Kedai yang dipilih Risa menghadap bangunan lama rumah sakit. Sebagian dindingnya sudah direnovasi, tetapi gambar gugusan bintang biru masih terlihat pada sayap bangsal anak. Gambar yang sama seperti di latar foto Kaivan.
Aku datang lebih awal bersama Bapak. Dia tidak ikut masuk dan memilih menunggu di toko buku seberang jalan. Katanya aku berhak mendengar cerita Risa tanpa tatapannya, meski aku tahu dia juga ingin memastikan aku tidak sendirian jika ingatanku kembali menyerang.
Risa tiba dengan kemeja sederhana dan rambut diikat. Wajahnya tampak lebih muda tanpa seragam hotel. Dia duduk di hadapanku, meletakkan tas di pangkuan, lalu meminta maaf sekali lagi.
'Waktu melihatmu bersama Kaivan, aku benar-benar terkejut,' katanya. 'Kukira kamu sudah mengingat semuanya.'
'Lalu Kaivan menyuruhmu berbohong.'
'Dia bilang jangan memaksamu mengenali siapa pun. Katanya itu janji lama.'
'Kamu seharusnya membiarkan aku menjawab sendiri.'
'Iya.' Risa menunduk. 'Aku salah.'
Aku tidak datang untuk menerima atau menolak permintaan maafnya. Aku mengeluarkan foto surat dari ponsel dan meletakkannya di meja.
'Apa yang terjadi sebelum aku menulis ini?'
Risa membaca layar, lalu menatap bangsal di seberang. 'Kita berteman selama kamu dirawat. Aku satu sekolah dengan Kaivan dan ikut kegiatan relawan. Awalnya kamu tidak menyukaiku karena aku terlalu banyak bicara.'
'Sepertinya itu masuk akal.'
Dia tersenyum kecil. 'Setelah malam di bukit, aku merasa semuanya salahku. Aku yang memberi tahu kalian pintu belakang taman tidak dikunci. Aku juga yang mengalihkan perhatian perawat.'
'Kaivan yang mengajakku pergi?'
'Kalian merencanakannya bersama. Kamu ingin melihat hujan meteor karena takut tidak punya kesempatan lain. Kaivan sempat membatalkan saat melihatmu demam, tapi kamu marah dan bilang tubuhmu tidak boleh menentukan semua keputusan.'
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang akan kukatakan. Bapak tidak berbohong ketika menyebut aku yang memaksa.
'Kaivan sering melanggar aturan untukku?'
'Tidak sesering yang kamu bayangkan. Dia justru paling sering menyuruhmu mengikuti dokter. Kalian bertengkar karena kamu menyembunyikan obat di pot bunga dan dia melaporkannya kepada perawat.' Risa tersenyum mengingatnya. 'Kamu tidak bicara kepadanya dua hari. Hari ketiga dia datang membawa dua puluh bintang kertas dan menyelipkannya di bawah pintu.'
'Kenapa dia melakukan semua itu?'
'Karena dia menyukaimu. Semua orang di kelas tahu.'
'Apakah aku menyukainya?'
Risa menatap foto di tanganku. 'Kamu menunggu suara sepatunya setiap sore. Kalau Kaivan terlambat, kamu duduk dekat jendela dan berpura-pura membaca. Kamu juga mulai makan lebih teratur karena dia berjanji membawa teleskop sungguhan setelah berat badanmu naik.'
Perincian kecil itu terasa lebih meyakinkan daripada surat cinta. Aku bisa membayangkan diriku menunggu sambil menyangkal, sama seperti sekarang aku menunggu pesan Kaivan meski bersikeras ingin menjauh.
'Kalian belum resmi berpacaran,' lanjut Risa. 'Bapakmu tidak mengizinkan. Tapi pada sore sebelum hujan meteor, Kaivan memberimu kalung kecil berbentuk bintang. Kamu bilang akan memberikan jawaban setelah keluar dari rumah sakit.'
Tanganku refleks menyentuh leher. Aku tidak memiliki kalung semacam itu sekarang.
'Di mana kalungnya?'
'Hilang malam itu. Kaivan mencarinya di bukit sampai pagi, setelah dokter menyuruhnya pulang.'
Benda lain dari masa lalu menghilang tepat ketika ingatanku pecah. Aku mencatatnya di ponsel. Jika surat dan buku bisa ditemukan, mungkin kalung itu juga meninggalkan jejak.
'Setelah aku sadar, apakah aku menyalahkan Kaivan?'
'Tidak pada awalnya.' Risa meremas tali tas. 'Kamu menanyakan dia. Saat kubilang Kaivan menunggu di taman, kamu berjalan ke jendela sendiri. Kamu melihatnya, lalu jatuh dan menjerit.'
'Aku mengatakan apa?'
'Kamu bilang dia tidak boleh mengingat. Kamu bilang kalau Kaivan melihatmu lagi, semuanya akan dimulai dari awal.'
Bulu kudukku berdiri. 'Apa yang dimulai dari awal?'
'Aku tidak tahu. Perawat menyuruh kami keluar.'
'Lalu buku fisika?'
Risa meminum air sebelum melanjutkan. 'Malam berikutnya aku menemukanmu menulis di ruang kelas. Ada dua halaman. Kamu membaca halaman pertama berulang kali, kemudian menyelipkannya di sampul belakang buku. Halaman kedua kamu robek dan berikan kepada Bapak.'
'Kenapa kamu membaca halaman pertama?'
'Karena kamu memintaku.' Matanya berkaca-kaca. 'Kamu bilang kalau suatu hari kita bertemu lagi dan kamu tidak mengingat, aku harus mengembalikannya.'
'Tapi kamu tidak melakukannya.'
'Ketika aku datang keesokan hari, bukunya sudah tidak ada. Bapakmu bilang semua buku dipindahkan ke gudang kelas. Tidak lama kemudian ayah Kaivan meninggal dan keluarganya kembali ke kota. Aku berusaha mencari buku itu, tapi kelas rumah sakit dipindahkan ke gedung lain.'
'Apa isi halamannya?'
Risa memejamkan mata, berusaha mengingat. 'Ada gambar bintang dan banyak tahun. Aku tidak mengerti. Aku hanya ingat satu kalimat tentang April, tapi saat itu tahunnya masih sangat jauh.'
'Tahun berapa?'
'Dua ribu tujuh belas.'
Jari-jariku mencengkeram tepi meja. Seorang gadis remaja menuliskan tahun 2017 jauh sebelum aku dimutasi dan bertemu Kaivan di kantor.
'Kamu yakin?'
'Aku ingat karena angka itu kutulis di belakang kartu pelajar agar tidak lupa. Tapi waktu kucari lagi, bukunya tetap tidak ada.'
'Kenapa kamu tidak pernah bilang kepada Bapak atau Kaivan?'
'Aku bilang kepada Bapakmu. Dia mengira kamu sedang bingung karena obat. Kaivan baru kehilangan ayahnya dan menyalahkan diri atas keadaanmu. Aku tidak sanggup memberinya teka-teki lain.'
Aku memandang bangsal lama. Sebuah kilasan hadir: Risa remaja berdiri di pintu kelas, aku menyodorkan buku sambil berbisik agar dia tidak percaya siapa pun yang mengatakan waktu hanya bergerak maju. Ingatan itu terlalu cepat untuk kupastikan nyata.
'Apakah Kaivan pernah melihat halaman tersebut?'
'Tidak setahuku.'
'Lalu bagaimana dia tahu kotak biru?'
'Kotak itu miliknya. Dia menyimpan bintang kertas di sana sebelum memberikannya kepadamu.'
Potongan lain menemukan tempatnya. Kaivan tahu isi kotak bukan karena Bapak menceritakan, tetapi karena benda itu pernah dia isi dengan harapan-harapan kecil untukku.
'Masih mungkin menemukan bukunya?'
'Gudang kelas lama dibongkar dua tahun lalu. Buku sumbangannya dibawa ke rumah kepala relawan. Aku bisa menanyakan.'
'Tolong.'
Risa mengangguk. Sebelum kami berpisah, dia mengeluarkan sesuatu dari dompet: foto kecil Kaivan sedang tidur di kursi rumah sakit, sementara kepalaku bersandar pada bahunya.
'Ini seharusnya milikmu,' katanya.
Aku menerima foto itu. Di bagian belakang ada tulisan Kaivan: dua manusia keras kepala menunggu langit sembuh.
Saat keluar dari kedai, Bapak sudah menunggu di trotoar. Aku tidak langsung menunjukkan foto tersebut. Aku hanya menggandeng lengannya ketika menyeberang, merasakan denyut yang tidak teratur di balik kulitnya.
'Risa bilang aku menulis tahun 2017,' kataku setelah kami berada di mobil. 'Bertahun-tahun sebelum tahun itu terjadi.'
Bapak tidak tampak terkejut.
'Bapak sudah tahu?'
'Bapak menganggapnya akibat obat.'
'Sekarang?'
Dia menatapku dengan cemas. 'Sekarang Bapak mulai takut kamu memang pernah melihat sesuatu yang seharusnya belum terjadi.'