Di kalender meja, hari itu adalah Senin. Lingkaran merah kubuat mengitari tanggalnya sejak pulang dari rumah Bapak. Janji pemeriksaan kesehatan seharusnya berlangsung pagi tadi, tetapi hingga jam makan siang tidak ada satu pun kabar darinya.
Aku menelepon ketika Hara turun ke kantin. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua berakhir dengan suara operator. Baru pada panggilan ketiga, suara Bapak terdengar di seberang.
'Kenapa menelepon berkali-kali? Bapak sedang mengajar.'
'Bukannya Bapak bilang mau periksa hari ini?'
'Nanti saja. Ada mahasiswa yang konsultasi skripsi.'
Rasa takut yang sejak pagi kutahan berubah menjadi kemarahan. 'Mahasiswa Bapak bisa konsultasi besok. Jantung Bapak tidak bisa disuruh menunggu sampai jadwalnya kosong.'
'Siapa yang bilang jantung Bapak bermasalah? Bapak sehat.'
Aku tahu akhir dari keyakinan itu. Aku pernah mendengar dokter menjelaskan bahwa penyakit Bapak berkembang diam-diam, memberikan tanda yang terlalu mudah disebut kelelahan. Ketika kami menyadarinya, waktu sudah lebih sempit daripada harapan.
'Kalau memang sehat, buktikan dengan pemeriksaan.' Suaraku bergetar. 'Tolong, Pak. Sekali ini saja jangan anggap aku berlebihan.'
Di ujung telepon, Bapak terdiam. Mungkin dia mendengar kepanikan yang gagal kusembunyikan.
'Kamu kenapa sebenarnya, Gita? Sejak pulang kemarin, tingkahmu aneh. Menangis seperti tidak melihat Bapak bertahun-tahun, lalu memaksa Bapak ke dokter.'
'Aku bermimpi buruk.'
Itu bukan dusta sepenuhnya. Kehidupan tiga tahun yang akan datang memang terasa seperti mimpi buruk yang masih menyisakan luka meski aku sudah terbangun.
'Mimpi tidak bisa dijadikan alasan mendiagnosis orang.'
'Bapak seorang dosen fisika. Bapak selalu bilang dugaan harus diuji. Jadi, kita uji dugaan ini.'
Terdengar helaan napas panjang. 'Baiklah. Besok pagi.'
'Aku buatkan janji dengan dokter penyakit dalam.'
'Tidak usah. Bapak bisa mengurus sendiri.'
'Aku akan tetap menelepon rumah sakit.'
'Keras kepala sekali.'
'Turunan dari Bapak.'
Aku membuka situs rumah sakit sambil tetap menahan ponsel di telinga. Dalam kehidupan sebelumnya, Bapak beberapa kali mengeluh mudah lelah ketika naik tangga. Dia juga pernah mengatakan dadanya terasa berdebar setelah mengajar terlalu lama, tetapi kami menertawakannya sebagai akibat terlalu banyak kopi. Aku yang sibuk mengejar target hanya mengirim pesan agar dia beristirahat.
Rasa bersalah itu kini menjelma daftar pertanyaan. Apakah Bapak sering sesak? Apakah kakinya pernah membengkak? Apakah ada pingsan atau nyeri dada? Dia menyangkal semuanya dengan nada jengkel, tetapi akhirnya mengakui kadang jantungnya berdebar tanpa sebab.
'Itu yang harus Bapak katakan kepada dokter, jangan malah disembunyikan supaya cepat pulang.'
'Bapak tahu cara bicara dengan dokter.'
'Aku cuma memastikan.'
'Kamu memastikan atau mengatur?'
'Dua-duanya.'
Tawa pendek Bapak terdengar. Sudah lama sekali aku tidak mendengar tawa itu tanpa diikuti bunyi alat monitor dari ruang perawatan. Aku menutup mulut agar isak yang mendadak naik tidak lolos ke seberang.
Sebelum menutup telepon, aku meminta foto bukti pendaftaran dikirimkan besok. Bapak menggerutu, tetapi tidak membatalkan janjinya. Setelah sambungan berakhir, aku baru menyadari kedua tanganku gemetar.
'Ayahmu sakit?'
Aku tersentak. Kaivan berdiri beberapa langkah dari meja dengan dua gelas kopi di tangan.
'Tidak,' jawabku cepat. 'Aku hanya menyuruhnya pemeriksaan rutin.'
Dia meletakkan satu gelas di depanku. Kopi susu tanpa tambahan gula, pesanan yang biasa kuminum. Aku belum pernah memberi tahu kesukaanku dalam kehidupan ini.
'Kenapa membelikan ini?'
'Aku beli dua. Ternyata Adri sudah turun ke kantin.'
'Apa hubungannya dengan Adri?'
'Tidak ada.' Kaivan menarik tangannya dari gelas. 'Kalau ayahmu butuh dokter jantung, aku punya kenalan di rumah sakit pusat.'
Aku membeku. 'Aku tidak bilang pemeriksaan jantung.'
Kaivan tampak sadar telah salah bicara. 'Tadi kamu menyebut jantung di telepon.'
'Kamu mendengarkan?'
'Tidak sengaja.'
Dia kembali ke mejanya sebelum aku sempat menanyakan bagaimana dia tahu pesanan kopiku. Aku menatap cairan berwarna cokelat muda itu. Terlalu banyak hal kecil yang dia ketahui, terlalu banyak kebetulan yang meminta dipercaya.
Hara kembali bersama Adri. Gadis itu menaruh kotak makan di mejaku, lalu berbisik, 'Ferdi bilang aku harus berhenti mencampuri urusan kalian. Katanya niat baik tidak membuat caraku otomatis benar.'
'Untuk sekali ini Ferdi benar.'
'Aku minta maaf.' Hara merapatkan kedua telapak tangan. 'Aku hanya ingin kamu punya jalan keluar.'
'Adri bukan jalan keluar. Dia manusia.'
'Aku tahu.'
Saat Hara pergi mengambil minum, Adri menempati kursi kosong di hadapanku.
'Aku tidak akan mengulangi pertanyaan kemarin,' katanya.
'Terima kasih.'
'Tapi aku perlu memastikan satu hal. Kamu tidak perlu menerima aku hanya untuk menjauh dari orang lain.'
'Aku tidak akan melakukan itu.'
'Bagus. Kita masih bisa berteman?'
'Tentu saja.'
Adri tersenyum. Tidak ada kekecewaan yang sengaja dipamerkan, tidak ada upaya membuatku merasa bersalah. Sikap itu membuatku semakin yakin bahwa menyeretnya ke dalam kekacauanku adalah tindakan yang tidak adil.
'Kalau suatu saat kamu ingin bercerita tentang orang yang kamu datangi di pemakaman, aku bisa mendengarkan,' tambahnya. 'Tidak sebagai orang yang menagih jawaban. Sebagai teman saja.'
Aku mengangguk. Tawaran itu terasa hangat sekaligus menyakitkan. Aku ingin sekali menyebut nama Bintang kepada seseorang selain Hara, mengatakan bahwa anakku pernah memiliki mata Kaivan dan kebiasaan menggenggam telunjukku saat tidur. Namun, menceritakannya berarti meminta Adri percaya bahwa aku berduka untuk seorang bayi yang belum dilahirkan.
'Mungkin nanti,' jawabku.
'Tidak harus sekarang.'
Dia bangkit ketika Hara kembali. Tidak ada sentuhan dramatis atau tatapan yang dibuat-buat. Hanya sebuah ruang aman yang dia tinggalkan di antara kami, sesuatu yang sudah lama hilang dari pernikahanku dengan Kaivan.
Sore harinya, Kaivan dan aku menghubungi pemasok material Pak Idrus secara terpisah. Nomor kantor PT Bina Lintas Timur tidak aktif. Nomor seluler direkturnya dijawab seseorang yang mengaku staf administrasi, tetapi dia tidak bisa menjelaskan lokasi gudang atau menunjukkan surat jalan asli.
'Besok kita datangi alamat kantornya,' kata Kaivan.
'Kita?'
'Kamu yang menemukan masalahnya. Aku yang bertanggung jawab atas target. Lebih efisien kalau kita pergi bersama.'
Aku hendak menolak, tetapi alasan profesionalnya masuk akal. 'Baik. Jam sembilan.'
'Aku jemput di kos.'
'Kita berangkat dari kantor.'
Kaivan tersenyum tipis. 'Masih takut naik mobil denganku?'
'Aku tidak takut.'
'Lalu kenapa selalu menghindar?'
Pertanyaan itu dibiarkannya menggantung karena telepon mejaku berdering. Nomor Bapak muncul di layar. Aku segera mengangkat.
'Bapak sudah daftar untuk besok,' katanya tanpa salam. 'Puas?'
'Belum. Aku puas setelah Bapak datang dan diperiksa.'
'Ada satu lagi.' Nada suaranya berubah lebih pelan. 'Dokter umum yang Bapak hubungi meminta riwayat penyakit keluarga. Bapak jadi mencari map kesehatan lama. Di dalamnya ada berkasmu waktu SMA.'
Dadaku menegang. 'Berkasku?'
'Iya. Kamu dulu cukup lama keluar masuk rumah sakit. Kamu masih ingat?'
Aku mengingat ruang kelas di rumah, buku-buku yang dikirim guru, serta wajah Bapak yang selalu berkata tubuhku mudah lelah. Namun, nama penyakit dan lorong rumah sakit seolah dihapus dari kepalaku.
'Tidak semuanya,' jawabku jujur.
Bapak terdiam lagi. Ketika dia bicara, suaranya terdengar waspada.
'Kalau begitu jangan dicari-cari, Gita. Tidak semua yang terlupa harus diingat kembali.'
Sambungan terputus sebelum aku sempat bertanya. Kaivan masih berdiri di seberang meja. Dari perubahan wajahnya, aku tahu dia mendengar kalimat terakhir Bapak.
Dan ketika kusebut kata SMA serta rumah sakit, wajah Kaivan kehilangan seluruh warnanya.