Aku menyetujui pertemuan dengan Ibu Rieka di rumahnya pada Minggu siang, tetapi meminta Hara ikut. Kaivan tidak keberatan. Dia bahkan mengatakan kehadiran orang yang kupercaya mungkin membuat percakapan lebih mudah.
Rumah Ibu Rieka dipenuhi foto keluarga. Kaivan remaja tersenyum di samping ayahnya dalam beberapa bingkai. Melihat wajah lelaki yang meninggal tidak lama setelah malam meteor membuatku memahami mengapa Kaivan menghubungkan cinta dengan kegagalan menjaga.
Ibu Rieka berdiri di ruang tamu ketika kami masuk. Tatapannya berhenti lama padaku, sama seperti di pemakaman. Kali ini dia tidak menolak tangan yang kuulurkan.
'Maaf waktu itu Ibu bersikap tidak sopan,' katanya. 'Ibu mengira Kaivan kembali membawa luka lama tanpa memikirkan keadaanmu.'
'Saya juga tidak tahu siapa Ibu saat itu.'
'Sekarang sudah ingat?'
'Belum sepenuhnya. Saya hanya tahu dari cerita dan beberapa kilasan.'
Kaivan menyiapkan alat pemutar di meja. Ibu Rieka membawa perekam digital yang bentuknya sama dengan milik Bu Laila. Rupanya Kaivan menyalin beberapa rekaman kelas sebelum perangkat dikembalikan. Salinan itu tersimpan bersama barang-barang ayahnya.
'Ayah Kaivan suka astronomi,' jelas Ibu Rieka. 'Dia yang mengajari Kaivan merekam pengamatan. Setelah meninggal, Ibu tidak sanggup membuka benda-bendanya.'
'Apakah Ibu pernah mendengar rekaman ini?' tanyaku.
'Satu kali, bertahun-tahun lalu. Isinya membuat Ibu takut. Ibu menemui Bapakmu, tapi dia meminta semua orang menganggapnya ocehan akibat obat.'
Kaivan menoleh kepada ibunya. 'Kenapa Ibu tidak pernah bilang kepadaku?'
'Kamu baru kehilangan ayah dan ingin berhenti sekolah untuk menjaga Sagita. Ibu takut kamu menghancurkan masa depan demi sesuatu yang tidak bisa kita pahami.'
Keputusan orang tua lagi-lagi dibuat atas nama perlindungan. Aku melihat rasa marah pada wajah Kaivan, tetapi dia menahannya.
'Kita dengarkan dulu,' kataku.
Sebelum alat dinyalakan, Hara meminta kami menyepakati satu hal: suara dalam rekaman akan diperlakukan sebagai kesaksian Sagita remaja yang mungkin sedang sakit, bukan kebenaran mutlak. Ibu Rieka setuju. Kaivan memotret informasi berkas dan waktu pembuatan, lalu membandingkannya dengan catatan kelas yang dibawa Bu Laila dalam bentuk salinan.
'Tanggalnya sama,' katanya. 'Tapi jam perangkat bisa saja salah.'
'Isi rekaman tetap harus dinilai bersama bukti lain,' sahut Hara.
Aku bersyukur dia ikut. Tanpa Hara, rasa takut mungkin membuat kami menerima setiap kata sebagai takdir yang tidak bisa dilawan.
Hara duduk di sampingku. Jemarinya siap menggenggam tanganku jika diperlukan. Kaivan memasukkan kartu memori dan memilih file dengan tanggal malam meteor.
Rekaman dimulai dengan suara angin. Kaivan remaja menyebut waktu, arah langit, dan perkiraan kemunculan meteor. Suaraku terdengar di belakang, mengejek cara bicaranya seperti pembawa berita. Kami tertawa. Suara itu begitu ringan sampai sulit dipercaya berasal dari tubuh yang sedang sakit.
'Kalau bintangnya jatuh, kamu mau minta apa?' tanya Kaivan dalam rekaman.
'Aku mau kita bertemu lagi saat semuanya sudah lebih baik.'
'Kenapa harus bertemu lagi? Kita kan sudah bertemu sekarang.'
'Karena sekarang tidak akan bertahan.'
Ada jeda. Kaivan remaja bertanya apa maksudku, tetapi aku menyuruhnya melihat langit. Kemudian terdengar seruan kami ketika meteor melintas, disusul suara hujan yang datang mendadak.
Rekaman berubah kacau. Napasku terdengar berat. Kaivan memanggil nama Gita berkali-kali dan mengatakan akan mencari bantuan.
'Jangan pergi,' kata suaraku.
'Aku harus panggil perawat.'
'Kalau aku bangun lagi, jangan percaya aku lupa.'
Kaivan dewasa menghentikan pemutaran. Tangannya gemetar.
'Aku tidak ingat kamu mengatakan itu,' ujarnya.
'Lanjutkan,' pintaku.
Rekaman kembali bergerak. Ada suara gesekan, mungkin alat jatuh ke tanah. Ucapanku semakin lemah, tetapi masih bisa dipahami.
'Tahun 2020, kometnya datang setelah Bapak mati. Aku meminta kembali ke April 2017. Aku mencoba menjauh darimu, tapi Bintang tetap pergi.'
Hara mencengkeram tanganku. Ibu Rieka menutup mulut. Kaivan mematung menatap alat pemutar.
'Gita, kamu bicara apa?' Suara Kaivan remaja terdengar panik.
'Ini bukan pertama kali.'
'Apa yang bukan pertama kali?'
'Kehilangan kalian.'
Setelah itu hanya ada suara Kaivan berteriak meminta pertolongan. Rekaman berlangsung beberapa menit, dipenuhi hujan dan langkah orang berlari, lalu berakhir.
Tidak seorang pun langsung bicara.
Ibu Rieka adalah orang pertama yang bergerak. Dia mengambil foto almarhum suaminya dari meja kecil dan memeluk bingkainya.
'Malam setelah kejadian itu, ayah Kaivan berkata Sagita mungkin bukan sedang mengigau,' katanya. 'Dia pernah menemukan catatan tentang komet di tas Kaivan dan ingin menanyakannya kepada Bapakmu. Sebelum sempat, kecelakaan kerja itu terjadi.'
'Catatan apa?' tanya Kaivan.
'Selembar perhitungan lintasan dengan tulisan tangan ayahmu dan Sagita. Ibu tidak tahu di mana sekarang. Semua barang kantor ayahmu dikembalikan dalam dua kotak.'
Satu saksi telah meninggal, tetapi rupanya dia meninggalkan jalur lain. Kami mencatat keberadaan dua kotak tersebut dan sepakat tidak mengobrak-abriknya hari ini. Emosi kami sudah terlalu penuh untuk menilai apa pun dengan jernih.
Aku meminta file diputar lagi dari bagian pengakuan. Kata-katanya tetap sama. Suara itu milikku, lebih muda tetapi memiliki cara mengucapkan nama Bintang yang sama seperti ketika aku menimangnya dalam ingatan.
'Berarti kamu sudah datang dari 2020 saat masih remaja,' bisik Hara.
'Atau sebagian ingatanku datang lebih dahulu.'
'Bagaimana mungkin?'
'Aku tidak tahu.'
Kaivan bangkit dan berjalan ke jendela. 'Di rekaman itu kamu bilang sudah mencoba menjauh dariku. Tapi pada 2009 kita bahkan belum pernah bertemu sebagai orang dewasa.'
'Versi diriku yang bicara mungkin sudah pernah melewati 2017.'
Ibu Rieka menangis pelan. 'Ibu pikir semua itu hanya halusinasi. Kalau Ibu tahu—'
'Tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan,' potongku. 'Kita tetap belum tahu.'
Aku meminta salinan file tetapi membiarkan perangkat asli di rumah Ibu Rieka. Kaivan menyalinnya di depan kami dan mencatat bahwa file tidak boleh disebarkan. Semua setuju.
Sebelum pulang, Ibu Rieka memelukku. Tubuhku sempat kaku, lalu perlahan menerima. Perempuan ini pernah menjadi mertuaku, pernah menyalahkanku atas kematian Bintang, tetapi di tahun ini dia hanya seorang ibu yang berusaha memahami ketakutan anaknya.
Di teras, Kaivan memanggilku sebelum aku masuk mobil Hara.
'Kalau kita memang terus mengulang, mungkin ada sesuatu yang selalu gagal kita lihat,' katanya.
'Jangan jadikan itu alasan untuk memaksakan kita bersama.'
'Bukan itu maksudku. Aku ingin menghentikan kehilangan, sekalipun caranya adalah tidak pernah bersamamu.'
Aku memandangnya. Untuk pertama kali, Kaivan mengatakan dia bersedia melepaskan bukan karena perintah Bapak atau surat masa lalu, melainkan karena pilihanku.
Namun, rekaman di dalam ponselku telah mengubah pertanyaan utama. Ini bukan lagi sekadar apakah aku harus menikahi Kaivan atau menghindarinya.
Jika suaraku saat remaja sudah membawa ingatan dari 2020, maka kehidupan yang kuanggap kesempatan kedua mungkin setidaknya adalah kesempatan ketiga.
Dan dalam dua kehidupan yang tidak kuingat, Bintang tetap tidak berhasil kuselamatkan.