Kami tidak langsung menuju rumah Ibu Rieka. Seusai audit, seluruh tim kembali ke kantor untuk menyerahkan perangkat, membuat laporan keselamatan, dan menyegel amplop dari staf proyek. Petugas keamanan mencatat gerakan alat berat sebagai insiden, tanpa menyimpulkannya sebagai serangan.
Isi amplop baru dibuka di depan bagian kepatuhan. Dokumen di dalamnya menunjukkan dua alat yang dibiayai bank dipindahkan ke perusahaan lain milik kerabat Pak Idrus enam bulan sebelumnya. Ada perintah agar nomor aset di laporan diganti menggunakan foto lama.
'Kita perlu memverifikasi tanda tangan dan sumber dokumen,' kata Bu Ratih. 'Jangan menghubungi pemberi sebelum perlindungan saksi disiapkan.'
Aku pulang menjelang malam dengan tubuh lelah. Kaivan tidak menawarkan mengantar. Dia hanya mengirim pesan bahwa kotak akan tetap tersegel sampai Sabtu. Kesepakatan itu menenangkan aku.
Hari-hari berikutnya digunakan untuk laporan audit dan pemeriksaan dokumen. Pak Idrus tidak menelepon lagi. Pengacaranya meminta pertemuan resmi, tetapi bagian kepatuhan menunda sampai verifikasi aset selesai. Bapak menjalani kontrol dan dosis obatnya disesuaikan karena sempat membuat pusing. Aries mengirim catatan tekanan darah setiap pagi.
Pada Rabu malam aku menelepon Bapak untuk menanyakan apakah ayah Kaivan pernah datang membawa catatan. Bapak mengingat satu kunjungan singkat di koridor rumah sakit. Mereka berdebat karena ayah Kaivan meminta penjelasan tentang angka 2017 yang kutulis, sementara Bapak menganggap keluarga Kaivan berusaha mengalihkan tanggung jawab malam meteor.
'Bapak tidak membaca catatannya?' tanyaku.
'Tidak. Bapak terlalu marah dan takut. Besoknya Bapak berniat meminta maaf, tapi Kaivan dan keluarganya sudah sibuk dengan kecelakaan ayahnya.'
'Jadi dua orang dewasa sama-sama membawa potongan yang tidak pernah dipertemukan.'
'Iya.' Suara Bapak dipenuhi penyesalan. 'Rahasia kadang bukan satu kebohongan besar. Kadang hanya orang-orang yang menunda bicara sampai kesempatan habis.'
Kalimat itu kucatat. Aku tidak ingin mengulang pola yang sama dengan Kaivan, Hara, atau keluargaku.
Sabtu akhirnya datang. Aku tiba di rumah Ibu Rieka bersama Hara. Kaivan dan ibunya sudah menunggu, tetapi kedua kotak masih tertutup tali plastik lama. Kami memotret semua sisi sebelum memotong ikatan kotak pertama.
Di dalamnya ada pakaian kerja, beberapa buku astronomi, album foto, dan map cokelat bertuliskan catatan pribadi. Bau kertas lama memenuhi ruang tamu.
Kaivan mengambil pakaian ayahnya dengan tangan gemetar. 'Aku lupa kemeja ini.'
Ibu Rieka menyentuh bahunya. Kami memberi mereka waktu sebelum melanjutkan.
Kaivan menemukan kartu identitas kerja di saku kemeja. Dia menceritakan ayahnya selalu lupa melepas kartu sepulang kantor dan pernah tetap memakainya saat menghadiri acara sekolah. Ingatan sederhana itu membuat Ibu Rieka tertawa di sela air mata.
Aku duduk menjauh. Kesedihan mereka tidak membutuhkan aku sebagai pusatnya. Setelah beberapa menit, Kaivan sendiri meminta pemeriksaan diteruskan.
'Ayah menyimpan barang supaya ditemukan, bukan supaya selamanya berada di kardus,' katanya.
'Kamu boleh berhenti kapan saja,' ujarku.
'Begitu juga kamu.'
Kami menetapkan kata jeda seperti yang kususun bersama Hara. Jika salah satu mengucapkannya, semua tangan harus menjauh dari kotak. Dengan aturan itu, membuka peninggalan tidak terasa seperti perlombaan melawan waktu.
Map cokelat berisi perhitungan sederhana mengenai hujan meteor, daftar tanggal, dan catatan percakapan. Ayah Kaivan bukan astronom. Dia hanya menyukai langit dan mencatat apa pun yang dianggap menarik. Pada salah satu halaman tertulis namaku.
'Sagita mengatakan komet bernama Neowise akan terlihat pada Juli 2020. Tidak ada katalog yang saya temukan dengan nama itu. Ia juga menyebut April 2017 sebagai titik kembali.'
Tulisan tersebut diberi tanggal sehari setelah aku kolaps di bukit.
'Ayah mendengarmu bicara?' tanya Kaivan.
'Mungkin saat dia menjemputmu di rumah sakit.'
Ibu Rieka mengangguk. 'Dia sempat masuk ruang tunggu. Katanya Sagita sadar sebentar dan meminta kertas.'
Halaman berikutnya memuat sketsa lingkaran yang sama dengan buku fisikaku. Di bawahnya ada catatan bahwa aku menyebut permintaan sebagai pintu, sedangkan komet hanya penanda. Ayah Kaivan mencoba mencari pola ilmiah, tetapi mengakui tidak menemukan dasar apa pun.
'Setidaknya dia tidak langsung menganggapku gila,' gumamku.
'Dia sangat keras kepala kalau menemukan hal yang tidak bisa dijelaskan,' kata Ibu Rieka. 'Sama seperti Kaivan.'
Di antara dua buku ditemukan kantong beludru kecil. Kaivan membukanya dan mengeluarkan liontin berbentuk bintang. Rantai kalungnya putus, ujungnya menghitam karena lembap.
'Kalung yang hilang,' bisik Risa melalui panggilan video yang kami buka sebagai saksi.
Pada bagian belakang liontin ada dua huruf kecil: K dan G. Kaivan mengaku membeli liontin murah itu dari pasar dekat rumah sakit. Ayahnya mungkin menemukannya ketika kembali mencari barang setelah kejadian.
Begitu liontin menyentuh telapak tanganku, ingatan datang begitu kuat sampai ruangan menghilang.
Aku berdiri di bukit di bawah hujan. Kaivan remaja mencoba memasangkan kalung sambil mengeluh pengaitnya terlalu kecil. Aku tertawa, lalu mengatakan benda itu harus menjadi pengingat kalau kami bertemu lagi.
'Bertemu lagi di mana?' tanya Kaivan.
'Di tahun ketika aku sudah lupa.'
Kilasan berpindah. Aku melihat diriku yang lebih tua menggendong Bintang di bawah jendela apartemen. Sebuah komet melintas di layar televisi. Seseorang berkata kesempatan ketiga selalu meminta harga lebih mahal.
Aku tersentak kembali. Hara menopang bahuku.
'Apa yang kamu lihat?'
Kuceritakan tanpa menambahkan tafsir. Kaivan menuliskan setiap kalimat, lalu menyerahkan catatan agar kuperiksa. Tidak seorang pun menyatakan kilasan itu sebagai fakta.
Pada dasar kotak ada amplop dengan tulisan ayah Kaivan: dibuka bersama Sagita setelah April 2017. Lemnya masih utuh. Kami sepakat merekam proses pembukaan.
Di dalamnya hanya ada satu halaman.
'Jika Sagita kembali tanpa mengingat, jangan paksa dia. Tunjukkan catatan ini hanya setelah ia sendiri mencari. Ia mengatakan perubahan kecil akan muncul lebih dahulu: ayahnya diperiksa sebelum terlambat dan sebuah kredit besar dihentikan. Jika dua hal itu terjadi, berarti tahun 2017 yang ia maksud benar.'
Hara meminta surat diletakkan kembali sebelum kami membahas isinya. Dia membacakan tiga fakta: kertas berada dalam amplop tertutup, tulisan cocok dengan agenda ayah Kaivan, dan dua peristiwa yang disebut memang baru terjadi. Namun, belum ada bukti ayah Kaivan memahami perjalanan waktu atau bahwa seluruh petunjukku benar.
'Bisa saja Sagita remaja memberi tahu beliau setelah membawa ingatan dari siklus lain,' kata Kaivan.
'Bisa,' jawab Hara. 'Bisa juga ada konteks yang belum kita temukan. Kata bisa jangan berubah menjadi pasti.'
Ibu Rieka membawa map plastik bebas asam untuk melindungi surat. Kami membuat dua salinan, satu untukku dan satu untuk Kaivan. Dokumen asli kembali disimpan di kotak pertama dengan daftar orang yang membukanya.
Kehati-hatian itu tidak mengurangi keganjilan. Seseorang bertahun-tahun lalu telah menunggu dua keputusan yang baru saja kami ambil.
Aku berhenti membaca. Bapak sudah diperiksa. Kredit Pak Idrus sudah dihentikan.
Bagian bawah surat memuat satu peringatan lagi.
'Jangan membuka kotak kedua sampai kedua perubahan tersebut terbukti.'
Kami saling memandang. Dua syarat yang ditulis bertahun-tahun lalu kini telah terpenuhi.
Namun, setelah apa yang ditemukan hari ini, tidak seorang pun mengusulkan membuka kotak kedua saat itu juga.