Aku tidur kurang dari dua jam setelah pertemuan dengan Kaivan. Kalimat di dalam bintang kertas terus berputar di kepala. Aku pernah meminta dia menemuiku di kehidupan berikutnya, lalu meminta Bapak menjauhkannya, lalu bertemu kembali pada 2017 dan menikahinya. Tidak ada keputusan yang berdiri sendiri. Semuanya seperti mata rantai dari lingkaran yang belum terlihat utuh.
Sabtu pagi seharusnya menjadi hari libur, tetapi bagian kepatuhan meminta tim kami datang. Pemeriksaan transaksi fasilitas lama Pak Idrus menemukan penarikan dana yang membutuhkan klarifikasi segera.
Kaivan sudah berada di ruang rapat saat aku tiba. Wajahnya tenang, meski kesedihan semalam masih tersisa pada matanya. Kami sepakat tanpa kata bahwa Bintang tidak akan dibicarakan di kantor.
Bu Ratih menunjukkan aliran dana pada layar. Sebagian pencairan fasilitas lama dibayarkan kepada kontraktor alat berat, tetapi dua hari kemudian hampir seluruhnya kembali ke rekening pribadi Pak Idrus dengan keterangan pembatalan pesanan. Pengembalian itu tidak pernah masuk kembali ke rekening pinjaman.
'Nilainya cukup besar untuk memengaruhi tujuan penggunaan,' katanya.
'Apakah alatnya pernah diterima?' tanyaku.
'Nomor serinya tidak ditemukan pada daftar aset. Kontraktor menyatakan transaksi dibatalkan.'
Kaivan membuka laporan kunjungan tahun sebelumnya. Foto lokasi menunjukkan satu alat berat dengan merek serupa, tetapi nomor rangkanya tertutup lumpur.
'Kita perlu verifikasi fisik lagi,' katanya. 'Kali ini dengan auditor dan petugas teknik.'
'Pak Idrus sudah menolak kunjungan,' ujar Bu Ratih.
'Penolakan dicatat sebagai pelanggaran kewajiban informasi.'
Kami menyusun rencana kunjungan tanpa pemberitahuan waktu rinci, sesuai hak pemeriksaan dalam perjanjian kredit. Dua petugas keamanan akan ikut, bukan untuk mengintimidasi, melainkan karena Pak Idrus sudah membawa informasi keluargaku ke dalam tekanan kerja. Aku meminta namaku tidak dicantumkan sebagai satu-satunya penanggung jawab.
'Kamu tidak harus ikut ke lokasi,' kata Kaivan.
'Aku analisnya.'
'Dan dia sudah menyinggung Bapakmu.'
'Kalau aku mundur setiap kali diancam, tekanan itu berhasil.'
Bu Ratih menengahi. Aku boleh ikut dengan syarat seluruh tim berangkat dan pulang bersama, tidak ada pertemuan tertutup, serta komunikasi melalui kanal resmi. Keputusan itu menjaga tugasku tanpa berpura-pura risikonya tidak ada.
Petugas keamanan memeriksa rute dan meminta kami menggunakan dua kendaraan kantor. Jadwal hanya diketahui anggota tim sampai satu jam sebelum berangkat. Jika pihak proyek menghalangi pemeriksaan atau memisahkan salah satu dari kami, kunjungan langsung dihentikan.
'Ini sudah seperti operasi polisi,' gumam Adri.
'Karena ancaman sering dianggap bercanda sampai benar-benar terjadi,' jawab Bu Ratih.
Aku menandatangani lembar persetujuan risiko. Kaivan juga menandatangani sebagai pemimpin tim, tetapi tidak menempatkan namanya di atas namaku seolah keputusan hanya miliknya. Kami memikul porsi tanggung jawab masing-masing dengan pengawasan lembaga, bukan keberanian nekat dua orang.
Kunjungan dijadwalkan Senin pagi. Sampai saat itu, tidak seorang pun boleh menghubungi Pak Idrus melalui nomor pribadi. Aturan tersebut membuatku sedikit lebih tenang ketika memikirkan Bapak yang berada jauh dari kota.
Pak Sam datang membawa surat dari pengacara debitur. Dia tidak lagi membela Pak Idrus. Sebaliknya, dia meminta semua keputusan melewati bagian kepatuhan agar hubungan pribadinya tidak menjadi konflik kepentingan.
'Saya terlalu percaya pada lamanya hubungan,' akunya. 'Jangan ulangi kesalahan saya.'
Pengakuan itu tidak menghapus tekanan sebelumnya, tetapi menunjukkan dia bersedia mengoreksi diri sebelum kerugian membesar.
Kami mengirim pemberitahuan pemeriksaan dan menghentikan penarikan yang belum digunakan. Fasilitas lama tidak langsung dinyatakan macet; perusahaan Pak Idrus masih membayar angsuran. Namun, tanda-tanda yang dulu diabaikan kini masuk dalam pengawasan.
Menjelang siang, Pak Idrus menelepon ponsel kantorku. Aku menyalakan pengeras suara setelah memberi tahu Bu Ratih dan Kaivan.
'Ibu Sagita puas sekarang?' tanyanya tanpa salam. 'Nama perusahaan saya diperlakukan seperti penipu.'
'Kami meminta klarifikasi penggunaan dana sesuai perjanjian, Pak.'
'Semua ini mulai sejak kamu masuk. Jangan kira pegawai baru tidak bisa dipindahkan lagi.'
'Bapak boleh menyampaikan keberatan melalui jalur resmi.'
'Saya tahu ayahmu tinggal di kabupaten. Saya juga tahu—'
Kaivan memutus sambungan sebelum kalimatnya selesai. Wajahnya mengeras.
'Kenapa diputus?' tanyaku.
'Dia membawa keluargamu ke dalam pembicaraan.'
'Kita perlu tahu apa yang hendak dia katakan.'
'Tidak. Kita perlu melaporkan ancaman.'
Bu Ratih mengambil rekaman panggilan dan menghubungi keamanan internal. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa Pak Idrus hanya menggunakan informasi dari kunjungan kerja kami. Dia tahu aku berasal dari kabupaten dan pernah diantar ke rumah Bapak. Namun, rasa dingin tetap menjalari punggung.
'Bapak harus diberi tahu,' kata Kaivan.
'Aku yang akan memberi tahu. Jangan menghubunginya tanpa izinku.'
'Baik.'
Jawabannya langsung, tanpa perdebatan. Kaivan yang sekarang benar-benar berusaha menghormati batas, bahkan ketika nalurinya ingin melindungi.
Aku menelepon Bapak. Dia justru marah karena menganggap Pak Idrus mencoba menakut-nakuti anaknya.
'Bapak tidak akan membuka pintu untuk orang asing,' katanya. 'Dan Aries akan menginap beberapa hari.'
'Kalau ada kendaraan tidak dikenal, telepon polisi atau keamanan lingkungan.'
'Kamu urus pekerjaanmu. Jangan pulang hanya karena ini.'
'Bapak juga jangan sok berani. Jantung Bapak—'
'Sudah minum obat,' potongnya. 'Tekanan darah juga sudah dicatat. Ada foto kalau kamu mau audit.'
Aku hampir tertawa. Setidaknya Bapak menepati kesepakatan keterbukaan.
Aries mengambil telepon dan menjelaskan sudah memberi tahu ketua lingkungan serta memasang lampu tambahan di halaman. Mereka tidak melihat kendaraan mencurigakan. Bapak tetap akan mengajar dua kelas minggu depan, tetapi rekan dosen bersedia menggantikan kelas yang membutuhkan banyak berdiri.
'Jangan biarkan Bapak membawa mobil sendiri,' pesanku.
'Sudah kusimpan kuncinya,' jawab Aries.
Dari jauh terdengar protes Bapak. Percakapan sederhana tentang kunci mobil terasa seperti kemenangan lain. Dalam kehidupan sebelumnya, kami baru membagi tugas ketika tubuh Bapak hampir menyerah. Kini pencegahan dilakukan saat dia masih cukup sehat untuk mengomel.
Seusai panggilan, Adri datang membawa makan siang untuk seluruh tim. Dia tidak bertanya kenapa aku dan Kaivan tampak seperti habis menangis. Dia hanya menaruh nasi di depanku dan berkata keputusan kredit lebih buruk jika dibuat oleh orang lapar.
'Terima kasih, Dri.'
'Sama-sama. Aku tidak sedang mencoba menjadi pahlawan, jadi jangan terlihat terharu begitu.'
Hara tertawa dari ujung meja. Ketegangan sedikit mencair.
Sore itu keamanan internal memastikan tidak ada kunjungan ke rumah Bapak. Panggilan Pak Idrus dicatat sebagai tekanan terhadap petugas, tetapi belum dianggap ancaman langsung. Kami diminta tidak bertemu debitur sendirian.
Ketika pulang, Kaivan berjalan bersamaku sampai lobi tanpa menawarkan tumpangan.
'Tentang semalam,' katanya, 'aku tidak akan menceritakan Bintang kepada siapa pun, termasuk Ibu.'
'Terima kasih.'
'Tapi Ibu masih menyimpan alat perekam lain dari masa rumah sakit. Mungkin salinannya sama dengan yang ditemukan Bu Laila.'
'Kenapa baru bilang?'
'Aku baru ingat setelah melihat bintang kertas itu.'
'Aku ingin mendengarnya.'
Kaivan mengangguk. 'Ibu meminta bertemu denganmu besok. Kalau kamu setuju, kita dengarkan bersama.'