Aku kembali ke kota pada Minggu sore. Bapak ingin mengantarku ke terminal, tetapi setelah episode jantungnya malam sebelumnya, aku melarang dia menyetir. Kami berdebat sampai sopir kendaraan sewaan datang. Sebelum berpisah, aku memastikan Aries bersedia menemani pemeriksaan hari Selasa.
Kotak biru kubawa di dalam tas. Bapak sempat menolak, lalu mengalah ketika kukatakan rahasia itu tidak boleh kembali dikunci di rumahnya. Surat-surat Kaivan menjadi berat yang terus kurasakan di pangkuan sepanjang perjalanan.
Aku mengirim pesan kepada Kaivan setelah bus memasuki kota.
'Besok sebelum kerja, aku ingin bicara.'
Dia membalas cepat.
'Aku bisa menemuimu sekarang.'
'Besok. Di kedai dekat kantor, jam tujuh.'
Kaivan sudah menunggu ketika aku datang Senin pagi. Kopi susu tanpa tambahan gula tersedia di kursi seberangnya. Kali ini aku tidak bertanya bagaimana dia tahu pesananku.
'Bapak membuka kotaknya?' tanyanya.
'Iya.' Aku duduk dan meletakkan foto dari Risa di atas meja. 'Aku juga bertemu Risa.'
Kaivan menatap foto kami saat remaja. Jemarinya menyentuh ujung gambar, tetapi tidak mengambilnya.
'Aku pikir foto ini hilang.'
'Banyak hal rupanya hanya disembunyikan.'
'Apa yang ingin kamu tanyakan?'
'Semuanya. Tapi kita mulai dari kebohonganmu. Kamu mengenaliku sejak hari pertama di kantor.'
'Iya.'
Pengakuannya datang begitu mudah sampai membuatku semakin marah.
'Kamu tahu nama panjangku bukan dari gosip pegawai.'
'Aku melihat daftar mutasi sebulan sebelumnya. Ketika membaca namamu, aku menelepon Ibu. Aku ingin memastikan kamu orang yang sama.'
'Lalu kamu berpura-pura baru berkenalan.'
'Aku sudah berjanji tidak akan memaksamu mengingat.'
'Berbohong bukan satu-satunya cara menepati janji.'
Kaivan menunduk. 'Aku takut kalau menyebut masa itu kamu akan kembali sakit. Bapakmu mengatakan serangan panikmu berhenti setelah aku pergi.'
'Kamu tidak pernah mencoba mencari tahu keadaanku?'
'Setiap tahun.' Dia mengangkat wajah. 'Aku bertanya kepada Risa, mencari kabar dari teman, bahkan pernah datang ke rumah. Bapakmu selalu bilang kamu baik dan tidak membutuhkan masa lalu.'
'Kenapa kamu menurut? Kamu bukan orang yang mudah menyerah.'
Kaivan tertawa pendek tanpa kegembiraan. 'Ayahku meninggal beberapa minggu setelah kamu keluar dari rumah sakit. Saat itu aku merasa semua orang yang kusayangi terluka karena aku tidak bisa menjaga mereka. Pergi adalah satu-satunya hal yang masih bisa kulakukan sesuai permintaanmu.'
Kemarahanku menemukan batas. Aku tetap tidak membenarkan kebohongannya, tetapi di hadapanku bukan hanya Kaivan dewasa yang menyimpan rahasia. Ada anak laki-laki yang kehilangan ayah dan dipaksa percaya bahwa kehadirannya membuatku tidak sembuh.
'Aku membaca surat terakhir,' kataku. 'Kamu bilang akan memperkenalkan diri dari awal kalau kita bertemu.'
'Itu yang kulakukan di kantor.'
'Tidak sepenuhnya. Kamu sudah mengetahui terlalu banyak tentangku.'
'Kebiasaan lama sulit dilupakan.' Tatapannya turun ke cangkirku. 'Kamu masih minum kopi yang sama, masih memijat pelipis saat cemas, dan masih membeli payung kuning ketika takut pada sesuatu.'
'Aku membeli payung itu untuk menghindarimu.'
'Dulu kamu membawanya untuk menemuiku.'
Kami terdiam. Masa lalu dan masa depan saling menumpuk di antara dua cangkir kopi.
'Risa bilang sebelum menulis surat, aku mengatakan kamu tidak boleh mengingat karena semuanya akan dimulai dari awal,' ujarku. 'Kamu pernah mendengar kalimat semacam itu?'
Kaivan berpikir cukup lama. 'Di bukit, sebelum pingsan, kamu bertanya apakah aku akan tetap memilihmu kalau diberi kesempatan kedua.'
Jantungku berdenyut keras. 'Apa jawabanmu?'
'Aku bilang iya.'
'Lalu?'
'Kamu menangis dan berkata itu sebabnya Bintang tidak pernah bisa selamat.'
Suara kedai seketika menghilang. 'Kamu yakin aku menyebut Bintang?'
'Aku pikir maksudmu meteor yang baru kita lihat. Kenapa?'
Aku melihat wajah anak kami di dalam ingatan. Bintang Aaron Mahendra, bayi yang belum ada di tahun ini tetapi mungkin sudah disebut oleh diriku saat remaja.
'Tidak apa-apa,' dustaku.
'Gita, apa yang kamu sembunyikan?'
'Kamu tidak berhak bertanya selama masih bersama Meyra.' Aku memaksa suara tetap tenang. 'Masa lalu kita tidak memberi hak untuk menyakiti dia. Kalau hubungan kalian bermasalah, selesaikan tanpa menjadikanku alasan atau tujuan berikutnya.'
Kaivan menarik napas. 'Aku akan bicara jujur kepadanya.'
'Bukan untukku. Untuk Meyra.'
'Aku mengerti.'
'Dan jangan menganggap karena dulu kita dekat, aku harus membalas perasaan apa pun sekarang.'
'Aku juga mengerti.' Matanya menatapku lembut. 'Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu. Aku tidak pernah berhenti menyayangimu, bahkan ketika aku mencoba mencintai orang lain.'
'Kalau begitu kamu tidak adil kepada Meyra.'
'Aku tahu.'
'Sejak kapan dia tahu tentangku?'
'Dia tahu ada seseorang dari masa SMA, tapi aku tidak pernah menyebut nama sampai daftar mutasi keluar. Aku pikir perasaan itu hanya kenangan. Melihatmu masuk ruang briefing membuat semua yang kukubur terasa terjadi kemarin.'
Aku teringat tatapan Kaivan pada pertemuan pertama. Saat itu aku mengira hanya aku yang berusaha menyesuaikan dua waktu. Rupanya dia juga sedang berhadapan dengan seseorang yang telah lama dianggap hilang.
'Kamu tampak terkejut ketika aku menatapmu,' lanjutnya. 'Selama beberapa detik aku pikir kamu sudah mengingat. Lalu kamu memperkenalkan diri seperti orang asing.'
'Karena bagiku memang itu pertemuan pertama.'
'Aku tahu. Makanya aku mengikuti caramu.'
'Tidak sepenuhnya. Kamu sengaja berada di dekatku, tahu rumah Bapak, tahu pesananku.'
'Aku mencoba menjaga jarak.' Kaivan tersenyum pahit. 'Aku gagal sejak kamu membuka payung kuning itu. Rasanya seperti melihat satu hari di rumah sakit kembali berdiri di depanku.'
'Lalu Meyra?'
'Aku pulang dan mengatakan kepada diri sendiri bahwa aku punya kehidupan sekarang. Besoknya aku tetap mencari alasan untuk melihat mejamu.'
Kejujurannya tidak membuat situasi lebih mudah. Justru aku semakin memahami betapa kehadiranku melukai seseorang yang tidak melakukan kesalahan.
'Bicaralah kepada Meyra tanpa meminta dia menunggu keputusanmu tentang aku,' kataku. 'Dia berhak memilih setelah mengetahui seluruh kenyataan.'
'Aku akan melakukannya malam ini.'
'Kalau dia ingin tetap bersama, jangan datang kepadaku membawa pengakuan seperti ini lagi.'
Kaivan mengangguk meski rahangnya menegang. 'Aku akan menghormati pilihannya dan pilihanmu.'
'Kamu pernah melihat surat asliku?'
'Tidak. Bapakmu membacakan isinya ketika aku datang ke rumah. Bertahun-tahun kemudian, dia hanya menunjukkan bagian tanda tangan dari kejauhan karena aku terus menuduhnya mengarang.'
'Jadi kamu juga tidak tahu kenapa aku menulisnya.'
'Tidak.' Kaivan menggeleng. 'Aku hanya tahu setiap kali mencoba mendekat, keadaanmu memburuk. Saat itu pergi terasa seperti satu-satunya bentuk sayang yang tidak menyakitimu.'
Jawaban tersebut mematahkan dugaan bahwa Kaivan menyimpan penjelasan lengkap. Untuk pertama kali, aku melihat kami bukan sebagai pemilik rahasia dan korban kebohongan, melainkan dua orang yang sama-sama hanya menerima serpihannya.
Aku berdiri sebelum keteguhanku runtuh. Kaivan tidak menahan.
Di luar kedai, aku menyentuh kotak biru di dalam tas. Dalam kehidupan pertama, aku jatuh cinta kepada Kaivan tanpa mengetahui dia telah menungguku bertahun-tahun. Dalam kehidupan kedua ini, mengetahui semuanya justru membuatku semakin takut mendekat.
Karena jika perkataanku di bukit benar, kami bukan sekadar mengulang cinta.
Kami mungkin sedang mengulang kehilangan yang sama.