Tepat pukul 8 pagi, suara bariton khas yang pernah Manda dengar di rumahnya kini mengucapkan dengan lantang nama Manda. Menjabat tangan ayahnya sebagai wali sah seorang putri. Menyerahkan hak yang sebelumnya ia tanggung, kini beralih ke tangan orang asing yang kini menjadi suami putrinya.
Manda melepas napasnya perlahan ketika doa dilantunkan oleh penghulu yang menggema. Mereka menikah di masjid pondok yang dihadiri saudara, tetangga dekat dan para santri pilihan. Mereka tidak banyak mengundang tamu atas permintaan Manda sendiri.
Kini Manda duduk dengan didampingi ibu dan budhenya. Jarak antara posisi Manda dan suaminya kini hanya dibatasi tirai hijau yang biasa digunakan sebagai pembatas antara pria dan wanita saat shalat.
Untuk pertama kalinya ia mendengar nama asli orang yang kini menjadi suaminya. Fariz Al-Malik Schatzman. Entah berapa usianya dan seperti apa wajahnya bahkan kini Manda bertanya-tanya.
Pikiran-pikiran kotor yang sebenarnya tidak ingin ia pikirkan kini bertebangan di kepalanya. Walau sudah beberapa kali ia menggelengkan kepala, tetap saja terpikirkan. Apa lagi jika teringat punggung lebar yang ia lihat pada saat malam ketika pria itu berkunjung.
Budhe Manda, ibu dari Haris menyikut lengan Manda yang lemas. “Budhe ngerasa baru kemarin kamu lahir, sekarang udah jadi milik orang lain.”
Manda mendengus lelah. “Manda juga, Budhe.”
Haris datang dari balik pembatas untuk menjemput Manda agar bertemu dengan suaminya. Dalam pikirannya kini membuat list strategi pertahanan yang akan ia buat ketika bersama suaminya.
Pertama, Manda tidak ingin tidur di tempat yang sama. Kedua, Manda tidak ingin diatur. Tiga, Manda ya Manda, jadi jangan paksa dia untuk menjadi istri seperti pada umumnya. Manda menarik napasnya mencoba menguatkan diri.
Untuk pertama kalinya ia bertemu seseorang yang sekarang menjadi suaminya. Apa itu? Padahal sejak dulu ia ingin mencari suami seperti pangeran yang bertemu ketika pesta dansa lalu jatuh cinta, menikah dan hidup bahagia.
Ketika Manda menghampiri kumpulan orang, ia melihat punggung suaminya yang menggunakan pakaian putih yang Manda yakini bukanlah kemeja atau jas. Tetapi semacam pakaian yang sering ayahnya pakai, semacam gamis.
Punggung lebarnya yang berbalut gamis putih membuat iman Manda goyah sesaat. Itu adalah tipe pangeran yang Manda inginkan. Tarik napas, Manda.
Manda duduk di depan suaminya. Lalu di depan mereka ada nampan yang diberi bantalan untuk cincin mereka. Fariz terlebih dulu memasangkan cincin ke jari manis Manda.
Saat fotografer memotret mereka beberapa kali, Manda memanfaatkan keadaan untuk memandang wajah suaminya sekarang. Alis tegas, hidung mancung dan bibir tipis. Hanya itu yang Manda tangkap untuk saat ini. Selebihnya nanti, itu pun jika Fariz mampu bertahan dengan sikap Manda. Karena dilihat dari wajahnya Fariz cukup tenang dan pendiam. Mungkin akan sangat mudah Manda kendalikan.
Saatnya giliran Manda untuk memasangkan cincin kepada pasangannya. Namun niat jail tiba-tiba hadir di pikirannya. Saat tangan kanannya memasangkan cincin, kuku jempol kirinya menekan kuku Fariz hingga pria itu sempat menarik tangannya.
Saat mata mereka bertemu, Manda mengucapkan sesuatu. “Berani sentuh gue, kuku tangan lo gue cabut.”
Setelah memasangkan cincin, Manda mencium punggung tangan Fariz. Saat itu tangan kiri Fariz memegang kepala Manda dan mengembalikan kata-kata Manda yang baru saja ia ucapkan.
“Saya ramal, kamu yang akan minta saya sentuh.” Mendengar itu Manda langsung melebarkan matanya.
Pria yang menurutnya pendiam ternyata tidak begitu. Lihat saja, sekarang matanya menatap Manda dengan tatapan meledek. Bibirnya tersenyum tipis sambil melihat Manda dengan tatapan kesalnya.
Saat Fariz mencium kening Manda, ia kembali mengucapkan kata-kata yang mungkin saja bisa menyakitkan. “Lo nggak laku nyampe nikah sama bocah kaya gue?” Namun Fariz hanya membalasnya dengan senyuman.
Manda dan Fariz menyalami orang tua Manda. Setelahnya menyalami ayah Fariz. Dalam hati Manda berteriak bahagia karena Fariz hanya mempunyai seorang ayah. Itu artinya tidak ada ibu mertua bagi Manda. Satu poin plus untuk pernikahannya.
Saat beralih ke pasangan suami istri, sang suami seolah mengenali Manda hingga membuatnya menatap terus-menerus. Merasa risih diperhatikan, Manda menatap garang pria tersebut. Sang istri yang sadar langsung menepuk bahu suaminya.
“Mas, jangan diliatin gitu,” bisik sang istri. “Eum, Manda. Saya April, adik ipar suami kamu.” April menjabat tangan Manda.
Manda hanya memandang kedua orang tuanya bingung dan bertanya-tanya. Jika adiknya saja sudah menikah dan nampaknya sudah memiliki putra, lalu pria yang ia nikahi sekarang berapa usianya?
“Nah, Manda. Ini anak kedua ayah dan menantu ayah. Namanya Alok, dan ini putra mereka, Zefran.” Manda hanya tersenyum dan menyalami mereka. Kini pikirannya hanya menebak berapa usia suaminya.
“Bentar, saya pernah liat kamu, tapi dimana ya?” tanya Alok yang sejak tadi memperhatikan Manda.
“Itu, Pa. Kakak yang jongkok samping mobil Papa.” Manda langsung melebarkan matanya ketika anak sekitar 6 tahun tersebut memekik membuat semua orang memandang Manda bertanya.
“Oh, iya. Kamu yang—”
“Ah, iya! Waktu itu saya lagi main petak umpet Om, hehe.” Manda tertawa pelan. Bagaimana mungkin ia jujur jika pada saat itu ia bersembunyi dari polisi karena ketakutannya sendiri.
“Kakak main petak umpet juga? Nanti gabung sama temen Zefran mau?”
“Ah, iya mau. Nanti kapan-kapan.” Manda melirik kedua orang tuanya yang kini masih bertanya-tanya. “Kalo inget,” lanjutnya dengan bisikan.
Acara dilanjutkan dengan doa bersama dan bacaan lainnya bersama anak santri. Sepanjang acara Manda duduk di samping Fariz yang nampak khusuk mengikuti doa. Berbeda dengan Manda yang kini sudah merasakan panas di bagian bokongnya karena duduk berjam-jam bahkan mungkin kakinya sudah kebas. Itu karena menuruti permintaan ibunya agar duduk selayaknya wanita. Jika tidak pasti Manda sudah duduk bersila atau lebih parahnya mengangkang.
Penderitaan Manda berakhir ketika sholat jumat akan segera dimulai. Manda ikut masuk mobil bersama April yang kini menjadi iparnya, Ibu serta budhenya. Mereka menuju rumah Manda dengan April yang menyetir karena para pria sedang sholat jumat.
Walau perjalanan sangat dekat, namun Manda dapat menangkap sikap April yang sepertinya sangat ramah dan friendly. Buktinya sekarang April tak henti-hentinya mengajak Manda mengobrol. Mungkin untuk saat ini karena pertemuan pertama tidak menjamin. Tolong ingatkan Manda agar tidak berprasangka buruk.
Sambil menunggu para pria, mereka menyiapkan makan siang. Sedangkan Manda menghapus make up tipisnya di dalam kamar yang sekarang ia tinggali bersama budhenya.
Memandang dirinya dalam cermin dan masih belum menyangka bahwa sekarang ia menjadi seorang istri. Padahal baru saja kemarin ia sibuk tengok kanan kiri karena sulit mengerjakan ujian nasional. Bahkan nilainya baru diumumkan, belum dibagikan. Justru buku nikahnya dulu yang ia dapat, bukan ijazah. Manda kesal mengakui ini.
Manda meraih ponselnya yang jarang sekali ia sentuh. Baginya ponsel bukanlah segalanya. Manda lebih suka berteman langsung dan bertemu tatap muka, bukan lewat media.
Ia membuka aplikasi chat dan langsung bermunculan pertanyaan dari teman sekelasnya mengenai perihal ia telah menikah. Pasti berita ini dari Asih, teman sekolah sekaligus tetangganya. Padahal ia sengaja sekolah yang jauh agar tidak ada yang ia kenal. Dengan bosan Manda kembali menutup ponselnya.
Menatap koper besar dan tas sekolah miliknya yang kini siap di belakang pintu. Seolah mengingatkan bahwa dirinya sekarang sudah milik orang lain. Miris sekali, begitukan perempuan?
Merebahkan tubuh mungkin akan menjadi posisi yang sangat nyaman sekarang. Semalaman ia terjaga hingga subuh tiba. Baru tidur sebentar ia harus mandi dan bersiap-siap untuk menikah. Setelah itu ia duduk berjam-jam. Lelah sudah.
Niat hanya meluruskan ototnya yang kaku, namun perlahan mata Manda tertutup dan hilang sudah kesadarannya.
-o0o-
“Manda, bangun sayang. Hei, bangun.” Manda merasakan pipinya ditepuk seseorang. Suara lembut kini masuk ke indera mendengarkannya.
Mimpi? Bukan, ini bukan mimpi. Manda seperti takut untuk membuka mata sekarang. Atau justru ia akan langsung memasang posisi kuda-kuda jika apa yang sekarang ia pikirkan terjadi? Tidak, mungkin membuka mata lebih dulu jauh lebih baik.
Manda makin melebarkan matanya ketika apa yang ia pikirkan salah. “Apa? Ini ibu. Tuh, koper kamu udah di bawa sama Fariz. Dah sana keluar.” Manda mendengus.
Pikiran apa itu tadi? Apa Manda berpikir bahwa Fariz yang akan membangunkannya. Atau yang lebih mengesankan membawa tubuhnya begitu saja menuju rumah baru? Lalu saat bangun ia di kamar dengan suasana berbeda. Hanya mereka berdua.
Namun jika itu terjadi mungkin Fariz akan kehilangan wajah tampannya karena Manda.
“Di usir dong anaknya sendiri.” Manda bangkit untuk mencuci muka. Sekarang ia sadar bahwa ia sudah melewatkan makan siangnya.
Kini ia melihat di ruang tamu hanya ada keluarganya dan Fariz tentunya. Mertua serta keluarga kecil Alok sepertinya sudah pergi terlebih dulu.
Setelah mencuci muka, Manda memasuki kamar Haris untuk mengambil beberapa camilan dan keluar menuju ruang tamu. “Mas, minta yah. Siapa suruh tadi nggak bangunin buat makan.” Manda keluar dengan memeluk camilan yang tidak cukup di kedua tangannya.
“Sisain berapa?”
“Satu, yang udah kebuka.” Haris hanya menatapnya tak suka namun lega karena Manda akan pergi. Tidak ada lagi yang mengambil camilannya. Atau mungkin ia akan rindu berbagi camilan.
Setelah itu Manda dan Fariz pamit untuk pergi ke rumah mereka. Menyalami orang tua Manda dan Haris bergantian.
“Pak, jangan kangen Manda yah.”
“Disini ada Haris, nggak bakal kerasa kehilangan kamu juga.” Mendengar jawaban ayahnya Manda merasa diserahkan begitu saja. “Becanda, Abi kangen kok pasti. Lagian mas kamu nggak bisa Abi marahi. Dia anteng-anteng aja nggak kaya kamu.” Terbang lalu dihempaskan. Haris sudah cekikikan di samping ibunya.
“Fariz sama Manda pamit ya Bi, Umi.”
“Iya, hati-hati. Sabar-sabar menghadapi Manda.”
Sebelum Manda memasuki mobil, ibunya terlebih dulu menarik lengannya untuk mengingatkan wejangan yang ia sampaikan malam tadi. “Jangan lupa yang ibu bilang semalam.” Manda hanya mengangguk bersamaan dengan bulu romanya yang kompak berdiri.
Ia ingat betul apa yang ibunya katakan malam tadi. Menuruti apa kata suami, sebisa mungkin Manda harus menghilangkan kebiasaannya saat di rumah. Dan layani suami sebagai mana mestinya. Mengingat itu semua membuat Manda bergidik ngeri.
Manda bukan lagi anak-anak yang tidak tau apa arti melayani itu. Edukasi yang diberikan ibunya serta dari sekolah yang ia pelajari membuat pikirannya berterbangan kemana-mana.
“Ngelamunin apa kamu?” tanya Fariz yang kini sudah di dalam mobil bersama Manda.
“Nasib,” jawab Manda asal. “Mbak April mana?” Ia menanyakan itu karena hanya dengan April dirinya nyaman mengobrol. Wanita itu sungguh pandai mencari topik pembicaraan. Tidak seperti pria disampingnya yang lebih banyak diam.
“Pulang duluan.” Setelah itu tidak ada lagi percakapan. Toh nanti Manda akan bertemu dengan April. “Bangunin orang tidur kaya bangunin orang mati,” gumam Fariz.
Manda menikmati camilannya dengan khusuk sebelum ia benar-benar keluar dari kampungnya. Sebelum mobil tersebut melewati pos ronda, Manda melihat dua orang yang ia kenal. Manda langsung membuka jendela mobil dengan tergesa sebelum melewati pos tersebut.
“Arul, Ando, nanti malam culik gue!” Manda mengeluarkan kepalanya untuk melihat ke belakang saat Arul dan Ando sudah terlewat.
Arul dan Ando hanya mengangkat salah satu tangannya ke udara tanpa melambai. Tidak ada ekspresi sedikitpun yang mereka tampilkan. Apa lagi sudah satu minggu mereka tidak bertemu Manda.