mataku terasa berat, tubuhku lemas aku membuka mataku perlahan-lahan ku pandang sekeliling aku berada di kamarku kedua tanganku terpasang selang darah, dan kakiku terpasang infus, apa yang terjadi denganku? ku mencoba untuk bangun, kepalaku sagat berat dan terasa berdenyut-denyut ku mencoba untuk bangun, namun sepertinya tubuhku terlalu lemah untuk bergerak ku dengar suara pintu berdecit dan terbuka di sana muncul suster aku memcoba untuk memangilnya namun suaraku tak keluar.
"tuan, nona sudah bangun" teriaknya kencang dan tak butuh waktu lama kakek masuk ke kamar beserta 2 orang dokter dan dengan sigap memeriksa keadaanku terlihat kecemasan di wajah kakek.
setelah melakukan serangakaian prosedur dokter berkata bahwa aku sudah tidak apa-apa hanya kekurangan asupan dan darah apalagi yang ku alami adalah hal yang baru langka di dunia kedokteran.
Kakek menceritakan kalau aku telah mengalami mati suri, semantara tubuhku terus menerus mengeluarkan darah, dari telinga, mulut, hidung, serta pori- pori kulitku. Selama berbulan- bulan dan kakek menjelaskan kalau sekarang adalah hari ulang tahunku yang ke 17, aku merasa ada yang lain dari tubuhku.
***
setelah beristirahat selama beberala hari, dan infus ku pun sudah di cabut karena tubuhku kembali seperti semula seolah- olah tidak ada yang terjadi padaku.
kini aku sudah bisa bangun dan berjalan seperti saat ini yang ku lakukan aku terbangun di jam 1 pagi dan kelaparan aku melangkah menuju dapur mencari sesuatu yang bisa ku makan.
aku melihat ada beberapa cemilan dan buah di atas meja aku mengambil cemilan dan memakanya untuk menganjal perutku, tetapi baru saat akan ku telan aku memuntahkan makananku, enek itu yang ku rasa sepertinya cemilan ini bukan seleraku aku mengambil buah pir di keranjang buah di depanku ku mengigitnya aneh ada sesuatu yang menganjal, ada yang berbeda dari tubuhku yang kurasa.
" huekkkk hueekk" aku kembali memuntahkan apel itu tiba2 telingaku berdengung sangat sakit di ikuti denyutan di kepalaku, tetapi aku mencuim bau sesuatu yang akan manis dan enak.
ku mendekat ke lemari pendingin indra penciumanku menajam, ku mengambil daging dari kulkas dan mencium aromanya yang terasa sangat manis perutku meronta kelaparan, dengan sedikit ragu aku mencoba menjulurkan lidahku ke daging yang ku gengam dan rasanya sangat enak tak tercium bau amis dari daging.
Kemudian tanpa sadar aku mengunyah daging mentah itu dan benar rasanya manis dan enak, aku memakannya dengan rakus habis daging di tanganku ku ambil lagi danging yang masih ada di sana dan memakanya dengan sangat lahap dan buru- buru seperti orang yang tak pernah makan seumur hidup, darah dari daging sapi itu belepotan di sekitar mulutku tapi aku tak perduli dan tetap memakanya aku memakanya dengan kedua tanganku saking laparnya aku tak perduli etika yang di ajarkan guruku.
"no..nona?" terdengar suara seseorang di belakangku, aku menoleh kemudian wanita yang memanggilku kaget tanganya bergetar ketakutan namun dia seperti sedang berusaha untuk bersikap normal, dia adalah pelayan di rumahku.
" no..no..nona, apakah anda lapar?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
" sini biar saya yang masak dagingnya, nanti nona sakit perut makan daging mentah" tambahnya masih dengan wajah ketakutan.
"baiklah masaklah" kataku meletakan daging yang tinggal sedikit di tanganku kembali ke tempat semula, pelayan itu dengan cepat berjalan kearahku dan mengambil daging tersebut dari lemari pendingin aku memilih duduk di meja dan memilih untuk menontonya yang akan memasak daging itu. dengan cepat dia berjalan menuju pantri dan mengeluarkan semua bahan untuk memasak.
" aku ngk mau steak, buat yang lain" kataku sambil menjilat tanganku sisa daging tadi.
" baik nona" kata pelayan tersebut " kenapa kamu berdiri saja di situ cepat bantu nona membersihkan tanganya" pelayan tadi memberi perintah kepada temannya yang tadi datang bersamanya namun hanya memantung dan berusaha menyembunyikan ketakutanya.
pelayan itu berjalan dengan ragu kemudian mengambil tisu basah di dekat pantri dan berjalan ke arahku dia mengambil tanganku dengan tangan yang bergetar dan membersihkanya aku menatap pelayan itu sepertinya umur kami tak jauh beda pikirku.
dia membersihkan tanganku masih dengan tangan bergetar dan kini beralih ke wajahku. tiba- tiba dia kaget dan mundur sedikit kebelakang.
"no..nona " panggilnya gugup aku tak menjawab dan menatapnya dengan pandangan tanya sepertinya dia mengerti arti dari tatapanku dan melanjutkan perkataanya
" nona, an...anda memiliki taring" katanya ketakutan aku kaget dengan perkataanya ku raba bibirku dan benar saya di sana ada sesuatu yang keras aku membuka mulutku untuk memastikannya lagi dan benar gigi taringku memanjang.
"Sa..saya .. saya akan mengambilkan cemnin untuk nona" katanya tanpa menunggu jawaban dariku dia dengan cepat berlali dan tak lama membawa cermin dan memberikanya padaku, aku melihat wajahku aku terkejut dan benar saja di sana ku lihat di cermin aku memiliki taring dan bola mataku berubah sepenuhnya menjadi warna hijau gelap dan pekat, ada apa ini? Tanyaku dalam hati.
beberapa menit kemudian kakek datang dengan tergesa- gesa. kakek terkejut tapi kemudian bersikap seolah- olah tak ada yang berubah. aku menatap kakek tapi kakek berjalan mendekatiku kemudian memelukku.
"tidak Apa-apa, seperti apapun dirimu apapun bentukmu kakek tetap menyangimu," ucap kakek tak melepaskan pelukannya namun aku tak merasakan apa- apa seperti yang biasa terjadi, biasanya aku ikut menagis atau mengikuti perasaan haru tetapi kini hanya perasaan datar yang kurasa tapi aku tak mengambil pusing.
"masih lapar?" tanya kakek aku mengangukan kepala kemudian kakek melepaskan pelukanya menuntun tangan ku ke arah dapur di sana sudah ada beberapa makanan yang sepertinya mengungah selerah, kami duduk di meja makan, pelayan dengan sigap meletakan beberapa daging yang telah di masak ke piringku aku mengambil potongan daging yang kecil dan mengunyahnya.
"hueek. aku memuntahkan daging itu" kakek kaget kemudian berdiri dan berjalan kearah tempat dudukku.
" ada apa? apa tidak enak?" tanya kakek kwatir.
" enak hanya saja sepertinya perut saya tidak bisa menerimanya" jelasku
"ambil daging mentah" perintah kakek , pelayan tadi dengan cepat mengambil daging mentah dan meletakannya di piring "makanlah ini" kata kakek aku memandang kakek sesaat dan memotong daging itu dengan pisau kecil, tapi itu tak berguna aku mengambilnya dengan tanganku kemudia memakanya dan terasa sanggat enak dan aku menghabiskanya tanpa sisa, kakek mengelus kepalaku dan tersenyum kemudian bertanya" apa rasanya enak? mau lagi?" tanya kakek, aku mengangukan kepala dan tersenyum untuk menyenangkan hati kakek meski tak ada rasa di hatiku tetapi akalku yang bekerja.
kakek yang datang ke rumahku dengan tergesa-gesa karena mendapat laporan pelayan tentang aku yang memiliki taring mereka menceritakan apa yang mereka lihat itulah sebabnya kakek memberiku daging mentah karena cerita pelayan tentang aku yang memakan daging mentah dengan lahap.
***
setelah makan aku kembali tidur dan terbagun pagi jam 7 pagi aku melangkah menuju kamar mandi untuk mandi lu lihat wajahku di cermin taringku sudah hilang walau lensa mataku masih berwarna hijau setidaknya ini lebih baik dari pada taring semalam karena begitu menganggu bibirku.
setelah mandi dan bersiap-siap aku keluar dari kamarku dan kepala pelayan rumah menungguku di luar.
" nona sarapan anda sudah siap" katanya membimbingku berjalan menuju dapur ku lihat daging mentah di meja makan tersaji.
" mana kakek?" tanyaku kepadanya
"tuan masih ada urusan di luar kota tadi pagi-pagi beliau berangkat" jelasnya aku duduk di kursi dan mengambil daging itu seperti semalam dengan tanganku anehnya tak lagi tercium bau manis seperti semalam malah yang ada adalah bau amis daging yang tak enak.
Aku meletakkannya kembali.
" ada apa nona" tanyanya lagi memastikan.
" entahlah, aku tak ingin makan ini berikan aku sesuatu yang lain" kataku dan denang sigap kepala pelayan mengangukan kepala dan menatap pelayang lain di depanya dan pelayan itu berjalan menuju pantri dan memasak makanan untukku.