahap berdasarkan progres.'
'Progres yang dilaporkan enam puluh delapan persen tidak sesuai kondisi lapangan. Kalau dasar pencairannya laporan mereka, tahap itu tidak melindungi kita.'
'Bisa gunakan laporan konsultan pengawas.'
'Konsultannya dibayar Pak Idrus.'
Kaivan memandang kembali dokumen di tangan. Aku mengenali ekspresi itu. Dia sedang menyusun banyak kemungkinan di dalam kepala sambil menahan diri agar tidak buru-buru membantah.
'Aku mau verifikasi pemasok dan kontrak induknya,' lanjutku. 'Juga ukur progres dengan orang teknik independen sebelum proposal masuk komite.'
'Pak Sam minta proposal selesai minggu ini.'
'Kalau dipaksakan, aku akan menulis catatan keberatan di analisis.'
Hara menelan ludah dan mundur bersama kursinya. Kaivan menatapku cukup lama, tetapi kali ini tidak ada kemarahan di matanya.
'Baik,' katanya. 'Aku ikut verifikasi.'
'Kamu setuju?'
'Angkanya memang tidak cocok. Aku tidak akan menutup mata hanya karena Pak Idrus dekat dengan Pak Sam.'
Kelegaan kecil tumbuh di dadaku. Inilah Kaivan yang kukenal sebelum duka mengubahnya. Ambisius, tetapi bukan orang yang sengaja menjerumuskan bank hanya demi mengejar target.
Ponselnya berdering. Nama Ibu Rieka sempat terlihat sebelum Kaivan menjauh untuk menjawab. Dia berbicara pelan di dekat jendela, tetapi satu kalimat terdengar ketika ruangan mendadak sepi.
'Aku sudah bilang, Bu, dia bukan orang yang Ibu pikir.'
Kaivan menoleh dan mendapati aku sedang menatapnya. Dia segera berpaling.
Beberapa menit kemudian, Pak Sam memanggil kami ke ruangannya. Salinan proposal sudah berada di atas meja.
'Kenapa analisis Idrus belum selesai?' tanyanya.
'Ada data yang perlu diverifikasi lagi, Pak,' jawabku.
'Data apa? Saya sudah kenal beliau bertahun-tahun.'
'Justru karena fasilitasnya besar, kita harus memastikan angkanya benar.'
Pak Sam bersandar, memandangku seperti sedang menilai keberanian pegawai baru. 'Kalau kamu menahan proposal ini, kamu sendiri yang presentasi alasan penundaannya di komite hari Jumat.'
'Siap, Pak.'
Kaivan bergeser di sebelahku. Kukira dia akan menyelamatkan targetnya sendiri dengan menarik kembali keberatan kami.
'Saya ikut presentasi bersama Gita,' katanya.
Untuk kedua kalinya hari itu, Kaivan melakukan sesuatu yang tidak kuperkirakan. Dan untuk kedua kalinya pula, dinding yang susah payah kubangun di dalam dada mengalami sebuah retakan kecil.