Aku membaca pesan Bapak sekali lagi di dalam mobil. Kaivan mengemudi, Hara duduk di belakang, dan aku merasa terlalu lelah untuk membuat pertanyaan baru. Kutulis jawaban singkat bahwa aku akan membawa catatan itu. Sesudahnya ponsel kumasukkan ke tas. Untuk sisa perjalanan aku menghitung lampu merah dan memperhatikan orang-orang yang berteduh di depan toko.
Minggu pagi tidak terjadi sesuatu yang luar biasa. Aku membeli sabun, mengganti sarung bantal, dan menelepon pemilik kos karena lampu kamar mandi mulai redup. Pekerjaan kecil itu membuatku lega. Ada benda yang bisa diganti karena rusak tanpa harus menemukan apa yang terjadi delapan tahun sebelumnya.
Sore hari, Kaivan mengirim pesan bahwa dia tidak akan memutar kaset sendirian. Dia takut menghafal setiap kalimat sampai lupa bahwa rekaman itu juga berasal dari seseorang yang kebingungan. Aku membalas bahwa aku mempunyai ketakutan sama. Kami kemudian berbicara tentang makan malam, percakapan yang berhenti sebelum menjadi terlalu akrab.
Senin, kantor wilayah mengirim perkembangan audit. Salah satu alat yang kami cari berhasil ditemukan di lokasi perusahaan penerima. Nomor rangkanya cocok. Pak Idrus mengaku pemindahan hanya sementara, tetapi belum menjelaskan pembayaran yang mengikuti perpindahan tersebut. Pemeriksa melanjutkan penelusuran; pekerjaan kami sekarang menyiapkan data yang diminta dan menjaga layanan nasabah lain tetap berjalan.
Aku tidak merasa menang ketika membaca kabar itu. Yang terbayang justru staf muda di lokasi proyek, orang yang menyerahkan amplop sambil takut tidak dapat pulang bekerja esok hari. Kutanyakan keadaannya kepada Bu Ratih. Dia menjawab bahwa komunikasi telah ditangani melalui pihak yang ditunjuk. Aku tidak perlu mendekatinya sendiri.
'Kadang membantu berarti membiarkan orang yang tepat menyelesaikan bagiannya,' katanya.
Aku mengangguk. Pelajaran tersebut rupanya berlaku di lebih banyak tempat daripada ruang kerja.
Selasa siang, Bapak menelepon saat aku sedang makan. Dia terdengar jengkel karena Mama mengatur letak obat dan memindahkan beberapa buku dari meja kerjanya. Aku mendengarkan keluhan itu sampai selesai, lalu bertanya apakah dia sudah menyampaikan keberatannya.
'Sudah. Mama bilang meja makan bukan gudang.'
'Kalau begitu mungkin Mama benar.'
'Kamu menelepon untuk membela Bapak atau Mama?'
'Bapak yang menelepon aku.'
Dia tertawa. Aku menyandarkan punggung ke kursi dan membiarkan suara itu memenuhi telinga. Untuk sekali ini kami tidak membahas penyakit atau masa depan. Sebelum menutup telepon, Bapak bertanya jam berapa konsultasiku pada Sabtu. Dia ingin mendampingi, tetapi menerima ketika kukatakan ingin masuk ruangan dengan pilihanku sendiri dahulu.
Rabu sore, di ruang konseling, aku menyampaikan isi kaset sebatas yang mampu kuceritakan. Psikolog mendengarkan tanpa mencoba menentukan tanggal mana yang benar. Pertanyaannya justru tentang apa yang kulakukan setelah mendengar bahwa aku pernah meminta persalinan dipercepat.
'Saya langsung merasa harus menebus sesuatu,' jawabku.
'Dengan cara apa?'
'Menjauh dari Kaivan. Atau menurut pada semua petunjuk. Rasanya kalau saya berhenti, berarti saya tidak cukup menyayangi anak saya.'
Mengucapkannya keras-keras membuat dadaku terasa sakit. Aku baru menyadari betapa mudah aku menyamakan kelelahan dengan kurangnya cinta.
Kami membicarakan tidur yang kembali terputus dan caraku membaca ulang catatan saat tengah malam. Aku menyetujui satu perubahan kecil: menyimpan buku di laci sesudah waktu yang kutentukan, lalu menulis hal yang ingin kutanyakan esok hari pada satu lembar terpisah. Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban pada malam yang sama.
Ketika keluar, hujan turun. Kaivan tidak berada di sana untuk menjemput. Aku membuka payung kuning sendiri dan berjalan menuju tempat kendaraan umum berhenti. Ada kesedihan kecil karena tidak melihatnya, tetapi juga kelegaan bahwa aku masih dapat pulang tanpa mengubah ketidakhadirannya menjadi pertanda ditinggalkan.
Kamis pagi kami bertemu di lift. Dia memegang berkas kerja dan sekantong makanan. Aku hampir bertanya apakah makanan itu untukku, lalu merasa malu pada diri sendiri.
'Untuk tim,' katanya, seolah membaca tatapanku. 'Kamu boleh mengambil dua kalau belum sarapan.'
'Aku sudah makan.'
'Satu saja kalau begitu.'
Aku tertawa. Percakapan ringan itu terasa lebih dekat daripada janji-janji kami tentang kehidupan lain.
Sepulang kerja kami berjalan ke tempat fotokopi untuk menyiapkan berkas konsultasi. Kaivan membawa surat perawatan lama yang dikirim Bapak, sedangkan aku membawa halaman agenda dan catatan tanggal. Aku memilih hanya menyerahkan salinan yang berkaitan dengan ingatanku dahulu. Dokter boleh meminta tambahan jika membutuhkannya.
'Aku akan menunggu di luar kalau kamu mau,' ujar Kaivan.
'Aku ingin bicara sendiri dulu. Setelah itu mungkin aku memintamu masuk.'
'Baik.'
Dia mengatakannya tanpa kecewa yang sengaja dipertontonkan. Aku menatap profil wajahnya ketika petugas menghitung lembar kertas. Lelaki ini masih dapat mengejutkanku dengan sesuatu yang sesederhana menerima permintaan.
Dalam perjalanan kembali, aku memberanikan diri bertanya apakah dia terus membayangkan Bintang setelah percakapan kami. Kaivan berhenti di depan penyeberangan.
Di sisi jalan ada toko perlengkapan bayi. Seorang lelaki keluar membawa kotak besar dan mengomel karena tidak muat di bagasi. Istrinya tertawa sambil memegang pintu mobil. Kaivan melihat ke arah mereka, lalu kembali menatap lampu penyeberangan. Aku baru memahami mengapa dia tidak langsung menjawab.
'Aku kadang iri pada orang yang tidak perlu memikirkan semua ini,' kataku.
'Aku juga. Tapi kita cuma melihat mereka selama beberapa detik.'
Aku tersenyum sedikit. Dulu kami mungkin juga terlihat seperti pasangan biasa ketika berdebat tentang terlalu banyak botol susu. Tidak seorang pun yang melihat akan tahu bahwa suatu hari kenangan itu menjadi sesuatu yang hampir tak sanggup kuceritakan.
Kaivan tidak menarikku menjauhi toko. Dia menunggu sampai aku sendiri kembali melihat jalan. Aku menghargai diamnya kali ini karena dia tetap berada di sana, bukan meninggalkanku menebak apakah dia mau mendengarkan.
'Iya. Kadang aku membayangkan wajahnya, lalu takut wajah yang kubuat berbeda dari yang kamu ingat.'
'Kamu tidak perlu mengingat persis untuk peduli.'
'Kamu juga tidak harus mengingat semuanya malam ini.'
Lampu penyeberangan berubah. Aku berjalan di sisinya, cukup dekat untuk menyentuh lengan bajunya, tetapi tidak melakukannya. Kedekatan itu tidak perlu diselesaikan menjadi sesuatu sebelum kami tiba di seberang.
Jumat malam aku menata berkas, identitas, air minum, dan tisu ke dalam tas. Liontin kusimpan di kantong kecil terpisah. Hara menelepon untuk memastikan aku tidak berencana begadang. Kami bicara sebentar, kemudian aku mematikan lampu pada waktu yang sudah kujanjikan kepada diri sendiri.
Sabtu pagi, setelah dua minggu berlalu sejak kotak kedua dibuka, aku berdiri di depan rumah sakit yang terlalu kukenal. Papan poliklinik saraf berada di koridor berbeda dari ruang bersalin, tetapi bau cairan pembersihnya sama.
Kaivan berhenti di sebelahku. 'Mau duduk dulu?'
Aku menggeleng, lalu mengangguk. Kami duduk beberapa menit sebelum naik ke lantai tujuan. Saat namaku dipanggil, aku berdiri sendiri.
Perempuan di balik meja memandang berkas rujukan, kemudian wajahku. Rambutnya lebih banyak beruban daripada wajah samar yang kadang muncul dalam tidurku.
'Sagita Riusara,' katanya. 'Saya ingat Bapakmu. Kamu sekarang ingin membicarakan ingatan yang mana?'