Aku memilih taman atap sebuah pusat perbelanjaan yang tidak terlalu ramai. Tempat terbuka membuatku merasa lebih mudah bernapas. Kaivan datang tanpa seragam kantor. Lingkar gelap di bawah matanya menunjukkan dia juga tidak tidur cukup.
'Aku dan Meyra sudah mengakhiri hubungan,' katanya sebelum duduk.
'Aku tidak meminta laporan itu.'
'Aku tahu. Tapi kamu harus tahu percakapan ini tidak terjadi di belakangnya. Kami sepakat hubungan kami sudah lama berdiri di tempat yang salah.'
'Apakah dia baik-baik saja?'
'Tidak. Aku juga tidak. Putus dengan cara jujur tetap menyakitkan.'
Jawaban itu membuatku menghargainya sedikit lebih banyak. Kaivan tidak memakai perpisahan sebagai tiket untuk mendekatiku.
Aku mengeluarkan salinan foto halaman buku. Tangan Kaivan menegang ketika membaca kalimat terakhir.
'Ini tulisanmu waktu di rumah sakit?'
'Buku aslinya sudah ditemukan. Ada daftar inventaris dan cap tanggal.'
'Bagaimana kamu bisa menulis tahun 2017?'
'Aku tidak ingat.'
'Dan Bintang?'
Aku menatap langit yang tertutup cahaya kota. Tidak ada bintang terlihat malam ini. Mungkin itu lebih baik.
'Bintang bukan nama meteor,' kataku. 'Dia anak kita.'
Kaivan tidak bergerak. Bahkan napasnya seperti berhenti.
'Apa maksudmu anak kita?'
'Aku datang dari tahun 2020.'
Kuceritakan hari pertama kembali, pemakaman Bapak, dan permohonan di bawah Komet Neowise. Aku menjelaskan bahwa di kehidupan yang kuingat, kami jatuh cinta, menikah, lalu memiliki seorang bayi bernama Bintang Aaron Mahendra.
'Dia laki-laki?' Suara Kaivan nyaris tak terdengar.
'Iya.'
'Mirip siapa?'
Pertanyaan itu menghancurkan pertahanan yang sudah kusiapkan. Air mataku jatuh.
'Matanya mirip kamu. Kalau tidur, tangan kirinya selalu mencari sesuatu untuk digenggam. Dia belum sempat belajar tengkurap dengan benar.'
Aku menceritakan hal-hal kecil yang selama ini kusimpan sendirian. Bintang selalu tenang jika mendengar suara kipas angin. Dia tidak suka topi rajut dan akan menggerakkan kepala sampai topinya miring. Kaivan pernah menyanyikan lagu anak dengan nada yang salah selama setengah jam karena hanya itu yang membuat tangisnya berhenti.
'Aku pernah menggendongnya sampai tidur?' tanya Kaivan.
'Hampir setiap malam ketika tidak lembur. Kamu berjalan mengelilingi kamar sambil menghitung langkah. Katamu seratus dua puluh langkah adalah jarak paling tepat untuk membuatnya terlelap.'
Senyum muncul di wajah Kaivan bersama air mata. 'Kedengarannya seperti hal bodoh yang akan kulakukan.'
'Kamu juga membeli terlalu banyak botol susu meski aku bilang belum perlu.'
'Dia tertawa?'
'Belum benar-benar. Tapi kadang sudut bibirnya naik setelah bersin.'
Setiap kenangan menghidupkan Bintang selama beberapa detik, lalu mengembalikanku pada kenyataan bahwa tidak ada seorang pun selain aku yang pernah mengalami momen tersebut. Kini Kaivan ikut membawa serpihannya.
'Aku tidak tahu apakah menceritakan ini kepadamu adalah tindakan yang benar,' kataku.
'Tidak ada cara yang tidak menyakitkan.' Kaivan mengusap air matanya. 'Tapi sekarang setidaknya kamu tidak menjadi satu-satunya orang yang mengingat dia.'
Aku mengangguk. Kami tidak berpelukan. Jarak di antara kami tetap ada, tetapi untuk beberapa menit jarak itu tidak terasa sebagai penolakan. Ia menjadi batas aman tempat kami dapat menyebut Bintang tanpa menjadikan dukanya alasan untuk mengulang keputusan lama.
Kaivan menutup wajah. Bahunya bergetar, tetapi tidak ada suara. Aku ingin menyentuhnya dan sekaligus takut sentuhan itu akan membuat duka yang bukan milik tahun ini menjadi terlalu nyata.
'Bagaimana dia meninggal?'
'Aku belum sanggup menceritakan bagian itu.'
'Apakah karena aku?'
'Bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan satu nama.'
'Karena kamu?'
Aku menegang. Pertanyaan itu mengembalikan suara Ibu Rieka dari masa depan, tuduhan bahwa aku terlalu sibuk bekerja dan tidak menjaga anakku. Kaivan melihat perubahan wajahku dan segera menggeleng.
'Maaf. Aku tidak bermaksud menuduh.'
'Tapi kelak kamu menuduhku.'
Wajahnya kehilangan warna. 'Aku?'
'Setelah Bintang meninggal, kita berhenti menjadi pasangan. Kamu bekerja sampai malam. Aku tenggelam dalam rasa bersalah. Setiap percakapan berubah menjadi pertengkaran.'
'Apa aku menyakitimu?'
Aku teringat telapak tangannya yang terangkat, dinding di belakangku, dan rasa takut yang tidak pernah sepenuhnya hilang. 'Kita saling menyakiti. Ada hal yang tidak bisa kuanggap kecil hanya karena belum terjadi bagimu.'
'Apakah aku pernah memukulmu?' tanyanya tanpa menoleh.
Pertanyaan itu begitu langsung sampai aku kesulitan menjawab. 'Tanganmu pernah terangkat. Aku tidak menunggu untuk tahu apakah kamu akan menghentikannya.'
Kaivan menunduk. 'Aku minta maaf.'
'Jangan meminta maaf mewakili orang yang belum kamu jadi. Buktikan lewat pilihanmu sekarang bahwa kamu tidak akan menjadi dia.'
'Apa yang membuatku berubah sejauh itu?'
'Duka, rasa bersalah, dan kebiasaan menolak bicara. Tapi itu penjelasan, bukan pembenaran.'
'Apakah Meyra ada di antara kita saat itu?'
Aku menceritakan tumpangan pulang, jam kerja yang semakin malam, dan kalimat bahwa Meyra melakukan banyak hal untuk kami. Aku tidak menuduh ada perselingkuhan karena sampai akhir aku tidak pernah memiliki bukti.
'Aku akan menjaga jarak darinya setelah ini,' kata Kaivan.
'Jangan menghukum Meyra atas sesuatu yang belum dia lakukan. Kalian sudah berpisah; perlakukan dia dengan hormat.'
Kaivan mengangguk. Percakapan itu menyakitkan, tetapi untuk pertama kali kami membedakan peristiwa, dugaan, dan tanggung jawab. Mungkin inilah yang gagal kami lakukan dalam kehidupan sebelumnya.
Kaivan berdiri dan menjauh beberapa langkah. Dia memegang pagar taman seolah membutuhkan sesuatu yang kukuh.
'Jadi kamu kembali untuk menghindariku.'
'Aku kembali setelah berharap tidak pernah menikahimu.'
Kejujuran itu terdengar kejam, tetapi aku tidak boleh menyamarkannya.
'Lalu kenapa dirimu waktu SMA sudah tahu?'
'Itulah yang belum kupahami. Mungkin ini bukan perjalanan pertamaku. Mungkin catatan itu dibuat oleh versi diriku yang pernah mengalami masa depan lain.'
Kaivan kembali duduk dengan jarak lebih jauh. 'Waktu di bukit, kamu mengatakan Bintang tidak bisa selamat. Berarti saat itu kamu sudah membawa ingatan yang sama.'
'Atau ingatan dari siklus berbeda.'
'Berapa kali kita kehilangan dia?'
'Aku tidak tahu.'
Untuk beberapa saat kami hanya mendengar suara kendaraan dari jalan di bawah. Dua orang berduka untuk bayi yang, dalam tahun ini, belum pernah bernapas.
'Aku ingin melihat fotonya,' ujar Kaivan.
'Tidak ada. Ponsel dan semua barangku kembali seperti keadaan 2017. Aku hanya punya ingatan.'
'Ceritakan tentang dia kalau suatu hari kamu sanggup.'
'Mengetahui Bintang bukan berarti kita harus menciptakannya lagi.'
'Aku mengerti.' Kaivan menatapku dengan mata merah. 'Aku juga tidak akan menggunakan seorang anak yang belum lahir untuk memintamu kembali.'
'Dan kamu tidak boleh merasa dihukum atas tindakan dirimu di masa depan.'
'Sulit setelah mendengar aku membuatmu takut.'
'Yang bisa kamu pertanggungjawabkan adalah pilihanmu sekarang.'
Kaivan mengangguk. Dia bertanya mengenai buku dan alat perekam. Aku menjelaskan kartu memori sedang disalin serta semua pihak akan mendengarnya bersama. Dia tidak meminta hak lebih besar daripada yang kuberikan.
Sebelum kami berpisah, Kaivan mengeluarkan sesuatu dari dompet: sebuah gambar bintang yang dilipat kecil, hampir hancur pada sudutnya.
'Ini satu-satunya yang kusimpan dari kotak biru,' katanya. 'Di dalamnya ada janji yang kamu tulis sebelum malam meteor.'
Aku membuka lipatannya. Tulisan remajaku hanya terdiri dari satu kalimat.
'Kalau kita gagal di kehidupan ini, temui aku di kehidupan berikutnya.'