Set make up yang biasanya hanya kubiarkan di dalam kantung, kini kujajarkan di atas meja rias. Olesan foundation, sapuan bedak, riasan mata, sentuhan blush on dan higlighter benar-benar menampilkan sosok baru di dalam cermin. Tidak lupa, memakai lipstik sebagai sentuhan akhir. Setelan kerja warna maroon yang kubeli kemarin membuat penampilanku terlihat elegant dan juga memberikan kesan seksi yang dalam. Riasan wajahku juga sedikit kubuat bold, tapi tidak menor. High heel warna hitam dengan hak setinggi 7 cm, yang selama ini hanya kujadikan pajangan, akhirnya bisa kupakai juga sekarang. Tanpa takut haknya akan patah saat kupakai. Bahkan, aku juga menata rambutku agar terlihat lebih bagus. Padahal, biasanya aku hanya mengikatnya asal. Namun, sekarang penampilanku benar-benar berubah. Dengan rasa percaya diri yang baru, aku melangkah dengan dagu terangkat. Tidak ada yang boleh merendahkanku lagi mulai sekarang. Selamat tinggal Lula Kamila yang terkenal sebagai gajah bengkak, truk tronton, dan apa pun itu yang menggambarkan badan gemuknya. Semua itu, kini hanya tersisa sebagai kenangan buruk yang tidak perlu untuk diingat. Semua hal itu, lebih cocok ikut dikubur bersama Lula yang dulu. Yang hanya diam saat dibully dan ditindas, juga yang sering diperlakukan seperti pesuruh saat di kantor. Bahkan, hanya dijadikan ATM berjalan oleh seseorang yang sempat begitu dicintainya. Mulai sekarang, tidak ada lagi Lula yang dulu. Sekarang, aku merasa seperti terlahir kembali. Pastinya, aku ingin menjalani kehidupan dengan lebih baik, juga lebih tegas pada orang-orang yang berbuat semaunya pada hidupku. Lihat saja nanti, aku kutunjukkan siapa Lula yang sebenarnya.
Taksi online yang aku pesan berhenti tepat di depan pintu masuk. Aku sengaja memesan taksi alih-alih ojek, karena tidak ingin penampilan yang sudah cetar membahana ini harus rusak begitu saja. Setelah membayar ongkos taksi, aku turun dari mobil dengan sebelah kaki yang turun lebih dulu. Entah kenapa, aku merasa seperti sebuah gerakan slow motion seperti adegan di TV. Beberapa pasang mata langsung tertuju ke arahku saat aku benar-benar keluar dari mobil dan mulai berjalan ke lobi kantor. Mereka yang melihatku mulai berbisik-bisik. Ada yang bergumam menanyakan aku siapa, lalu menebak jika aku karyawan baru, dan entah apalagi. Aku hanya melirik sekilas dan tetap melangkah dengan dagu terangkat. Biarlah mereka tahu, kalau Lula bukanlah gadis obesitas yang rela diperlakukan bagaimana pun hanya agar teman-teman kantornya menyukainya. Yang padahal, hanya berakhir dengan kalimat-kalimat menyinggung dari mulut mereka.
“LULA!”
Langkahku terhenti, dan spontan berbalik saat suara Dodi menggelegar memenuhi lobi kantor. Dia begitu mengejutkanku, juga karyawan yang lain. Bahkan, di depan sana, Farhan menatapku dengan mulut melongo, saat menyadari jika Dodi memanggilku dan yang menoleh malah gadis dengan body bak gitar spanyol. Bukan lagi truk tronton dan gajah bengkak yang sejak dulu menemaninya itu.
Dodi berlari menuju ke arahku, aku hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah lucunya itu.
“Ya Tuhan, La. Tuh, kan bener kata aku juga. Kamu bakalan lebih cocok saat pakai setelan ini,” ujar Dodi sambil berjalan mengelilingiku. Semalam, aku memang bertukar pesan dengannya, dan menunjukkan setelan kerja ini untuk menanyakan apakah cocok di aku atau tidak. Karena jujur, aku sedikit kurang percaya diri dan takut terlihat norak.
Farhan berjalan ke arahku, dan aku suka melihat ekspresinya itu. Dia menatapku dengan tidak percaya sekaligus terpesona. Tidak lama, Gisel juga muncul dan perhatiannya langsung tertuju padaku. Aku tidak yakin dia langsung mengenaliku atau tidak. Yang jelas, dilihat dari ekspresinya, kurasa jawabannya adalah ya.
“Ini beneran kamu, La?” tanya Farhan yang masih memasang ekspresi seperti orang bodoh.
Aku tidak menjawab, hanya mengangkat kedua bahu sebagai jawaban. Terserah dia mau berpikir jika ini memang aku atau bukan. Kuharap, setelah ini mereka yang sering menggunjingiku bisa berhenti dan sadar.
“Sudah, yuk, La. Kita ke kantor,” ajak Dodi saat melihat Gisel juga berjalan ke arahku. Dia tahu, jika nenek lampir itu pasti akan membuat masalah. Aku mengangguk, lalu mulai berjalan meninggalkan Farhan dan juga teman-teman kantor yang masih berdiri di tempat mereka masing-masing dengan tatapan yang menunjukkan ketidak percayaan di manik mereka. Jelas saja, mereka tidak akan menyangka, jika orang yang selalu dibully-nya selama ini, bisa membuat perubahan sedrastis ini. Dan saat orang gendut menjadi kurus, memang pesonanya tiada lawan. Rasakan, kuharap mereka bisa berhenti membicarakan hal-hal yang tidak masuk akal lagi tentangku. Sakit diabetes? Sungguh memuakkan!
Suasana kantor kembali heboh hari ini karena aku yang tiba-tiba berubah, dari itik buruk rupa menjadi seekor angsa putih yang cantik. Namun, rupanya selentingan-selentingan tentangku terus saja beredar. Kali ini, aku dituduh sedot lemak. Sedot lemak, your head, gajiku tidak sebesar itu. Kalau pun mampu, aku tidak akan melakukan hal itu. Mereka tidak tahu, perjuangan yang kulakukan untuk mendapatkan bentuk tubuh yang sekarang tidaklah mudah. Lalu, mereka dengan seenaknya menyebutku sedot lemak. Menyebalkan sekali.
“Eh, La. Sedot lemak di mana kok, hasilnya bisa sebagus itu?” Gisel tiba-tiba menghampiriku dan bertanya dengan nada yang menjengkelkan. Aku memutar bola mata, malas menanggapi pertanyaannya yang tidak masuk akal itu.
“Kamu pikir biaya sedot lemak berapa? Apa gajiku cukup untuk membayarnya?” Aku balik bertanya.
Gisel tersenyum mengejek. “Ya, kali aja ada om-om yang mau ngebayarin, ya, kan,” ujarnya lagi seenak udel. Bukankah dia yang selalu bilang, jika perempuan dengan tubuh sepertiku tidak layak untuk bersanding dengan laki-laki mana pun. Dan sekarang, dia menuduhku menjadi sugar baby?
“Kamu pikir akan ada laki-laki kaya yang mau dengan perempuan gemuk sepertiku?”
Gisel berdecih. “Ya, siapa yang tahu kalau kamu main dukun, kan.”
Brak!
Cukup sudah kesabaranku. Gisel dan beberapa teman yang dari tadi diam menyimak langsung terkejut begitu aku menggebrak meja. Mereka pikir, aku akan tetap diam seperti dulu saat mulut-mulut jahat mereka terus mengusikku seperti ini?
“Cukup, Gisel. Aku bukan perempuan murahan sepertimu yang rela melakukan apa saja hanya demi seorang laki-laki. Kamu pikir aku tidak tahu, bagaimana kamu dan Farhan melakukan hal menjijikan di belakangku? Kamu bahkan menyuruhnya untuk menjadikanku ATM berjalan hanya agar kalian bisa liburan atau sekadar untuk chek in di hotel. Apa kamu tidak merasa malu saat sedang berbagi peluh, dengan seseorang yang juga pacar orang lain dan bahkan, kamar yang kalian pakai dibayar menggunakan uangku?”
Aku membuang pandangan, lalu kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan sinis. “Gagal move on dan menderita karena putus dari Farhan? Yang benar saja. Aku bahkan bersyukur bisa lepas dari laki-laki kere sepertinya. Rumor murahan yang kamu sebarkan itu bahkan sangat tidak masuk akal,” lanjutku.
Wajah Gisel berubah memerah. Entah karena malu atau marah. Dia mengepalkan tangannya, lalu berbalik meninggalkanku. Beberapa teman langsung saling berbisik. Entah mereka membicarakan aku yang tiba-tiba berani, atau malah menggunjingi Gisel. Aku tidak mau ambil pusing.
Kembali kuhempaskan b****g di kursi. Tangan kanan kugunakan untuk memijat pelipis yang terasa pusing. Gisel terlalu menganggapku lawan yang lemah. Dia tidak tahu, jika selama ini sebenarnya aku sudah tahu semuanya. Hanya saja, aku berusaha menutup mata. Hanya karena senang, bisa punya pacar ganteng yang bisa kubanggakan. Karena memang aku yang penuh kekurangan dan merasa minder. Begitu mempunyai pacar yang tampan, dan perhatian saat berada di depan semua orang, maka sebisa mungkin aku ini mempertahankannya. Walaupun, sebenarnya itu adalah tindakan yang salah.
“La, jadi selama ini kamu diet?” tanya Hani. Dia salah satu karyawan yang satu ruangan denganku. Dan dia adalah orang yang juga sering mengejek fisikku dulu.
Aku mengangkat wajah, memalingkan pandangan dari layar komputer. Sebentar lagi waktu makan siang, teman-teman yang lain sepertinya sudah menyelesaikan tugas mereka.
“Iya, nge-gym juga,” jawabku singkat. Jujur saja, sebenarnya aku malas berbicara dengan semua orang di kantor ini. Aku merasa, lingkungan kerja di sini sudah tidak sehat. Sudah terlalu banyak rasa sakit yang kudapatkan di sini.
Hani ber-oh ria. Dia menoleh ke arah temannya yang duduk di meja kerja. “Pantesan hasilnya bagus. Tapi masa dalam waktu tiga bulan bisa sedrastis ini, ya perubahannya,” ujarnya lagi. Dari nadanya, terdengar kalau dia tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban yang ku berikan tadi.
“Kalau begitu coba saja sendiri. Jangan makan karbohidrat sama sekali, termasuk gula dan olahan tepung. Lalu lakukan s**t up 100 kali setiap pertemuan gym, dan itu tiga kali dalam seminggu. Dan senam cardio lainnya dalam jumlah yang tidak masuk akal. Aku jamin, pasti hasilnya juga akan memuaskan,” jawabku dengan senyum terpaksa di akhir kalimat.
Hani mencebik, aku tahu dia tidak benar-benar bertanya karena ingin tahu. Tapi, dia hanya ingin memuaskan rasa penasaran dan keingin tahuannya. Karena pada dasarnya, mereka tidak benar-benar suka dengan apa pun yang aku lakukan.
Setelah mematikan komputer, aku memilih untuk makan siang di kantin. Kangen juga ternyata dengan suasana kantin yang selalu ramai setiap jam makan siang itu. Dodi yang sudah berada di sana lebih dulu, melambaikan tangan dan menyuruhku untuk bergabung dengannya. Dia sedang bersama dua orang perempuan yang tidak terlalu aku kenal. Aku hanya tahu, jika mereka sepertinya satu divisi. Aku tersenyum menyapa, mereka balas tersenyum dan terlihat lebih friendly dibandingkan dengan orang-orang di divisiku.
“Mau pesan apa, La?” Dodi bertanya, karena melihatku yang masih bengong. Bingung memutuskan untuk memesan apa.
“Denger-denger katanya kamu diet karbo, ya. Jadi, cuma makan protein sama sayur aja?” tanya salah satu perempuan berambut sebahu yang kuketahui bernama Cindy itu.
Aku mengangguk. Secepat itukah beritanya tersebar?
“Aku denger dari Dodi tadi,” ujarnya lagi.
Aku mengangguk paham. “Iya. Awalnya berat, karena rasanya lapar terus. Tapi, sekarang sudah terbiasa,” jawabku.
Cindy dan satu temannya mengangguk paham. Mereka kembali makan, sedangkan aku baru mau memesan.
Sepiring karedok tanpa gula, dan sepotong ayam goreng tanpa nasi sudah datang di mejaku. Beberapa orang memperhatikanku sejak aku memesan makanan itu. Mendengar karedok tanpa gula mungkin membuat mereka merasa heran. Namun, tidak untukku. Karena memang sudah biasa. Bahkan, sekarang, di tukang mi ayam langganan, aku kerap memesan mi ayam tanpa mi. Dua perempuan di depanku juga menatap dengan heran. Namun, aku tidak terlalu terganggu, karena sikap mereka yang memang baik padaku.
“Apa rasanya tidak aneh. Sama sekali tanpa gula?” tanya Cindy.
Aku tersenyum, lalu menggeleng. “Ini enak, kok,” jawabku.
Cindy hanya mengangguk sekilas, lalu kembali meminum es teh manis yang terlihat sangat segar itu. Jujur saja, aku juga sebenarnya rindu dengan rasa manis gula. Walaupun sesekali aku minum teh manis dengan menggunakan gula diet, tetap saja rasanya beda.
Tidak mau semakin tergoda, aku kembali fokus pada makanan di depanku. Lalu, perhatianku tersita oleh obrolan dua orang laki-laki yang berjalan melewatiku.
“Katanya ada lowongan di kantor pusat, ya. Sayangnya mereka carinya perempuan. Kalau saja tidak mementingkan gender, aku pasti akan memilih ekspansi ke sana.”
Lowongan di kantor pusat? Ekspansi? Sepertinya itu kesempatan bagus. Aku harus mencari tahu tentang itu. Berada di lingkungan baru sepertinya menjadi pilihan yang cukup bagus. Ya, mungkin itu memang pilihan yang tepat.