Memulai bukanlah tindakan yang terlalu sulit. Yang lebih sulit adalah, tetap konsisten setelah memulai sesuatu dalam hidupmu. Ya, hari ini, aku akan memulai sesuatu yang krusial dalam hidup. Di mana, aku mengambil keputusan untuk mengubah sesuatu yang sangat sulit untuk kuhadapi selama ini. Tentu saja ini tidak mudah, tapi aku akan berusaha tetap konsisten dalam menjalaninya sampai mencapai target. Semoga saja semua berjalan lancar, dan berhasil. Bukan hanya keinginan atau angan-angan belaka tanpa sebuah realisasi yang jelas.
Beberapa butir telur rebus, sayuran, dua potong tahu, buah dan sedikit nasi sudah siap di dalam wadah bekal. Aku memang belum bisa benar-benar lepas dari nasi. Makanya, aku masih mengonsumsinya walau hanya tiga sendok makan. Sedangkan untuk sarapan, cukup dengan dua butir telur dadar, dua buah telur dadar yang diberi parutan keju, dan sebungkus kerupuk kulit. Namun, sial perut ini belum juga merasa kenyang. Apa lagi yang harus kumakan? Padahal, porsi sarapanku sudah seperti seorang kali bangunan yang tidak makan tiga hari. Huft, ternyata memulai diet tidak segampang yang ada dalam pikiran. Kendati begitu, aku tetap tidak boleh menyerah. Ingat Lula, bagaimana cara orang-orang memandangmu selama ini. Ini adalah waktu yang tepat untuk berubah, makanya stop mengeluh dan jalani saja dengan hati yang lapang. Walaupun, tetap saja rasa lapar di perut tidak bisa dibohongi oleh sejuta kalimat penyemangat. Karena, yang dibutuhkannya saat ini hanyalah makan.
Tidak mau terganggu oleh rasa lapar selama bekerja, akhirnya aku memutuskan membawa sewadah telur puyuh rebus, dan dua bungkus kerupuk kulit. Hanya makanan itu yang boleh dinikmati di semua jam. Sebenarnya keju juga bebas, tapi aku tidak terlalu suka memakan keju secara langsung begitu saja. Harus ada makanan lain yang menjadi menu utama. Makanya, aku lebih memilih mengemil telur atau kerupuk kulit. Kenapa makanan diet selalu terasa tidak enak? Lihat saja, tekstur kerupuk ini cukup membingungkan menurutku. Dia keras, tapi jika sudah masuk kulkas jadi melted. Ah, entahlah. Memikirkan makanan-makanan itu hanya membuatku merasa lapar saja.
“Lula, cus kantin, yuk,” ajak Dodi yang entah muncul dari mana.
Aku menghela napas pendek, lalu menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. “Enggak, deh. Aku bawa bekel,” jawabku masih serius dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya ini.
Dodi menatapku dengan sebelah alis yang terangkat. Ekspresinya seakan menunjukkan ketidak percayaan atas jawabanku barusan.
“Tumben kamu bawa bekel? Kayaknya, selama kerja bareng sama kamu selama beberapa tahun ini, gak pernah aku lihat kamu bawa bekel dari rumah,” ujar Dodi berbicara seolah yang paling tahu tentang aku. Namun, yang diucapkannya memang benar. Prinsipku dulu, selagi ibu kantin buka, dan gofood ada di mana-mana, kenapa aku harus repot memasak saat merasa lapar dan ingin makan? Saat ada yang mudah, kenapa harus repot mencari cara yang sulit. Makanya, Dodi mungkin merasa jika aku kesambet setelah mendengar jawabanku tadi.
Aku mengalihkan pandangan dari layar komputer dan menatap mata Dodi dengan intens. “Kenapa? Aku gak boleh bawa bekel? Gak boleh mengubah kebiasaan gitu?” tanyaku dengan sedikit penekanan di setiap pertanyaan.
Dodi hanya nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang kurasa tidak gatal. “Ya, boleh aja. Cuma kan gak biasanya,” ujarnya lagi.
Aku mendengkus pelan. “Udah, ah. Sana makan sendiri ke kantin, aku masih harus menyelesaikan satu dokumen lagi,” ujarku sambil mendorong tubuh Dodi agar segera pergi dari sini.
Setelah selesai dengan komputer, kini aku membuka kotak bekal yang isinya sedikit berubah itu. Karena takut tidak kentang, aku menambahkan sepotong paha ayam goreng di sana, sesaat sebelum berangkat ke kantor tadi. Ini benar-benar menu diet yang tidak manusiawi. Mana ada orang diet tapi malah makan seabrek seperti ini. Beberapa orang yang lalu lalang kulihat melirik ke arahku sekilas, tapi aku tidak peduli. Toh, selama ini kehadiranku juga tidak pernah dianggap benar-benar ada. Mereka menganggapku nyata hanya saat meminta bantuan untuk memfoto copy, titip membeli kopi atau makanan, dan di tanggal gajian saat mereka kompak meminta traktir ke padaku. Selain waktu-waktu itu, aku hanya seonggok besar daging, yang kehadirannya tak pernah benar-benar ada dan nyata. Namun, bodo amat, terserah dengan mereka. Selama tidak mengganggu pekerjaan, aku akan bersikap tidak peduli.
Baru saja hendak memasukkan sebutir telur rebus ke dalam mulut, Dodi datang dengan berlarian ke arahku. Wajahnya panik, dan juga khawatir. Sebelah alisku terangkat melihat tingkahnya yang aneh itu. Dia kenapa?
“Lula, Lula, Lula,” panggilnya dengan napas terengah. Dia menghentikan langkah tepat di depan mejaku dengan deru napas yang tidak beraturan.
“Lula ... i-itu, di kantin ...,” ucap Dodi terbata.
“Tarik napas dulu, hembuskan. Nah, iya bagus kayak gitu.” Dodi menuruti perintahku menarik dan membuang napas secara teratur. Setelah merasa lebih baik, Dodi kembali meneruskan ucapannya.
“Tapi janji jangan kaget, ya,” ujar Dodi lagi. Aku mengangguk.
“Si Farhan, lagi suap-suapan sama Gisel di kantin. Mereka keliatan mesra banget, Cyin. Ih, gak tahu malu mereka itu. Ayo, sekarang kita labrak mereka. Tega-teganya Farhan nyakitin sahabat aku yang cantik ini,” ujar Dodi dengan gaya khasnya yang kemayu. Namun, bisa kulihat bagaimana dia benar-benar peduli dan mengkhawatirkan kondisiku.
Aku tersenyum. “Udah gak usah. Aku sudah putus dengan Farhan kemarin,” jawabku.
Mata Dodi melotot mendengar kalimat yang keluar dari mulutku barusan. “Serius?”
Aku mengangguk mantap.
“Syukurlah, La. Kenapa gak dari dulu saja? Dia memang bukan laki-laki yang pantas buat kamu,” ujarnya dengan tatapan lega. Selama ini, Dodi memang tidak setuju melihatku menjadi ATM berjalan bagi Farhan. Namun, saat dia menasihati, aku akan pura-pura tidak mendengar dan masa bodo. Namun, sekarang, aku sudah tahu sifat asli Farhan seperti apa. Jadi, tidak ada alasan untuk bertahan dengannya lebih lama lagi.
Semua pekerjaan kantor sudah selesai. Kini, waktunya pulang. Badan rasanya sakit semua karena seharian harus duduk di depan komputer tanpa punya kesempatan untuk beranjak dari sana. Kecuali, pergi ke kamar mandi, itu pun tidak lama, hanya beberapa saat saja. Semua itu karena pekerjaan di kantor dengan banyak-banyaknya, nasib baik tidak ada lemburan. Jadi, di kosan aku bisa beristirahat dengan tenang. Saat keluar dari gedung dengan banyak lantai itu, yang menjadi godaan pertama adalah, kedai es boba yang selalu ramai pengunjung itu. Membayangkan menyeruputnya, membuatku hanya bisa menelan ludah. Berusaha sadar dan tidak tergoda, aku menepuk-nepuk pipi dan menyadarkan diri. Jangan sampai usaha menahan lapar dari tidak siang harus sia-sia hanya karena secup es boba. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dengan langkah kaki yang lebih panjang dari biasanya, aku bergegas meninggalkan tempat itu dan mencari angkot untuk pulang ke kosan. Setidaknya, itu lebih baik sekarang. Tidak ada pilihan lain lagi.
Badan terasa lebih segar setelah selesai mandi dan kini sedang merebahkan tubuh di atas kasur. Bunyi perut yang kelaparan menemani kesunyian hidupku yang tanpa camilan dan minuman manis ini. Rasanya, sedikit hambar dan tidak bersemangat. Maka, cara untuk mengembalikan semangat itu adalah dengan cara melihat foto Andrea yang menempel di dinding. Aku tidak akan menyerah sampai laki-laki itu melihat bagaimana perempuan yang dia hina dan rendahkan bisa berubah dadi seekor angsa buruk rupa, menjadi putri yang cantik tiada tara.
“Tunggu saja Andrea, aku tidak akan menyerah dan kamu akan melihat hasilnya seperti apa. Awas saja kalau nantinya kamu bertekuk lutut di hadapanku. Saat waktu itu tiba, aku yang akan mencampakkanmu dengan cara paling menyakitkan. Lebih kejam dari apa yang kamu lakukan padaku dulu.”
Setelah mengatakan itu aku pun tertawa. Bisa-bisanya aku berbicara sendiri layaknya orang gila. Atau, aku memang sudah benar-benar gila sekarang? Entahlah, yang pasti adalah, rasa lapar ini cukup menyiksa. Beranjak dari rebahan dengan susah payah, membuka kulkas, lalu mengambil beberapa buah tomat dari sana. Tomat menjadi camilan bebas yang bisa dinikmati kapan saja di diet yang sedang kujalani. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka tomat, tapi lumayanlah, untuk mengganjal rasa lapar yang sejujurnya tidak terlalu berhasil ini. Akhirnya, aku meneguk sebotol air putih yang kendati membuat kenyang, justru hanya membuat kembung. Sungguh, hari pertama diet ini terasa begitu berat. Ya Tuhan, apa aku akan sanggup menjalaninya? Sedangkan baru sehari saja rasanya sudah begitu menyiksa.