Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Ummu Irfani
SIKAP KAKEK KETIKA SUAMI PERGI"Mas, apa tidak sebaiknya lubang itu ditutup saja? Aku merasa tidak nyaman, loh." Aku menunjuk lubang kecil sebesar kelereng pada jendela kayu. Sejak pengantin baru, lubangnya memang sudah ada, tapi kata kakek disuruh biarkan saja.Suamiku anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dua tahun lalu karena sakit diabetes. Karena dahulu orang tuanya masih mengontrak, kami terpaksa tinggal di sini. Itu pun sebenarnya karena permintaan kakeknya. Katanya mending uang ditabung dari pada untuk membayar kontrakan. Lagi pula, rumah ini terasa sepi."Alah, biarkan saja. Kan tinggal ditutup pakai kain juga bisa," jawabnya sambil fokus menonton bola. Iya, sih. Lagi pula cuma lubang sekecil itu. Toh siapa juga yang mau ngintip. Dari pada itu, lebih penting lagi memasang kunci pintu pada kamar ini. Selama tiga bulan tinggal di sini, rasanya aku benar-benar merasa tidak nyaman."Ah, tivinya burek. Aku mau lihat tempat Lek Kariman." Suamiku beranjak pergi dengan tergesa ke rumah adik ayahnya. Rumahnya hanya berjarak beberapa langkah dari sini. Walau begitu, entah kenapa, rasanya kesal ditinggal sendirian begini. Andai sudah punya anak, mungkin tak akan sesepi ini.Tanganku meraih ponsel butut. Bermain ular sampai bosan. Kalau ada uang, akan kubeli gawai layar sentuh. Pasti menyenangkan bisa berselancar di dunia maya seperti pada umumnya. Beberapa menit berlalu, mataku terasa sangat mengantuk, hingga tak sadar ketiduran.Mataku mengerjap kala merasakan ada seseorang yang masuk ke kamar. Anehnya bau rokok bercampur keringatnya lain dengan Mas Jaenal. Remang sedikit gelap, karena lampunya memang agak redup. Badannya tidak setinggi suamiku. Bahkan perutnya buncit. "Kakek?" ucapku seketika.Aku cepat bangun berdiri."Ada apa, Kek?" tanyaku."Jaenal mana?" tanyanya celingukan."Ke rumah Lik Kariman, nonton bola.""Oh, ada korek, tidak?" tanyanya sambil terus memandangku dari bawah hingga ke atas. Sesekali kulihat jakunnya naik turun. Seketika aku merasa benar-benar kesal."Korek?" tanyaku sambil buru-buru menjauh, melangkah keluar dari kamar."Lho, mau ke mana?" Tiba-tiba lenganku dicekal. Aku kaget hingga keringatku seketika terasa dingin. Jantungku berdegub tak karuan."Nenek!" seruku lantang memanggil Nek Minah, adik kakek yang juga tinggal di sini. Berkat itu, lenganku dilepas. Tapi nenek sudah tidak bisa mendengar dengan jelas, sehingga teriakanku sia-sia."Cuma mau pijem korek, ngapain teriak-teriak," ucap Kakek terkekeh. Ah, apa aku hanya berfikiran buruk saja? Entahlah."Kalau tidak ada, kamu belikan korek sana." Kakek mengulurkan seratus sepuluh ribu."Eh, iya," jawabku tanpa menatap wajahnya."Tapi ini terlalu banyak," ucapku."Tidak apa. Sisanya buat kamu. Nih, ambil."Aku meraih uangnya. Sekilas senyuman pria tua berusia enam puluh tahun itu terlihat aneh, hingga membuat keringatku bercucuran.ic_default
Karena kamu suka Pernikahan, mungkin kamu suka ini juga:
Pernikahan