Aku duduk di kamar kerja Bapak dengan fotoku sendiri di tangan, tetapi gadis di dalam gambar terasa seperti orang lain. Dia terlalu kurus, pipinya pucat, dan pita pasien melingkari pergelangan tangannya. Namun, senyumnya lebar saat memandang Kaivan yang berdiri di sisi lain payung.
Aku tidak ingat pernah tersenyum kepadanya seperti itu.
'Ceritakan dari awal,' pintaku.
Bapak menyandarkan tubuh ke kursi. 'Ayah Kaivan dipindahkan ke kabupaten ini ketika Kaivan masuk SMP. Rumah mereka tidak jauh dari rumah sakit. Saat SMA, sekolahnya punya kegiatan sukarelawan untuk membantu kelas pasien remaja.'
'Kaivan menjadi relawan?'
'Awalnya karena hukuman.' Sudut bibir Bapak terangkat tipis. 'Dia berkelahi dengan anak lain dan diwajibkan mengikuti kegiatan sosial. Setelah hukumannya selesai, dia tetap datang.'
Bayangan Kaivan remaja yang berkelahi sulit dipadukan dengan lelaki yang kukenal. Namun, aku juga tahu sifatnya yang keras kepala. Jika menginginkan sesuatu, dia tidak mudah pergi.
'Kami bertemu di kelas itu?'
'Kamu membenci semua relawan. Katamu mereka datang untuk merasa kasihan, lalu pulang ke hidup normal. Kaivan satu-satunya yang tidak tersinggung ketika kamu mengusirnya.'
'Apa yang dia lakukan?'
'Dia duduk di lorong dan mengerjakan soal fisika dengan suara keras sampai kamu keluar untuk mengoreksi jawabannya.'
Tanpa bisa dicegah, aku tersenyum. Itu terdengar seperti Kaivan. Dia selalu tahu cara membuat orang melakukan sesuatu sambil merasa keputusan tersebut berasal dari dirinya sendiri.
'Hari kedua dia membawa teleskop mainan,' lanjut Bapak. 'Benda murah yang bahkan tidak bisa memperbesar bulan dengan benar. Kamu menertawakannya, lalu menghabiskan satu jam memperbaiki dudukannya.'
'Bapak melihat kami?'
'Hampir setiap hari. Bapak mengajar pagi, lalu datang menjelang sore. Kaivan biasanya sudah berada di sana. Dia hafal jadwal obatmu, tahu makanan yang membuatmu mual, bahkan tahu kapan harus diam saat kepalamu sakit.'
Aku menunduk. Dalam kehidupan pertama, Kaivan selalu tahu aku tidak suka obat berbentuk kapsul dan akan menyiapkan air hangat jika aku sakit. Aku mengira dia hanya cepat mempelajari kebiasaanku setelah kami berpacaran. Rupanya tubuhnya mengingat cara merawatku meski pikiranku tidak mengingat pernah dirawat olehnya.
'Apakah Mama tahu?'
'Mama datang beberapa kali bersama Aries. Tapi saat itu hubungan kami masih rumit dan kamu tidak ingin banyak orang di bangsal. Kaivan kadang membantu Bapak menjelaskan keadaanmu kepada mereka.'
Sekali lagi, Kaivan berada di salah satu bagian paling rapuh dalam keluargaku dan aku sama sekali tidak mengetahuinya.
Bapak mengambil satu bintang kertas. 'Setelah itu dia sering membawa catatan sekolah, buku, dan makanan yang sebenarnya dilarang dokter. Kalian belajar di bangsal. Kadang bertengkar. Lebih sering membicarakan langit.'
Aku menyentuh lipatan bintang. Sebuah kilasan melintas: jemari anak laki-laki melipat kertas di ambang jendela, suara hujan mengenai kaca, serta hitungan mundur yang sebelumnya kudengar dalam ingatan samar.
'Kenapa payungnya kuning?'
'Kaivan membelinya karena kamu ingin melihat hujan dari taman rumah sakit. Payung rumah sakit semuanya hitam. Kamu bilang orang sakit juga berhak punya warna yang menyenangkan.'
Dada terasa sesak. Tanpa mengingat apa pun, aku membeli payung dengan warna yang sama pada hari pertama bekerja bersamanya. Apakah ingatan benar-benar hilang, atau hanya bersembunyi di bawah kebiasaan-kebiasaan kecil?
'Apakah kami berpacaran?'
Bapak mengusap wajah. 'Kalian masih terlalu muda.'
'Itu bukan jawaban.'
'Kaivan pernah meminta izin untuk menjadi pacarmu. Bapak menolak.'
'Kenapa?'
'Kondisimu belum stabil. Setiap kegembiraan membuatmu lupa batas. Kamu pernah mencabut infus karena dia mengajakmu turun ke taman.'
'Dia memaksaku?'
'Tidak.' Bapak menjawab terlalu cepat. 'Kamu yang memaksa. Kaivan justru berusaha mengembalikanmu ke kamar.'
Aku meletakkan foto. 'Lalu apa yang terjadi?'
Bapak menatap jam dinding. 'Sudah malam. Kita lanjut besok.'
'Jangan menghindar lagi.'
'Bapak tidak menghindar. Bapak hanya tidak mau kamu sakit.'
'Aku sudah dewasa. Aku pernah menikah, punya anak, dan kehilangan—'
Kalimat itu berhenti tepat waktu. Wajah Bapak berubah bingung.
'Pernah apa?'
'Tidak apa-apa.' Aku menunduk. Hampir saja aku mengaku bahwa dalam masa depan lain, Bapak sudah meninggal dan Kaivan pernah menjadi suamiku. 'Lanjutkan tentang rumah sakit.'
Bapak memperhatikanku, tetapi memilih tidak mengejar kalimatku. 'Pada suatu malam ada hujan meteor. Kamu dan Kaivan meninggalkan bangsal tanpa izin.'
Jantungku berdetak lebih cepat.
'Kami pergi ke mana?'
'Ke bukit di belakang rumah sakit. Kaivan bilang kalian hanya akan berada di sana sepuluh menit. Cuaca berubah, hujan turun, dan kondisi tubuhmu menurun.'
'Aku kejang?'
'Bapak menemukanmu tidak sadar ketika petugas rumah sakit mencari kalian.'
'Kaivan ada di sana?'
'Dia memelukmu di bawah payung kuning. Terus memanggil namamu dan menyalahkan dirinya sendiri.'
Gambaran itu menekan sesuatu di dalam kepalaku. Cahaya-cahaya putih melintas, bukan seperti bintang, melainkan lampu kendaraan darurat. Aku mendengar suara remaja laki-laki berkata, 'Lihat aku, Git. Jangan tidur dulu.' Kemudian semuanya gelap.
Di antara kegelapan itu muncul satu detik lain. Aku melihat wajah Kaivan basah oleh hujan. Bibirnya bergerak membentuk janji yang tidak dapat kudengar. Di belakangnya, seberkas cahaya membelah langit sebelum tertutup awan. Aku meraih wajah itu, tetapi jemariku hanya menyentuh udara kamar kerja.
'Dia ikut ambulans?' tanyaku.
'Iya. Petugas harus memaksanya melepaskan tanganmu ketika kamu dibawa ke ruang tindakan. Ibu Rieka datang menjelang pagi. Kaivan duduk di lantai lorong sampai ayahnya menjemput.'
'Itu sebabnya Ibu Rieka mengenaliku.'
'Dia beberapa kali mengunjungimu setelah kejadian, meski tidak masuk kamar.'
Rasa malu menyelinap di antara kemarahan. Di pemakaman aku mengulurkan tangan kepada perempuan yang pernah menunggu di luar ruang rawatku. Sementara dia memandangku seperti seseorang yang bangkit dari masa lalu, aku benar-benar tidak tahu siapa dirinya.
Aku mencengkeram tepi meja. Bapak segera berdiri.
'Cukup untuk malam ini.'
'Setelah itu aku kehilangan ingatan?'
'Ingatanmu memang sudah terganggu sejak peradangan. Kejadian malam itu memperburuk kepanikanmu. Kamu tidak mengenali beberapa orang, termasuk Kaivan.'
'Itu alasan Bapak mengusirnya? Karena kecelakaan tersebut?'
'Bapak marah. Kamu hampir meninggal.'
'Tapi dia juga anak-anak. Dan Bapak sendiri bilang aku yang memaksa.'
'Bapak tahu.' Suaranya pecah untuk pertama kali. 'Mengetahui itu sekarang tidak mengubah ketakutan Bapak saat melihatmu di ruang intensif.'
Aku berdiri, menjauh dari meja. Kemarahan dan iba saling bertabrakan. Bapak hampir kehilangan anaknya. Kaivan hampir kehilangan seseorang yang dia sayangi. Namun, bertahun-tahun kemudian akulah satu-satunya orang yang tidak diberi hak mengetahui bahwa kehilangan itu pernah terjadi.
'Dokter hanya meminta Bapak tidak memaksaku mengingat,' kataku. 'Dokter tidak meminta Bapak menghapus Kaivan dari hidupku, kan?'
Bapak memejamkan mata. 'Tidak.'
'Jadi itu keputusan Bapak.'
'Sebagian.'
'Sebagian yang lain keputusan siapa?'
Bapak memandang surat-surat berikat benang kuning. 'Setelah sadar, kamu mengalami serangan panik setiap Kaivan datang. Bapak memintanya berhenti berkunjung. Dia menolak sampai—'
'Sampai apa?'
'Sampai ada alasan lain yang membuatnya pergi.'
'Alasan apa?'
Bapak mengambil kembali kunci kotak dan meletakkannya di meja, bukan di sakunya.
'Jawabannya ada di dalam surat-surat itu. Bapak tidak sanggup membacakannya untukmu.'
Dia berjalan keluar dari kamar kerja. Sebelum menutup pintu, dia menoleh kepadaku.
'Kaivan menepati janjinya selama bertahun-tahun. Kalau setelah membaca semuanya kamu ingin marah, jangan hanya marah kepadanya.'
Pintu tertutup. Aku kini sendirian bersama kotak biru yang bahkan Kaivan minta agar tidak kubuka tanpa ditemani.