Hari Kamis dimulai dengan sebuah tiket bus yang tercetak miring karena mesin pencetak kantor menarik kertasnya terlalu cepat. Aku memandang nama kota tujuan di sudut kanan atas, lalu segera melipat tiket itu ketika mendengar langkah mendekat.
'Pulang kampung?' Hara sudah berdiri di belakangku sambil membawa dua map.
'Jumat malam.'
'Karena hasil pemeriksaan Bapak?'
Aku mengangguk. Hara adalah satu-satunya orang yang tahu aku datang dari masa depan, tetapi bahkan kepadanya belum kuceritakan pertemuan Meyra atau foto lama di rumah sakit. Aku takut setiap kali rahasia itu diucapkan, masa lalu yang hilang akan berubah semakin nyata.
'Mau aku antar ke terminal besok?' tanyanya.
'Ferdi tidak keberatan?'
'Dia justru yang menyuruh. Katanya kalau aku mau ikut campur, paling tidak ikut campurlah pada urusan transportasi.'
Aku tersenyum. 'Baik. Nanti aku kabari.'
Tiket kulipat lebih kecil dan dimasukkan ke dalam buku catatan. Saat berbalik, aku mendapati Kaivan berada di balik sekat kaca. Tatapannya turun ke buku di tanganku, kemudian kembali ke wajahku. Mustahil dia bisa membaca tiket dari jarak itu, tetapi perasaanku mengatakan dia sudah tahu ke mana aku akan pergi.
Aku memilih duduk dan membuka bahan presentasi komite. Seluruh temuan tentang Pak Idrus kususun ke dalam tabel: progres fisik, laporan konsultan, faktur material, hubungan pemasok, serta kondisi akses pada tanggal pengiriman. Setiap kecurigaan harus memiliki dokumen pendukung. Aku tidak bisa berdiri di depan komite dan mengatakan fasilitas itu akan bermasalah tiga tahun lagi hanya karena pernah mengalaminya.
'Jangan tulis pemasok fiktif.' Kaivan menarik kursi di sampingku. 'Kita belum membuktikan perusahaannya tidak beroperasi di tempat lain.'
'Aku tulis alamat operasional belum dapat diverifikasi.'
'Bagus. Untuk progres, pakai rentang empat puluh sampai empat puluh lima persen dari penilaian teknis awal.'
'Laporan mereka enam puluh delapan.'
'Itu yang akan kita pertanyakan, bukan langsung kita nyatakan palsu.'
Kami bekerja selama hampir dua jam tanpa membicarakan hal lain. Aneh sekali rasanya berada sedekat ini dengan Kaivan dan hanya memperdebatkan pilihan kata. Dulu, kami adalah pasangan kerja yang baik sebelum menjadi pasangan hidup yang buruk. Aku bisa menyiapkan angka, dia bisa melihat titik yang berpotensi diserang komite. Dia tahu kapan harus membiarkanku bicara dan kapan harus masuk untuk mengendalikan ruangan.
'Kalau dulu kita seteliti ini,' gumamku tanpa sadar.
'Dulu kapan?'
Tanganku berhenti mengetik. 'Maksudku, kalau sejak awal kita seteliti ini, mungkin tidak perlu kunjungan ulang.'
Kaivan tidak tampak percaya, tetapi telepon dari lobi menyelamatkanku. Pak Idrus datang tanpa janji dan meminta bertemu Pak Sam. Lima belas menit kemudian, pria itu muncul di ruangan kami dengan tawa keras serta dua bingkisan besar di tangan stafnya.
'Oleh-oleh dari Kalimantan!' serunya. 'Untuk tim yang sudah capek mengurus saya.'
Dia meletakkan satu bingkisan di meja Kaivan dan satu lagi di mejaku. Isinya terlihat mahal: makanan, kain, dan sebuah kotak kecil berlogo toko perhiasan.
'Maaf, Pak, kami tidak bisa menerima,' kataku.
'Ah, ini bukan apa-apa. Jangan terlalu kaku, Bu Sagita.'
'Proses fasilitas Bapak sedang masuk komite. Kami harus menghindari benturan kepentingan.'
Tawa Pak Idrus mereda. Matanya bergerak kepada Kaivan, mencari sekutu yang biasanya lebih mudah diajak bercanda.
'Van, jelaskanlah sama temanmu. Saya datang baik-baik.'
'Saya tahu niat Bapak baik,' jawab Kaivan. 'Tapi Gita benar. Bingkisannya harus dibawa kembali.'
'Kalian curiga saya mau menyuap?'
'Tidak ada yang mengatakan begitu,' ujar Kaivan tenang. 'Kami hanya menjalankan kebijakan kantor.'
Pak Idrus menarik kursi tanpa diminta. Wajahnya masih tersenyum, tetapi nada suaranya berubah. 'Pak Sam sudah kenal usaha saya sejak lama. Kenapa pegawai baru malah bikin semuanya susah?'
Aku merapatkan jemari di bawah meja. Di kehidupan sebelumnya, aku sering diam ketika Pak Idrus membawa nama Pak Sam. Aku tidak ingin dianggap menghalangi target atau tidak mampu menjaga debitur. Diam itu kemudian membuat aku ikut bertanggung jawab atas keputusan yang seharusnya kutentang.
'Karena data yang kami terima belum menjawab risiko fasilitas baru, Pak,' kataku. 'Kalau semuanya sesuai, verifikasi justru akan menguatkan proposal Bapak.'
'Dan kalau saya tidak mau memberi dokumen tambahan?'
'Kami akan menyampaikan kepada komite bahwa datanya tidak tersedia.'
Pak Idrus menatapku tajam. Kaivan tidak menyentuh tanganku untuk menyuruh berhenti seperti ketika makan siang di kabupaten. Dia justru duduk sedikit lebih tegak di sampingku.
'Surat jalan asli, rekening pemasok, dan kontrak afiliasi kami tunggu paling lambat besok pagi,' katanya. 'Tanpa itu, saya tidak bisa merekomendasikan pencairan.'
Untuk pertama kalinya, kemarahan Pak Idrus terlihat jelas. Dia berdiri, memerintahkan staf mengambil bingkisan, lalu pergi tanpa berpamitan. Begitu pintu tertutup, aku mengembuskan napas yang tertahan.
Hara masuk beberapa detik kemudian dengan buku penerimaan tamu. Rupanya dia melihat bingkisan dibawa keluar dan langsung memahami apa yang terjadi. Atas sarannya, kami mencatat waktu kedatangan, isi yang sempat terlihat, nama staf pembawa, serta penolakan kami. Kaivan meminta petugas keamanan menyimpan rekaman lobi sampai proses komite selesai.
'Apa tidak berlebihan?' tanyaku setelah Hara pergi.
'Pak Idrus bisa saja bilang kita menerima sesuatu lalu berubah pikiran karena permintaannya tidak dipenuhi,' jawab Kaivan. 'Dokumentasi melindungi semua pihak, termasuk dia.'
Aku mengangguk. Ini sisi Kaivan yang membuatnya dipercaya orang: dia tidak hanya memikirkan serangan yang sedang terlihat, tetapi juga cerita yang mungkin dibentuk seseorang sesudahnya. Di masa depan, ketelitian yang sama menghilang ketika urusan rumah kami dipenuhi duka. Aku bertanya-tanya apakah manusia benar-benar berubah, atau rasa sakit hanya menutupi bagian terbaiknya sampai tidak bisa ditemukan.
'Dia akan menelepon Pak Sam,' kataku.
'Sudah pasti.' Kaivan meraih bungkus rokok di saku, lalu mengurungkan niat setelah melihat tatapanku. 'Tapi kita punya catatan kunjungan dan rekaman penerimaan tamu. Jangan panik.'
Kalimat itu begitu akrab sehingga dadaku terasa ngilu.
'Aku tidak panik.'
'Tanganmu dingin.'
Aku baru sadar jemarinya sempat menyentuh punggung tanganku. Gegas aku menariknya dan berpura-pura merapikan berkas.
'Kai, tentang akhir pekan ini—'
'Kamu akan pulang menemui Bapak.'
Aku menatapnya. 'Kamu melihat tiketku?'
'Tidak sengaja.'
'Sepertinya banyak sekali hal yang tidak sengaja kamu ketahui.'
Kaivan menunduk. 'Aku tidak akan mengikuti atau mengganggumu. Tapi kalau Bapak mulai membahas masa lalu, jangan memaksanya menjelaskan semuanya dalam satu malam.'
'Kamu tahu apa yang akan dia jelaskan.'
'Aku tahu apa yang pernah dia larang untuk kuceritakan.'
'Dan kamu masih memilih mematuhi larangan itu?'
'Sampai Bapakmu sendiri mencabutnya.'
Sebelum pergi, Kaivan menatap buku tempat tiketku disimpan.
'Kalau kamu menemukan kotak biru di lemari kamar Bapak, jangan membukanya ketika kamu sendirian.'
Aku tidak sempat bertanya karena Pak Sam memanggil kami. Namun, sepanjang hari, pikiranku tidak lagi dipenuhi angka Pak Idrus.
Di dalam rumah masa kecilku ada sebuah kotak biru yang diketahui Kaivan. Dan rupanya, apa pun yang disembunyikan Bapak tidak hanya tersimpan di dalam ingatan manusia.