Kini, sudah hampir dua mingguaku menjalani diet. Syukurnya, tubuh sudah mulai terbiasa dan tidak selemas saat awal-awal diet dulu. Iseng, aku mencoba menimbang, dan tara! Berat badan yang semula di angka 120, kini sudah berkurang 8 angka. Sungguh, ini seperti suatu keajaiban. Aku bahkan sampai menutup mulut dengan kedua tangan karena saking tidak percayanya. Dalam waktu kurang dari dua minggu, aku bisa menghilangkan sampai 8 kilo. Bagaimana jika sebulan? Aaaa, aku harus semakin semangat, terlebih dalam hal berolah raga. Apa lebih baik aku ikut kelas gym, ya? Supaya olahragaku juga tepat sasaran. Aku tidak mau jika setelah kurus nanti tubuhku malah bergelambir karena penurunan berat badan yang begitu drastis. Setidaknya, aku harus berolahraga untuk membentuk masa otot. Kan tidak lucu, berhasil kurus tapi tubuh malah berubah seperti seekor sapi yang kulitnya bergelambir tidak beraturan. Iya, memang seharusnya aku ikut kelas gym saja. Sepertinya, aku tahu tempat gym dekat-dekat sini yang murah dan nyaman. Kebetulan, ada salah satu kenalan juga yang menjadi pelatih di sana. Siapa tahu, dia bisa membantuku untuk mendapatkan tubuh ideal yang selama ini hanya ada dalam khayalanku saja.
Beberapa teman kantor akhir-akhir ini memandangku dengan tatapan heran disertai bisik-bisik yang entah apa. Namun, pagi ini aku tahu alasan mereka melakukan hal seperti itu.
“Kamu tahu gak, La? Teman-teman lagi pada bicarain kamu, lho. Katanya kamu jadi sakit-sakitan gara-gara putus dari Farhan. Soalnya, akhir-akhir ini kamu lebih banyak diam dan udah jarang banget ikut kita-kita buat keluar jajan,” ujar Dodi mengadu kepadaku.
“Biarkan saja. Tinggal iyain kalau mereka bilang kayak gitu lagi. Biar Gisel seneng dengernya,” jawabku cuek. Semenjak kejadian di acara kantor itu, aku sudah tidak mau ambil pusing dengan ucapan orang-orang di sekitarku. Fokusku sekarang hanya satu, berusaha menurunkan berat badan dan mencapai berat badan ideal. Tidak ada lagi selain itu.
“Kok, kamu tau kalau yang nyebarin gosip itu Gisel?” tanya Dodi dengan sebelah alis terangkat.
Aku mengangkat kedua bahu. Jika bukan dia, siapa lagi? Gisel memang setidak suka itu padaku. Sejak awal aku berpacaran dengan Farhan. Aku tahu, sejak awal Gisel memang suka pada Farhan. Mungkin dia merasa terhina karena Farhan lebih memilih memacariku yang menurutnya berada jauh di bawahnya. Namun, aku sungguh sudah tidak peduli tentang itu. Bahkan, belakangan ini, aku tidak pernah lagi memikirkan tentang Farhan. Nomornya saja sudah lama aku senyapkan, agar tidak perlu melihat statusnya muncul di aplikasi chat warna hijau itu. Bisa dibilang, aku sudah benar-benar move on darinya. Walaupun jujur, aku masih belum bisa untuk memblokir nomornya karena masih menunggu itikad baiknya untuk mengembalikan uangku yang nominalnya bisa untuk biaya hidup dua bulan di kosan. Namun, sampai sekarang, belum ada tanda-tanda dia ingat pada hutangnya. Dia bersikap seperti orang bodoh yang kehilangan ingatan setiap bertemu denganku. Padahal, aku sangat berharap dia mau mengembalikan uangku itu.
“Eh, tapi, La aku liat-liat kayaknya kamu kurusan, deh. Kamu beneran gak lagi sakit, kan?” tanya Dodi lagi dengan wajah khawatir. Aku tersenyum sambil menatapnya. Dia itu laki-laki baik, hanya saja sayangnya dia sedikit kemayu. Andai saja dia sedikit cool dan macho, aku yakin, dia akan terlihat sangat tampan dan juga gagah. Dan mungkin, aku akan mengajaknya untuk berpacaran. Menggantikan sosok Farhan yang pengecut itu.
“Aku baik-baik saja, kok, Di. Hmmm ... mau aku kasih tahu sesuatu, gak?”
Dodi memicing, aku melambaikan tangan menyuruhnya mendekatkan telinganya ke arahku.
“Aku lagi diet. Udah turun 8 kilo,” bisikku pelan di telinganya.
Apa? Serius, La?” Dodi berteriak dan itu memancing perhatian dari teman-teman lain. Aku menaruh telunjuk di bibir dan menyuruhnya diam.
Dodi langsung menutup mulutnya dengan tangan dan kembali mencondongkan tubuh ke arahku. “Kamu serius, La? Aaa, seneng banget dengarnya. Akhirnya, temenku bakalan berubah dari gajah jadi semut rang-rang,” bisik Dodi dengan ekspresi yang lucu.
Aku melotot galak saat mendengar Dodi menyebutku gajah, tapi kemudian tertawa bersama saat melihat bagaimana Dodi ikut bahagia untuk pencapaianku.
“Tapi jangan kasih tahu yang lainnya. Aku gak mau jadi bahan olok-olokan mereka. Cukup nanti mereka tahunya kalau aku udah berhasil saja,” ujarku dengan setengah berbisik.
Dodi mengangguk dan mengacungkan dua jempolnya ke arahku. Lagi-lagi, aku bersyukur karena memiliki sahabat yang tulus seperti Dodi. Walaupun, hanya dia seorang yang mau berteman denganku tanpa memandang apa pun. Ya, aku bersyukur karena memilikinya. Meskipun, yang aku punya hanyalah dia seorang.
Tekadku sudah bulat untuk mendaftar di tempat gym. Sepulang dari kantor, aku mampir ke tempat itu untuk reserfasi. Kebetulan, ada Gio salah satu kenalan karena dulu beberapa kali aku sempat berolahraga di tempat itu.
“Gio!” Aku melambaikan tangan pada laki-laki bertubuh kekar itu. Namun, walaupun demikian, sudah menjadi rahasia umum jika orang-orang yang suka pada dirinya adalah teman-teman sejenisnya juga. Maksudku, ya, orientasi seksualnya memang menyimpang. Padahal, sayang, mengingat wajahnya yang tampan itu. Namun, ya, bagaimana lagi itu jalan yang sudah diambil olehnya.
“Hey, Lula. Mau latihan? Ganti baju dulu sana,” ujarnya sambil mengelap keringat yang bercucuran di wajah mulusnya.
Aku melambaikan tangan, sebagai jawaban, jika bukan itu tujuanku datang ke tempat ini sekarang.
“Gak mau latihan? Terus mau apa? Liatin ototku ini?” tanyanya sambil menunjukkan otot tangannya yang kekar, bergaya ala binaragawan.
Aku semakin menggeleng. “Mau daftar member, dong. Bisa bimbing aku buat latihan rutin, kan? Ceritanya pengen nurunin berat badan,” jawabku malu-malu.
Gio mengangguk paham. “Gampang, bisa diatur. Mau mulai kapan?”
Aku berpikir sejenak, sebelum akhirnya memutuskan. “Lusa aja, deh. Kalau jam segini bisa, kan?” tanyaku memastikan.
“Selama gak mengganggu waktu kencanku ok saja,” jawabnya.
Aku mengangguk setuju, lalu bersalaman dengan Gio. Kami lalu membicarakan tentang kapan saja latihan akan berlangsung. Setelah semuanya deal, aku memilih kembali ke kosan. Misi selesai. Tinggal bagaimana nantinya aku akan menjalani latihan gym. Jangan sampai hanya niatnya saja yang menggebu, giliran praktiknya malah malas-malasan. Sayang uang yang sudah kukeluarkan untuk daftar member di sini yang harganya tidak murah untuk karyawan sekelasku.
Latihan gym kali ini terasa lebih berat dari biasanya. Karena, hampir semua otot tubuhku harus benar-benar dilatih agar bisa membentuk masa otot yang sempurna. Untungnya, Gio adalah tipe orang yang tidak banyak bicara dan dengan sabar mau membimbingku. Walaupun, jujur saja beberapa kali dia membuatku tidak nyaman, saat ada teman laki-lakinya datang dan menunjukkan sikap yang membuatku sedikit risi. Namun, aku juga tidak bisa menunjukkannya di depan Gio, karena khawatir dia akan tersinggung dengan sikapku. Maka, aku hanya bisa tersenyum kikuk, saat salah satu dari mereka juga menyapaku.
“Masih sanggup untuk datang latihan lusa?” tanya Gio setelah sesi latihan selesai.
Badanku basah semua, serasa mandi keringat. “Tentu saja harus sanggup. Ada mulut-mulut yang harus kubayar di luar sana dengan perubahan bentuk tubuhku ini,” jawabku mantap.
Gio menatapku bangga, dengan senyuman di bibirnya.