sebulan berlalu sejak kejadian itu, setiap tengah malam aku selalu lapar dan memakan daging mentah dengan taring yang terus menghiasi wajahku.
kemudian pagi harinya aku memakan makanan biasa ini semua terjadi karena 7 jin yang berada di tubuhku, aku sadar ada yang aneh denganku begitu pula dengan kakek dan keluarga ku yang lainnya.
Tetapi kakek tidak perduli dengan semua itu seperti yang di katakan nya seperti apapun diriku kakek akan tetap mencintaiku. berbeda dengan keluarga yang lain mereka takut padaku takut aku datang membawa bencana bahkan sepupuku yang biasanya datang kini udah ngk pernah datang lagi dan sebagian pelayan rumahku sudah kabur dan tersisa 3 pelayan dan tentu saja kepala pelayan masih melayaniku.
"nona" terdengar suara memanggilku bersamaan dengan ketukan pintu.
"ya. masuklah" sahutku kepada kepala pelayan yang mengetuk pintu.
"nona anda di panggil ke rumah utama oleh tuan" jawabnya sembari mengambil sisir di tanganku kemudian menyisir rambutku yang setengah kering.
"ada apa ?" tanyaku karena tidak biasanya aku di panggil ke sana.
"saya juga tidak tau nona, saya di minta untuk mengantar anda ke rumah utama dan membantu anda bersiap-siap" jelas lani lagi yang merupakan kepala pelayan di rumahku.
setelah selesai bersiap - siapa, aku pergi ke rumah utama di temani kepala pelayan, ketika aku memasuki rumah itu terdengar suara paman yang kesal.
sepertinya aku tau apa yang mereka bicarakan, tanpa mendengar semua perkataan mereka lewat tatapan matanya aku bisa tau apa yang ada di pikira nya, aku bisa melakukan itu, bahkan lewat tatapan mataku saja aku bisa memerintah orang bunuh diri tanpa perlu memberi perintah lewat bicaraan, terutama kepada orang yang lemah dan pikiran kacau, akan sangat mudah membuat mereka mengikuti perintahku, itu adalah hasil dari perjanjian ku dengan iblis yang ada di tubuhku.
Mungkin ini adalah bagian yang belum aku ceritakan kepada kalian sebelumnya aku pernah ada masalah dengan paman dia tidak suka aku terus berada di keluarga ini karena terasa sanggat menyeramkan terlebih beberapa pengawal dan pelayan meminta resigen, paman datang marah- marah padaku dan iblis yang berada di dalam diriku meminta ijin untuk membunuh paman, tapi saat itu aku bertanya pada kakek yang kebetulan sedang bersamaku saat itu lonceng di gelang kakiku pun berbunyi setiap aku merasa kesal.
"Kakek apakah aku boleh membunuh paman?" Tanyaku sambil memiringkan kepala untuk melihat paman yang tertutupi tubuh kakek.
Seketika paman membeku dan tangannya bergetar. Kakek dengan cepat menghampiri tempat aku duduk dan membelai kepalaku sehingga lonceng di gelang kakiku berhenti berbunyi.
"Paman adalah adik ayahmu, dan kakek sayang pada paman, kalau kamu membunuh paman kakek akan merasa sedih" jelas kakek tetapi tetap tersenyum sambil membelai kepalaku
"Baiklah, aku juga sayang paman" jawabku tersenyum dan memeluk kakek, karena kakek pernah bilang dia paling suka saat aku memeluknya.
Semenjak saat itu aku belum pernah bertemu paman.
Kemudian aku melangkah menuju ruang tamu semua terdiam dan kakek menatapku dengan tersenyum menepuk sofa di sebelahnya memintaku untuk duduk di sana.
"aku tidak mau pergi ke sekolah" kataku setelah duduk di sofa, semuanya menatap ke arahku.
"kenapa nak? kamu harus sekolah agar memiliki banyak teman" jawab kakek dengan dahi berkerut.
"aku tak mau sekolah, aku ingin belajar seperti biasanya saja" kataku ku lihat air wajah kakek yang terlihat sedih ku menatap matanya ingin mengetahui isi hatinya aku hanya melihat kesedihan di sana.
namun karena air wajah kakek terlihat kesedihan aku memikirkan solusi yang lain.
"kek, dari pada sekolah saat sekarang , aku akan kuliah di luar, tapi jangan sekarang saat SMA," jawabku wajah kakek kembali tersenyum ceria berbeda dengan wajah keluargaku yang lainya tetapi mereka hanya duduk diam menunduk, karena kakek sudah menjelaskan kepada mereka tentang mataku.