Suasana hotel masih sepi saat aku keluar dari kamar CEO sombong itu. Nasib baik, jadi tidak ada yang melihatku keluar dari sana. Bisa heboh semua karyawan PT. Buana Angkasa jika melihat seorang perempuan gendut keluar dari kamar CEO tampan yang mereka idam-idamkan. Mereka pasti akan kecewa berat, karena alih-alih melihat gadis cantik dan seksi, tapi yang keluar justru gadis dengan badan mirip gajah bengkak ini. Menjijikan, seperti itulah tatapan yang bisa didefinisikan dari Andrea sialan itu. Cih, perempuan seperti aku? Bukan seleranya? Apa maksudnya? Memangnya aku kenapa? Dasar menyebalkan. Berani-beraninya dia menghina fisikku dan merendahkanku seperti itu. Percuma berwajah tampan dan menjabat sebagai CEO tapi berjiwa tukang bully dan suka merendahkan bawahan. Jangan sampai aku bekerja di bawah perintahnya langsung. Amit-amit, bisa mati muda jika harus berhadapan dengan bos seperti dia. Sepertinya, orang-orang yang bekerja dengan dia pun tidak akan betah lama. Siapa yang akan kuat saat punya atasan congkak dan sok seperti dia. Ish, pagiku harus hancur gara-gara dia.
“Ya Tuhan, Lula. Kamu dari mana aja, semalam dicariin gak ada. Kamu tidur di mana?” tanya Dodi bertanya dengan sangat heboh.
Aku berjalan dengan tidak semangat ke arahnya. “Diculik jin,” jawabku singkat dan kesal.
Dodi membelalakkan matanya, begitu juga dengan beberapa orang yang mendengar percakapan kami. Sedangkan, Gisel hanya menggerling tidak peduli. Masa bodo, aku tidak peduli dengan tanggapan mereka.
Kabar Lula diculik jin langsung menyebar ke seluruh karyawan kantor, khususnya dari cabang Bandung. Beberapa orang terus saja saling berbisik saat aku melewati mereka.
“Si Lula beneran diculik jin?”
“Alah, palingan bohong dia. Jin gak akan kuat buat bawa dianya juga.”
“Aneh-aneh aja emang si Lula. Palingan dia ketiduran di tempat pesta karena kebanyakan makan. Kalau pun ngelayap sama cowok ya gak mungkin. Mana ada cowok yang mau sama cewek modelan kayak gitu.”
Dan banyak lagi obrolan-obrolan lainnya yang membuat sakit kuping. Mereka terus membicarakanku seakan aku tidak ada di sana. Dan itu, memang sudah sangat biasa terjadi. Mereka tidak pernah memikirkan perasaanku sama sekali. Walaupun di luar aku terlihat diam dan tidak masalah, tapi di dalam sini, ada segenggam darah yang merasa seperti teremas dan sangat sakit setiap mendengar kata-kata jahat dari mulut orang-orang itu. Tidak mau semakin kesal, aku memilih menarik jaket untuk menutupi tubuh, lalu berusaha memejamkan mata. Farhan dari semalam juga belum kelihatan, padahal aku sudah sangat memaki-maki dan memutuskan hubungan dengannya. Berani-beraninya dia selingkuh dan bahkan mengataiku yang tidak-tidak degan pacarnya itu. Apa dia tidak malu, padahal hampir separuh kebutuhan hidupnya aku yang menanggungnya selama ini. Dasar benalu, aku pasti akan membuat pelajaran pada laki-laki kere itu.
Bus yang aku tumpangi akhirnya sampai di Bandung. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, dan kesadaran yang masih setengah terkumpul, aku bangkit dari duduk lalu berjalan gontai keluar dari bus. Tidak peduli dengan tatapan anak-anak lain yang masih memandang dengan tatapan aneh, aku tetap meneruskan langkah.
Rasanya, ingin segera berbaring di atas tempat tidur. Jujur saja, kepala rasanya masih pusing akibat efek alkohol semalam. Sebenarnya, jika ada bakso berkuah asam pedas di depan mata, rasanya akan bisa mengobati rasa pengar ini. Namun, selera makanku menguap begitu saja jika mengingat bagaimana tatapan CEO sombong itu padaku tadi pagi. Dia seperti sedang menatap seekor babi yang baru saja keluar dari lumpur. Bau, dan menjijikkan. Argh, sungguh laki-laki yang menyebalkan.
Tidak ingin mengulang kejadian menyakitkan dengan driver ojol beberapa saat aku, akhirnya aku lebih memilih memesan mobil dari pada motor. Ditambah, rasa kantuk memang masih cukup menyiksa. Untungnya, tidak harus menunggu terlalu lama mobil pesananku sudah datang. Setelah masuk ke dalam mobil, dan memastikan semua barang bawaan juga sudah berada di dalam aku hendak kembali memejamkan mata. Namun, sekilas aku melihat Farhan dan Gisel jalan bergandengan sangat mesra. Rupanya, mereka sudah berani menunjukkannya di depan umum. Masa bodo, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengurusi mereka. Biar saja kuberi Farhan pelajaran besok. Aku pun harus menghitung semua hutangnya dulu. Dia harus membayar semuanya, ditambah denda karena telah berselingkuh, dan juga menghina fisikku dengan kejam. Tunggu saja pembalasan dariku. Tidak akan kubiarkan laki-laki buaya dengan mulut manisnya itu bisa lepas begitu saja.
Kegiatan kantor sudah berjalan lagi dengan normal. Katakanlah, acara kemarin memang menjadi salah satu liburan kantor terbaik yang pernah ada. Namun, betapa jahatnya mereka saat menyuruh karyawan untuk langsung masuk di hari berikutnya. Kami bahkan hanya diberi waktu istirahat setengah hari. Semua itu tentu saja atas instruksi dari CEO baru itu. Sungguh, dia memang manusia yang paling tidak memiliki hati. Aku yakin, dia seperti ini karena tidak mau rugi atas apa yang telah dikeluarkan oleh perusahaan kemarin. Cih, dasar CEO licik. Aku jelas sangat tahu tipe orang seperti apa jika didengar dari kata-katanya yang kasar dan tidak sopan itu. Bisa-bisanya, orang seperti dia diberi kepercayaan untuk memimpin perusahaan sebesar Angkasa Buana. Apa pak Darmono tidak tahu sifat anaknya itu? Kenapa beliau bisa memilihnya menjadi seorang CEO? Aku hanya berharap, semoga tidak ada masalah di perusahaan ke depannya karena memiliki CEO seperti Andrea itu.
“Hei, anak jin, tungguin!” Dodi berseru dari arah belakang begitu melihatku. Apa katanya tadi? Dia memanggilku anak jin?
“Lemes amat punya mulut. Belum pernah nyoba ditampol pake sepatu, ya,” ujarku dengan mata melolot.
Dodi malah tertawa melihat reaksiku.. “Maaf, aku cuma bercanda, kok. Suer, deh,” ujar Dodi mengacungkan kedua jarinya yang membentuk huruf V.
Aku menggerling, malas meladeninya. Mood-ku masih kacau, apalagi saat mengingat bagaimana Farhan dan Gisel saling berpelukan dan berpagut bibir. Rrrr, itu menjijikkan. Ah, iya, Farhan. Ke mana dia? Aku harus membuat perhitungan dengannya. Perhitungan dalam arti yang sebenarnya.
“Dodi, liat Farhan gak?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Dodi menggeleng, aku meninggalkannya untuk mencari keberadaan Farhan.
Itu dia. Orang yang kucari dari tadi ketemu juga akhirnya. Kebetulan, mereka sedang bersama. Dasar tidak tahu malu, bahkan saat melihatku, Gisel sengaja merapatkan tubuhnya pada tubuh Farhan. Seperti sedang memanas-manasiku. Namun, aku berusaha tetap tegar dengan sengaja mengangkat wajah lebih tinggi di depan mereka.
“Nah, muncul juga yang ditungguin dari tadi,” ujarku dengan kedua tangan yang kusilangkan di d**a. Entah bagaimana poseku sekarang, yang jelas aku berusaha untuk terlihat setegar mungkin.
“Kenapa nyariin Farhan?” Gisel justru balik bertanya dengan tangan mengapit lengan Farhan. Laki-laki itu juga malah diam saja dan seperti menikmatinya saat Gisel sengaja menempelkan tangannya ke benda kenyal milik gadis itu. Dasar sama-sama murahan.
“Nih, usahain bayar secepatnya,” ujarku tanpa basa-basi.
Farhan menerima uluran kertas dariku dengan mulut melongo.
“Apa maksudnya ini, La?” tanyanya pura-pura bodoh atau memang beneran bodoh.
“Hutangmu selama jalan sama aku. Jangan dipikir aku ini bodoh, ya. Aku sudah tahu apa yang kalian lakuin di lorong hotel kemarin. Makanya, secepatnya balikin duit aku yang kamu pinjam selama ini,” jawabku tegas.
Farhan semakin terkejut mendengar jawabanku. Namun, Gisel justru semakin sengaja menempelkan tubuhnya pada tubuh Farhan. “Baguslah kalau emang kamu udah tau. Jadi, mulai sekarang, gak usah deket-deket sama Farhan lagi. Dia selama ini juga udah muak sama kamu. Harusnya kamu itu sadar diri, lihat aja ... cewek kayak kamu gak pantes pacaran sama Farhan,” ujar Gisel sambil menatapku dari atas ke bawah. Tatapannya sama seperti Andrea pagi itu. Membuatku jantungku seperti tertusuk sembilu yang begitu dalam. Aku mengepalkan kedua tangan, tapi berusaha menahan emosi sekuat mungkin.
“Terserah apa kata kalian. Aku cuma butuh uangku balik. Inget, kamu itu bilangnya minjem, tapi sampai sekarang gak ada itikad buat bayar. Buat apa punya pacar ganteng tapi suka minjem duit ke ceweknya yang gak sadar diri ini,” ujarku dengan sedikit kesal.
Kulihat kedua tangan Farhan mengepal. Harusnya dia sadar dan malu mendengar perkataanku barusan jika dia memang laki-laki sejati.
“Udahlah, Sayang. Gak usah dengerin dia. Kita pergi aja. Pagi-pagi ngeladenin anak jin kayak gini bikin kesel,” ujar Gisel dengan nada manja. Dan Farhan langsung mengiyakan ucapan Gisel, mereka langsung berlalu dari hadapanku tanpa sepatah kata pun.
“Jangan lupa hutangnya dibayar. Nomor rekeningku masih sama,” ujarku sedikit berteriak. Sengaja, supaya karyawan yang lain juga mendengar. Aku jahat? Bahkan, mulut mereka lebih jahat. Anak jin katanya? Bisa-bisanya Gisel mengataiku seperti itu.
Kalau memang aku anak jin, akan kusuruh pasukan jin untuk memberi mereka berdua pelajaran.