Bungkus snack dan wadah sterofom bekas makanan seperti ayam geprek, mie ayam, dan masih beberapa camilan berat lainnya berserakan di lantai. Kupikir, putus dari Farhan akan membuatku baik-baik saja. Ternyata salah, aku tidak berbeda layaknya seorang ABG yang merasa galau dan terpaksa kulampiaskan pada berbagai jenis makanan kesukaan yang sebenarnya aku sudah berniat untuk menjauhi mereka. Ya, niat diet yang awalnya menggebu-gebu, seakan menguap entah ke mana gara-gara suasana hati yang sedih dan merana. Namun, jika mengingat tatapan CEO sombong dan Gisel tempo hari, benar-benar membuat hatiku tersinggung dan tersayat. Mau tidak mau, mungkin memang sudah waktunya aku mengubah pola hidup. Jika dipikir-pikir kembali, beraktivitas dengan badan besar seperti ini membuatku merasa cepat lelah, susah membeli baju, dan yang paling sering membuat sakit hati adalah saat orang-orang menjadikan bobot tubuhku sebagai bahan bercandaan mereka. Itu sungguh membuat jengkel.
Bangkit dari posisi tidur dengan sedikit kepayahan, tangan meraih ponsel yang sedang diisi daya. Melihat pantulan wajah di layar ponsel, terlihat double chin dan pipi tembam yang begitu kentara. Wajahku sebenarnya tidak begitu buruk, hanya saja karena kelebihan berat badan jadi membuatnya terlihat begitu penuh. Setelah menatap bungkus makanan yang berserakan, aku menghela napas panjang. Lalu, tangan mulai menscroll layar ponsel, yang mana benda kecil itu serasa begitu sesak saat kedua jempolku yang begitu besar menari-nari di atasnya.
Aku membuka sebuah aplikasi media sosial berwarna biru, mencari-cari beberapa group diet sebagai referensi. Selama ini, aku memang sering menyimak group-group diet semacam itu. Namun, hanya menyimak tanpa ingin memulai. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, aku memutuskan untuk mengikuti salah satu diet rendah karbo, di mana tidak boleh mengonsumi segala macam jenis karbohidrat, baik itu nasi, atau umbi-umbian, gula, dan juga olahan tepung. Yang bisa dikonsumsi hanya jenis protein hewani, protein nabati pun dalam jumlah terbatas, sayuran, dan juga buah. Cukup berat memang. Aku tidak akan bisa lagi jajan ayam goreng tepung favoritku, atau makan mie ayam mang Gundul yang rasanya sangat enak itu. Namun, setidaknya aku harus mencoba. Karena, sudah banyak orang yang sukses menjalani diet ini. Lalu, kenapa aku tidak memilih mencari mentor yang benar-benar ahli di bidang ini? Itu merepotkan, dan pastinya juga tidak murah. Aku belum sekaya itu, gajiku sebagai karyawan rendahan tidak akan cukup untuk membayar mentor setiap bulannya. Semoga saja, lewat diet ini berat tubuhku benar-benar bisa turun. Mengepalkan tangan ke atas, aku menyemangati diri sendiri. Program dietku kali ini harus berhasil, dan aku tidak boleh memberi tahu mama atau pun papa tentang ini. Mereka pasti akan langsung melarang. Padahal, di usiaku yang sudah tidak muda ini, seharusnya mereka tidak lagi mengatur ini itu tentang hidupku. Mereka juga seharusnya mendukungku untuk melakukan diet. Jujur saja, aku takut jika tidak ada yang mau melirik dan menjadikanku seorang istri, hanya karena bobot tubuhku yang berlebihan ini. Bukannya aku tidak percaya jodoh yang sudah siapkan Tuhan, hanya saja bukankah kebanyakan laki-laki dan ibu mertua jaman sekarang juga mementingkan penampilan calon istri dan menantu mereka? Maka, sudah sepatutnya aku juga menyiapkan diri untuk hal itu. Walaupun, untuk menikah, aku masih belum memikirkannya untuk waktu sekarang. Mengejar karier masih yang terpenting bagiku. Dan kurasa, saat performa kerjaku bagus, ditambah penampilan yang lebih fresh, mungkin akan lebih memungkinkanku untuk naik jabatan. Jujur saja, aku punya satu impian, di mana, aku bisa bekerja di kantor pusat, dengan posisi yang lebih baik dan menguntungkan. Itu salah satu keinginanku sejak lama. Selain sebagai tantangan untuk diri sendiri, juga untuk membuktikan kepada orang lain bahwa aku bisa lebih sukses dari mereka. Mengingat saat mereka memperlakukanku seenaknya, saat menyuruh memfoto copy, membuatkan minum, atau memalak traktiran saat aku gajian, sungguh membuat jengkel tapi juga memberi semangat persaingan yang lebih. Aku tidak bisa melawan, tapi diam terlalu lama juga hanya menyiksa diri sendiri untuk waktu yang lama.
Malam ini, aku masih makan nasi dengan gorengan, tumis kangkung, ayam goreng tepung, dan beberapa makanan pendampingan lainnya seperti perkedel dan kerupuk. Bisa dibilang, ini adalah balas dendam terakhir sebagai ucapan perpisahan pada semua makanan itu. Karena besok, aku akan benar-benar memulai diet dengan serius. Tidak akan ada yang mengalahkanku kali ini. Entah itu ayam geprek atau bakso, mereka tidak boleh menghambat program dietku kali ini. Mulai sekarang, aku mendeklarasikan diri jika akan bermusuhan dengan semua jenis makanan itu. Ya, aku sungguh-sungguh dengan ucapanku sekarang.
Langkah pertama yang harus kulakukan untuk memulai program diet yang akan menjadi perjalanan panjang ini adalah, motivasi yang kuat dan niat yang tidak tergoyahkan. Maka, aku baru saja kembali dari tempat foto copy setelah mencetak foto Andrea, CEO Angkasa Buana yang sombong itu. Kenapa dia? Karena pandangan matanya kala itu masih tidak bisa aku lupakan sampai sekarang. Hinaan dan ejekannya akan menjadi cambuk untuk menyelesaikan diet hingga mencapai berat badan ideal. Tentu saja, fotonya tidak aku pajang begitu saja. Namun, sebelumnya, sudah kutambahkan dua tanduk di kepalanya dengan spidol warna merah. Itu sangat cocok dengan penampilan dan ekspresinya. Aku menatap fotonya dengan kedua tangan terkepal di depan wajah saking benci dan gemasnya pada laki-laki itu. Andrea, lihat saja kalau aku sudah berhasil kurus. Akan kupastikan kita bertemu lagi dan kamu akan takluk di hadapanku.
Langkah kedua, aku harus menjauhkan semua minuman berkarbonasi yang selama ini menjadi favoritku. Astaga, semua minuman ini begitu berharga bagiku. Mereka yang menemani saat aku stress dan juga lelah selepas bekerja. Maafkan aku kawan, kalian harus keluar dari kulkas dan menemui tuan baru kalian. Bak pada anak sendiri, botol-botol kaleng itu kuciumi dan kupeluk sebelum dimasukkan ke dalam plastik yang setelahnya akan kubagikan pada remaja tanggung yang suka nongkrong di depan sana. Beberapa keripik dan camilan lainnya juga kumusnahkan sekalian. Dietku kali ini tidak boleh setengah-setengah, harus totalitas. Demi membuang 65 kilo gram, dan kurasa itu tidak akan mudah. Jika mengingat angka itu, aku merasa capek duluan. Apakah mungkin aku menghilangkan berat badan sebanyak itu. Aku hanya bisa membuang napas panjang.
Setelah kembali bergelut dengan perasaan sendiri, akhirnya aku keluar dengan membawa kantung plastik berisi minuman berkarbonasi dan camilan yang dari tadi sudah kurapikan itu. Berjalan di atas cahaya bulan purnama, aku menuju tempat di mana anak-anak remaja itu biasa menghabiskan malam. Mereka biasanya bermain gitar sambil bernyanyi dengan suara yang sebenarnya sering membuat telinga sakit, atau bermain game online di mana teriakan-teriakan mereka menggunakan bahasa kasar juga kerap mengganggu. Namun, sekarang mereka tidak separah dulu. Makanya, aku mau berbaik hati memberi mereka camilan seperti sekarang.
Saat tiba di tempat itu, aku melihat ada sekitar lima orang anak yang semuanya laki-laki, mungkin umur mereka sekitar 13 sampai 17 tahunan. Mereka sedang tertawa-tawa sambil bercerita entah apa. Ketika aku berjalan ke arahnya, mereka menghentikan pembicaraan dan mulai menatapku dengan saling berbisik-bisik. Salah satu hal yang sangat sering aku alami. Mereka memandang, seakan-akan baru melihat orang sepertiku untuk pertama kali. Atau, mereka pikir aku ini mamooth yang selamat dari jaman purba kala, atau seekor paus biru yang naik dan hidup di darat? Entahlah, aku hanya bisa menghela napas.
“Kalian mau camilan gak?” tawarku setelah berada tepat di hadapan mereka.
Mereka diam, kemudian saling menatap. Mungkin, mereka berpikir jika aku akan berbuat jahat atau semacamnya. “Kebetulan saya habis belanja banyak, dan sepertinya tidak akan kemakan semua. Kalau kalian mau saya taruh di sini, ya,” ujarku, tapi mereka masih diam dan mulai saling berbisik.
Aku memutar bola mata malas, lalu kembali mengambil plastik yang sudah kuletakkan di hadapan mereka. “Ya, sudah kalau tidak mau. Biar saya kasih ke tukang sampah saja besok,” ujarku dengan sedikit ngegas.
Satu anak yang paling besar di antara mereka, langsung menyambar kantung plastik di tanganku. “Kita mau, kok, Teh. Makasih, ya,” ujarnya.
Aku menghela napas. Dasar anak-anak, kalau memang mau kenapa seperti jual mahal dari tadi. Padahal, tinggal bilang mau dari tadi, apa susahnya. Apa mereka tidak memikirkan kakiku yang sudah pegal karena berdiri sejak tadi?
“Sama-sama. Jangan terlalu berisik, ya. Saya mau istirahat,” ujarku.
Mereka mengangguk hampir bersamaan. “Siap, Teh,” jawab mereka kompak. Aku tersenyum sekilas, lalu berjalan kembali ke kosan.
Isi kulkas sudah kukeluarkan semuanya. Kini, saatnya mengisinya lagi dengan bahan makanan yang selama ini tidak pernah aku beli. Aku memang lebih suka membeli makanan jadi ketimbang memasak sendiri. Padahal, di kosan ini, ada dapur lengkap dengan peralatan masaknya. Hanya saja, aku terkadang malas, dan kadang hanya masak nasi saja. Pun, itu bisa dihitung jari. Namun, mulai sekarang, aku harus terbiasa menyiapkan menu sarapan, bekal untuk makan siang, juga makanan untuk malam hari. Maka, aku sudah membeli telur. Si protein dan bahan mentah yang sangat mudah untuk diolah. Entah itu direbus, diceplok, atau didadar, telur tetap enak untuk dinikmati. Beberapa sayuran seperti pakcoy, sawi putih, kacang panjang, wortel, buncis, dan juga kol sudah tertata tapi di dalam kulkas. Beberapa potong ayam juga sudah kumasukkan ke dalam freezer. Begitu pun dengan buah-buahan, setelah mencucinya aku juga memasukkannya ke dalam kulkas. Aku berdecak takjub melihat pemandangan baru ini. Aku langsung merasa hidup sehat, hanya dengan melihat jajaran buah dan sayur di dalam kulkas itu. Huft, semoga saja dietku besok berjalan dengan lancar. Walaupun aku sadar, jika itu semua tidak akan mudah.
Merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit adalah kebiasaanku selama ini. Setelah membereskan isi kulkas yang sukses membuat pinggang dan kakiku serasa mau patah. Berjongkok dalam waktu yang cukup lama ternyata membuat tulang kakiku lumayan ngilu. Huft, aku benar-benar membutuhkan olahraga sepertinya.
Aku mengubah posisi tidur menjadi miring ke kanan. Di mana, di sana terdapat meja kerja yang biasanya aku gunakan untuk lembur, mengerjakan pekerjaan kantor. Di dindingnya, terdapat beberapa memo yang berisi deadline atau tulisan-tulisan motivasi untuk diri sendiri. Sekarang, di sana juga ada foto CEO songong itu. Di mana, dialah yang akan menjadi semangat dan motivasiku untuk menjalankan program diet mulai besok. Kamu akan lihat, bagaimana perubahan perempuan gendut saat menjadi kurus. Pesonanya tidak akan bisa dikalahkan oleh apa pun. Percayalah padaku, karena aku sudah melihat sendiri bagaimana anggota group diet itu berubah begitu drastis dan mengagumkan. Aku yakin, bahkan Farhan pun akan menyesal karena sudah meninggalkanku.