Progres diet dan olahragaku berjalan lancar sampai sejauh ini. Di depan cermin, dengan menggunakan baju ukuran L yang baru kubeli kemarin sore sepulang kerja, aku seperti melihat sosok lain. Jika biasanya yang tampak di pantulan cermin adalah seorang perempuan dengan bentuk tubuh yang tidak beraturan, kini di depan sana yang muncul adalah sosok berbeda. Seorang perempuan cantik, dengan bentuk tubuh yang indah, dan badan yang tinggi semampai. Bisa dibilang, sebentar lagi bisa menyaingi artis Anya Geraldine. Aku terkekeh pelan, dan tanpa terasa ada setetes air mata yang jatuh begitu saja. Ini adalah air mata bahagia sekaligus terharu. Aku tidak menyangka, jika program diet kali ini akan berhasil. Aku berhasil menghempas 55 kilogram dalam waktu hampir 3 bulan. PR-ku masih harus membuang sekitar 10 kilo lagi untuk mencapai target 55 kilo. Ini sungguh perjuangan yang tidak mudah. Namun, aku bangga, karena bisa bertahan sejauh ini. Sebenarnya, berat badan 65 kilogram untuk tinggi 160 cm tidak terlalu gemuk. Bisa dibilang pas, tapi aku masih mau mengejar target impian sampai ke angka 55 kilogram.
Selama ini, aku masih memakai pakaian saat bobotku di angka 120 kilo. Bukan apa-apa, aku tidak ingin memamerkan hasil dietku sekarang-sekarang. Karena, menurutku, aku masih belum mencapai target maksimal. Dan ternyata, karena hal itu, teman-teman banyak yang berpikiran aku menderita sakit keras. Diabetes, yang bisa menggerogoti bobot badan secara drastis. Ditambah, aku memang sekarang lebih senang menyendiri dan hidup dengan duniaku sendiri, tanpa peduli pada mereka semua. Mereka berpikir, jika aku sedang meratapi nasib yang begitu sial. Setelah diputuskan oleh pacarnya yang katanya paling ganteng sekantor ini, kini harus menderita karena penyakit yang berbahaya. Tentu saja aku mendengar rumor itu dari Dodi, sumber informan paling terpercaya di kantor ini.
“Aku tuh ngakak tau, La pas denger mereka bilang kayak gitu. Astaga. Andai saja mereka tau yang sebenarnya. Pasti langsung pada melongo, deh,” ujar Dodi berkelakar dengan tawa manjanya. Aku ikut tertawa kecil.
“Sudah, biarkan saja. Toh, mereka membicarakanku karena memang mereka menikmatinya. Saat tau tubuhku bentuk baru tubuhku, nantinya mereka juga akan komentar macam-macam. Sudah bisa kutebak,” ujarku.
Dodi mengangguk paham. Teman-teman di kantor memang suka menjadikanku sebagai objek dari obrolan mereka. Itu karena aku yang selama ini hanya diam dan menerima begitu saja perlakuan mereka. Karena, kupikir, aku tidak ingin mencari masalah. Eh, sekarang malah mereka melampaui batas dan semakin menjadi-jadi. Namun, aku akan tetap diam. Biarlah, terserah apa kata mereka. Toh, jika sudah capek mereka akan berhenti sendiri.
Kebiasaan baruku saat jam makan siang adalah, menghabiskan waktu di pantry kantor dengan bekal yang memang selalu kubawa dari rumah. Sebenarnya, bisa saja aku beli di kantin. Misalnya, ayam goreng, sambal dan lalapan saja, tapi itu pasti akan mencuri perhatian teman-teman lain yang hanya akan berakhir dengan omongan-omongan tidak mengenakan. Dari pada merusak mood, lebih baik aku tetap membawa bekal dan makan seorang diri di pantry ini. Atau sesekali makan bersama bi Sarti, petugas office girl di sini. Beliau seumuran dengan ibuku, orangnya baik dan perkataannya selalu lemah lembut dan tidak pernah menyakiti. Makanya, aku suka berada di sini. Sambil makan, terkadang kami berbagi cerita tentang apa saja. Yang aku suka dari bi Sarti, beliau tidak banyak komentar atau banyak tanya saat melihatku yang hanya makan protein hewani, sayuran, dan buah, tanpa nasi atau sejenisnya.
“Sudah selesai makan siangnya, Neng?” tanya bi Sarti saat memasuki pantry.
Aku yang sedang menikmati sepotong apel, buru-buru mengunyah dan menelannya. “Eh, iya, Bi. Bibi ke mana saja, tumben jam segini baru mau makan siang?” jawabku sambil balik ternyata karena bi Sarti baru datang dengan sekotak nasi di tangannya.
“Tadi ada keperluan sebentar, Neng,” jawab bi Sarti singkat sambil membuka kotak nasinya setelah duduk di kursi yang berada di seberang meja.
Aku mengangguk, lalu kembali menikmati potongan buah yang tersisa.
“Oh, ya, katanya Neng lagi sakit? Memang benar, ya, Neng?” tanya bi Sarti di sela-sela makannya.
Aku sedikit kaget saat bi Sarti menanyakan hal itu. Berarti rumor itu memang sudah beredar luas. Sungguh kurang kerjaan sekali orang yang menyebarkannya.
“Eh, enggak, Bi. Itu cuma gosip,” jawabku dengan sedikit kikuk.
“Syukurlah kalau memang begitu, Neng. Soalnya Bibi lihat juga Neng itu sehat-sehat saja, gak kayak orang sakit. Cuma memang sekarang kelihatan lebih kecil saja badannya,” ujar bi Sarti dengan wajah lega.
Aku hanya tersenyum kecil mendengar kalimat terakhir dari ucapan bi Sarti. Lalu sudah, bi Sarti tidak bertanya apa pun lagi. Karena memang begitulah beliau. Tidak pernah kepo atau terlalu ikut campur urusan orang lain. Bi Sarti bertanya karena memang benar-benar peduli, bukan hanya karena sekadar ingin tahu.
Pandangan dari teman-teman kantor sungguh tidak enak. Belum lagi bisikan-bisikan mereka yang juga tertangkap di telinga membuatku sedikit tidak nyaman. Namun, aku mencoba tetap mengabaikannya seperti biasa, dan terus jalan menuju meja kerjaku dengan langkah santai. Namun, langkahku harus tertahan, saat sebuah celetukan benar-benar membuatku kehilangan kesabaran.
“Eh, Yang, lihat, deh mantanmu. Kasihan, ya. Kayaknya gak terima banget putus dari kamu sampai sakit-sakitan kayak gitu. Lihat saja, sekarang penampilannya berantakan banget. Bajunya aja sampai kedodoran gitu,” ucap Gisel yang sedang bersama dengan Farhan. Nada bicaranya sengaja disetel dengan volume maksimal. Agar aku dan yang lainnya bisa mendengar ucapannya.
Dan itu memang sesuai kemauannya. Beberapa orang juga mulai berbisik dan membicarakanku. Apa aku terlihat semenyedihkan itu? Aku berbalik, lalu menatap Gisel dengan nyalang. Namun, dia justru tertawa mengejek. Sialan, benar-benar perempuan menyebalkan.
Aku kembali berbalik dan meneruskan langkah ke meja kerjaku. Bodo amat. Lihat saja besok, aku akan membuat kalian semua membayar atas apa yang kalian katakan tentangku selama ini. Rasakan pembalasanku nanti. Bukankah balas dendam terbaik adalah dengan menunjukkan jika kita bisa lebih baik dari apa yang mereka gunjingkan? Lihat saja besok, siapa yang akan membuka mulut mereka paling lebar, saking kagetnya melihat perubahan yang kubuat selama ini.
Sepulang dari kantor, aku mampir ke toko baju tempat di mana aku membeli dress hitam untuk acara kantor dulu. Di tempat ini semua pegawainya ramah, membuat betah saat berbelanja.
“Selamat datang, Kakak. Ada yang bisa saya bantu?” ujar salah seorang karyawan dengan senyum tulusnya. Aku membalas senyumnya, lalu mulai berjalan mencari setelan kerja untuk dipakai besok.
“Saya ingin setelan kerja, kalau ada yang roknya di atas lutut. Carikan ukuran L, ya,” ujarku pada karyawan tadi.
Karyawan tadi mengangguk, tanpa banyak bertanya. Setelah menunggu beberapa saat, dia kembali dengan membawa setelan kerja yang aku inginkan. Sebuah kemeja putih, dengan blazer warna merah maroon dan rok spam selutut dengan warna senada. Aku masuk kamar pas, lalu mencobanya. Dan ternyata, sangat pas di tubuhku. Aku sampai memutar badan beberapa kali karena saking senangnya. Akhirnya, bisa memakai setelan kerja seperti ini. Bukan lagi kemeja jumbo dan rok yang tidak kalah besar.
Saat keluar dari kamar pas dan hendak meminta pendapat karyawan tadi, kulihat dia tampak terkejut melihat penampilanku. Lalu, dia tampak celingukan, seperti mencari seseorang.
“Mbak, bagaimana? Apa ini cocok di saya?” tanyaku sambil memutar badan dan tersenyum kikuk.
Seperti tersadar oleh sesuatu, karyawan itu lalu fokus menatapku. Dia berpikir sejenak, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Mungkin, dia berpikir jika aku orang lain, bukan orang yang sama yang memintanya mencarikan setelan tadi.
“Cocok sekali, Kak. Hmmm ... ini Kakak yang tadi, kan, ya?” tanyanya ragu-ragu. Aku tertawa kecil, takut dia tersinggung.
“Iya, Mbak. Ini saya yang tadi. Apa saya terlihat seperti orang lain?” tanyaku.
Karyawan itu tidak menjawab, tapi malah tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya yang mungkin tidak gatal itu.
Setelah membeli dua setelan baru, dan beberapa kemeja juga celana, aku bergegas pulang ke kosan. Rasanya lelah juga, tapi juga puas karena bisa membeli barang-barang yang selama ini hanya bisa aku pandangi saat belanja ke toko baju. Jelas saja, karena baju-baju itu tidak muat di tubuhku. Namun, sekarang aku sudah bisa memakainya. Walaupun, aku harus sedikit mengorbankan uang di tabungan untuk berbelanja semua itu. Namun, itu bukan masalah. Hitung-hitung sebagai self reward karena sudah berhasil sampai sejauh ini. Rasanya sudah tidak sabar, ingin melihat bagaimana reaksi teman-teman kantor besok. Apa mereka masih akan mengataiku penyakitan dan memandangku dengan tatapan iba dan kasihan? Lalu, bagaimana reaksi Gisel dan Farhan besok? Huh, akan kupastikan kalian semua menutup mulut setelah melihat penampilan baruku besok.