Kami meninggalkan kotak kedua di rumah Ibu Rieka dengan segel baru. Kaivan memotret nomor segel dan mengirimkannya kepada semua orang yang hadir. Tidak ada kunci rahasia atau perintah masa lalu yang akan membuat kami mengabaikan kehati-hatian.
Aku membawa liontin bintang setelah Ibu Rieka mengatakan benda itu memang diberikan kepadaku. Rantainya dibungkus kain agar tidak semakin rusak. Sepanjang perjalanan pulang, telapak tanganku terasa hangat seolah logam tersebut masih menyimpan suhu dari ingatan.
'Kamu mau memakainya lagi?' tanya Hara.
'Belum.'
'Karena takut?'
'Karena aku belum tahu apakah itu kenangan, janji, atau perangkap dari diriku sendiri.'
Hara mengangguk. 'Jawaban yang sehat.'
Minggu berikutnya berjalan lebih lambat. Audit Pak Idrus diambil alih kantor wilayah. Aku tetap memberi data tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya pusat perkara. Staf proyek yang menyerahkan dokumen mendapat saluran pelaporan terlindungi. Nomor aset pada perintah pemindahan cocok dengan fasilitas bank, sementara perusahaan penerima memiliki pemegang saham yang masih keluarga Pak Idrus.
Pak Sam meminta maaf kepada tim dalam rapat tertutup. Dia mengaku hubungan lama membuatnya menganggap pertanyaan sebagai penghinaan pribadi kepada debitur.
'Saya hampir mendorong pencairan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,' katanya. 'Mulai sekarang semua fasilitas terkait masuk penilaian ulang.'
Kaivan tidak menggunakan momen itu untuk menyalahkan Pak Sam. Dia hanya meminta pembagian target diperbaiki agar pegawai tidak terdorong mengabaikan risiko.
Aku melihat perbedaan lain dari kehidupan sebelumnya. Kaivan yang dulu mengejar target kini berani mempertanyakan sistem yang membuat target menjadi segalanya.
Perubahan itu tidak datang tanpa akibat. Target tim berkurang dan beberapa pegawai mengeluh karena bonus mereka mungkin terdampak. Kaivan meminta rapat terbuka agar tidak ada yang menyalahkanku diam-diam. Dia menjelaskan bahwa keuntungan jangka pendek tidak sebanding dengan kerugian jika fasilitas lama benar-benar bermasalah.
'Keputusan penundaan adalah keputusan saya bersama komite,' katanya. 'Jangan letakkan tanggung jawab pada satu analis.'
Aku menghargai sikapnya, tetapi setelah rapat tetap menegaskan aku tidak membutuhkan dia berbicara menggantikanku.
'Aku tahu,' jawab Kaivan. 'Aku bicara tentang bagianku sendiri.'
Perbedaan itu penting. Melindungi tidak harus berarti mengambil suara orang lain.
Pada hari Rabu, Mama datang menemani Bapak. Mereka mengirim foto makan siang bersama, sesuatu yang jarang terjadi sejak perceraian. Bapak terlihat jengkel karena Mama mengganti kopi dengan air hangat, tetapi wajahnya lebih segar.
'Jangan berharap kami rujuk,' kata Bapak saat menelepon. 'Kami hanya bekerja sama supaya kamu berhenti menelepon setiap dua jam.'
'Aku tidak bertanya soal rujuk.'
'Nada di kepalamu terdengar sampai sini.'
Aku tertawa. Mereka tidak harus kembali menjadi pasangan untuk saling peduli. Pikiran itu membuatku menilai hubungan dengan Kaivan secara berbeda. Masa lalu, anak, dan rasa sayang tidak otomatis mengharuskan dua orang hidup bersama. Kebersamaan harus dipilih dalam keadaan sekarang, bukan dibayar sebagai utang kepada takdir.
Adri mengajakku makan siang pada Kamis. Dia lebih dulu menegaskan ajakannya sebagai teman, lalu bertanya apakah aku keberatan. Aku menerima.
'Aku tidak perlu tahu rahasia yang sedang kalian urus,' katanya setelah kami duduk. 'Tapi sejak akhir pekan lalu, kamu dan Kaivan seperti membawa pemakaman ke mana-mana.'
'Ada seseorang yang kami kehilangan.'
'Orang dari masa lalu?'
'Bisa dibilang begitu.'
Adri tidak meminta nama. Dia bercerita pernah kehilangan adik saat kecil dan keluarganya bertahun-tahun berhenti menyebut nama anak itu karena takut ibunya sedih. Menurutnya, diam justru membuat setiap orang berduka sendirian.
'Setelah kami mulai membicarakannya, rasa kehilangan tidak hilang,' katanya. 'Tapi kami tidak lagi mengira cuma diri sendiri yang masih ingat.'
Aku memahami kenapa menceritakan Bintang kepada Kaivan terasa sekaligus menyakitkan dan melegakan.
'Terima kasih sudah tidak memaksaku menjelaskan,' kataku.
'Aku sedang belajar menjadi teman yang tidak menyamar sebagai calon pacar.' Adri tersenyum. 'Ternyata lebih sulit, tapi lebih jujur.'
Aku juga menceritakan rencana mencari psikolog, tanpa membuka perjalanan waktu. Adri menawarkan daftar layanan konseling pegawai dan mengatakan dia pernah menggunakannya setelah adiknya meninggal. Pengakuan itu menghilangkan rasa malu yang sempat muncul.
'Aku takut psikolog menganggap semua ingatanku khayalan,' kataku.
'Kamu tidak harus membuat orang percaya pada perjalanan waktu agar mereka membantu menghadapi duka dan panik.'
Sore itu aku membuat janji konsultasi. Tujuanku bukan membuktikan komet atau menghapus Bintang, melainkan memiliki tempat aman untuk membawa kehilangan tanpa menjadikannya satu-satunya penentu hidup.
Sesi pertamaku berlangsung Jumat sore di klinik yang bekerja sama dengan kantor. Aku tidak menceritakan seluruh perjalanan waktu. Aku hanya mengatakan memiliki ingatan sangat nyata tentang anak yang sudah meninggal, sementara semua orang di sekitarku menganggap anak itu belum pernah ada.
Psikolog tidak memperdebatkan apakah ingatan tersebut mungkin. Dia bertanya apa yang terjadi pada tubuhku saat kenangan muncul, bagaimana aku tidur, dan keputusan apa yang kuambil karena takut. Kami berlatih membedakan tiga kalimat: aku mengingat Bintang meninggal, aku takut kehilangan Bintang lagi, dan aku belum tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan ini.
Ketiganya terdengar serupa di dalam kepala, tetapi memiliki makna berbeda. Ingatan adalah sesuatu yang kubawa. Ketakutan adalah perasaan yang perlu dirawat. Masa depan adalah ruang yang belum berisi keputusan.
'Anda tidak harus menyelesaikan semua teka-teki agar bisa makan, tidur, dan bekerja hari ini,' katanya.
Aku pulang membawa latihan pernapasan serta jadwal sesi berikutnya. Untuk pertama kalinya, pencarian jawaban memiliki tempat berhenti yang tidak terasa seperti menyerah.
Aku juga mulai mencatat tidur dan serangan panik, supaya perubahan dapat dinilai dari pola, bukan hanya dari hari yang paling buruk.
Sepulang makan, Kaivan menungguku di dekat lift. Dia tidak bertanya tentang Adri.
'Bapak bagaimana?'
'Obatnya cocok setelah dosis disesuaikan. Pemeriksaan berikutnya dua minggu lagi.'
'Syukurlah.'
'Kotak kedua?'
'Ibu ingin membukanya Sabtu. Tapi hanya kalau kamu siap.'
'Aku siap mencari informasi. Bukan menerima semua isinya sebagai perintah.'
'Aku juga.'
Kami masuk lift bersama beberapa pegawai lain. Tidak ada percakapan pribadi sampai pintu terbuka di lantai enam.
Sebelum kembali ke meja, Kaivan berkata, 'Aku sudah mendaftar konseling.'
'Untuk apa?'
'Untuk memahami kenapa kabar tentang tindakan diriku di masa depan membuatku ingin menghukum diri sekarang. Dan supaya duka Bintang tidak berubah menjadi kemarahan yang sama.'
Aku tidak menyangka dia akan mengambil langkah itu tanpa diminta.
'Itu pilihan yang baik,' kataku.
'Bukan supaya kamu memilihku.'
'Aku tahu.'
Malamnya, aku membuka kain pembungkus liontin. Aku tidak memasangnya. Aku hanya meletakkannya di samping foto Bintang yang tidak kumiliki, lalu menyadari tidak ada lagi alasan menilai semua pilihan sebagai dua kemungkinan: menikahi Kaivan atau kehilangan anak kami.
Barangkali tugas kesempatan ini bukan mengikuti atau melawan takdir.
Barangkali tugasku adalah belajar memilih tanpa membiarkan rasa takut memilihkan segalanya.