'Tutup pintunya,' kataku kepada Hara.
Dia bangkit dan menutup pintu ruang diskusi kecil yang kami gunakan. Di luar, beberapa pegawai masih sibuk menyelesaikan pekerjaan. Tidak seorang pun tahu bahwa di dalam ruangan ini ada foto halaman buku yang seharusnya mustahil.
Aku menulis tiga angka pada papan putih: 2009, 2017, 2020. Tahun pertama adalah waktu perkiraan aku dirawat. Tahun kedua adalah tempatku berdiri sekarang. Tahun ketiga adalah kehidupan yang masih kuingat meski belum terjadi bagi orang lain.
'Jangan bilang aku sudah berputar tiga kali,' ujar Hara.
'Aku tidak tahu.'
'Tulisan itu bilang kehilangan Bintang untuk kedua kalinya.'
'Bisa saja Bintang yang dimaksud bukan anakku.'
Hara menatapku datar. 'Hurufnya kapital. Kalimat sebelumnya membahas pernikahan dengan Kaivan.'
'Tetap bukan bukti bahwa aku pernah melakukan perjalanan waktu saat remaja.'
'Bagus. Setidaknya kamu belum langsung percaya pada teori paling menakutkan.'
Hara mengambil spidol dan menulis beberapa kemungkinan di bawah angka-angka itu. Pertama, halaman dipalsukan seseorang yang mengetahui ceritaku. Kedua, tulisan dibuat ketika aku sakit dan kebetulan menyerupai peristiwa sekarang. Ketiga, ingatan masa depan pernah muncul saat aku remaja. Keempat, aku memang sudah menjalani lingkaran ini lebih dari sekali.
'Kita buang kemungkinan satu per satu,' katanya. 'Jangan memilih yang paling masuk akal hanya karena paling dramatis.'
'Siapa yang bisa memalsukannya? Hanya kamu yang tahu lengkap tentang 2020.'
'Bapak dan Kaivan tahu sebagian. Risa memegang bukunya. Itu tetap lebih dari nol orang.'
Aku mengangguk. Kami membuat aturan: buku asli harus diperiksa sebelum aku bertanya kepada terlalu banyak orang; setiap kesaksian dicatat terpisah agar tidak saling memengaruhi; dan tidak seorang pun boleh menggunakan catatan itu untuk memaksaku mengambil keputusan tentang Kaivan.
'Satu aturan lagi,' ujar Hara. 'Kalau kepalamu sakit atau kamu mulai sulit membedakan ingatan, kita berhenti.'
'Aku tidak selemah itu.'
'Berhenti bukan berarti lemah. Kamu sendiri yang bilang tubuhmu harus diberi hak bicara.'
Aku menambahkan aturan tersebut meski enggan.
Aku memotret papan, lalu menghapusnya. Tidak ada gunanya meninggalkan jejak yang bisa dibaca orang kantor. Foto-foto dari Risa kupindahkan ke folder terkunci. Buku asli baru akan dibawa pekan depan, dan sampai saat itu kami hanya memiliki salinan digital serta cerita beberapa orang.
'Kamu harus memberi tahu Bapak tentang 2020,' kata Hara.
'Dia baru mulai pengobatan jantung.'
'Justru itu. Selama ini dia mengira angka-angka tersebut akibat sakitmu. Kalau dia tahu kamu benar-benar datang dari 2020, mungkin dia ingat detail lain.'
Aku tahu Hara benar. Namun, mengaku berarti memberi tahu Bapak bahwa aku pernah memegang tangannya saat dia meninggal. Bagaimana mungkin seorang anak menyampaikan kematian kepada orang tuanya sendiri tanpa membuat setiap hari setelahnya dipenuhi ketakutan?
Aku pulang ke kos dan menunggu sampai jam minum obat Bapak lewat. Ketika menelepon, aku lebih dahulu memastikan dia sudah makan dan tidak merasakan sesak.
'Ada apa lagi?' tanyanya. 'Suaramu seperti orang mau mengaku memecahkan jendela.'
'Pak, angka 2017 dan 2020 yang kutulis waktu SMA bukan angka acak.'
Bapak tidak menjawab.
'Aku tahu ini akan terdengar gila. Hara juga mengira aku gila saat pertama cerita.'
'Cerita apa?'
Aku menarik napas dalam-dalam. 'Bagiku, tahun ini pernah terjadi. Aku hidup sampai Juli 2020. Lalu aku terbangun kembali pada hari pertama dipindahkan ke kantor sekarang.'
Keheningan di seberang terasa panjang.
'Kamu sedang demam?'
'Tidak.'
'Ada sakit kepala atau gejala seperti waktu SMA?'
'Aku sehat, Pak. Aku mengingat tiga tahun yang belum terjadi.'
'Ingatan bisa menciptakan—'
'Kaivan menjadi suamiku.' Aku memotong sebelum keberanian hilang. 'Kami punya anak bernama Bintang Aaron Mahendra.'
Napas Bapak terdengar berat. Aku hampir menghentikan pengakuan, tetapi dia memintaku melanjutkan.
'Bintang meninggal ketika masih bayi. Setelah itu pernikahan kami hancur.'
'Dan Bapak?'
Air mata memenuhi mataku. Bapak mengenalku terlalu baik. Dia tahu ada alasan lain yang membuatku kembali.
'Bapak meninggal pada 2020 karena penyakit jantung yang ditemukan terlambat.'
Tidak ada suara selain dengung sambungan telepon. Aku membayangkan Bapak duduk sendirian di ruang tamu, memandangi obat yang baru mulai diminumnya.
'Apakah Bapak menderita?' tanyanya.
Pertanyaan itu membuat tenggorokanku tercekat. 'Tidak pada saat terakhir. Dokter memberi obat agar Bapak nyaman. Aku ada di samping Bapak.'
'Mama dan adik-adikmu?'
'Mereka datang. Kita semua sempat bicara.'
'Apa kalimat terakhir Bapak?'
'Bapak bilang aku tidak perlu menjadi anak yang kuat setiap saat.'
Isak pendek terdengar di ujung telepon. Aku ingin menarik kembali seluruh cerita, tetapi kebohongan tidak akan membuat kematian itu kurang nyata bagiku.
'Sekarang kita sudah menemukan penyakitnya lebih awal,' lanjutku. 'Masa depan itu tidak harus terjadi dengan cara sama. Tapi Bapak harus mengikuti semua pemeriksaan.'
'Jadi pengakuan perjalanan waktu ini tetap berakhir dengan ceramah soal obat?'
Aku tertawa kecil di sela tangis. 'Iya.'
'Baiklah. Bapak akan patuh. Bukan karena takut pada tahun 2020, tetapi karena masih ingin melihat apa yang kamu lakukan dengan tahun-tahun sebelum itu.'
'Itu sebabnya kamu memaksa Bapak periksa,' katanya akhirnya.
'Iya.'
'Itu sebabnya kamu menangis ketika pulang.'
'Iya.'
'Apa yang membuatmu kembali?'
'Pada malam setelah pemakaman Bapak, Komet Neowise melintas. Aku berharap tidak pernah menikahi Kaivan. Aku ingin menghindari semua rasa sakit itu. Ketika bangun, aku ada di tahun 2017.'
Bapak mengembuskan napas perlahan. 'Kalau cerita itu benar, kenapa dirimu waktu SMA sudah menulisnya?'
'Aku tidak tahu. Itu yang sedang kucari.'
'Apakah Bintang dalam catatan itu anakmu?'
'Nama anakku berasal dari hal-hal tentang langit yang selalu dibicarakan Kaivan. Tidak mungkin kebetulan sebanyak ini.'
Bapak meminta aku menceritakan beberapa peristiwa tahun 2020. Aku memilih hal-hal kecil: cangkir kesukaannya yang pecah dua bulan sebelum meninggal, naskah buku yang tidak sempat diterbitkan, dan amplop berisi surat untukku yang dia simpan di balik jilid ensiklopedia fisika.
'Tidak ada surat di sana,' katanya.
'Belum. Bapak menulisnya ketika mulai dirawat.'
Suaranya bergetar. 'Apa isinya?'
'Bapak meminta maaf karena terlalu sering mengambil keputusan atas namaku. Bapak bilang cinta tidak boleh menjadi alasan untuk mengurung hidup orang lain.'
Kalimat itu mungkin belum pernah ditulis, tetapi Bapak mengenali dirinya di sana. Dia tidak lagi menanyakan apakah aku berhalusinasi.
'Jangan hidup dengan menunggu Bapak mati,' katanya.
'Aku sedang berusaha mencegahnya.'
'Mencegah berbeda dengan menjadikan kematian sebagai pusat semua pilihanmu. Ikuti dokter, tapi biarkan Bapak tetap hidup.'
Aku menutup mata. Bahkan setelah mengetahui masa depannya sendiri, Bapak masih berusaha mengajariku.
'Apakah aku harus memberi tahu Kaivan?'
'Tentang Bintang?'
'Tentang semuanya.'
Bapak terdiam sejenak. 'Kali ini keputusan itu milikmu. Tapi jangan memberinya masa depan seolah itu hukuman atas sesuatu yang belum dia lakukan.'
Setelah telepon berakhir, pesan dari Risa masuk. Dia menemukan nomor Bu Laila, kepala relawan lama, dan sudah mengatur agar buku dikirim lebih cepat. Ada satu informasi lain: Bu Laila masih menyimpan alat perekam kecil yang dulu dipakai untuk kelas astronomi.
Dalam daftar isinya tertulis satu rekaman tanpa judul pada malam hujan meteor.