Akhirnya hari ini aku dan karyawan yang lain berangkat ke Jakarta. Rasanya tidak sabar untuk datang ke acara yang digadang-gadang sangat mewah itu. Acaranya sendiri dilaksanakan di sebuah hotel bintang 5. Bahkan, CEO sebelumnya menyewa seluruh kamar hotel untuk para karyawan. Kapan lagi bisa liburan mewah secara gratis. Walaupun hanya sehari semalam, tetap saja ini adalah hal yang tidak bisa dilewatkan.
Aku duduk sendiri di dalam bus, padahal ada dua kursi yang tersedia. Teman-teman yang lain tidak ada yang mau duduk denganku karena merasa terlalu sesak. Mereka bilang, tubuhku memenuhi kedua kursi itu. Padahal, aku sudah sebisa mungkin menggeser diri ke dekat jendela. Namun, tetap saja mereka enggan untuk duduk denganku. Aku justru bersyukur karena bisa lebih leluasa. Farhan juga berada di bus lain, kami hanya bertemu sesaat sebelum berangkat tadi.
Aku sampai di Jakarta hampir siang hari. Acaranya memang dimulai setelah sekitar jam 2 siang, dan untuk acara puncaknya sendiri adalah nanti malam. Kami langsung menuju kamar hotel yang memang sudah disediakan. Satu kamar hotel dihuni oleh 5 orang. Aku dan teman sekamarku gantian memakai kamar mandi. Untuk acara siang hari, adalah serah-terima jabatan. Semua karyawan wajib memakai setelan kerja. Hal ini tidak membuatku pusing, karena aku sudah punya beberapa baju kerja yang masih baru. Sedangkan untuk acara puncak nanti, dress code-nya adalah black and white. Jadi, para perempuan harus mengenakan gaun warna hitam, sedangkan laki-lakinya memakai kemeja putih, tapi tetap dengan balutan jas hitam. Aku sungguh tidak sabar untuk puncak acara nanti malam. Kabarnya, ada beberapa artis papan atas yang akan mengisi acara itu. Bahkan, Pak Darmono juga menghadirkan salah satu artis luar negeri, Charlie Puth. Ah, aku sudah membayangkan, jika acara nanti malam pasti akan sangat meriah.
****
Ah, lelah juga setelah mengikuti acara serah-terima jabatan barusan. Aku sedang merebahkan diri di kamar, saat dua orang temanku masuk. Mereka tampak terkikik sambil melihat ponsel. Aku yang penasaran pun bertanya pada mereka.
“Lihat apaan, sih?”
Mia si pemilik ponsel menoleh ke arahku. “Ini, fotonya Pak Andrea Buana. Ternyata beneran, ya dia ganteng banget. Lihat, deh pasang wajah dingin aja tetep keliatan ganteng,” ujar Mia sambil menunjukan layar ponselnya padaku.
Aku hanya ber-oh ria, lalu kembali merebahkan tubuh.
“Kamu gak tertarik sama Pak Andrea, La?” tanya Mia lagi.
Aku mendongak, belum juga menjawab pertanyaannya, Yuni malah nyeletuk duluan.
“Kalaupun Lula tertarik sama Pak Andrea, tapi kan gak mungkin Pak Andrea bakal tertarik sama Lula. Mana mungkin CEO kaya dan ganteng sekelas pak Andrea selera ceweknya truk tronton gini.” Mereka berdua tertawa tanpa peduli perasaanku.
Aku pun enggan meladeni mereka. Aku memilih memejamkan mata sebentar sambil menunggu acara puncak yang akan digelar 2 jam lagi.
Aku terbangun karena suara alarm ponsel berbunyi. Aku memang sudah mengaturnya sebelum tidur tadi. Kulihat, teman-teman yang lain sudah sibuk di depan cermin. Kulihat gaun mereka sangat cantik bahkan seksi. Aku tidak bermimpi untuk bersaing dengan mereka. Karena aku tahu dan sadar diri, jika bentuk tubuhku sangat jauh dari mereka. Aku bergegas mandi, lalu ikut bersiap bersama yang lain. Aku mencoba tampil beda untuk acara kali ini. Aku tidak ingin terlihat cupu di acara sebesar ini. Aku menata rambutku yang lebih sering dikuncir kuda. Malam ini, aku menggelungnya rapi, lalu poninya kusisir ke samping dengan beberapa anak rambut yang kubiarkan menjuntai. Kaca mata yang tidak pernah tertinggal juga kuganti dengan softlanse. Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri dan juga Farhan. Oh, ya, aku jadi ingat jika dari tadi siang laki-laki itu belum juga menghubungiku. Sepertinya dia sangat sibuk dengan temannya. Jujur, aku sedikit kecewa. Jangan-jangan Farhan malu karena mempunyai pacar sepertiku?
****
Gaun yang kubeli dari toko baju kemarin sangat pas di tubuhku. Tidak terlalu ketat, dan tidak terlalu longgar. Gaun ini sangat nyaman dipakai. Aku menatap diri di depan cermin, walaupun aku tidak seseksi perempuan lain di sini, tapi setidaknya wajahku sedikit cantik. Aku merasa sangat anggun malam hari ini. Gaun hitam itu aku padukan dengan flat shoes warna merah. Awalnya aku berpikir untuk memakai sepatu hak tinggi, tapi aku tidak ingin mempersulit hidup yang sudah sangat sulit ini. Akhirnya aku memilih flat shoes warna merah dengan garis warna hitam. Riasan wajahku tidak terlalu tebal, tapi tetap terlihat elegan. Bukannya aku ingin memuji diriku sendiri, tapi memang itulah kenyataannya. Lula yang sekarang, jauh berbeda dari Lula yang biasanya. Aku terus memandangi tubuhku di cermin, lalu bayangan tubuh langsing muncul di depan sana. Aku berkhayal, jika saja aku bisa kehilangan separuh dari berat badanku sekarang. Pasti pesona kecantikanku akan sempurna.
Ada beberapa perempuan yang melewatiku, mereka menatapku dengan pandangan tidak suka.
“Percuma dandan mati-matian juga. Toh, gak bakalan bikin kamu keliatan langsing juga,” celetuk salah satunya.
Aku bergeming, apa yang dibilangnya toh tidak salah. Namun, Dodi yang sedang berjalan ke arahku dan mendengar celetukan itu balik menatap mereka tidak suka dan dia berteriak, “Percuma punya tubuh langsing kalau mulutnya pedes.”
Aku hanya tertawa mendengar ucapannya. Lalu Dodi menyipitkan matanya mengamati penampilanku.
“Eh, La. Ini beneran kamu?” tanya Dodi tidak percaya.
Aku memutar bola mata malas.
“Tentu saja ini aku. Siapa lagi?” ucapku sedikit kesal.
“Ternyata kalau dandannya rada bener kamu cantik juga, La,” ujar Dodi lagi. Aku bisa melihat kejujuran dari ucapannya. Memang, dia adalah salah satu temanku yang tidak pernah menghina fisikku. Kalau pun bercanda, dia tidak pernah keterlaluan, dan aku tidak pernah merasa sakit hati karena ucapannya. Toh, kadang aku juga meledeknya karena kesal pada sifatnya yang sedikit kemayu itu.
“Aku memang cantik, Di. Tapi jangan naksir aku, ya. Aku udah punya pacar,” ucapku dengan percaya diri.
Dodi menoyor kepalaku. Aku hanya tertawa pelan.
“Tapi serius, deh, La. Kamu itu cantik, coba mulai serius nurunin berat badan. Kadang aku tuh suka sakit hati kalau denger temen-temen lain ngatain kamu gajah, truk tronton, buntelan kentut, kuda nil ....”
“Kenapa jadi kamu yang ngatain aku?” potongku kesal. Namun, aku juga terharu mendengar pengakuan Dodi. Andai saja dia tidak melambai, mungkin aku bisa mempertimbangkannya untuk menjadi pacarku.
“Becanda, Cyin. Ayo, ah acaranya bentar lagi mulai,” ujar Dodi sambil menggandeng tanganku. Aku tertawa diperlakukan demikian. Dia adalah orang yang paling jujur dan menghargaiku apa adanya.
****
“Wah, keren banget, ya, La,” ucap Dodi dengan mulut yang menganga.
Aku berdecak kagum. Aula hotelnya sangat luas, dekorasinya sangat mencerminkan seorang sultan. Pak Darmono sepertinya sangat ingin menunjukan siapa dia kepada seluruh karyawan.
“Iya. Keren banget. Sultan no kaleng-kaleng,” timpalku. Di kejauhan, tampak pak Darmono dengan istri dan anak perempuannya. Sedangkan pak Andrea, sang CEO baru tampak tidak jauh dari mereka tengah mengobrol dengan beberapa orang berkulit putih. Sepertinya mereka adalah salah satu klien perusahaan dari luar negeri. Aku mengamati pak Andrea dengan saksama. Laki-laki itu berbicara dengan serius, tanpa ada sedikit pun garis senyum di wajahnya. Seperti ada sebuah luka yang dia sembunyikan di dalam dirinya.
“Heh, La ampe segitunya liatin CEO tampan kita,” protes Dodi menyenggol lenganku.
Aku mengalihkan pandanganku dari pak Andrea dan mulai menikmati rangakaian acara. Tidak lama kemudian, Farhan bergabung denganku dan Dodi.
****
Acara masih berlangsung, Dodi sedang asik mengobrol dengan seseorang dari kantor lain. Sedangkan Farhan, dia pamit sejak beberapa waktu yang lalu. Namun, sampai sekarang belum juga kembali. Aku merasa kantung kemihku seakan penuh. Akhirnya, aku memutuskan untuk ke toilet. Saat sedang berjalan ke toilet, aku seperti melihat seseorang yang tidak asing. Dia tengah berciuman dengan seorang perempuan. Mereka tampak asik dengan aktivitas mereka tanpa peduli pada sekitar.
Aku mengamati mereka berdua sebentar. Saat mereka melepas pagutannya, aku bisa melihat dengan jelas wajah mereka berdua.
“Farhan ... Gladis.” Aku menutup mulut tidak percaya. Teganya dia mengkhianatiku setelah semua yang aku lakukan demi dirinya. Tadinya aku hendak melabrak mereka, tapi aku terhenti saat mendengar Gladis menyebut namaku.
“Nanti kalau ketahuan Lula bagaimana?” tanya Gladis dengan manja pada Farhan. Padahal, saat sedang melakukan hal menjijikan tadi, dia terlihat sangat menikmatinya.
“Sudahlah. Jangan sebut nama dia di sini. Kalau bukan karena dia bisa dimintai uang saat akhir bulan, aku malas harus berpacaran dengan buntelan kentut sepertinya. Lebih baik aku denganmu yang seksi ini,” ujar Farhan dengan teganya.
Setetes air mataku jatuh. Ternyata begini sikap Farhan di belakangku. Aku mengurungkan niat untuk menghampiri mereka. Biar saja, saat di Bandung nanti aku akan memutuskan hubungan dengan laki-laki kere itu. Pantas saja selama ini Gladis selalu menatapku dengan tidak suka dan meremehkan. Ternyata ini alasannya. Aku yakin, mereka memang sudah menjalin hubungan dalam waktu yang lama.
Aku membalikan badan dan kembali berjalan ke aula pesta. Langkah kakiku menuju sebuah meja dengan berbagai minuman beralkohol. Dengan perasaan dongkol, aku menenggak segelas. Rasa panas seakan memenuhi tenggorokanku. Ini pertama kalinya aku merasakan minuman seperti ini. Aku meraih gelas kedua dan kembali menenggak isinya. Saat akan mengambil gelas ketiga, kepalaku terasa pusing. Aku mengurunglkan niatku dan duduk sebentar. Sepertinya toleransiku pada alkohol sangat rendah, atau justru yang kuminum tadi mengandung kadar alkohol yang tinggi? Entahlah, aku tidak tahu.
Badanku yang besar, berjalan sempoyongan menuju kamar. Pandangan rasanya sudah buram. Aku langsung masuk kamar dan merebahkan diri kasur. Setelahnya, pandanganku benar-benar hitam.
****
Aku meringis saat terbangun dari tidur. Pasalnya, kepalaku terasa pusing sekali. Seperti sebentar lagi akan meledak. Rasa pengar juga terasa memenuhi mulut. Ini pasti karena minuman semalam. Padahal, aku hanya minum dua gelas. Namun, kenapa efeknya separah ini.
Setelah merasa kesadaranku telah terkumpul, aku bingung sedang berada di mana sekarang. Seingatku, semalam aku memergoki Farhan tengah b******u mesra dengan perempuan lain. Sialnya, dia juga mengataiku buntelan kentut dan hanya dia anggap sebagai ATM berjalan. Karenanya aku menenggak minuman sialan itu. Awas saja nanti saat bertemu dengannya, akan kutagih semua hutangnya yang sudah menggunung itu.
“Hmmm ....” Terdengar suara seseorang dari belakangku. Tunggu, jadi semalam aku tidak tidur sendiri.
Dengan perasaan takut aku membalikan badan, dan ....
“Argh!”
Tidak, aku ... tidur dengan seorang lelaki? Aku menutup mulut tak percaya.
Sial, laki-laki itu tampaknya terbangun karena teriakanku.
“Siapa kamu?” tanya laki-laki itu dengan suara serak yang terdengar seksi. Eh, tunggu ... sepertinya aku tahu dia siapa. Dia ....
“Pak Andrea Buana,” pekikku tak percaya. Jadi... aku tidur dengan CEO itu.
“Apa yang Bapak lakukan pada saya?” tanyaku dengan tatapan curiga. Tanganku refleks menutupi d**a.
Pak Andrea justru menatapku dengan alis bertaut. Dia lalu membuang pandangan dariku.
“Kau pikir, apa yang akan aku lakukan pada perempuan sepertimu? Bahkan, melihatmu tanpa sehelai benang pun aku tidak yakin akan bernafsu,” jawab laki-laki di dengan enteng.
Aku mendengkus kesal, berani sekali dia mengatakan hal menyakitkan seperti itu. Setidak menarik itukah aku?
Kemudian aku memeriksa tubuh, pakaianku masih lengkap dan aku tidak merasakan sesuatu yang aneh di bawah tubuhku. Huft, syukurlah, sepertinya memang tidak ada yang terjadi di antara kami. Namun, kenapa aku bisa tidur dengan CEO itu?
“Harusnya saya yang bertanya, kenapa kamu masuk ke kamar saya?” Pak Andrea menyadarkanku dari lamunan.
Oh, pantas saja kamar ini lebih mewah. Ternyata aku salah masuk kamar.
“Saya memang sudah terbiasa dengan perempuan yang rela menawarkan tubuhnya pada saya. Namun, baru kali ini ada perempuan sepertimu yang ....” Ucapannya menggantung sambil memandangiku dari atas ke bawah.
“Sudahlah. Kamu bukan selera saya. Seharusnya kamu melihat cermin dulu sebelum bertindak nekat seperti ini,” lanjut pria menyebalkan itu.
Aku mendengkus kasar, tidak terima dengan hinaannya. Enak saja aku disamakan dengan perempuan-perempuan seperti itu. Belum lagi tatapan matanya yang seakan jijik melihat tubuhku.
“Percuma jadi CEO tapi tukang bullying. Gampang banget ngatain orang kayak gitu,” ucapku kesal.
Aku segera beranjak dari ranjang dan segera meninggalkan laki-laki menyebalkan itu. Awas saja, saat aku berhasil menurunkan berat badan nanti, akan kubuat Andrea yang sombong bertekuk lutut di hadapanku.