Bus meninggalkan kota pukul delapan malam. Lampu gedung perlahan digantikan kegelapan jalan antarkabupaten. Aku duduk di dekat jendela, memeluk tas di pangkuan, dan berusaha tidur. Namun, setiap kali mata terpejam, foto gadis dengan payung kuning muncul kembali.
Jalan yang kami lalui pernah kulewati bersama Kaivan menuju rumah Bapak. Di kehidupan pertama, perjalanan itu penuh rencana: kapan kami akan menikah, berapa banyak tamu yang diundang, dan apakah Bapak akan mengizinkan kami memakai halaman rumah untuk acara sederhana. Aku tidak pernah tahu bahwa jauh sebelum semua itu, Kaivan sudah menyimpan kenangan tentang kota ini bersamaku.
Ponsel bergetar. Pesan dari Bapak meminta aku mengabari ketika bus mendekati terminal. Di bawahnya ada pesan dari Kaivan.
'Hati-hati di jalan.'
Aku tidak membalas. Beberapa menit kemudian masuk satu pesan lagi.
'Jangan lupa makan.'
Dulu, perhatian kecil semacam itu selalu membuatku merasa dicintai. Kini setiap kalimatnya menimbulkan dua pertanyaan baru. Apakah dia mengirim pesan yang sama kepada gadis sakit di rumah sakit bertahun-tahun lalu? Apakah caranya mengingatkan aku makan sebenarnya bukan kebiasaan yang tumbuh setelah kami menikah, melainkan sesuatu yang dia ulang sejak remaja?
Aku mematikan ponsel dan memaksa diri menatap jalan.
Hujan turun ketika bus memasuki ruas pegunungan. Tetes air berkejaran di kaca dan cahaya kendaraan memanjang di permukaannya. Pemandangan itu membangkitkan sensasi aneh: telapak tangan yang lebih kecil menggenggam gagang payung, sepatu rumah sakit menginjak rumput basah, dan seseorang menutupi bahuku dengan jaket seragam sekolah.
Aku mencoba mengikuti ingatan tersebut, tetapi kepala mendadak berdenyut. Napas kupelankan sambil menghitung sampai sepuluh. Seorang penumpang di sebelah bertanya apakah aku mabuk perjalanan. Aku menggeleng dan menerima minyak angin yang dia tawarkan. Bau tajamnya memutus kilasan sebelum berkembang menjadi kepanikan.
Mungkin inilah yang ditakuti Bapak. Namun, rasa takutnya tidak cukup menjadi alasan untuk membiarkanku hidup dengan bagian diri yang kosong. Lubang itu ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertutup oleh tahun-tahun baru.
Bus tiba lewat tengah malam. Bapak menunggu di bawah lampu terminal dengan jaket tua yang sama seperti yang sering dipakainya ketika menjemputku semasa kuliah. Begitu melihatku, dia mengangkat tangan. Langkahnya tampak biasa, tetapi kini aku memperhatikan setiap tarikan napas dan jeda kecil ketika dia mengangkat tasku.
'Biar aku bawa.' Aku merebut tas itu.
'Isinya cuma pakaian dua hari.'
'Tetap saja.'
'Sejak kapan kamu memperlakukan Bapak seperti orang lanjut usia?'
'Sejak dokter bilang jantung Bapak harus diperiksa.'
Bapak mendengus, tetapi membiarkanku membawa tas. Kami naik kendaraan sewaan menuju rumah. Sepanjang perjalanan dia membahas mahasiswa, harga ikan, serta pagar yang belum sempat dicat. Tidak satu pun kata tentang Kaivan.
Rumah menyambutku dengan bau kayu, buku lama, dan tumisan bawang yang masih tersisa dari makan malam. Bapak sudah menyiapkan sup di meja. Meski tidak lapar, aku memakannya agar dia tidak khawatir. Kami duduk berhadapan seperti dua orang yang sama-sama tahu ada percakapan besar menunggu, tetapi memilih menunda dengan pertanyaan-pertanyaan kecil.
Bapak bertanya tentang kantor baru, tempat kos, dan Hara. Ketika nama Kaivan hampir disebut, dia mengalihkan pembicaraan kepada cuaca. Aku menjawab seperlunya sambil memperhatikan tangan kanannya beberapa kali menekan dada. Gerakan itu sangat cepat, seolah dia hanya merapikan kemeja, tetapi aku tidak bisa lagi melewatkan tanda sekecil apa pun.
'Ada nyeri?' tanyaku.
'Tidak. Hanya sedikit berdebar setelah menunggu di terminal.'
'Itu harus disampaikan saat pemeriksaan berikutnya.'
'Iya, Dokter Sagita.'
Aku tidak tertawa. Bapak akhirnya berjanji mencatat setiap gejala sampai hari Selasa. Kesempatan kedua rupanya tidak hanya menuntutku mengetahui masa depan, tetapi juga berani menjadi anak yang dianggap cerewet.
'Kapan jadwal ekokardiografi?' tanyaku.
'Selasa.'
'Aku akan menelepon untuk memastikan Bapak datang.'
'Bapak sudah datang ke pemeriksaan pertama. Tidak perlu diperlakukan seperti buronan.'
'Kalau Bapak mangkir, aku akan meminta Aries mengawasi.'
'Jangan libatkan adikmu. Dia juga punya kesibukan.'
Mendengar nama Aries membuatku teringat Mama dan keluarga lain yang tidak tinggal di rumah ini. Dalam hidupku, Bapak selalu berusaha tampak sanggup menjalani semuanya sendiri. Barangkali kebiasaan menyimpan rahasia juga lahir dari keyakinan yang sama.
Seusai makan, Bapak mencuci mangkuk meski aku menawarkan bantuan. Aku menunggu di ruang tamu, memandangi foto-foto keluarga di dinding. Tidak ada foto masa SMA-ku di rumah sakit. Rentang waktu itu hanya diwakili satu gambar aku sedang belajar di meja, tubuh kurus dibalut sweter meski cuaca tampak cerah.
'Pak,' panggilku saat dia kembali. 'Aku tidak datang untuk tidur.'
'Sudah lewat tengah malam.'
'Aku tidak akan bisa tidur sebelum Bapak bicara.'
Bapak berdiri cukup lama di ambang ruang tamu. Kemudian dia menuju kamar kerjanya. Aku mengikuti dan berhenti ketika dia membuka lemari kayu di belakang meja. Dari bagian paling bawah, dia mengeluarkan sebuah map rumah sakit serta kotak logam berwarna biru.
Kotak yang disebut Kaivan.
'Dia tahu kotak ini ada,' kataku.
Tangan Bapak berhenti. 'Kamu sudah bicara dengannya?'
'Tidak. Dia yang memperingatkanku agar jangan membukanya sendirian.'
'Kamu datang sendiri, kan?'
'Iya.'
Bapak membawa benda-benda itu ke meja. Kotak biru memiliki goresan berbentuk bintang di tutupnya. Di bagian kunci, catnya mengelupas seperti pernah dibuka dan ditutup berkali-kali.
'Sebelum kita mulai, Bapak mau kamu memahami sesuatu,' katanya. 'Waktu itu dokter meminta keluarga tidak memaksa ingatanmu kembali. Kamu mengalami serangan panik setiap kali mencoba mengingat bulan-bulan terakhir di rumah sakit.'
'Sakit apa aku sebenarnya?'
Bapak membuka map, memperlihatkan lembar-lembar hasil pemeriksaan yang penuh istilah medis. 'Peradangan pada sistem saraf. Awalnya dikira infeksi biasa. Kamu demam berulang, kejang, lalu harus menjalani perawatan lama. Setelah kondisi fisikmu membaik, sebagian ingatanmu tidak kembali dengan utuh.'
Aku menatap nama sendiri di halaman pertama. Usia enam belas tahun. Tanggal masuk rumah sakit yang tidak membangkitkan apa pun.
'Kenapa Bapak selalu bilang aku hanya gampang sakit?'
'Karena setiap kali Bapak menjelaskan, kamu ketakutan. Akhirnya kita sepakat menyebutnya masa sakit saja.'
'Kita sepakat atau Bapak memutuskan?'
Dia tidak menjawab.
Aku menunjuk kotak biru. 'Buka.'
Bapak duduk perlahan. Dari sakunya, dia mengeluarkan kunci kecil dan memutarnya. Tutup kotak terangkat dengan bunyi engsel kering. Di dalamnya ada foto yang ditunjukkan Meyra, pita pasien, beberapa bintang dari kertas, dan setumpuk surat yang diikat benang kuning.
Tanganku gemetar ketika meraih foto paling atas. Kali ini wajah gadis di balik payung terlihat dari sudut berbeda.
Wajah itu adalah wajahku sendiri.
'Kaivan bukan orang asing,' kata Bapak. 'Dia mengenalmu jauh sebelum kamu bertemu dengannya di kantor.'
'Seberapa dekat kami?'
Bapak menatap bintang-bintang kertas di dalam kotak. Matanya dipenuhi penyesalan.
'Cukup dekat sampai dia menjadi orang pertama yang membuatmu ingin sembuh.'