Aku tidak meminta Bu Laila mengirim potongan suara malam itu. Aku menanyakan apakah salinannya lengkap, lalu memastikan kaset asli disimpan. Sesudahnya aku menelepon Hara dan meminta dia menemaniku mendengar pada pagi hari. Tanganku terus bergerak di atas selimut, mencari lipatan kain yang bisa diremas.
'Tidur dulu,' katanya. 'Aku datang membawa sarapan. Jangan pura-pura sudah makan.'
Aku berjanji, meskipun akhirnya tidurku hanya beberapa jam. Ketika Hara mengetuk pintu, aku sudah berpakaian dan menyiapkan dua cangkir. Dia melihat roti yang belum kusentuh, lalu memindahkannya tepat ke depan kursiku.
'Makan sambil menunggu Kaivan.'
Kami akan mendengarkan di ruang tamu Ibu Rieka. Bapak ingin ikut melalui telepon, tetapi pemeriksaannya dijadwalkan pagi itu. Aku memintanya mengutamakan rumah sakit. Tidak ada gunanya memenuhi syarat surat dengan pemeriksaan awal lalu mengabaikan perawatan karena terlalu sibuk mencari makna surat tersebut.
Kaivan menjemput kami pukul sembilan. Di mobil, dia bertanya apakah aku sudah siap dan menerima jawabanku yang belum yakin. Dia tidak berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sepanjang perjalanan kami mendengarkan siaran radio tentang jalan yang sedang diperbaiki. Suara penyiar yang biasa itu menolongku lebih banyak daripada ucapan penghiburan.
Ibu Rieka sudah menyiapkan meja. Bu Laila bergabung melalui telepon untuk menjelaskan bagian kaset yang sempat sulit dibaca. Rekaman tetap dibiarkan utuh, termasuk desis panjang. Aku duduk di kursi yang sama seperti ketika kami mendengar rekaman hujan meteor. Kali ini liontin tetap berada di dalam tas.
Suara ayah Kaivan terdengar dahulu. Dia menyebut namanya sebagai pemilik alat, lalu tanggal perekaman. Waktunya sesudah kejadian di bukit dan sebelum kecelakaan yang merenggut hidupnya. Suaranya tenang, sesekali terputus oleh batuk kecil. Kaivan menunduk saat mendengarnya, dan ibunya meraih tisu.
'Kamu boleh berhenti kapan saja, Gita,' kata lelaki dalam rekaman itu.
'Kalau aku berhenti, nanti aku lupa.'
'Kalau lupa, kita baca lagi. Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sekarang.'
Aku mengenali ketergesaan pada suaraku sendiri. Di balik nada remaja itu ada rasa takut yang masih sering membangunkanku tengah malam.
Ayah Kaivan bertanya apa arti tiga lingkaran dalam kertas. Aku menjelaskan bahwa dua yang pertama harus dicoba sebelum mempercayai ingatan yang lain. Bapak perlu pergi ke dokter. Kredit Pak Idrus harus diperiksa sebelum dana baru keluar. Kemudian suara itu menyebut Bintang, dan napasku terasa tertahan.
'Kalau bayinya lahir, apa yang perlu dilakukan?' tanya ayah Kaivan.
'Aku mengira aku tahu harinya. Aku menunggu tanggal itu.'
'Tanggal lahir?'
'Tanggal ketika semuanya menjadi buruk.'
Terdengar kertas bergeser. Aku menyebut sebuah tanggal, lalu segera mengoreksinya. Angka pertama dan angka kedua berbeda. Sesudah itu suaraku mengucapkan kalimat yang membuatku mencengkeram lengan kursi.
'Bukan. Yang itu waktu aku meminta dia dilahirkan lebih cepat.'
Kaivan menoleh. Aku tidak sanggup membalas tatapannya.
Ayahnya bertanya apakah aku mengingat peristiwa atau membayangkan sesuatu yang kutakuti. Aku menjawab tidak tahu lagi. Rekaman memuat tangis pendek, kemudian permintaanku agar kedua tanggal tetap ditulis. Jangan menghapus yang pertama hanya karena yang kedua terasa lebih nyata.
Aku mengangkat tangan. Hara menghentikan pemutaran.
Di ruang tamu, suara jam terdengar terlalu keras. Ibu Rieka memberiku air, tetapi aku belum mampu mengangkat gelas. Aku merasa seperti baru mendengar pengakuan dari orang yang paling ingin kuhukum dan paling ingin kulindungi sekaligus.
'Aku yang meminta,' bisikku.
'Suaranya mengatakan pernah meminta,' ujar Hara pelan. 'Kita belum tahu keputusan apa yang akhirnya diambil.'
'Kalau aku memaksakan sesuatu karena takut pada tanggal?'
Kaivan menggeser kursinya sedikit, lalu berhenti. 'Aku mau duduk lebih dekat. Boleh?'
Aku mengangguk. Dia duduk di ujung sofa, cukup dekat untuk kulihat tangannya tetap terbuka di atas lutut.
'Kita dengar sampai kamu sanggup,' katanya. 'Aku tidak bisa menjawab bagian yang belum kita tahu.'
Aku menangis tanpa menutup wajah. Selama ini pertanyaan siapa yang mengubah tanggal terasa seperti jalan untuk menemukan orang lain. Sekarang pertanyaan itu kembali mengarah kepadaku. Aku ingin meminta Kaivan mengatakan aku tidak bersalah, tetapi pengampunan tanpa memahami kejadian akan terasa serapuh tuduhan yang lahir dari ketakutan.
Kami berhenti hampir setengah jam. Aku makan beberapa suap bubur yang dibawa Ibu Rieka, kemudian berjalan ke halaman bersama Hara. Saat kembali, aku sendiri yang meminta rekaman diteruskan.
Sebelum menekan tombol, Kaivan meminta waktu sebentar. Dia berdiri di dekat jendela dan mengatur napas. Aku hampir memanggilnya untuk bertanya apakah dia marah kepadaku, tetapi Hara menyentuh tanganku. Kami menunggu sampai dia kembali sendiri.
'Aku sedang membayangkan hal yang belum kudengar sampai selesai,' katanya. 'Aku perlu berhenti sebentar supaya tidak menanyakannya seperti tuduhan.'
Aku mengangguk. Rasanya asing mendengar Kaivan menyebutkan apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya. Dalam kehidupan sebelumnya, keheningan seperti tadi sering berakhir dengan pintu tertutup dan percakapan yang tak pernah dilanjutkan.
'Aku juga takut kamu langsung menyalahkanku,' jawabku.
'Aku belum tahu kejadiannya, Git.'
Dia duduk lagi. Tidak ada janji bahwa kami tidak akan saling melukai, tetapi ada kesempatan untuk mengatakan ketakutan sebelum ketakutan itu mengatur kata-kata kami. Aku menggeser gelas ke dekat tangannya dan meminta Hara meneruskan rekaman.
Ayah Kaivan tidak menanyakan siapa yang harus disalahkan. Dia bertanya mengapa aku menyebut Dokter Ratna. Suaraku menjawab bahwa dokter itu pernah memintaku memisahkan apa yang benar-benar kuingat dari sesuatu yang diulang karena terus kutakuti.
'Tanggal di agenda itu untuk apa?' tanyanya lagi.
'Supaya aku bicara sebelum memilih. Sebelum semuanya terasa sudah diputuskan.'
'Apakah dokternya sudah menunggu?'
'Aku tidak tahu. Tolong tulis saja.'
Aku memejamkan mata. Jadi catatan itu memang belum tentu janji yang pernah dipesan. Ayah Kaivan menuliskan sebuah permintaan dariku yang bahkan tidak tahu apakah orang yang dicari akan berada di sana.
Bagian akhir kaset lebih pelan. Aku menyebut sebuah tas kerja, pulpen, dan perempuan yang memegang telepon. Nama Meyra tidak terdengar. Suaraku berulang kali mengatakan jangan memakai wajah perempuan itu sebagai jawaban sebelum mengingat apa yang dia lakukan.
Rekaman berakhir ketika seseorang mengetuk pintu dan meminta ayah Kaivan keluar agar aku beristirahat. Tidak ada penjelasan tentang cara waktu berulang. Tidak ada kalimat yang menjanjikan Bintang akan selamat jika tiga langkah dilakukan dengan benar.
Kaivan menutup layar pemutar. Ibu Rieka lama menatap foto suaminya.
'Dia mencoba membantu seorang anak yang ketakutan,' katanya. 'Ibu dulu mengira dia sedang memikirkan langit terus.'
Aku meminta izin menyimpan salinan lengkap. Lalu aku menulis dua tanggal dari rekaman pada buku ingatan, di bawah tanggal yang kuingat dari kehidupanku sendiri. Tidak satu pun kucoret.
Sebelum pulang, pesan Bapak masuk. Pemeriksaan selesai dan dia sudah makan. Hasilnya akan dibicarakan lagi pada kontrol berikutnya. Aku membalas bahwa kami juga sudah selesai, lalu menambahkan satu kalimat.
'Pak, mungkin ada lebih dari satu hari persalinan yang kuingat.'
Jawaban Bapak datang beberapa menit kemudian.
'Bawa semuanya kepada Ratna. Dulu beliau pernah menanyakan hal yang sama.'