Mereka sampai ke perumahan yang terdapat di wilayah Jakarta. Dengan desain rumah kebanyakan minimalis namun mewah membuat mata Manda terus memandang hingga sampai di kediaman mereka.
Manda meraih tasnya yang berada di bangku belakang dan langsung keluar begitu saja. Fariz hanya berdecak dan mengambil koper Manda dari bagasi. Fariz sedikit tertawa ketika Manda meraih gagang pintu namun tak kunjung terbuka. Bahkan ia memencet bel berkali-kali.
“Katanya mbak April udah pulang. Kok nggak dibukain pintu?”
“Mereka pergi ke rumahnya sendiri. Ini rumah saya, jadi cuma kita berdua di sini.” Manda melebarkan matanya tak terima.
“Kok bisa?”
“Semua bisa dilakukan kalo cuma berdua.”
Manda semakin heran dengan orang yang sekarang di depannya. Ternyata wajah pendiam ini menyimpan banyak kerandoman yang membuat Manda berpikir dua kali ketika ia bicara. Lebih tepatnya mencari arti lain dari ucapannya.
Manda menggeleng. “Ngawur!”
Setelah pintu terbuka, mereka langsung disambut figura besar yang berisikan anggota keluarga bahagia. Orang tua lengkap dan kedua putra mereka. Bisa di tebak, wanita yang menjadi primadona di dalam foto tersebut adalah ibu dari Fariz dan Alok.
Mengenakan kebaya merah dengan konde khas Surakarta di kepalanya membuat aura keratonnya sangat jelas terlihat. Manda tidak menyangka jika ibu mertuanya asli jawa.
“Itu mama saya.” Fariz menghampiri Manda ketika kaki gadis itu tak lagi melangkah dan hanya menatap figura tersebut.
“Tau, udah ketebak.” Mendengar jawaban Manda, Fariz langsung berlalu untuk menuju kamar dan menyimpan koper Manda.
Walaupun sudah tau, Manda masih tetap berdiri di bawah foto tersebut. Mengamati beberapa bagian yang membuatnya tertarik.
Bagian kanan bawah tertulis tahun 2012 yang artinya 7 tahun yang lalu. Dalam foto tersebut, ibu Fariz duduk di sofa single berwarna coklat muda. Lalu ayahnya berdiri di belakang dengan memegang bahu Fariz dan Alok yang berdiri di sampingnya. Tangan Alok dan Fariz sama-sama di lengan ibunya.
Alok menggunakan toga, bisa ditebak foto tersebut di ambil saat wisuda Alok. Fariz dan ayahnya menggunakan jas hitam dan kemeja merah maroon.
Senyum mereka tampak sangat bahagia dilihat dari kerutan di dekat mata. Kecuali ibu mereka yang hanya tersenyum anggun. Manda tidak bisa membayangkan jika dia masih ada dan harus menjadi menantunya. Pasti nanti lebih banyak wejangan berdasar pamali.
Fariz menuruni tangga setelah mengganti pakaian menjadi lebih santai. Namun nampaknya Manda masih nyaman memandang figura tersebut sampai tak sadar ada orang di sampingnya.
“Itu foto terakhir sama mama.” Manda terlonjak kaget dan mendesis. “Cantik kan?”
“Iya cantik, banget malah. Tapi dari tadi gue lagi ngitung sesuatu.”
Fariz menengok ke arah kiri bawah, tepat netranya mengangkap Manda. “Ngitung apa?”
“2012 gue masih SD dan om Alok udah S1. Adiknya aja udah setua itu, terus?” Manda mengalihkan tatapannya dari foto ke arah Fariz. “Berarti lo juga udah tua, dong?”
“Tebak berapa usia saya.”
Manda meletakan telunjuknya di dagu dan tatapannya menerawang. Mencoba untuk menebak berapa kira-kira usia om-om yang sekarang jadi suaminya. “Boleh jujur nggak sih?” Fariz mengangguk.
“Tadinya gue kira 26 atau 27. Tapi dari perhitungan gue, umumnya lulus S1 umur 22 atau 23. Dan itu 7 tahun yang lalu. Nggak mungkin juga kakaknya lebih muda.” Fariz tersenyum mendengar penuturan Manda. Jadi sejak tadi Manda fokus ke tahun foto, bukan orang yang di dalam foto.
“Ya udah tebak,” ujar Fariz menuntut.
“Masa udah 30 tahun sih?” Fariz menggeleng. “29? Ah, nggak sih. 31?”
“Lupakan. Sana kamu mandi dulu.”
Tadinya Manda ingin menolak. Tapi karena tubuhnya merasa tak nyaman membuat Manda menuruti kata Fariz. “Mana kamar mandinya?”
“Lantai dua sebelah kanan tangga.”
Fariz membuka kardus yang berada di dekat ruang tamu. Bukan hanya satu, ada beberapa kardus lain di sana. Bahkan Manda baru sadar bahwa perabotan lain masih tertutup kain putih.
Tak ingin berbasa basi, Manda naik ke lantai dua untuk mandi. Seperti yang dikatakan Fariz, Manda masuk ke kamar sebelah kanan tangga. Di dalam sudah ada koper beserta tasnya yang tadi ia tinggal di bawah.
Sepertinya Manda akan suka dengan desain rumahnya. Desain minimalis dengan 3 lantai. Tapi impiannya memiliki rumah di pedesaan, bukan di perkotaan seperti ini.
-o0o-
Pukul 4 sore, Manda baru saja selesai mandi, dilihat dari tubuhnya yang masih di balut bathrobe navy. Kebiasaan buruk Manda adalah susah mengumpulkan niat untuk mandi, tapi sekali mandi akan susah untuk mengahkirinya lagi. Padahal ia mulai mandi pukul dua tadi.
Sebelum berpakaian, Manda berdiri di pintu kaca yang menuju ke balkon. Ia langsung melihat rumah tetangga di sebrang sana. Ia jadi berpikir, apa dirinya akan ikut berbaur dengan tetangga atau akan diam di rumah saja? Padahal diam sama sekali bukan sikap Manda.
“Jangan berdiri di sana, nanti ada yang lihat.” Fariz datang dan langsung menutup gorden bagian dalam yang berwarna putih tipis.
“Ya emang kenapa? Kalo nggak ada yang liat baru aneh.”
“Terserah, saya mau mandi. Kalo kamu mau mencoba untuk masak, bahannya udah ada di dapur.”
“Kok disini? Nggak ada kamar mandi lain? Lo tidur di mana?”
“Kita, tidur di sini,” kata Fariz menekan kata kita.
Manda meletakan kedua tangannya di pinggang. “Kayanya banyak yang harus kita bicarain.”
“Ganti baju, terus sholat ashar sama saya.” Fariz membuka pintu kamar mandi. “Jangan banyak gaya.”
Tak terima dengan fakta bahwa nanti malam dan seterusnya mereka satu kamar bahkan satu tempat tidur membuat Manda tidak terima. Ia melangkah menuju pintu kamar mandi dan mencoba untuk berbicara dengan Fariz.
“Fariz, Al, Malik, Casan atau apa pun itu panggilan lo, gue nggak mau satu kamar sama lo!” Manda semakin mengeraskan suaranya ketika gemercik air mulai terdengar.
“Lo tau kan kalo kita di jodohin, nggak etis banget kalo kita ti—” Manda menatap ke atas, tepatnya ke wajah Fariz karena pintu yang menjadi senderan Manda kini terbuka. Jangan tanya dimana posisi tubuh Manda sekarang.
Fariz menjauhkan tubuh Manda tanpa merasa berdosa membuat Manda mematung. “Jangan sok tau, duduk diam dan terima saja.”
Manda duduk di atas kasur dengan memainkan kakinya. Jika ia tidak dijodohkan lalu apa? Apa iya pria yang di dalam itu dengan niat baiknya datang sendiri melamar? Dilihat dari sikapnya yang biasa saja terhadap Manda nampaknya memang tidak sama sekali.
Setelah Fariz selesai, dengan patuhnya Manda menuruti perkataan Fariz. Padahal sejak dulu ia sangat pantang dinasihati. Jangankan orang lain, orang tuanya saja sudah nyerah untuk menasihati, sampai mulut berbusa pun tidak pernah didengarkan.
Manda masih saja diam hingga setelah makan malam. Ia benar-benar menuruti perkataan Fariz.
Jangan kira makanan yang mereka makan hasil dari pekerjaan Manda. Tentu saja tidak. Itu berkat teknologi dengan memesan dari rumah, makanan akan sampai di depan rumah mereka.
Manda mengikuti langkah kaki Fariz ke kamar mereka. Melihat apa saja yang dilakukan Fariz sama sekali tidak Manda lewatkan.
“Riz, kayanya kita butuh perjanjian pra nikah deh.” Fariz meletakan kembali laptopnya yang sudah ia pegang tadi.
Fariz duduk di kursi kerjanya dan menatap Manda lekat. Manda hanya diam saling memandang satu sama lain. “Manda, zaman pra aksara itu apa?”
“Zaman sebelum ada tulisan.”
“Berarti pra nikah artinya?”
“Sebelum nikah.”
Fariz mengangguk. “Pintar.” Setelahnya Fariz kembali mengabaikan Manda. Mengambil beberapa berkas dan laptop di meja lalu berlalu menuju lantai 3. Manda tidak tau bahwa Fariz sedang mati-matian menahan tawa.
Manda merasa bodoh sekarang.