Aku tidak langsung menyentuh surat-surat itu. Selama beberapa menit, aku hanya duduk sambil mendengarkan detak jam dan langkah Bapak yang menjauh menuju kamarnya. Kunci kotak biru tergeletak di meja seperti sebuah izin yang datang sangat terlambat.
Bintang kertas paling atas kubuka perlahan. Lipatannya sudah rapuh. Pada sisi dalam terdapat satu kalimat dengan tinta hitam.
'Satu bintang untuk satu hari kamu bertahan.'
Tidak ada nama, tetapi aku mengenali bentuk huruf Kaivan. Tulisan tangannya masih sama: sedikit miring, tekanan kuat pada huruf pertama, dan garis panjang pada akhir kata. Di kehidupan pertama, dia menulis daftar belanja dengan tulisan semacam ini lalu selalu lupa membawanya.
Aku membuka bintang kedua.
'Kalau besok sakit, kita hitung lagi dari awal. Tidak ada yang gagal.'
Bintang ketiga berisi gambar wajah marah yang sangat buruk. Di bawahnya tertulis bahwa itu adalah wajahku ketika Kaivan salah menjawab soal fisika. Tawa kecil lolos dari bibir sebelum air mata menyusul. Seorang remaja yang tidak kuingat telah berusaha membuatku bertahan hidup melalui potongan-potongan kertas.
Setumpuk surat diikat berdasarkan tanggal. Surat pertama ditulis Kaivan setelah Bapak melarangnya masuk bangsal. Dia menceritakan sekolah, guru yang salah menyebut nama planet, serta Risa yang menitipkan salam. Jadi Risa memang mengenalku. Pada bagian akhir, Kaivan meminta aku tidak merasa bersalah karena malam di bukit adalah keputusan mereka berdua.
Pada surat kedua, dia bercerita sengaja melewati rumah sakit sepulang sekolah meski tahu tidak akan diizinkan masuk. Dia menitipkan sekotak susu kepada Risa dan meminta memastikan aku meminumnya. Surat ketiga berisi salinan soal fisika lengkap dengan jawaban yang sengaja dibuat salah. Di pinggir kertas dia menulis bahwa aku harus bangun dan memarahinya kalau tidak ingin nilai ujiannya hancur.
Surat keempat hanya berisi titik-titik yang dihubungkan menjadi rasi bintang. Salah satu bintang diberi lingkaran kuning dan kalimat, 'Di sini aku menunggu.'
Tidak ada rayuan besar. Tidak ada pernyataan cinta yang berlebihan. Justru hal-hal remeh itu membuat tangisku semakin sulit dihentikan. Kaivan menulis seolah keesokan hari aku pasti membacanya, seolah keyakinannya cukup untuk memanggilku pulang dari tempat gelap di dalam kepala.
Surat berikutnya tidak pernah dibuka. Amplop-amplop itu masih tersegel. Kaivan menulis hampir setiap hari selama satu bulan, meski tidak satu pun sampai ke tanganku.
Bapak menyimpannya.
Aku membawa kotak ke kamar lama dan meletakkannya di ranjang. Dinding kamar sudah dicat ulang, tetapi posisi meja belajar serta rak buku tidak berubah. Ketika membuka laci paling bawah, aku menemukan bekas goresan berbentuk huruf K. Ujung jariku mengikuti garisnya, lalu sebuah ingatan menyala.
Kaivan duduk di lantai, menyembunyikan obeng kecil di belakang punggung.
'Kamu merusak meja Bapak,' kataku dalam kilasan itu.
'Aku sedang menandai wilayah.'
'Memangnya kamu kucing?'
'Kalau aku kucing, kamu tetap suka?'
Ingatan tersebut hilang secepat datangnya. Aku tersentak dan mendapati diri sendiri masih berdiri di depan laci. Jantung berdebar, tetapi tidak ada serangan panik. Hanya rasa rindu yang tidak memiliki tempat untuk dituju.
Ponsel kunyalakan. Ada tiga pesan dari Kaivan dan satu dari Hara. Aku memberi kabar kepada Hara bahwa sudah tiba dengan selamat, lalu membuka pesan Kaivan.
'Sudah sampai?'
'Bapak baik-baik saja?'
'Gita, jawab satu saja supaya aku tahu kamu aman.'
Jemariku mengetik sebelum sempat dipikirkan.
'Kamu memberiku payung kuning di rumah sakit.'
Balasannya datang kurang dari satu menit.
'Kamu ingat?'
'Bapak yang cerita.'
Tanda bahwa Kaivan sedang mengetik muncul, hilang, lalu muncul kembali.
'Aku minta maaf.'
'Untuk membawaku melihat hujan meteor?'
'Untuk lebih banyak hal daripada itu.'
Panggilan darinya masuk. Aku membiarkannya berdering. Kalau mendengar suara Kaivan sekarang, aku takut tidak bisa membedakan kemarahan, kerinduan, dan cinta yang kubawa dari masa depan.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Bapak masuk sambil membawa dua cangkir teh. Wajahnya lebih pucat daripada tadi.
'Bapak tidak apa-apa?'
'Cuma lelah.'
Aku segera mengambil baki dan menyuruhnya duduk. Dua jariku menempel pada pergelangan tangannya seperti pernah kulihat perawat lakukan. Denyutnya terasa tidak teratur, atau mungkin aku terlalu takut untuk menghitung dengan benar.
'Kita ke rumah sakit sekarang.'
'Tidak perlu. Setelah duduk sebentar juga reda.'
'Pak—'
'Kalau lima belas menit tidak membaik, kita pergi.'
Aku mengatur penghitung waktu di ponsel dan membuka jendela. Bapak meminum air hangat sambil mengatur napas. Beberapa menit kemudian warnanya kembali, tetapi aku tetap mencatat kejadian itu agar disampaikan kepada dokter saat tes hari Selasa.
'Kamu sudah membaca suratnya?' tanyanya.
'Sebagian. Kenapa Bapak tidak memberikannya kepadaku dulu?'
'Karena setiap kali nama Kaivan disebut, kamu menangis dan tidak mau makan.'
'Itu bukan alasan menyimpannya selamanya.'
'Bapak berniat memberitahumu ketika kamu lebih kuat. Lalu tahun-tahun berlalu. Kamu terlihat bahagia tanpa masa itu.'
Aku menatap Bapak. Ironi terasa begitu pahit. Aku memang bertemu Kaivan lagi tanpa mengingatnya, jatuh cinta kepadanya sekali lagi, lalu menikah dan kehilangan anak kami. Bapak menyembunyikan masa lalu demi kebahagiaanku, tetapi takdir membawa kami kembali ke arah yang sama.
'Apakah Kaivan tahu aku tidak pernah menerima suratnya?'
'Tidak pada awalnya.'
'Kapan dia tahu?'
'Saat datang ke rumah setelah kamu keluar dari rumah sakit. Bapak mengembalikan semua surat dan memintanya pergi. Dia justru menyuruh Bapak menyimpannya, kalau suatu hari kamu ingin membaca.'
'Lalu kenapa dia setuju tidak menemuiku lagi?'
Bapak memandang tumpukan surat. 'Baca sampai akhir.'
Setelah memastikan kondisi Bapak stabil, aku memintanya beristirahat. Aku kembali ke kamar dan membuka amplop satu per satu. Surat Kaivan berubah semakin pendek. Pada surat terakhir, hanya ada satu paragraf.
'Aku akan pergi karena itu yang kamu minta. Kalau suatu hari kita bertemu lagi dan kamu tidak mengenaliku, aku berjanji tidak akan memaksa. Aku akan memperkenalkan diri dari awal.'
Di bawah surat itu ada selembar kertas lain. Bukan tulisan Kaivan. Huruf-hurufnya bulat dan sedikit gemetar, tetapi aku mengenalinya sebagai tulisan tanganku sendiri.
'Bapak, tolong suruh Kaivan pergi. Jangan biarkan dia menemuiku lagi. Kalau dia kembali, aku tidak akan pernah sembuh.'
Tidak ada penjelasan mengapa aku menulisnya. Hanya tanggal tiga hari setelah aku sadar di ruang intensif dan tanda tangan Sagita Riusara di bagian bawah.
Aku membaca kalimat itu berulang kali sampai huruf-hurufnya berbaur oleh air mata.
Kucoba mengingat perasaan ketika pena itu bergerak, tetapi yang datang hanya tekanan di dada dan gema suara seseorang menangis di balik pintu. Apakah aku takut kepada Kaivan, marah kepadanya, atau justru berusaha melindunginya dari sesuatu? Tulisan tersebut membuktikan sebuah permintaan pernah dibuat, bukan alasan di belakangnya. Bahkan diriku dari masa lalu kini terasa seperti saksi yang menolak memberikan keterangan lengkap.
Di balik kertas terlihat bekas kalimat yang pernah ditekan kuat pada halaman sebelumnya. Aku memiringkannya ke arah lampu, tetapi hanya mampu membaca dua kata: bintang jatuh.
Selama ini aku mengira Bapak dan Kaivan merampas masa laluku. Namun, bukti di tangan mengatakan bahwa akulah orang yang pertama kali meminta Kaivan dihapus dari hidupku.