Aku sudah berdiri di teras ketika menyadari kami belum benar-benar menyelesaikan percakapan. Rekaman itu berhenti, tetapi akibatnya masih memenuhi rumah Ibu Rieka. Kaivan menunggu di dekat pintu, sementara Hara sudah membuka mobil dan memberi waktu kepadaku untuk memutuskan.
'Kita perlu membuat salinan catatan yang jelas,' kataku. 'Siapa menyimpan apa, kapan ditemukan, dan siapa yang sudah mendengar.'
Kaivan mengangguk. 'Kembali ke dalam?'
Kami duduk lagi di ruang tamu. Ibu Rieka membawa buku tulis, lalu mencatat asal alat perekam, tanggal kartu ditemukan, dan riwayat penyimpanannya. Aku menuliskan nama semua orang yang hadir. Hara memeriksa agar tidak ada kesimpulan dimasukkan sebagai fakta.
'Kenapa harus serapi ini?' tanya Ibu Rieka.
'Karena ingatan bisa saling memengaruhi,' jawabku. 'Besok kita mungkin yakin mendengar sesuatu yang sebenarnya baru dibicarakan setelah rekaman selesai.'
Kaivan memutar bagian awal sekali lagi hanya untuk mencatat durasi. Kami tidak mengulang pengakuan tentang Bintang. Mendengarnya sekali saja sudah membuat napasku berat.
'Dua kotak milik ayah ada di gudang atas,' kata Ibu Rieka. 'Ibu bisa mengambilnya sekarang.'
'Jangan hari ini,' sahutku.
Kaivan menoleh, mungkin mengira aku akan menjadi orang paling tidak sabar.
'Kita semua lelah dan emosional,' lanjutku. 'Kalau dibuka sekarang, setiap catatan akan dibaca sebagai jawaban yang ingin kita temukan. Besok aku harus bekerja, dan kita punya audit Pak Idrus.'
'Kamu masih mau ikut setelah ancamannya?' tanya Ibu Rieka.
'Tim keamanan ikut. Mundur tidak menghapus risiko.'
Kaivan tidak mencoba membujukku. Dia hanya mengusulkan kotak diturunkan oleh petugas penyimpanan pada Selasa, difoto sebelum dibuka, lalu diperiksa akhir pekan berikutnya. Aku menyetujui.
Saat Hara dan aku akhirnya masuk mobil, langit mulai mendung. Aku duduk di kursi penumpang dan memeluk tas berisi salinan buku fisika.
'Kamu baik-baik saja?' tanya Hara.
'Tidak tahu.'
'Jawaban jujur. Bagus.'
Aku menatap rumah Ibu Rieka melalui kaca. Kaivan masih berdiri di teras, tetapi tidak mengejar atau meminta menemaniku. Batas yang kami buat tetap dia hormati.
'Aku merasa bersalah sudah menceritakan Bintang,' kataku.
'Kenapa?'
'Sekarang Kaivan berduka untuk anak yang belum pernah dia miliki.'
'Sebelumnya kamu berduka sendirian. Itu juga tidak adil.'
'Tapi dia tidak meminta tahu.'
'Kamu memberi tahu karena namanya ada di bukti dan karena dia bagian dari kehidupan itu. Bukan untuk mengikatnya.' Hara menyalakan mesin. 'Yang penting jangan membuat dukanya menjadi perjanjian bahwa kalian harus bersama.'
Sepanjang perjalanan, kami menyusun batas berikutnya. Kaivan boleh mendengar bukti yang melibatkan dirinya, tetapi keputusan mengenai kesehatan dan ingatanku tetap milikku. Tidak ada pencarian kotak tanpa saksi. Tidak ada seorang pun menghubungi Bapak tentang masa lalu tanpa sepengetahuanku. Dan jika ingatan baru muncul, aku harus menuliskannya sebelum mendengar tafsir orang lain.
Hara berhenti di sebuah minimarket dan membeli dua buku kosong, satu untuk kronologi fakta dan satu lagi untuk ingatan. Di halaman pertama buku fakta, dia menulis bahwa rekaman ditemukan di rumah Ibu Rieka dan didengar empat orang. Di buku kedua, aku menuliskan rasa takut, bau hujan, serta bayangan tangan Bintang tanpa menyebutnya sebagai bukti.
'Kenapa dipisah?' tanyaku meski sudah memahami maksudnya.
'Supaya perasaanmu tidak dianggap bohong hanya karena tidak bisa dibuktikan, dan bukti tidak berubah karena perasaanmu sangat kuat.'
Aku memandang dua buku itu. Selama ini aku selalu berusaha memilih salah satu: percaya penuh pada ingatan atau menyangkalnya agar bisa bertahan. Hara memberiku cara untuk menyimpan keduanya tanpa mencampurkan.
Sebelum meninggalkan mobil, dia juga meminta nomor Bapak dan Kaivan sebagai kontak darurat. Aku memberi dengan syarat dia tidak membahas isinya tanpa izin. Kami menyepakati satu kata sederhana—hujan—yang bisa kuucapkan jika serangan panik membuatku tidak mampu menjelaskan. Jika kata itu muncul, semua pertanyaan harus berhenti.
Di kos, aku mandi dan mencoba tidur. Hujan mulai turun sekitar tengah malam. Bunyi air pada atap membawa suara rekaman kembali ke kepala: Bintang tetap pergi.
Aku terbangun dengan telapak tangan menggenggam udara, seperti sedang mencari jari bayi. Untuk beberapa detik aku mencium bedak dan susu. Lalu kamar kembali menjadi kamar kos tahun 2017 yang sepi.
Ponsel menunjukkan pesan dari Kaivan yang dikirim satu jam sebelumnya.
'Aku tidak akan membuka kotak tanpa kamu. Istirahatlah.'
Di bawahnya ada pesan Bapak.
'Obat malam sudah diminum. Jangan lupa hidupmu bukan hanya teka-teki.'
Aku membalas Bapak lebih dahulu, lalu menulis satu kalimat kepada Kaivan.
'Besok kita bekerja sebagai satu tim. Tidak membahas Bintang di lokasi.'
'Aku mengerti,' jawabnya.
Aku menelepon Bapak sebelum kembali tidur. Hanya kuberitahukan bahwa rekaman membuktikan aku pernah menyebut 2020 saat remaja. Aku belum sanggup memutarkan bagian tentang kematiannya.
'Apa kamu masih bisa membedakan kamar kos dengan rumah sakit?' tanyanya.
'Bisa.'
'Sebutkan tanggal hari ini.'
Aku menjawab. Bapak kemudian meminta aku menyebutkan pekerjaan yang harus dilakukan besok dan nama orang yang akan ikut. Cara pertanyaannya terasa seperti masa lalu, ketika dia membantuku pulang dari kebingungan setelah sakit. Kali ini dia tidak mengambil keputusan. Dia hanya memastikan aku berdiri di waktu yang benar.
'Kalau setelah audit kamu masih terus mendengar rekaman di kepala, temui tenaga profesional,' katanya. 'Hara dan Bapak bisa mendampingi, tapi kami bukan dokter.'
Aku berjanji mempertimbangkannya. Kesempatan kedua tidak membuatku kebal terhadap luka. Mungkin justru karena membawa beberapa kehidupan, aku membutuhkan bantuan lebih banyak daripada sebelumnya.
Pagi Senin, seluruh tim berkumpul di halaman kantor sebelum matahari terbit. Bu Ratih membagikan peran, petugas teknik memeriksa daftar aset, dan keamanan mengulang prosedur jika akses ditolak. Aku menyerahkan ponsel pribadi kepada Hara yang tidak ikut ke lokasi, lalu membawa perangkat kantor dengan rekaman aktif.
Adri berdiri di dekat kendaraan kedua. 'Aku ikut sebagai saksi dokumen,' katanya. 'Jadi tidak ada seorang pun yang bisa bilang Gita dan Kaivan membuat cerita berdua.'
'Terima kasih.'
'Jangan terharu. Aku tetap akan menagih makan siang.'
Pak Sam datang paling akhir. Dia tidak ikut, tetapi memastikan surat pemeriksaan sudah diterima perusahaan Pak Idrus.
'Gerbang lokasi dibuka,' katanya. 'Namun, Pak Idrus akan berada di sana.'
Kaivan menatap seluruh anggota tim. 'Kita datang untuk memeriksa aset, bukan berdebat. Semua tetap bersama.'
Aku masuk kendaraan bersama Bu Ratih dan petugas keamanan. Mobil bergerak meninggalkan kantor ketika langit masih pucat.
Di kejauhan, satu garis cahaya melintas cepat. Mungkin hanya pesawat, tetapi jantungku tetap berdetak lebih keras.
Untuk pertama kali aku tidak membuat permohonan apa pun.
Aku hanya menyebutkan tanggal, nama orang-orang di kendaraan, dan tujuan kami. Hari ini akan ditentukan oleh tindakan yang dapat kami pertanggungjawabkan, bukan oleh cahaya yang kebetulan melintas di langit.