Sepanjang malam tidak ada jawaban dari Bapak. Aku menelepon tiga kali dan semua panggilan dibiarkan berdering sampai terputus. Ketika akhirnya tertidur menjelang subuh, aku memimpikan lorong rumah sakit dengan lampu-lampu yang padam satu per satu. Seorang anak laki-laki berdiri di ujung lorong sambil memegang payung kuning.
Aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi aku tahu dia memanggil namaku.
Pagi-pagi sekali, sebuah foto bukti pendaftaran rumah sakit masuk dari Bapak. Tidak ada penjelasan tentang pertanyaanku semalam. Hanya pesan singkat.
'Bapak menepati janji. Jangan cerewet lagi.'
Kelegaan dan kekesalan datang bersamaan. Aku membalas bahwa aku akan menelepon setelah pemeriksaan selesai. Pertanyaan mengenai Kaivan kukirim sekali lagi, tetapi hanya mendapat dua centang biru.
Di kantor, suasana tidak lebih mudah. Pak Sam menerima laporan kunjungan kami dengan wajah masam. Pak Idrus sudah meneleponnya sejak pagi, mengeluhkan proses yang dianggap terlalu berbelit-belit.
'Beliau bilang pemasok itu perusahaan saudara jauhnya,' ujar Pak Sam. 'Wajar kalau alamat administrasinya belum beres.'
'Hubungan itu tidak diungkapkan dalam proposal, Pak,' kataku. 'Kita juga belum menerima surat jalan asli dan bukti material masuk.'
'Kaivan, menurutmu bagaimana?'
Aku menoleh. Ini saat yang paling mudah baginya untuk memilih target pencairan dan kedekatan Pak Sam. Dalam kehidupan sebelumnya, keputusan-keputusan kecil semacam inilah yang perlahan mengikat kami pada masalah Pak Idrus.
'Saya setuju prosesnya ditunda,' jawab Kaivan. 'Minimal sampai verifikasi independen selesai. Kalau datanya bersih, penundaan beberapa hari tidak akan merugikan debitur.'
Pak Sam mengetukkan pulpen ke meja. 'Baik. Kalian presentasikan temuan ini di komite Jumat. Jangan datang hanya membawa kecurigaan.'
'Siap, Pak,' jawab kami hampir bersamaan.
Begitu keluar dari ruangan, aku berjalan lebih lambat agar sejajar dengan Kaivan.
'Terima kasih.'
'Untuk apa?'
'Karena tidak mengubah pendirian di depan Pak Sam.'
'Kamu benar soal angkanya.' Dia tersenyum tipis. 'Sesekali izinkan aku menjadi rekan kerja yang cukup masuk akal.'
'Sesekali?'
'Aku sedang berusaha rendah hati.'
Aku hampir tertawa. Hampir. Lalu ingatan tentang foto di ponsel Meyra mengembalikan jarak di antara kami.
Kaivan menangkap perubahan itu. 'Kamu bertemu Meyra semalam?'
Langkahku berhenti. 'Dari mana kamu tahu?'
'Dia membatalkan janji makan malam denganku. Pagi ini dia bertanya lagi apakah aku sudah bicara jujur kepadamu.'
'Sudahkah?'
'Jujur tentang apa?'
'Tentang rumah sakit. Tentang gadis yang tidak mengingat. Tentang alasan Bapak mengenalmu.'
Wajah Kaivan berubah. Senyum tipisnya hilang, digantikan kewaspadaan yang sudah kulihat berkali-kali.
'Apa yang Meyra katakan?'
'Jadi, ada sesuatu yang bisa dia katakan.'
'Gita, jawab pertanyaanku.'
'Kamu tidak berhak menuntut jawaban setelah terus membohongiku.'
Kaivan memandang sekeliling koridor. Beberapa pegawai melewati kami, membuatnya merendahkan suara.
'Tidak semua hal bisa dijelaskan di sini.'
'Kita bisa bicara di mana saja. Tapi setiap kali kutanya, kamu bilang kita tidak pernah bertemu.'
'Karena itu jawaban yang diminta Bapakmu dariku.'
Kalimat itu membuat seluruh tubuhku kaku. 'Apa maksudmu?'
'Tanyakan kepadanya.'
'Aku sudah bertanya dan dia tidak menjawab.'
'Kalau begitu aku juga tidak bisa.'
'Aku bukan anak kecil yang harus dilindungi dari hidupku sendiri.'
'Aku tahu.' Kaivan menatapku dengan kesedihan yang terasa terlalu dalam untuk sebuah masa lalu yang katanya tidak pernah ada. 'Tapi janji tetap janji.'
'Janji kepada Bapak lebih penting daripada kejujuran kepadaku?'
'Janji itu dibuat untukmu.'
Sebelum aku dapat mengejarnya dengan pertanyaan lain, ponselku berdering. Dokter yang memeriksa Bapak menelepon menggunakan nomor rumah sakit. Bapak rupanya mencantumkan aku sebagai kontak keluarga.
Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan awal menemukan irama jantung yang perlu diperiksa lebih lanjut. Belum ada diagnosis pasti. Bapak harus menjalani ekokardiografi dan serangkaian tes darah, kemudian berkonsultasi dengan dokter jantung pekan depan.
Lututku melemas. Aku berpegangan pada tepi meja di koridor.
'Apakah berbahaya, Dok?'
'Kami menemukannya cukup awal, Bu Sagita. Itu hal yang baik. Yang penting beliau mengikuti pemeriksaan lanjutan dan tidak mengabaikan gejala.'
Cukup awal.
Dua kata itu membuat mataku panas. Di kehidupan sebelumnya, kami terlambat. Kali ini, barangkali aku benar-benar diberi kesempatan mengubah sesuatu.
Aku meminta dokter mengirimkan jadwal serta daftar pemeriksaan melalui surat elektronik. Aku juga menanyakan kegiatan yang harus dihindari dan obat apa pun yang tidak boleh diminum tanpa pengawasan. Dokter menjawab satu per satu dengan sabar, lalu mengingatkan agar Bapak tidak panik sebelum hasil lengkap tersedia.
Yang perlu ditenangkan sebenarnya bukan Bapak, melainkan aku. Kepalaku sudah dipenuhi bayangan ruang perawatan tahun 2020, ketika dokter mengatakan otot jantung Bapak terlalu lemah dan tindakan yang bisa dilakukan hanya memperpanjang waktu. Aku mengepalkan tangan. Masa itu belum tiba. Aku tidak akan membiarkan ketakutan membuatku menyia-nyiakan kesempatan yang sekarang ada.
Kaivan berdiri di depanku sampai panggilan berakhir. 'Ada apa dengan Bapak?'
'Dokter menemukan kelainan irama. Masih perlu tes lanjutan.'
'Aku bisa menghubungi dokter yang kukenal.'
'Tidak perlu.'
'Jangan menolak hanya karena yang menawarkan aku.'
'Aku bilang tidak perlu, Kai.'
Nada suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan. Kaivan mengangguk dan mundur, tetapi kekhawatiran tidak hilang dari wajahnya.
Sore itu Bapak akhirnya mengangkat telepon. Dia terdengar kesal karena dokter menghubungiku, lalu berusaha meyakinkan bahwa hasil pemeriksaan bukan masalah besar.
'Dokter bilang harus ada tes lanjutan,' tegasku. 'Aku akan pulang akhir pekan ini dan menemani Bapak.'
'Tidak usah. Bapak bisa sendiri.'
'Aku tidak meminta izin.'
'Kamu punya pekerjaan.'
'Aku bisa berangkat Jumat malam.' Aku menarik napas. 'Dan aku ingin melihat berkas kesehatanku waktu SMA.'
Keheningan muncul di ujung sambungan.
'Siapa yang menunjukkan foto itu kepadamu?' tanya Bapak.
Pertanyaannya adalah pengakuan yang tidak sengaja.
'Jadi, gadis di foto itu memang aku?'
'Bapak tidak bilang begitu.'
'Pak, kenapa aku tidak mengingat Kaivan? Kenapa Bapak melarang dia datang? Apa yang terjadi kepadaku di rumah sakit?'
Aku mendengar bunyi kursi bergeser, kemudian napas Bapak yang berat. Untuk sesaat aku takut temuan dokter lebih serius daripada yang dikatakan. Namun, ketika dia kembali bicara, suaranya terdengar bukan kesakitan, melainkan kelelahan karena memikul rahasia terlalu lama.
'Pembicaraan ini tidak bisa dilakukan lewat telepon.'
'Kalau begitu aku pulang.'
'Pulanglah akhir pekan ini.'
Aku memejamkan mata. Akhirnya sebuah pintu terbuka, meski baru selebar celah.
'Bapak akan menjelaskan semuanya?'
'Bapak akan menjelaskan apa yang perlu kamu tahu.' Nada suaranya kembali tegas. 'Tapi kamu datang sendiri, Gita.'
'Maksud Bapak?'
'Jangan bawa Kaivan. Jangan beri tahu dia kalau kamu pulang untuk membicarakan masa itu.'
Sambungan berakhir. Aku masih memegang ponsel di telinga ketika layar telah kembali gelap.
Di balik sekat kaca, Kaivan sedang menatapku. Jarak kami hanya beberapa meter, tetapi tatapannya membuatku merasa kami berdiri di dua sisi sebuah pintu yang dikunci Bapak bertahun-tahun lalu.
Dan aku belum tahu apa yang menungguku ketika pintu itu akhirnya dibuka.