Satu – Dua – Tiga!
Huft, astaga ini berat. Aku sedang mencoba berolahraga ringan, melakukan sit up, yang bahkan tidak bisa mengangkat tubuhku dengan benar. Gerakanku lebih terlihat seperti seekor ulat, yang sedang berjalan alih-alih melakukan sit up. Ini ... tidak mudah. Astaga. Padahal, aku belum juga sampai ke hitungan lima, tapi napas rasanya sudah mau putus dan nyawa lepas dari badan. Ew, itu terdengar terlalu berlebihan.
Gagal melakukan sit up, aku tidak mau menyerah. Akhirnya, memilih gerakan yang lebih simple. Dengan kedua kaki terbuka lebar membentuk kuda-kuda, aku melakukan gerakan naik turun. Katanya, ini akan membantu mengecilkan paha dan mengencangkan otot perut. Aku hanya mengandalkan video senam dari aplikasi merah. Juga, beberapa video lainnya berasal dari group diet yang kuikuti sekarang. Setiap hari, aku selalu menyimak group itu. Selain mencari teman, juga sebagai lecutan semangat saat melihat banyak orang yang lebih besar dariku sudah sukses mencapai BB ideal impian mereka. Itu ... benar-benar menjadi motivasi tersendiri bagiku.
Hari pertama akhirnya bisa terlewati dengan baik. Walaupun jujur, hari kemarin tidaklah mudah untuk dilewati. Pun, begitu juga dengan hari ini. Sepertinya, akan sama beratnya atau mungkin lebih parah.
Sarapan kali ini aku memilih pepes ayam, telur dadar keju, pakcoy rebus, dan sedikit nasi. Semoga saja ini bisa membuatku kenyang, setidaknya sampai jam makan siang. Walaupun, itu terdengar mustahil. Karena, kemarin begitu sampai di kantor, aku sudah kembali merasa lapar. Entah bagaimana cacing di dalam perutku mencerna semua makanan itu. Kenapa, rasanya perut terasa cepat sekali lapar? Namun, setelah dipikir-pikir, sarapanku sekarang bahkan tidak ada setengahnya dari porsi biasa yang sering kumakan. Jika biasanya aku sarapan dengan dua bungkus nasi uduk, ditambah sekantung gorengan, jelas saja sarapanku kali ini begitu cepat dicerna dan membuat perut terus merasa lapar. Karena memang kuantitasnya yang masuk ke tubuh sangat jauh berbeda.
Benar saja, begitu sampai di kantor, rasa lapar kembali menyerang yang membuat aku harus kembali memakan sesuatu. Mengambil kotak bekal, lalu mengambil sebutir telur rebus untuk dijadikan pengganjal perut, dan aku tahu jika hasilnya akan sia-sia. Seharusnya, aku makan telur burung unta, agar rasa lapar ini benar-benar terganjal, alih-alih telur ayam yang besarnya bahkan tidak sampai sekepalan tangan dewasa. Sekali kunyah saja, sebutir telur itu sudah habis. Perut, ayolah berkompromi. Jangan terus menerus merasa lapar. Ingat, kita harus menyingkirkan, setidaknya setengah lemak yang sekarang bersarang di situ, ok. Ini semua demi kebaikan bersama. Bukankah tidak mudah, selama ini harus hidup dalam cacian dan hinaan orang-orang sekitar? Teruslah ingat itu dan tetap bersemangat melalui semuanya. Walaupun itu tidak mudah dan juga terasa berat.
“Kasian banget, yang habis diputusin pacarnya, hidupnya jadi gak b*******h gitu,” ujar Gisel yang entah sejak kapan sudah berdiri sambil bersandar di meja kerjaku.
Aku melirik sekilas, lalu mencebik. Apa dia tidak mau mengatakan hal itu? Padahal, jelas-jelas aku yang mencampakkan laki-laki playboy sialan itu karena ketahuan berselingkuh dengan jalang murahan sepertinya.
“Harusnya dari dulu Farhan tuh ninggalin kamu. Cowok keren kayak dia gak cocok kalau harus bersanding sama cewek yang ... ups! Gisel langsung menutup mulutnya saat aku meliriknya dengan tatapan tajam. Sungguh, aku malas harus meladeni obrolan tidak bermutu seperti ini. Walaupun, aku mungkin dipandang sebagai perempuan cupu yang gendut dan tidak menarik, tapi aku cukup cerdas untuk memusingkan hal-hal seperti itu. Selain malas ribut, meladeni Gisel juga hanya akan membuang waktu. Lebih baik segera menyelesaikan semua pekerjaan di layar komputer agar bisa segera keluar untuk mencari udara segar.
“Kenapa diam saja, La? Oh, pasti iri, ya sama aku karena Farhan lebih milih aku ketimbang kamu?”
Astaga, kenapa Gisel terus mengoceh dari tadi? Apa dia memang sangat butuh pengakuan dariku untuk hubungan mereka?
“Apa kamu sudah selesai bicara?” tanyaku pada Gisel dengan tatapan kesal. Obrolan tidak bermutunya itu benar-benar mengganggu konsentrasiku.
“Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak peduli tentang bagaimana hubungan kalian sekarang. Jadi, berhenti muncul di depanku hanya untuk membicarakan hal itu. Terserah apa yang dilakukan Farhan aku tidak peduli. Dan yang paling penting, suruh dia untuk melunasi seluruh hutangnya padaku. Itu pun, jika dia benar-benar laki-laki yang ucapannya bisa dipegang,” ujarku dengan tegas. Aku serius saat mengatakan agar Farhan mengembalikan semua uangku yang dulu pernah dipinjamnya. Semua itu hanya yang dipinjam, tidak termasuk dengan seratus, dua ratus ribu dan tidak ada akan jelasnya.
“Sebaiknya kamu katakan itu padanya, ya. Hutangnya jangan lupa. Aku hanya membutuhkan uangku kembali alih-alih menangisi hubungan yang memang seharusnya kuakhiri sejak dulu. Oh, ya, kamu bilang Farhan keren? Kurasa, kamu kelebihan satu huruf untuk mendeskripsikan laki-laki itu,” ujarku lagi.
Gisel tampak mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang berubah merah menahan marah. Bukan salahku, dia yang lebih dulu mengusik macam yang sedang tidur. Selama ini aku menang diam, tapi itu dulu. Sekarang, aku tidak akan membiarkan orang-orang terus merendahkanku hanya karena penampilan dan bobot tubuh. Lihat saja, akan kubuktikan pada kalian, jika aku juga bisa hidup lebih baik dan dipandang dengan tatapan memuja suatu saat nanti.
“Eh, La, ngapain nenek lampir nyamperin kamu?”tanya Dodi yang ternyata melihat kejadian barusan. Aku mengangkat ke dua bahu sebagai jawaban.
“Oh, ya, ngomong-ngomong kenapa kamu bisa putus dari Farhan?” tanya Dodi dengan raut penasaran. Aku memang belum menceritakan kenapa aku memutuskan laki-laki playboy itu pada siapa pun.
“Ya, gara-gara dia,” jawabku sambil mengangkat bahu ke arah Gisel. Perempuan itu berada tidak jauh dari mejaku. Dari raut wajahnya, sepertinya Gisel masih kesal karena apa yang terjadi barusan.
“Kok, bisa gara-gara dia?” tanya Dodi pada dirinya sendiri. Namun, kemudian kedua matanya melotot tajam, sambil tangan kanannya dia gunakan untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar.
“Apa ...? Ah, gak mungkin,” ujar Dodi yang heboh sendiri. Padahal, aku masih belum mengatakan apa pun. Aku hanya mengangguk, mengiyakan spekulasinya yang sepertinya memang sudah bisa menebak apa yang terjadi. Karena Dodi sebenarnya memang sepeka itu.
“Bukannya kamu liat sendiri kemarin mereka suap-suapan di kantin?” tanyaku pada Dodi.
Dia mengangguk, dengan tangan kanan ditaruh di dagu. “Jadi, si Farhan beneran selingkuh?” tanya Dodi lagi memastikan.
Aku mengangguk mantap. “Aku tahunya pas lagi di hotel, acara kantor di Jakarta itu,” ujarku dan bayangan saat mereka sedang b******u kembali melintas di pikiran. Aku bergidik jijik mengingatnya.
“Apa gara-gara itu juga kamu gak balik ke kamar?” tanya Dodi lagi.
Aduh, kenapa harus pertanyaan itu. Aku tidak mungkin menceritakan tentang insiden memalukan sekaligus menyebalkan itu. Kalau cerita itu tersebar, bisa jadi bulan-bulanan semua teman kantor.
“Sebenarnya, setelah lihat Farhan selingkuh sama Gisel, aku minum alkohol, terus mabuk. Dan tau-tau pas bangun gak di kamar,” ujarku sambil nyengir kuda. Dodi hanya manggut-manggut saja.
Pekerjaan hari ini ternyata banyak sekali. Ditambah harus naik turun tangga dikarenakan lift yang sedang dalam perbaikan. Saat kembali naik ke kantor, setelah menfoto copy dokumen di lobi, baru saja naik tangga beberapa langkah, badan rasanya seperti tidak menapak ke tanah. Kepala juga mulai kleyengan. Tidak, aku tidak boleh pingsan di sini. Kalau sampai aku jatuh, dan menggelinding ke bawah, bisa-bisa nyawaku melayang. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku belum menikah, dan belum berhasil kurus juga. Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, tangan kiri berusaha mencengkeram pegangan tangga sekuat tenaga. Saat sampai di undakan anak tangga terakhir, badanku limbung dan set.
Seseorang mendorong tubuhku yang hampir jatuh ke lantai. Kesadaranku yang tadinya akan hilang, terasa mengumpul begitu saja.
“Kalau jalan hati-hati. Gak lucu, kan kalau kamu jatuh terus badannya nimpa saya.”
Deg!
Suara itu. Apa aku berhalusinasi?
“Heh, kamu tidak tidur sambil berdiri, kan?” tanyanya lagi.
Benar, itu suara orang yang paling kubenci sejak beberapa saat lalu. Namun, kenapa dia bisa ada di sini? Ok, maksudku ini juga perusahaan miliknya, tapi kenapa tiba-tiba dia ada di sini? Padahal, di agenda tidak ada jadwal kunjungannya ke sini.
“Maaf, Pak. Lift masih dalam perbaikan. Akan saya usahakan selesai secepatnya,” ujar suara yang lain. Yang kuyakini itu adalah suara pak Robert, atasanku.
“Hey, Lula. Kenapa diam saja di situ? Cepat bawa berkasnya ke dalam,” ujar pak Robert menginterupsi.
Aku menoleh, lalu tersenyum kikuk pada pak Robert. Mataku membelalak saat mendapati Andrea, si CEO songong dan tukang bully itu berdiri di sana. Coba lihat wajahnya, begitu angkuh dan jutek. Dia bahkan membuang pandangan dan tidak sudi menatapku. Cih, aku pun tidak sudi bertatapan dengannya.
“Kalau begitu saya permisi, Pak,” ujarku pada pak Robert, lalu membungkukkan badan ke pada mereka berdua.
Aku merutuk dalam hati sambil terus melangkah ke kantor. Bisa-bisanya aku hampir pingsan di depan laki-laki menyebalkan itu. Dan dengan tidak punya hatinya, dia mendorong tubuhku begitu saja tanpa berniat menolong. Aku semakin yakin, jika dia memang tidak punya hati sama sekali. Bisa-bisanya orang dengan kepribadian seperti dia menjadi seorang CEO yang memimpin perusahaan sebesar ini?Atau jangan-jangan dia melakukan sandiwara dan bersikap manis di depan orang tuanya dan mereka tidak tahu sifat asli anaknya? Entahlah, kenapa pula aku harus sibuk memikirkan hal itu? Bodo amat, itu bukan urusanku.
Andrea datang ke sini ternyata untuk inspeksi mendadak. Untung saja, performa kantor cabang di sini selalu bagus. Jadi, kami tidak mendapat teguran atau semacamnya. Namun, ekspresi Andrea saat mengakhiri inspeksi sungguh membuat jengkel. Tidak ada kalimat pujian atau semacamnya yang terlontar dari mulutnya. Yang ada, hanya ekspresi dingin dan jutek yang membuat mata sepat.
“Pak Andrea cool banget, ya. Dingin-dingin bikin meleleh,” ujar salah satu teman perempuan. Aku yanga mendengarnya hanya menggerling malas. Bikin meleleh apanya. Yang ada bikin gondok iya. Andrea itu tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.
“Walaupun mukanya galak tapi bikin penasaran gak, sih? Tipe cewek idamannya kayak gimana, ya?” Yang lainnya menimpali.
“Yang jelas bukan kayak Lula,” celetuk seseorang.
Aku yang sejak tadi diam tetap saja kena. Memang badanku paling enak untuk dijadikan bahan bully dan candaan. Enggan sakit hati terlalu banyak, akhirnya aku memilih untuk pergi dari sana. Biarlah mereka memuja-muja laki-laki yang bahkan suka membully itu. Tapi, jika dipikir-pikir mereka sama saja. Tidak ada yang peka terhadap perasaan orang lain.