Perjalanan menuju lokasi proyek memakan waktu hampir tiga jam. Tidak ada percakapan pribadi di dalam kendaraan. Bu Ratih membahas urutan pemeriksaan, sementara petugas teknik mengulang nomor seri tiga alat yang dibiayai bank.
Ketika kami tiba, gerbang memang terbuka. Namun, dua kendaraan proyek diparkir melintang, menyisakan celah sempit yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Pak Idrus menunggu bersama pengacara dan beberapa staf.
'Bank datang seperti mau menangkap penjahat,' katanya sebagai salam.
'Kami datang sesuai pemberitahuan pemeriksaan aset,' jawab Bu Ratih. 'Mohon kendaraan dipindahkan agar tim bisa masuk bersama.'
'Jalan kaki saja. Lokasinya dekat.'
Petugas keamanan menolak memisahkan kendaraan dari tim. Selama sepuluh menit tidak ada yang bergerak. Akhirnya pengacara Pak Idrus membisikkan sesuatu dan dua truk dipindahkan.
Aku mencatat waktu penundaan tanpa berkomentar. Kaivan berdiri di sisi lain Bu Ratih, tidak mendekati Pak Idrus meski lelaki itu beberapa kali memanggil namanya seolah mereka masih sahabat lama.
Alat berat pertama ditemukan di sisi timur proyek. Catnya baru, tetapi lumpur tebal sengaja menutupi pelat identitas. Petugas teknik membersihkannya dengan kain dan menemukan nomor rangka tidak cocok dengan dokumen pembelian.
'Ini unit pengganti sementara,' ujar manajer proyek.
'Di mana unit yang dibiayai bank?' tanyaku.
'Sedang perawatan.'
'Di bengkel mana?'
Manajer memandang Pak Idrus sebelum menjawab. 'Saya harus cek.'
Alat kedua memiliki stiker perusahaan Pak Idrus, tetapi di bawahnya terlihat logo perusahaan rental. Kontrak sewanya baru dibuat dua minggu lalu, setelah kami meminta verifikasi.
'Kalian butuh alat di lokasi, jadi saya sewa sementara,' kata Pak Idrus. 'Apa itu juga salah?'
'Tidak salah menyewa,' jawab Kaivan. 'Yang perlu dijelaskan adalah keberadaan aset yang pembeliannya dibiayai bank.'
'Aset saya banyak. Tidak semua harus saya hafal.'
Petugas teknik meminta ruang mesin dibuka. Operator menyalakan alat tanpa aba-aba, membuat lengan ekskavator bergerak beberapa meter dari tempat kami berdiri. Keamanan segera memerintahkan semua orang mundur. Aku tersandung batu, dan Adri menarik lenganku sebelum jatuh.
'Matikan mesin!' teriak Bu Ratih.
Operator mematuhinya. Dia mengaku mengira diminta menguji fungsi. Tidak ada bukti gerakan itu disengaja, tetapi pemeriksaan dihentikan sementara sampai area benar-benar diamankan.
Petugas keamanan memisahkan operator dari manajer proyek dan meminta penjelasan singkat di tempat terbuka. Operator menunjukkan pesan yang menyuruhnya menyalakan mesin saat petugas teknik membuka penutup, tetapi pengirimnya hanya tersimpan sebagai nomor tanpa nama. Pesan itu difoto dan dicatat; ponselnya tidak diambil karena kami bukan penyidik.
'Saya cuma disuruh menunjukkan alat berfungsi,' katanya dengan wajah pucat. 'Saya tidak tahu orang bank berdiri sedekat itu.'
Bu Ratih tidak menuduh. Dia meminta area diberi batas, kunci mesin dipegang petugas teknik, dan operator menunggu di luar jalur pemeriksaan. Kejadian tersebut dapat berasal dari komunikasi buruk atau upaya menakuti. Kami belum memiliki dasar memilih salah satunya.
Adri memeriksa lenganku yang terkena batu. Hanya ada goresan kecil. Dia mencatat bahwa sentuhannya tadi dilakukan untuk mencegah jatuh, sesuatu yang biasanya terdengar berlebihan tetapi penting dalam laporan insiden.
'Aku baik-baik saja,' kataku.
'Tetap difoto,' ujar petugas keamanan. 'Cedera kecil sering baru terasa setelah perjalanan.'
Aku menurut. Berhati-hati tidak sama dengan membesar-besarkan.
Kaivan menghampiriku. 'Kamu terluka?'
'Tidak. Adri menarikku.'
Dia memandang Adri dan mengucapkan terima kasih tanpa nada lain. Tidak ada kecemburuan, hanya kekhawatiran yang ditahan dalam batas profesional.
Pemeriksaan dilanjutkan dengan jarak aman. Alat ketiga sama sekali tidak ada. Foto yang pernah dikirim perusahaan ternyata diambil di proyek berbeda. Latar pegunungan dan nomor papan proyek tidak sesuai lokasi ini.
'Kami memindahkannya untuk pekerjaan lain,' kata Pak Idrus.
'Perjanjian mewajibkan pemberitahuan jika aset berpindah lokasi,' ujar Bu Ratih.
'Saya tidak punya waktu melapor setiap kali alat bergerak.'
'Bapak menandatangani kewajiban tersebut.'
Kemajuan jalan juga jauh dari laporan terakhir. Beberapa bagian yang disebut selesai kembali berlumpur karena drainase belum dibuat. Petugas teknik menilai progres tidak lebih dari empat puluh persen.
Pak Idrus akhirnya kehilangan kesabaran. Dia menunjukku di depan seluruh tim.
'Semua ini gara-gara perempuan itu! Dia punya dendam pribadi kepada saya.'
'Saya baru mengenal Bapak melalui pekerjaan ini,' jawabku.
'Tapi kamu bicara seperti tahu perusahaan saya akan gagal.'
Jantungku berdenyut keras. Kalimat itu terlalu dekat dengan kebenaran.
'Saya bicara berdasarkan dokumen dan kondisi yang kami lihat.'
'Ayahmu tidak mengajarimu menghormati orang lebih tua?'
Kaivan bergerak, tetapi Bu Ratih mengangkat tangan agar semua tetap pada posisi.
'Pak Idrus, keluarga petugas tidak relevan,' katanya. 'Jika Bapak melanjutkan, pemeriksaan kami akhiri dan dicatat sebagai tindakan menghalangi.'
Pengacaranya kembali berbisik. Pak Idrus menurunkan tangan, tetapi tatapannya tetap tajam.
Kami mengumpulkan foto, salinan kontrak sewa, pernyataan manajer, serta daftar aset yang tidak ditemukan. Pak Idrus menolak menandatangani berita acara. Penolakan itu juga dicatat di depan saksi.
Saat hendak pergi, seorang staf muda mendekati Adri dan menyerahkan amplop tertutup. Dia berkata dokumen tersebut berisi salinan perintah pemindahan alat yang diminta manajemen untuk dihancurkan. Staf itu tidak mau bicara di lokasi dan meminta identitasnya dilindungi.
Adri tidak menanyakan namanya dengan suara keras. Dia hanya meminta staf menuliskan nomor kontak pada kertas terpisah, lalu menyerahkannya langsung kepada Bu Ratih. Petugas keamanan berdiri membelakangi kamera proyek agar wajah staf tidak terekam bersama kami.
'Saya tidak mau perusahaan hancur,' ujar staf itu. 'Banyak pekerja masih butuh gaji. Tapi alat bank dipindahkan malam-malam dan kami disuruh mengganti daftar.'
'Kami tidak menjanjikan hasil tertentu,' kata Bu Ratih. 'Kami hanya menjamin laporanmu diproses melalui saluran perlindungan.'
Staf tersebut mengangguk dan segera kembali ke bangunan. Aku melihat betapa mudahnya keputusan kredit memengaruhi orang-orang yang tidak pernah duduk di ruang komite. Menghentikan dana bukan sekadar menang melawan Pak Idrus; kami juga harus mencegah pekerja menjadi korban dari kesalahan pemilik.
Bu Ratih memasukkan amplop ke kantong bukti tanpa membukanya. Kami meninggalkan proyek bersama-sama.
Di dalam kendaraan, ketegangan baru mengendur. Tanganku masih gemetar setelah hampir tersambar lengan ekskavator.
'Kamu boleh bilang takut,' kata Bu Ratih.
'Aku takut.'
'Bagus. Rasa takut membantu kita memperbaiki prosedur, bukan alasan merasa malu.'
Kendaraan kedua bergerak di belakang kami. Dari kaca, aku melihat Kaivan duduk di samping Adri. Mereka tidak sedang bersaing untuk menjadi penyelamatku. Mereka hanya dua anggota tim yang berhasil pulang bersama.
Ketika sinyal kembali muncul, pesan dari Ibu Rieka masuk. Dua kotak milik ayah Kaivan sudah diturunkan dari gudang. Pada tutup kotak pertama terdapat tulisan tangan yang baru dia sadari.
'Untuk dibuka bersama Sagita Riusara setelah April 2017.'