Hari Selasa, aku membawa ponsel ke mana pun, termasuk ke ruang rapat. Aries berjanji menghubungi setelah ekokardiografi Bapak selesai. Selama menunggu, aku memeriksa layar hampir setiap menit sampai Hara merampas ponsel dari tanganku.
'Kalau ada telepon, aku kasih,' katanya. 'Kalau tidak ada, kamu harus menyelesaikan laporan.'
'Bagaimana kalau rumah sakit mengirim pesan?'
'Aku bisa membaca nama pengirim tanpa membuka isinya.'
Aku mengalah. Di meja sudah menunggu hasil verifikasi fasilitas Pak Idrus. Penilai teknis independen menetapkan progres empat puluh tiga persen. Rekening pemasok menunjukkan dana dari perusahaan Pak Idrus masuk, berputar melalui dua rekening, lalu kembali sebagai pembayaran utang pemegang saham. Tidak ada bukti pembayaran material sebesar yang tercantum dalam faktur.
'Ini cukup untuk menolak tambahan fasilitas,' kata Kaivan.
'Bukan hanya menolak. Fasilitas yang sudah berjalan harus masuk pengawasan.'
'Pak Sam pasti keberatan.'
'Dia tidak bisa mengabaikan aliran dana.'
Kami menyusun kronologi bersama Bu Ratih. Setiap transaksi diberi penanda dan disandingkan dengan dokumen proyek. Semakin lengkap gambarnya, semakin jelas risiko yang dulu baru kami lihat setelah terlambat.
Penilai teknis bergabung melalui telepon untuk menerangkan perbedaan progres. Menurutnya, beberapa pekerjaan yang dihitung Pak Idrus sebagai selesai baru berupa pemesanan material. Nilainya dimasukkan ke laporan fisik meski barang belum terlihat di lokasi. Ketika diminta menunjukkan gudang alternatif, pihak proyek memberikan tiga alamat berbeda.
Aku kemudian menelusuri transaksi rekening. Dana bergerak dari rekening operasional Pak Idrus ke pemasok, masuk ke rekening pribadi direktur pemasok, lalu kembali kepada perusahaan lain yang pemegang sahamnya masih keluarga Idrus. Polanya tidak otomatis membuktikan tindak pidana, tetapi jelas tidak sesuai dengan tujuan penggunaan fasilitas.
'Kita harus memisahkan temuan faktual dari dugaan,' kata Bu Ratih.
'Aku buat dua kolom,' jawabku. 'Yang sudah didukung dokumen dan yang masih membutuhkan klarifikasi.'
Kaivan menambahkan daftar permintaan data dengan tenggat waktu. Kami tidak memberi ruang bagi Pak Idrus untuk mengatakan bahwa keputusan dibuat tanpa kesempatan menjawab.
Pak Sam membaca laporan itu dalam diam. Tidak ada lagi pembelaan mengenai lamanya hubungan dengan debitur. Dia hanya bertanya apakah tim sudah memberi kesempatan Pak Idrus menjelaskan.
'Sudah, Pak,' jawab Kaivan. 'Beliau mengirim surat bahwa transaksi tersebut pengembalian dana talangan, tetapi tidak ada perjanjian atau bukti sumber talangannya.'
'Beliau juga mengancam memindahkan seluruh rekening jika proposal tidak disetujui,' tambah Bu Ratih.
Pak Sam melepas kacamata. 'Saya yang akan bicara dengannya. Kalian siapkan rekomendasi pengawasan fasilitas lama.'
Itu bukan permintaan maaf karena telah menekan kami, tetapi cukup sebagai perubahan arah.
Ponselku berdering di tangan Hara. Nama Aries muncul. Aku meminta izin keluar dan mengangkat panggilan di koridor.
'Bagaimana Bapak?'
'Sudah selesai diperiksa,' jawab Aries. Suara ramai rumah sakit terdengar di belakangnya. 'Dokternya mau bicara sama Kak Gita.'
Seorang dokter mengambil alih. Hasil awal menunjukkan fungsi pompa jantung Bapak mulai menurun dan ada perubahan pada otot jantung yang mengarah pada kardiomiopati. Kondisinya belum separah yang pernah kutemui pada tahun 2020. Bapak perlu obat, pemeriksaan tambahan, pengurangan beban kerja, serta pemantauan teratur.
'Apakah bisa dicegah supaya tidak memburuk?' tanyaku.
'Banyak faktor yang memengaruhi, tapi deteksi awal memberi lebih banyak pilihan. Yang penting pengobatan dan kontrol tidak putus.'
Air mataku jatuh sebelum panggilan selesai. Aku mencatat nama obat, jadwal konsultasi, tanda bahaya, dan nomor yang bisa dihubungi. Dokter beberapa kali mengingatkan diagnosis lengkap masih menunggu hasil lain, tetapi dua kata terus bergema di kepalaku: deteksi awal.
Di kehidupan sebelumnya, aku hanya bisa menggenggam tangan Bapak ketika dokter mengatakan pilihan kami hampir habis. Kini masih ada jalan yang dapat dijalani.
'Kakak jangan nangis,' kata Aries setelah ponsel kembali kepadanya. 'Bapak malah sibuk protes karena dilarang minum kopi.'
'Pastikan dia mengambil obat sebelum pulang.'
'Iya.'
'Dan foto semua hasilnya.'
'Iya, Bu Dokter.'
Ucapan itu sama seperti ejekan Bapak. Aku tertawa di sela tangis.
Aku meminta Aries membuat grup keluarga bersama Mama. Biasanya Bapak tidak suka urusan kesehatannya dibicarakan banyak orang, tetapi kali ini aku tidak memberinya pilihan untuk menjadi satu-satunya penjaga informasi. Kami membagi tugas: Aries menemani kontrol berikutnya, Mama mencari tempat tinggal sementara bila Bapak perlu berobat di kota, dan aku mengatur biaya serta salinan dokumen.
'Jangan semua orang mendadak datang ke rumah,' protes Bapak dari belakang suara Aries. 'Bapak bukan sedang menunggu pembagian warisan.'
'Tidak ada yang bilang begitu,' sahutku. 'Kami cuma tidak mau Bapak melewatkan obat.'
'Bapak bisa membaca jam.'
'Bagus. Berarti alarmnya tidak akan sia-sia.'
Aries tertawa, sementara Bapak menggerutu. Suara keluarga yang saling menyela itu membawa kelegaan aneh. Di masa depan yang pernah kulewati, kami berkumpul ketika keadaan Bapak sudah sangat buruk. Sekarang kami berkumpul lebih awal, saat masih ada kesempatan menyusun perawatan, bukan hanya perpisahan.
Ketika kembali ke ruangan, Kaivan berdiri dekat pintu. Dia tidak bertanya sebelum aku mengangguk.
'Ditemukan lebih awal,' kataku. 'Dokter bilang masih banyak yang bisa dilakukan.'
'Syukurlah.'
Tangannya bergerak seolah ingin menyentuh bahuku, tetapi berhenti di udara. Batas yang kuminta masih dia ingat.
Adri datang membawa air mineral dan memberikannya tanpa komentar. Hara mengembalikan ponselku. Di antara mereka, aku merasakan bentuk perhatian yang tidak menuntut balasan.
Sore hari, sebuah surat keluhan resmi dari Pak Idrus masuk. Dia menuduh analisis kami bias, mempermalukannya di depan komite, dan merusak hubungan bisnis. Namaku disebut paling banyak. Di bagian akhir, dia meminta aku dikeluarkan dari tim.
Bu Ratih menyuruhku menulis kronologi tanggapan sendiri sebelum membaca pembelaan orang lain. Aku mencatat setiap pertemuan, permintaan dokumen, dan kata-kata Pak Idrus saat membawa bingkisan. Hara memeriksa tanggalnya, sementara Adri mengambil salinan buku tamu dari petugas keamanan. Tidak seorang pun menambahkan penilaian yang tidak mereka saksikan.
'Keluhan semacam ini sengaja membuat orang merasa sendirian,' kata Bu Ratih. 'Karena itu jawab dengan proses, bukan keberanian pribadi saja.'
Kalimatnya membuatku menyadari perbedaan terbesar dari masa depan yang kuingat. Dulu aku dan Kaivan mencoba menanggung masalah Pak Idrus berdua sampai tekanan itu masuk ke rumah. Sekarang ada saksi, catatan, dan orang lain yang ikut menjaga batas tanggung jawab.
'Aku sudah menduga,' kataku, meski telapak tangan kembali dingin.
'Kita jawab dengan dokumen,' ujar Kaivan. 'Tidak dengan emosi.'
'Kalau Pak Sam mengeluarkanku?'
'Aku akan menolak melanjutkan proposal tanpa analis yang menemukan masalahnya.'
'Kamu tidak perlu mempertaruhkan posisimu.'
'Ini bukan soal melindungimu.' Tatapannya tegas. 'Ini soal melindungi keputusan yang benar.'
Aku ingin mempercayai pemisahan itu. Namun, ketika Kaivan berdiri di sampingku menghadapi ancaman yang pernah menghancurkan karier kami, aku sadar masa depan sedang berubah melalui hal-hal yang tidak dapat kukendalikan sendirian.