Seminggu setelah permintaan konyol Manda, ayahnya tak pernah mengungkit kapan dirinya akan menikah. Hingga ia berpikir mungkin saja ayahnya juga menangkapnya sebagai candaan atas permintaan Manda.
Kini dirinya duduk di pos ronda seperti biasa. Menunggu dua temannya yang sudah bebas dari penjara dengan ampunan dari pelapor. Mereka hanya mengambil uang 600 ribu rupiah saja untungnya. Jadi pelapor hanya minta uangnya di kembalikan.
Ando, pemuda berambut gondrong tersebut langsung berlari ketika melihat Manda sudah nangkring dengan posisi nyamannya sambil memakan permen. “Halo, Nda.”
“Selamat juga lo?”
“Menurut lo? Ya untungnya mereka mau diajak damai. Tapi kasian emak gue, kan jadi ngeluarin duit buat ganti. Mana duitnya udah kita pake buat minum.”
“Gue jadi nggak enak, kan gue nikmatin juga.”
“Biarin aja, jangan sampai ada yang tau kalo lo juga terlibat.” Ando mengatakannya dengan berbisik.
Manda mengangguk. “Arul mana?”
“Lagi jadi ojeg buat keponakannya. Kan duit buat ganti dari abangnya. Sebagai gantinya jadi ojeg pribadi buat antar jemput.” Ando memposisikan dirinya setengah duduk. “Tuh dia.”
“Nda, di rumah lo ada mobil bagus tuh. Lo mau dikawinin ya?” Belum juga mesin motornya mati, Arul sudah membuat jantung Manda berdetak kencang.
“Seriusan lo?” Arul mengangguk.
Ando menyikut lengan Manda. “Lo serius mau kawin?”
“Mau gue pastiin.” Dengan cepat Manda memakai sandalnya hingga tidak tercapit dengan benar. Ia langsung berlari menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh.
Setelah hampir sampai di rumah, ia memang melihat mobil mewah. Namun sudah berlalu sebelum Manda sampai. Niatnya hanya ingin menampakan diri agar calonnya perlu berpikir ratusan kali untuk menikahi Manda. Anak Kyai yang gayanya urakan.
Manda hanya menatap kepergian mobil yang diduga adalah mobil calon suaminya. Tersadar akan hal itu, Manda langsung berlari masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum! Tadi siapa? Calon Manda bukan?” tanyanya sambil terengah.
Haris yang berdiri di dekat pintu hanya menahan tawanya. “Kamu itu nolak apa menerima dengan sepenuh hati sih? Kaya nggak sabar gitu,” ujarnya terkekeh.
“Bukan, dia ayah dari laki-laki yang Abi pilih. Anaknya masih di luar kota buat dinas.” Ayah Manda berdiri dari duduknya dan hendak berlalu jika lengannya tidak ditahan oleh Manda.
“Calon Manda PNS?”
Mendengar pertanyaan Manda membuat Haris terbahak. “Kamu kira yang bisa dinas cuma PNS?”
“Mas, diem! Abi .... ” Manda merengek.
“Kalo gini aja manggilnya Abi. Bener, anaknya langsung setuju kok. Nanti pulang dinas dia langsung kesini.”
Manda melepas lengan ayahnya dan berdiri lemas. “Kan belum liat aslinya, makanya setuju.”
Haris mendekat ke posisi Manda berdiri. “Cup cup cup, mas tadi liat fotonya. Mau liat?”
“Nggak! Harusnya dia yang liat foto Manda!” Setelah mengatakan itu ia langsung menuju kamarnya dan mengunci pintu.
“Kan becanda, ko ngegas sih?” gumam Haris.
-o0o-
Selama 3 hari 3 malam Manda mengurung dirinya di kamar dan hanya keluar saat mandi. Itu saja di tengah malam agar tidak ada yang melihat. Untuk makannya ia tidak pernah menghiraukan panggilan ibunya untuk membukakan pintu.
Selama ini ia hanya makan dari camilan yang ia minta dari Haris. Tentu saja lewat jendela. Ia akan mengambil saat haris mengisi materi di pondok atau sedang kuliah dan akan mengembalikan bungkusnya saja.
Haris tau, tapi dia tetap diam. Bahkan ia menyediakan camilan lebih banyak di kamarnya.
“Assalamualaikum.” Manda mendengar suara Haris dari luar.
“Waalaikumsalam. Sekarang tiap pulang bawa makanan terus, Ris? Biasanya 2 atau 3 hari sekali.”
Haris meletakkan telunjuknya di bibir, lalu menunjuk kamar Manda. “Perut Haris nambah lebar, Bu Lek.” Fatimah hanya menahan tawanya.
Mendengar itu Manda melepas napasnya lega. Bisa kacau kalo tadi Haris buka suara jika sebagian besar makanannya dihabiskan oleh Manda.
Malam harinya adalah malam dimana Manda tidak bisa bernapas lega. Tau begini tadi ia akan bernapas dengan cepat agar pasokan oksigennya bertambah banyak.
Pria yang katanya akan menikahinya kini sudah berada di ruang tamu. Bahkan suaranya yang bariton namun lembut mampu terdengar oleh telinga hingga membuat bulu romanya merinding.
Mendengar suara sejantan itu membuat pikiran Manda beterbangan ke arah lain membuat dirinya menepik semua pikiran kotor yang bersarang. “Sadar Manda, suara nggak menjamin kalo orangnya juga jantan.”
Tak tahan dengan pikirannya sendiri, Manda bergegas keluar melalui jendela. Ia tak mungkin bertemu langsung saat ini jika Manda jasa belum mandi dari semalam. Eh, kenapa kesannya Manda grogi?
“Akh! Setres gue lama-lama!” teriaknya dalam hati.
Manda mengendap untuk melewati depan rumahnya sendiri agar sampai gerbang. Barulah ia akan melarikan diri dengan tenang. Tapi untuk saat ini dirinya seperti penasaran seperti apa bentukan calon suaminya itu.
Penasaran dan wanita adalah pasangan yang buruk. Jika mereka bersama pasti semua rasa lainnya akan kalah. Lihat saja Manda, tadinya ia ingin kabur, tapi seolah terbakar oleh api penasaran, kini dirinya mengintip dari jendela depan. Namun sayangnya pria tersebut membelakangi posisi Manda hingga membuat gadis itu berdecak.
Sadar dengan apa yang telah ia lakukan, buru-buru dirinya langsung menuju gerbang dan berlari entah kemana nanti tujuannya. Masa bodo jika tadi ayahnya melihat ia berlari keluar atau pria itu mendengar decakannya.
-o0o-
Setelah lama berjalan tanpa arah dan tujuan, Manda kembali pulang. Bahkan sekarang ia tidak tahu sudah pukul berapa. Namun yang ia lihat, mobil pria itu tidak lagi terparkir di depan rumahnya.
Alih-alih masuk melalui jendelanya sendiri seperti saat keluar, Manda justru mengetuk jendela Haris perlahan. Dua ketukan, tiga ketukan, namun belum ada jawaban dari Haris atau tanda-tanda dibukanya jendela tersebut.
Tak tahan dengan nyamuk yang menghakiminya, Manda bergegas masuk melalui jendela kamarnya sendiri. Namun berkali-kali ia tarik dari luar, jendelanya tidak bisa terbuka. Sudah dipastikan jendela ini dikunci dari dalam. Manda mendengus dan beralih melalui pintu depan.
Tanpa mengetuk pintu dan tanpa salam, Manda langsung masuk ketika knop pintu terbuka oleh tangannya. Tebakannya tentang semua orang sudah tidur ternyata salah. Orang tuanya masih duduk di ruang tamu, sedangkan Haris duduk di depan televisi sambil memakan camilan.
Tanpa menunggu ayahnya mengucapkan sesuatu, Manda berinisiatif sendiri untuk duduk si samping ibunya.
“Belum tidur?” tanya Manda canggung.
Ayah Manda mendengus. “Belum, lagi nunggu pakde sama budhe kamu.”
“Hah? Kenapa?” Manda melirik Haris. “Mau jemput Mas Haris?”
“Menghadiri pernikahan kamu. Tadi calonnya sudah datang, cuma dia nggak mau ketemu kamu dulu.”
Manda diam. Ia menatap ayah, ibu dan sepupunya bergantian. Haris sudah mati-matian menahan tawanya karena sekarang televisi yang menampilkan acara komedi tak lagi lucu dibanding ekspresi manda.
“Kapan Manda nikah? Kok nggak mau ketemu sama Manda?”
“Satu minggu lagi, tanggalnya sudah Abi cari. Karena dia sudah pernah liat kamu.”
“Ibu...,” rengek Manda dan merebahkan kepalanya ke paha ibunya. Fatimah hanya mengusap pelan rambut putrinya.
Sebenarnya ia ingin berpura-pura menangis, tapi sayangnya sang ibu tau aktingnya dan pasti akan mudah di tebak. Cukup mudah baginya, hanya menahan tidak berkedip dan air matanya akan mengalir.
“Ijazah Manda belum keluar, masa mau ijabsah. Apa kata tetangga?” Tawa Haris nyaris pecah hingga terbatuk-batuk karena tersedak kacang polong.
“Waktu kamu keluar nggak nutup aurat, jalan sama yang bukan mukhrimnya, minum sesuatu yang dilarang, kamu mikir omongan tetangga?” Manda kalah telak oleh perkataan ayahnya hingga kini dirinya diam tak berkutik.
Ia duduk diam sambil merebahkan kepala di bahu ibunya. Hingga saat orang tua Haris datang saja Manda tetap diam.
Ia tidak memikirkan apa kata tetangganya. Sudah biasa ia dijadikan bahan ghibah dalam setiap kakinya melangkah. Hanya saja kini dirinya merasa belum siap. Permintaan konyol dirinya benar-benar mempengaruhi pikirannya sekarang. Hanya saja ia punya ide lain saat itu, pasti dirinya sekarang tidak akan bingung.
Entah kemana potongan puzzle rencana yang harus ia susun untuk mengeluarkan dirinya dari situasi saat ini. Ia bahkan belum genap 18 tahun, tapi ia akan menikah hanya dalam hitungan hari.