Komite memutuskan tidak melanjutkan tambahan fasilitas Pak Idrus. Kredit yang sudah berjalan dimasukkan dalam pengawasan khusus sampai penggunaan dananya selesai diperiksa. Keputusan itu dibacakan Bu Ratih pada Rabu siang, disertai instruksi agar seluruh komunikasi dengan debitur direkam dalam laporan kunjungan.
Pak Idrus tidak datang. Dia mengirim pengacara dan surat keberatan kedua. Kali ini bukan hanya namaku yang diserang, melainkan juga Kaivan dan Bu Ratih. Pak Sam akhirnya menandatangani jawaban resmi yang menyatakan analisis dilakukan berdasarkan data, bukan penilaian pribadi.
Bagian kepatuhan mengambil alih pemeriksaan transaksi agar tim kami tidak dituduh memiliki kepentingan. Aku menyerahkan seluruh catatan, termasuk log bingkisan yang ditolak. Rekaman lobi menunjukkan staf Pak Idrus membawa dua paket masuk dan membawanya kembali dalam keadaan utuh. Bukti sederhana itu menutup salah satu celah serangan sebelum sempat digunakan.
'Kamu belajar cepat,' kata Bu Ratih.
'Aku pernah belajar dengan cara yang jauh lebih mahal,' jawabku tanpa menjelaskan.
Kaivan mendengar dan memandangku, tetapi tidak bertanya. Sejak percakapan di kedai, dia benar-benar menjaga batas. Sikap profesionalnya membuat suasana kerja lebih mudah sekaligus meninggalkan ruang kosong yang aneh.
'Dia akan terus melawan,' kata Kaivan seusai rapat.
'Setidaknya uangnya belum bertambah.'
'Fasilitas lama masih berisiko.'
'Kita awasi sebelum terlambat.'
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagiku merupakan kemenangan pertama atas masa depan. Aku tidak bisa menghidupkan Bintang pada tahun ini. Aku juga belum tahu apakah pernikahanku dengan Kaivan harus dihindari atau diperbaiki. Namun, aku telah mencegah satu kesalahan bergerak sejauh sebelumnya.
Ketika kembali ke meja, Meyra menungguku di ruang tamu kantor. Dia meminta kami bicara di tempat yang lebih sepi. Aku membawanya ke kantin yang hampir kosong.
'Kaivan menceritakan semuanya semalam,' katanya.
'Tentang rumah sakit?'
'Tentang kamu, janjinya kepada ayahmu, dan fakta bahwa selama ini dia masih mencarimu.' Meyra tersenyum getir. 'Banyak potongan yang akhirnya masuk akal.'
'Aku sudah bilang kepadanya agar tidak menjadikanku alasan untuk menyakitimu.'
'Dia tidak menyalahkan kamu.'
'Kalian putus?'
Meyra memandang meja. 'Kami mengambil jarak. Aku belum tahu apakah itu sementara atau selamanya.'
Rasa bersalah kembali hadir, tetapi Meyra menggeleng sebelum aku meminta maaf.
'Masalah kami sudah ada sebelum kamu datang. Kamu hanya membuatnya tidak bisa lagi disembunyikan.'
'Aku tidak sedang menunggu Kaivan.'
'Aku tahu.' Dia mengangkat wajah. 'Dan kalau suatu hari kamu memilih dia, pastikan itu karena pilihanmu sekarang. Bukan karena merasa berutang kepada anak laki-laki yang pernah menunggumu.'
Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya, kami berbicara bukan sebagai dua perempuan yang memperebutkan seorang pria, melainkan sebagai dua orang yang sama-sama dirugikan oleh kebohongan.
Sebelum pergi, Meyra menggenggam tanganku singkat. 'Ibu Rieka ingin menemuimu. Aku bilang biarkan kamu bernapas dulu.'
'Terima kasih.'
Sepanjang sore aku kembali bekerja. Kaivan tidak bertanya tentang pertemuanku dengan Meyra. Dia menjaga jarak beberapa meja dan hanya mengirim dokumen yang berhubungan dengan Pak Idrus. Sikap itu seharusnya membuatku tenang, tetapi sesekali aku menangkap tatapannya dan teringat pengakuan bahwa dia tidak pernah berhenti menyayangiku.
Pukul enam, pesan dari Risa masuk.
'Aku menemukan buku fisikanya.'
Aku langsung menelepon. Risa menjelaskan kepala relawan lama menyimpan beberapa kardus di rumah. Sampul buku sudah rusak dan beberapa halaman terkena lembap, tetapi satu lembar masih terselip di bagian belakang.
'Kirim fotonya sekarang,' pintaku.
'Gita, isinya aneh. Mungkin sebaiknya kamu membacanya bersama Bapak.'
'Aku tidak mau orang lain menentukan kapan aku siap.'
Risa terdiam, lalu berjanji memotret setiap bagian. Lima menit kemudian, tiga gambar masuk.
Foto pertama memperlihatkan halaman buku dengan rumus lintasan komet yang tidak kukenal. Di pinggirnya ada beberapa tahun: 2009, 2017, dan 2020. Garis-garis menghubungkan angka tersebut membentuk lingkaran, bukan urutan lurus.
Foto kedua berisi gambar payung, sebuah nisan tanpa nama, dan bintang kecil dengan huruf B di tengahnya. Tulisan tanganku memenuhi ruang kosong di antara gambar, tetapi air telah melunturkan sebagian besar kalimat.
Aku memperbesar foto ketiga. Bagian bawah halaman masih dapat dibaca dengan jelas.
'Kalau bintang jatuh membawaku kembali ke April 2017, jangan biarkan aku menikah dengan Kaivan. Aku tidak sanggup kehilangan Bintang untuk kedua kalinya.'
Ponsel hampir terlepas dari tanganku.
'Jangan sentuh kesimpulannya dulu,' kata Hara, mengulangi nasihat yang pernah dia berikan. 'Kita pastikan halaman ini benar-benar lama.'
Aku menelepon Risa melalui pengeras suara. Dia menjelaskan buku ditemukan dalam kardus yang disegel ketika kelas rumah sakit dipindahkan. Kepala relawan memiliki daftar inventaris bertanggal lama, dan judul buku tercatat di sana. Risa bersedia membawa buku asli saat datang ke kota minggu berikutnya.
'Apakah ada orang lain yang memegangnya setelah ditemukan?' tanyaku.
'Aku dan Bu Laila, kepala relawan. Aku memotretnya di depan beliau. Kami tidak mengubah apa pun.'
'Tolong foto sampul, nomor inventaris, dan seluruh halaman yang berdekatan.'
Risa menyanggupi. Beberapa gambar tambahan masuk. Pada halaman sebelum catatan terdapat tugas fisika dengan tanggal pemeriksaan dokterku. Tinta dan warna kertas tampak sama tua. Tidak ada bukti digital yang bisa memastikan usia tulisan, tetapi setidaknya buku itu tidak muncul tiba-tiba tanpa riwayat.
'Hubungi Bapak,' ujar Hara.
Aku mengirim foto tanpa menambahkan tafsir. Bapak menelepon kurang dari dua menit kemudian.
'Dari mana kamu dapat ini?'
'Risa menemukan bukunya. Bapak pernah melihat gambar tahun-tahun itu?'
'Tidak. Tapi Bapak ingat kamu sering menggambar lingkaran dan berkata waktu bukan garis lurus.'
'Kenapa Bapak tidak pernah bilang?'
'Karena dokter mengatakan kebingungan semacam itu bisa muncul setelah kejang.' Suara Bapak bergetar. 'Saat itu 2017 dan 2020 hanyalah angka acak.'
'Sekarang keduanya bukan angka acak.'
Bapak terdiam. Aku tidak menceritakan perjalanan waktuku, tetapi sebagian diriku ingin segera pulang dan mengatakan semuanya. Jika catatan itu asli, mungkin Bapak pernah menyaksikan akibat dari perjalanan lain tanpa menyadarinya.
Tulisan itu dibuat ketika aku masih remaja, jauh sebelum Bintang Aaron Mahendra lahir, jauh sebelum aku menikahi Kaivan, bahkan jauh sebelum tahun 2017 datang.
Aku membuka foto surat yang meminta Kaivan pergi dan membandingkan setiap huruf. Bentuknya sama. Tekanannya sama. Bekas kalimat pada halaman kedua cocok dengan tulisan di buku.
Hara berdiri di belakangku. Dia membaca layar tanpa bersuara, lalu duduk perlahan.
'Git,' bisiknya, 'bagaimana mungkin dirimu waktu SMA tahu nama anakmu?'
Aku tidak memiliki jawaban.
Selama ini aku percaya permohonanku di bawah Komet Neowise telah membawaku dari tahun 2020 kembali ke 2017 untuk pertama kalinya. Namun, halaman tua di layar mengatakan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Jauh sebelum menjadi istri Kaivan, aku mungkin sudah pernah kehilangan Bintang dan mengulang hidup ini.