Pak Idrus mengirim dokumen tambahan lima belas menit sebelum rapat komite dimulai. Waktunya terlalu tepat untuk disebut kebetulan dan terlalu terlambat untuk diperiksa secara layak.
'Rekening pemasoknya hanya tiga bulan,' kataku setelah membaca halaman pertama. 'Tidak ada transaksi pembelian material sebelum proyek ini.'
Kaivan berdiri di samping mesin fotokopi, menyusun berkas untuk anggota komite. 'Masukkan sebagai catatan, jangan mengubah bahan utama. Kita bilang dokumen baru diterima dan belum diverifikasi.'
'Dia sengaja membuat kita terlihat tidak siap.'
'Kalau kita marah, strateginya berhasil.'
Aku tahu dia benar. Tetap saja, perutku terasa seperti diikat. Di kehidupan sebelumnya aku pernah duduk dalam rapat yang membahas tunggakan Pak Idrus. Saat itu semua orang bertanya mengapa analisis awal tidak menemukan tanda-tanda masalah. Hari ini aku memiliki kesempatan menjawab pertanyaan tersebut sebelum kerugian terjadi.
Ruang rapat dipenuhi enam orang. Pak Sam duduk di ujung meja, Bu Ratih dari bagian risiko berada di sisi kiri, sementara dua pejabat kredit dari kantor wilayah mengikuti melalui sambungan video. Kaivan dan aku menempati kursi paling dekat layar presentasi.
Aku memulai dari struktur fasilitas dan kemampuan membayar. Suaraku sempat bergetar pada kalimat pertama, tetapi angka-angka menuntunku kembali. Proyeksi pendapatan Pak Idrus menggunakan pertumbuhan yang tidak didukung kontrak. Pada tahun keenam, angsuran naik sementara arus kas justru menyempit.
'Debitur punya proyek jalan baru,' sela Pak Sam. 'Pendapatannya belum masuk laporan historis.'
'Karena itu kami menguji progres proyek, Pak.' Aku mengganti tampilan. 'Laporan menyebut enam puluh delapan persen. Penilaian teknis awal memperkirakan empat puluh sampai empat puluh lima persen.'
'Selisih penilaian lapangan biasa terjadi,' ujar salah satu pejabat wilayah.
'Betul. Namun, terdapat faktur material pada hari ketika akses kendaraan berat ke proyek ditutup. Pemasok juga memiliki alamat lama yang sama dengan perusahaan debitur, tetapi hubungan afiliasinya tidak diungkapkan.'
Bu Ratih membalik dokumen. 'Apakah ada bukti barang tidak pernah dikirim?'
'Belum ada bukti final. Surat jalan asli baru kami terima pagi ini dan perlu dikonfirmasi kepada pengawas independen.'
'Jadi kesimpulan kalian?'
Aku menoleh sekilas kepada Kaivan. Dia mengangguk kecil.
'Menunda keputusan sampai verifikasi progres, afiliasi pemasok, dan sumber pembayaran selesai,' jawabku. 'Bukan menolak permanen.'
Pak Sam mengetukkan jari ke meja. 'Pak Idrus sudah menjadi debitur kita lebih dari sepuluh tahun. Kalau semua nasabah diperlakukan seperti tersangka, bisnis tidak jalan.'
Kaivan mengambil alih sebelum aku menanggapi. 'Kami tidak memperlakukannya sebagai tersangka, Pak. Saya sendiri awalnya menyusun pencairan bertahap sebagai mitigasi. Setelah melihat ketidaksesuaian data, saya menilai dasar tahap pencairannya belum cukup objektif.'
'Kamu mengejar target fasilitas ini sejak awal tahun.'
'Benar. Karena itu saya bertanggung jawab memastikan target tersebut tidak berubah menjadi kredit bermasalah.'
Ruangan hening. Aku memandang Kaivan dan teringat malam-malam ketika kami menagih Pak Idrus setelah fasilitasnya menunggak. Dulu dia menyalahkan dirinya sendiri, lalu menenggelamkan rasa bersalah dalam rokok dan pekerjaan. Sekarang dia sedang mengambil keputusan berbeda tanpa tahu bencana apa yang berhasil dia hindari.
Pak Idrus bergabung melalui telepon atas permintaan Pak Sam. Tawanya tidak terdengar lagi. Dia menjelaskan pemasok itu milik saudara jauh, mengeluhkan tim kami yang terlalu berhati-hati, dan berjanji proyek akan selesai sebelum akhir tahun.
'Kalau fasilitas terlambat cair, justru progresnya yang terganggu,' katanya. 'Bank jangan menyalahkan saya nanti.'
'Kami bersedia menilai kebutuhan modal kerja berdasarkan tagihan yang sudah diverifikasi,' jawabku. 'Namun, pembelian LCT dan tambahan plafon tidak bisa bergantung pada pendapatan yang belum dapat dibuktikan.'
'Ibu Sagita baru menangani perusahaan saya beberapa hari. Jangan merasa paling tahu.'
Wajahku menghangat. Sebelum aku menjawab, Bu Ratih mematikan mikrofon telepon untuk sementara.
'Komentar pribadi tidak relevan,' katanya. 'Saya mendukung verifikasi tambahan. Tiga hari kerja untuk pemeriksaan, kemudian proposal kembali ke komite.'
Dua pejabat wilayah menyetujui. Pak Sam tidak tampak senang, tetapi keputusan sudah terbentuk. Ketika mikrofon dinyalakan kembali, dia menyampaikan penundaan dengan bahasa yang lebih halus daripada yang akan kugunakan.
Rapat berakhir menjelang sore. Begitu pintu menutup di belakang kami, kakiku mendadak lemas. Aku bersandar ke dinding, bukan karena takut pada Pak Idrus, melainkan karena menyadari satu bagian masa depan baru saja bergeser.
'Kita berhasil,' kataku.
'Kita baru mendapat tiga hari.'
'Tiga hari lebih baik daripada pencairan besok.'
Kaivan tersenyum. 'Kamu benar-benar yakin fasilitas ini akan bermasalah, ya?'
'Aku yakin datanya tidak layak dipercaya.'
'Itu bukan jawaban pertanyaanku.'
'Itu jawaban yang bisa kuberikan.'
Dia tidak memaksa. Kami kembali ke meja dan menyusun permintaan verifikasi. Menjelang jam pulang, Hara mengirim pesan bahwa Ferdi terjebak pekerjaan sehingga dia tidak bisa mengantarku ke terminal. Aku membalas tidak masalah dan memesan kendaraan.
Bu Ratih datang membawa notulen rapat sebelum kami berpisah. Dia meminta seluruh komunikasi dengan Pak Idrus dilakukan melalui surat elektronik resmi dan tidak ada kunjungan lapangan tanpa petugas tambahan. Menurutnya, keberatan yang kami ajukan bukan sekadar soal angka, tetapi juga soal tata kelola.
'Pegawai baru sering takut berbeda pendapat dengan pemimpin tim,' katanya kepadaku. 'Pertahankan keberanianmu, tapi pastikan setiap kalimat punya bukti.'
Nasihat itu kusimpan baik-baik. Aku tidak tahu apakah perubahan hari ini cukup untuk menyelamatkan Kaivan dari masalah tiga tahun mendatang. Namun, untuk pertama kalinya sejak terlempar ke masa lalu, aku merasa tidak hanya berlari menghindari nasib. Aku sedang menyentuh satu simpulnya dan menggesernya dengan tanganku sendiri.
Ketika sedang memasukkan pakaian ganti ke tas kecil, Meyra muncul di pintu ruangan. Dia masih memakai pakaian kerja dan tampak ragu melangkah masuk. Kaivan berdiri menghampirinya.
'Kamu tidak bilang mau datang,' katanya.
'Aku ingin bicara.' Meyra melirik ke arahku. 'Berdua.'
Aku berpura-pura sibuk dengan berkas, tetapi suara mereka tetap terdengar. Meyra meminta Kaivan tidak lagi menyembunyikan masa lalu. Kaivan menjawab itu bukan cerita yang menjadi haknya seorang. Percakapan mereka berakhir ketika Meyra bertanya apakah dalam hubungan mereka selalu ada tempat yang disediakan untuk seorang gadis yang bahkan tidak mengingatnya.
Kaivan tidak menjawab cukup cepat.
Meyra berbalik dan pergi. Aku menyusul ke koridor, tetapi dia sudah masuk lift. Saat kembali, Kaivan berdiri di dekat meja dengan wajah lelah.
'Kejar dia,' kataku.
'Dia butuh waktu.'
'Dia butuh jawaban.'
'Sama seperti kamu?'
'Jangan samakan kami.'
'Aku tidak menyamakan.' Kaivan menatap tas di kursiku. 'Kendaraanmu ke terminal sudah datang.'
Aku meraih tas tanpa mengucapkan selamat tinggal. Ketika melewatinya, Kaivan berkata pelan, 'Apa pun yang kamu temukan di rumah, jangan membenci Bapakmu sebelum mendengar seluruh alasannya.'
Aku berhenti, tetapi tidak menoleh.
'Apakah aku juga tidak boleh membencimu?'
'Kalau itu membuatmu lebih mudah menghadapi semuanya, bencilah aku.'
Jawaban itu menemaniku sampai ke terminal. Di tengah deru mesin bus dan suara petugas memanggil penumpang, aku bertanya-tanya dosa macam apa yang membuat Kaivan rela dibenci demi mempertahankan janji kepada Bapak.